Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'66


__ADS_3

"Vin. Sebagai sesama wanita, mama ingin bilang padamu, cobalah untuk sedikit bersabar. Mengalah adalah hal yang paling baik untuk hubungan yang utuh ke depannya. Pahami Rere lagi, mama yakin kamu akan tahu kalau Rere juga sedang ada dalam keadaan sulit saat ini."


Alvin sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mamanya katakan. Dia pun menaikkan satu alis untuk memperlihatkan ketidakpahamannya itu. Sang mama yang mengerti akan apa yang anaknya rasakan kembali mengukir senyum kecil.


"Intinya, mama bisa melihat ketulusan Rere untukmu sekarang. Dan mungkin, cinta sebelah pihak yang selama ini kamu jalani pun sudah di sambut olehnya."


Karena ingat akan kata-kata sang mama, Alvin pun ingin mencoba membuktikan perkataan tersebut. Jika benar Rere sudah membalas cinta sebelah pihak yang ia punya, maka reaksi Rere akan terlihat.


Setelah beberapa saat panggilan berakhir, Alvin langsung melihat Rere mendekat ke arah dia yang sedang berdiri di bawah pohon bersama si sekretaris. Saat itulah, Alvin langsung mencoba hal gila yang terlintas dalam benaknya.


Tangan Alvin dengan berat menyentuh rambut si sekretaris yang bernama Maya. Ketika Rere melihat hal tersebut, langkahnya langsung terhenti. Ada hal yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata terasa dalam hatinya saat ini.


Sementara Alvin malah berpura-pura tidak menyadari keberadaan Rere. Niatnya untuk membuat Rere cemburu, mungkin sudah ia lihat hasilnya sekarang. Saat itu, Alvin sedikit merasa bahagia tanpa ia sadari apa akibat yang akan ia dapatkan.


Di sisi lain, hati Maya langsung berbunga-bunga hanya karena sentuhan kecil yang Alvin berikan. Bagaimana tidak? Alvin ini terkesan sebagai seorang pria kaku yang tidak suka melakukan hal yang tidak ada gunanya.


Ditambah lagi, Maya sudah lama menyimpan kekaguman untuk Alvin. Hanya saja, dia tidak berani mendekati Alvin karena Alvin selalu terlihat dingin bak kopi pahit yang sudah lama terbengkalai.


"P-- pak. Ada ... ada apa?" Maya berucap dengan gugup sekarang. Rona wajahnya pun terlihat dengan cukup jelas meskipun ia berusaha menyembunyikannya.


"Tidak ada apa-apa, May. Aku lihat ada kumbang yang hinggap di atas kepalamu. Saat ingin aku ambil, dia malah terbang."


Tentu saja Rere tidak mendengar apa yang Alvin katakan. Karena jarak yang cukup jauh, meskipun bisa melihat dengan sangat baik, tapi kuping tidak bisa menangkap apa yang Alvin bicarakan.


Sementara itu, ucapan Alvin yang dibarengi dengan senyum kecil membuat Maya merasa kalau Alvin sedang berbohong. Mungkin, Alvin sengaja ingin menyentuhnya, tapi malu untuk mengakui akan apa yang sudah Alvin lakukan.

__ADS_1


Karena Alvin yang terus mengabaikan keberadaannya, Rere memilih untuk pergi saja. Mungkin, menyingkir terlebih dahulu adalah hal yang terbaik. Hatinya yang mulai merasa tidak nyaman tak mungkin ia paksakan untuk tetap bertatap muka dengan Alvin.


Alvin yang melihat Rere pergi, kini langsung mengukir senyum kecil. 'Apa barusan Rere sedang cemburu? Oh, Tuhan .... Kalau benar begitu, mungkin aku bisa hidup bahagia dengannya kelak. Karena cemburu tanda sayang, bukan?'


Bertindak tanpa memikirkan konsekuensi dari tindakan tersebut adalah hal yang sangat fatal. Seperti sebelumnya, Rere sudah melakukan kesalahan sampai pernikahan mereka kacau. Lah sekarang, Alvin pula yang melakukannya.


Hanya untuk membuktikan apa yang mamanya katakan, dia malah menabur bubuk cinta ke hati perempuan lain. Dan dia juga telah menabur duri di hati Rere sekarang.


"Ee ... pak. Anu .... "


"Saya harus pergi sekarang, May. Tolong urus klien sendirian. Nanti saya minta bantuan karyawan lain buat temani kamu. Gak papa, kan? Kamu bisa, bukan?"


Dengan wajah bingung, Maya melihat Alvin.


"Bapak ... mau ke mana? Kok tiba-tiba mau pergi?"


"Oh, baiklah, pak. Saya akan urus semuanya. Bapak tidak perlu cemas. Semua akan berjalan sesuai dengan keinginan bapak."


Lagi-lagi, Alvin tersenyum. Senyuman yang membuat Maya melayang tinggi ke udara. Hatinya yang berbunga-bunga, sepertinya semakin mekar saja bunga itu.


"Saya percaya sama kamu, May. Kamu selalu bisa saya andalkan."


Lah, Alvin malah menambahkan pujian segala. Memang benar-benar ingin cari gara-gara ini pria.


Maya begitu bahagia sekarang. Apa yang baru saja ia alami bak mimpi indah yang jadi kenyataan. Sekarang, niat untuk membuktikan kalau dia pantas menjadi orang yang Alvin sukai semakin besar. Tak ia hiraukan prihal Alvin yang sekarang sudah punya istri. Bukan pria lajang lagi.

__ADS_1


"Ya Tuhan .... Aba-aba perjuangan telah aku dapatkan sekarang. Karena itu, usaha harus aku lakukan lebih keras lagi."


"Peduli amat sama status pak Alvin sekarang. Orang dia dan istrinya seperti bukan suami istri saja saat ini. Semua orang juga tahu kalau pernikahan mereka tidak baik-baik saja. Kesempatan untuk memiliki pak Alvin masih terbuka sangat lebar dong."


Sementara itu, Alvin pergi untuk melihat keberadaan Rere. Namun, dia tidak menemuinya sama sekali. Ingin menghubungi, tapi tangannya tiba-tiba tertahan saat ingin menggeser mode panggilan.


"Tidak. Jangan dulu sekarang. Mungkin tunggu beberapa waktu lagi. Aku harus lihat ekspresi Rere lagi sekarang. Dia beneran marah, atau hanya sekedar tidak nyaman dengan keadaan saja."


Pada akhirnya, Alvin malah membiarkan keadaan berlarut semakin memburuk. Tidak menghubungi Rere, tidak pula datang untuk menemui Rere. Hingga akhirnya, retak diantara mereka berdua semakin terlihat melebar.


Beberapa hari berlalu, mereka berdua masih tidak saling bertemu satu sama lain. Mereka di sibukkan dengan kegiatan masing-masing.


Rere yang tahu kalau Alvin sibuk mengurus proyek bersama sekretaris yang bernama Maya, malah ikut menyibukkan diri dengan perusahaan yang sempat dia abaikan beberapa hari yang lalu. Bukan tidak merasa sakit, tapi Rere berusaha memahami apa yang sudah terjadi.


Dia sudah pernah terluka sebelumnya. Ketika ia menerima luka untuk yang kedua kalinya, Rere malah terlihat biasa saja. Meskipun pada kenyataannya, perih yang ia rasakan sangat mengganggu hari-hari yang sudah ia lalui sebelumnya.


....


"Mbak, ada titipan. Tapi tidak tahu dari siapa," ucap Mona sambil meletakkan amplop ke atas meja Rere.


Rere yang sebelumnya sibuk dengan laptop, kini langsung menghentikan pekerjaan. Dia lihat amplop coklat polos tanpa ada satupun coretan. Tangannya lincah mengambil amplop tersebut. Karena penasaran, Rere langsung membukanya.


Mata Rere membulat sempurna. Isi dari amplop cukup menggoreskan hati. Namun, tidak satu titik air mata pun Rere jatuhkan dari pelupuk matanya.


"Buang amplop beserta isinya ke tong sampah, Mon. Dan jangan lupa, bakar langsung isi dari tong sampah itu."

__ADS_1


"Dan satu lagi, jangan terima kiriman dari orang yang tidak mencantumkan namanya di barang yang ia kirim. Juga, jangan terima kiriman dari orang yang tidak ada hubungannya dengan kantor kita."


Meskipun sangat amat bingung, tapi Mona tetap mengiyakan apa yang Rere katakan. Namun, ketika ia mengambil amplop untuk dibuang, dia malah menjatuhkan isi dari amplop tersebut hingga berserakan ke lantai.


__ADS_2