Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'55


__ADS_3

Entah bagaimana caranya, tapi begitulah keadaannya. Rohan berhasil melewati masa kritis hanya dengan kehadiran Rere di ruangan tersebut.


"Nona. Anda sungguh luar biasa. Anda adalah obat mujarab bagi pasien saya. Entah bagaimana saya harus menjelaskan. Karena saya sendiri juga cukup takjub dengan kenyataan yang saat ini saja lihat."


"Nona, boleh saya tahu anda ini ada hubungan apa sebelumnya dengan pasien saya?"


Rere terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Karena bibirnya terasa cukup berat untuk ia gerakkan.


"Saya ... hubungan kami .... "


Seakan mengerti dengan apa yang Rere rasakan, si dokter langsung mengukir senyum agar suasana yang terasa sangat canggung segera berubah. "Gak papa, Nona. Jika sulit untuk anda jelaskan, saya tidak akan memaksa. Tapi, saya sangat berterima kasih dengan kehadiran nona saat ini. Pasien yang saya tangani bisa melewati masa kritis hanya karena nona."


"Dokter terlalu berlebihan. Saya tidak melakukan apapun dengan pasien anda. Mungkin, kedatangan saya berpas-pasan dengan usaha keras yang dokter lakukan pada pasien dokter."


Begitulah obrolan yang saling merendahkan antara dokter dengan Rere. Keduanya ngobrol banyak sebelum akhirnya kedatangan keluarga Rohan yang ingin melihat keadaan Rohan yang sudah lepas dari masa kritisnya.


"Saya pamit sekarang. Saya sarankan agar nona Rere tetap berada di sisi pasien hingga keadaan pasien benar-benar membaik."


"Tapi .... "


"Hanya ini cara terbaik. Nona Rere adalah obat mujarab untuk pasien. Jadi, sebisa mungkin tetap berada di sekitar pasien untuk saat ini hingga kondisi pasien benar-benar normal tanpa ada hal yang memprihatinkan lagi."


Rere tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ucapan dokter ternyata di dengar oleh ibu Rohan. Karena itu, setelah kepergian dokter, ibu yang sangat menyayangi anaknya itu langsung bersimpuh di kaki Rere dengan wajah penuh harap.

__ADS_1


"Ibu! Apa yang ibu lakukan?" Tentu saja Rere kaget. Segera ia berusaha untuk membangunkan wanita paruh baya yang saat ini sedang mengiba di hadapannya.


"Ibu mohon, Re. Tolonglah turuti apa yang dokter katakan. Perkataan dokter ada benarnya. Ibu percaya semuanya. Karena bukti sudah ada. Rohan bisa selamat dari keadaan kritis hanya karena kamu. Jadi tolong, temani Rohan beberapa saat saja lagi, Re. Ibu mohon. Sangat amat memohon."


"Ibu ngomong apa sih? Jangan begitu, bu. Kak Rere sudah punya kehidupannya sendiri. Nggak enak sama calon suaminya, Bu." Ivan yang merasa kalau permintaan ibunya sedikit keterlaluan langsung angkat bicara. Ia juga berusaha untuk membangunkan ibunya yang sedang bersimpuh.


"Cukup, Ivan! Ibu sedang bicara dengan Rere, bukan dengan kamu. Jadi, jangan campuri perkataan ibu jika kamu masih ingin tetap ibu anggap sebagai anak."


"Lagian, kenapa kamu begitu benci pada kakak mu, hah? Kenapa kamu selalu menghalangi kakak mu untuk bertemu dengan Rere? Apa yang kamu pikirkan, Van?" Ibunya berkata lagi. Kali ini, kata-kata dengan ucapan yang bernada agak lembut, namun tetap penuh dengan penekanan.


"Aku tidak benci kak Rohan, Bu. Tapi ... kita juga harus pikirkan kak Rere juga dong. Dia bukan lagi dari anggota keluarga kita. Dia juga sedang dalam persiapan pernikahannya dengan pak Alvin. Jadi tolong, pikirkan dia juga, Bu."


"Ivan!" Sang bunda langsung berteriak dengan nada tinggi. Rere yang ada di depan jadi cukup kaget.


Seperti biasa, Rere memang cukup sopan dalam berbicara dengan keluarga Rohan. Baik saat menjadi anggota keluarga, hingga saat ini, saat dia sudah bukan anggota keluarga lagi. Dia masih tetap dengan sifat yang lemah lembut seperti sebelumnya.


Karena ucapan itu, bapak Rohan yang ada di balik tirai langsung berlinangan air mata. Sementara ibu Rohan terlihat sangat bahagia. Ivan? Jangan ditanya lagi. Anak itu tetap berwajah datar seperti tidak terjadi apa-apa.


Sebenarnya, Rere sangat kesulitan untuk membagi waktu saat ini. Mana acara pernikahan yang sudah sangat dekat, di tambah kesibukan mengurus kantor, dia seakan tidak punya cukup waktu untuk ada di sekitar Rohan.


Tapi karena tidak ingin terus mendengar perdebatan. Juga tidak tega akan ibu mertua yang terlihat penuh harap, Rere pun terpaksa setuju.


'Huh ... semoga nggak ada yang berubah dengan kejadian ini. Aku sangat berharap kalau Alvin bisa mengerti sekarang. Yah ... semoga saja.'

__ADS_1


Sepanjang jalan pulang, Rere terus memikirkan apa yang sedang terjadi dengan hidupnya. Yah, dia pulang ke rumah sekarang. Tentunya, setelah melalui beberapa dilema yang cukup keras dari sang mantan ibu mertua.


Salah satunya seperti, ibu Rohan yang menginginkan Rere tinggal di rumah sakit malam ini. Dia meminta Rere untuk tetap tinggal dengan alasan, takut Rohan kenapa-napa.


Mana mungkin Rere bisa meluluskan permintaan orang tua tersebut. Datang ke rumah sakit dengan tergesa-gesa saja sudah cukup bagi Rere. Lah sekarang, orang tua itu malah meminta ia untuk tetap tinggal. Bagaimana mungkin ia bisa melakukannya. Dia saja sudah merasa sangat tidak nyaman untuk saat ini.


Sementara itu, di sisi lain, Alvin sedang melihat ponselnya. Dia sudah sejak lama menunggu kabar dari Rere. Tapi sepertinya, tidak ada satu kabar pun yang masuk. Rere tidak mengabarinya sedikitpun.


Sebenarnya, bukan Rere yang tidak ingin mengabari Alvin. Tapi ponselnya yang ketinggalan di rumah membuat ia tidak bisa memberi kabar barang sedikitpun.


....


Dua hari berlalu. Rere yang semakin sibuk dengan kegiatan tambahan membuat jarak antara dirinya dengan Alvin. Sementara Dimas, dia sudah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.


Ting! Pesan masuk ke ponsel Alvin. Kebetulan, saat ini Alvin sedang duduk di sofa dalam kamar setelah pulang dari kantor. Dan kebetulan pula, ponsel yang berbunyi barusan ada di atas meja sambil sofa yang ia duduki.


"Siapa sih?" Alvin melihat ponsel yang saat ini sudah tertera pesan masuk. Tapi sayang, nomornya sedikit unik. Tak terlihat sama sekali.


Tangan Alvin pun lihai mengutak-atik ponsel tersebut. Saat pesan itu ia baca, mata Alvin sedikit melebar. Bagaimana tidak? Pesan itu mengatakan, kalau Rere tidak benar-benar ingin menikah dengan Alvin. Di katakan juga, kalau Rere sebenarnya masih cinta sama Rohan. Mantan suami yang sudah bercerai dengan Rere beberapa waktu lalu.


Tidak hanya pesan dengan kata-kata saja. Namun, beberapa bukti gambar juga nomor tersembunyi itu kirimkan. Dalam foto itu terlihat sangat jelas kalau Rere sangat prihatin pada Rohan. Rere juga terlihat sedang merawat Rohan dengan penuh kasih. Hal itu tentu membuat hati Alvin yang sangat mencintai Rere meradang seketika.


"Kurang ajar! Siapa sih yang sudah mengirimkan aku pesan ini? Benar-benar cari masalah ini orang," ucap Alvin sambil bangun dari duduknya.

__ADS_1


__ADS_2