Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'44


__ADS_3

Rasanya langsung membuat Rere terdiam. Rasa ayam itu membuat ia rindu akan masakan sang mama. Hal tersebut membuat Rere tiba-tiba memasang wajah sedih.


"Lho, Re. Kenapa sih? Nggak enak yah?"


"Nggak kok, Vin. Rasanya enak. Sangat enak sampai aku ngerasa, ini masakan mama. Karena rasanya hampir sama persis dengan buatan mama. Karena itu, aku jadi rindu masakan mama yang entah kapan bisa aku cicipi lagi."


Entah dapat keberanian dari mana, Alvin malah langsung menarik Rere ke dalam pelukannya. Rere yang rapuh, yang memang sangat membutuhkan sandaran untuk bertahan, lalu membiarkan saja tubuhnya Alvin peluk. Hingga beberapa saat kemudian, kedatangan bi Sari mengacaukan keadaan romantis Rere dan Alvin.


....


Pertemuan dengan dokter yang Alvin kenalkan berjalan dengan sangat lancar. Dokter itu juga setuju untuk merawat mama Rere dengan sebaik mungkin. Hal itu sangat membahagiakan buat Rere. Dia sangat berharap, kalau mamanya bisa bangun dengan cepat.


Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah panggilan masuk membuat Rere terhenyak seketika. Sangking kagetnya Rere, dia yang awalnya duduk, kini langsung berdiri dengan cepat.


"Apa! Bagaimana mungkin ini terjadi?"


Tubuh Rere merosot terduduk kembali setelah mendengar penjelasan dari seseorang yang saat ini sedang bicara dengannya. Wajah sedih, bercampur dengan gelisah, terlihat dengan sangat jelas.


Melihat hal itu, Alvin pun langsung berpindah posisi duduk di samping Rere. Dengan lembut, dia mencoba untuk menenangkan Rere dengan cara menyentuh pundak dari gadis yang selama ini selalu ada dalam hatinya.


Tanpa menanyakan terlebih dahulu apa yang sebenarnya Rere alami saat ini, Alvin berusaha untuk menjadi tempat terbaik bagi Rere. Bukan karena tidak merasakan rasa penasaran, tapi Alvin sengaja tidak ingin Rere merasa risih dengan kehadirannya.


Namun, tanggapan yang Rere berikan dari sentuhan itu, sungguh diluar pikiran Alvin. Bagaimana tidak? Saat sentuhan itu Rere terima, sontak, tubuhnya malah bergerak cepat menghambur ke dalam pelukan Alvin.

__ADS_1


"Vin, kantorku ... kantorku kemalingan. Semua data yang tersimpan hilang dicuri oleh maling tersebut. Proyek milyaran yang saat ini sedang aku tangani, juga ikut lenyap, Alvin." Rere menangis di bahu Alvin.


Dia tidak tahu harus apa. Firasat mengatakan, kalau dia sudah tidak akan mendapatkan kembali apa yang telah hilang. Dengan begitu, perusahaan keluarga yang selama ini terus berdiri dari generasi ke generasi, akan ikut lenyap bersama hilangnya semua data.


Tidak akan mudah untuk ia membangkitkan kembali dengan kerugian yang sangat besar. Semua data yang hilang membuat perusahaan berada diambang kebangkrutan. Percuma mendapatkan suntikan dana, karena itu tidak akan bisa mengembalikan perusahaan ke posisi sebelumnya.


"Tenang dulu, Re. Jangan terlalu sedih. Kamu harus menanggapi semua ini dengan pikiran yang tenang yah. Serahkan semua pada pihak yang berwajib, semua pasti akan baik-baik saja."


"Aku tidak yakin akan hal itu, Vin. Ini sungguh ... hiks, aku bingung, Alvin."


Alvin terus membelai lembut punggung Rere. Ini yang kedua kalinya Alvin melihat Rere begitu frustasi. Tapi, ini yang pertama kalinya hati Alvin merasa begitu bahagia. Wanita ini, adalah wanita yang ia puja selama bertahun-tahun. Tapi sekarang, wanita ini sudah ada dalam pelukannya. Karena itu, dengan penuh semangat, dia akan melakukan segala cara agar bisa membantu wanita ini keluar dari masa sulitnya.


'Tenang, Re. Aku akan bantu kamu bagaimanapun caranya. Termasuk, memberikan sebagian aset yang aku miliki untuk kamu jika memang itu dibutuhkan. Agar kamu tetap bisa mempertahankan perusahaan itu.' Alvin berucap dalam hati dengan penuh keyakinan.


Alvin yang melihat semua itu langsung bisa menyimpulkan sesuatu. "Re, sepertinya, ini bukan maling biasa. Ini seperti dilakukan oleh orang dalam. Orang yang sudah begitu paham dengan seluk-beluk kantor ini. Yang sudah menempati kantor ini selama bertahun-tahun."


Penjelasan Alvin membuat benak Rere langsung membenarkan tanpa ada sanggahan sedikitpun. Lalu, pikirannya juga langsung tertuju pada beberapa orang yang saat ini mungkin adalah pelakunya. Orang terdekat yang sudah tidak lagi bekerja di kantor itu. Siapa lagi kalau bukan, papa, adik tiri, juga mantan suaminya.


"Aku tahu siapa yang sudah melakukan ini semua padaku, Vin."


Alvin langsung menoleh saat kupingnya mendengar ucapan yang penuh dengan keyakinan dari Rere. "Kamu tahu? Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan keluargaku sendiri. Mantan suami, beserta adik tiri yang sudah menjadi selingkuhan dari suamiku sendiri. Mereka yang sudah melakukan ini padaku. Karena mereka sudah tidak bisa lagi bekerja di kantor ini sebab aku mengusir mereka."

__ADS_1


Dengan tatapan penuh amarah dan kebencian, Rere menatap tajam lurus ke depan. "Mereka benar-benar keterlaluan. Aku akan labrak mereka sekarang juga," ucap Rere sambil mengangkat kaki untuk beranjak meninggalkan ruangannya.


Dengan cepat, Alvin menahan tangan Rere agar Rere tidak pergi melakukan apa yang sedang hatinya ingin lakukan sekarang. "Tidak, Re! Jangan pergi sekarang."


"Kenapa, Vin? Kenapa aku tidak bisa pergi melabrak dua manusia yang benar-benar berhati iblis itu, hah? Aku ingin memberikan mereka pelajaran, Alvin."


Alvin tahu saat ini Rere sedang sangat tidak baik-baik saja. Apa yang sedang menimpa diri Rere, memang bukan masalah kecil. Melainkan, masalah besar yang menyangkut kelangsungan harta keluarga yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Bagaimana pula Rere tidak kalut saat ini?


"Tenang, Re. Tidak ada gunanya kamu pergi. Karena tidak akan ada yang bisa kamu lakukan ketika kamu bertemu dengan mereka. Kamu tidak punya bukti yang bisa kamu jadikan senjata untuk menekan mereka. Karena itu, sebaiknya kamu menahan diri dulu sekarang."


"Lawan mereka dengan cara halus, Rere. Aku yakin kamu pasti bisa menang melawan dua manusia dengan hati iblis itu," kata Alvin dengan pelan di kuping Rere.


Amarah Rere mulai menyusut. Perkataan Alvin memang benar adanya. Tidak akan bisa melawan jika tidak punya senjata. Karena itu, dia terpaksa mengalah untuk sementara. Mundur sesaat, setelah itu baru maju untuk memukul habis parah musuh. Itu adalah ide yang bagus.


"Kamu punya aku, Re. Aku akan selalu ada di sisi kamu untuk membantu semua masalah yang sedang kamu hadapi. Jangan khawatir," ucap Alvin sambil tersenyum manis.


Rere memberikan tatapan yang tidak bisa Alvin artikan dengan perasaan halusnya. Karena itu, mendadak, Alvin jadi salah tingkah. Sebisa mungkin, dia memperbaiki apa yang sudah ia ucapkan.


"Itu ... aku .... "


"Terima kasih banyak, Vin. Maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan padamu sejak dulu hingga saat ini. Aku menyesal."


Alvin sontak menatap lekat wajah Rere.

__ADS_1


"Apaan sih, Re? Kamu nggak punya salah apa-apa kok. Jangan bicara yang tidak-tidak."


__ADS_2