Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'84


__ADS_3

Lalu, Mona menceritakan perjalanan cintanya bersama Ivan. Ada banyak hal yang ia lewati sebelum akhirnya, dia dinikahi dan menjadi istri sah seperti saat ini.


Cerita Mona membuat Putri bisa sedikit menenangkan diri. Awalnya, dia juga tak percaya kalau kakak keduanya itu mempunyai jalan cerita cinta yang rumit. Tapi setelah kakak iparnya bercerita panjang lebar, ia baru mengetahuinya.


Sekarang, Putri juga berpikir ulang kenapa si kakak bisa menerima Dani yang tidak ia cintai untuk menikah dengannya. Karena si kakak mungkin berpikir jika cinta akan datang seiring berjalannya waktu.


Sekarang, Putri hanya perlu mengikuti jalan takdir saja. Ke mana takdir akan membawa dia, maka ke situlah ia akan pergi.


...


Beberapa bulan kemudian. Putri benar-benar menikah dengan Dani. Pernikahan yang cukup sederhana. Hanya mengundang orang-orang terdekat saja untuk datang ke pernikahan tersebut. Setelah ijab kobul, maka langsung di lanjutkan dengan syukuran kecil-kecilan.


Sebenarnya, keluarga Dani menginginkan pernikahan yang mewah untuk anaknya ini. Tapi, setelah tahu kalau Putri masih belum lulus sekolah, mereka terpaksa mengikuti apa yang keluarga Putri inginkan.


Keluarga pak Iyas, alias keluarga Dani cukup bersahaja. Mereka juga punya rasa kekeluargaan yang kuat. Begitu menghargai perasaan dari anggota keluarga mereka.


Seperti halnya Dani yang ingin menikah muda, mendahului si kakak yang masih sibuk dengan dunia pekerjaannya. Mereka tidak sedikitpun melarang keputusan yang Dani buat. Bagi mereka, cukup tahu Dani bahagia dengan pilihan itu saja sudah cukup.


Seiring berjalannya waktu, Putri cukup bisa menerima kehidupan yang baru ia jalani. Karena anggota keluarga baru yang sangat bersahabat membuatnya merasa nyaman. Ia punya mama mertua yang lebih pengertian dari mama kandungnya sendiri. Itu sungguh hal yang sangat membahagiakan buatnya.


....


Lima tahun kemudian.


...

__ADS_1


"Uek! Agh!"


"Re ... ya ampun, sayang. Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu sekarang? Kenapa seperti ini? Kamu telat makan, kan tadi malam?" Alvin terlihat panik sambil mengelus pelan punggung sang istri tercinta yang saat ini sedang berusaha menahan mual yang ia rasakan.


"Apa hubungannya aku telat makan tadi malam dengan mual pagi ini, kak? Orang aku juga biasa telat makan jika kamu pulang sedikit terlambat, bukan?"


"Ya Tuhan ... aku yang salah. Ya sudah, kita ke rumah sakit sekarang juga ya."


"Eh ... nggak bisa gini dong, kak. Kamu akan ngadain rapat penting di kantor. Nggak bisa ke rumah sakit pagi ini. Dan lagi, Arham juga harus ke sekolah 'kan sekarang?"


"Ya tapi kamu ... nggak bisa aku tinggal seperti ini, sayang. Aku nggak akan bisa tenang. Gimana kalau kamu bukan hanya masuk angin saja? Kalau ada hal buruk lainnya gimana, Re?"


Rere dengan wajah pucat melihat ke arah, Alvin. "Ngedoainnya itu yang baik-baik dong, kak."


"Mama ... maaf, Ham ikut bicara. Apa yang papa katakan itu benar, Mah. Kondisi mama yang paling penting. Ham bisa di antar ke sekolah sama pak sopir. Gak papa kok."


Anak ini tumbuh dengan baik dan sangat jauh berbeda dari kedua orang tuanya. Sejak kecil hingga saat ini, Arham juga tidak terlalu menyusahkan Rere. Seakan sejak bayi ia sudah tahu siapa dirinya. Dan, saat Arham berusia empat tahu, Rere sudah mulai mengatakan siapa dia sebenarnya.


Rere tidak ingin Arham tahu kenyataan pahit setelah anak itu tumbuh dewasa atau remaja. Dia mengajari anak itu sejak masih kecil lagi. Dan, setiap tahunnya pula, ia pasti akan membawa Arham datang ke makam kedua orang tua dari anak itu.


Arham Rere ajarkan mendoakan kedua orang tuanya. Agar kedua orang tuanya bisa lebih baik di alam sana.


Ajaran yang baik memang akan membentuk manusia yang baik pula. Begitulah Arham saat ini. Didikan Rere benar-benar luar biasa. Terbukti, Arham yang baru berusia lima tahun saja sudah mengerti arti kasih sayang dan sangat memahami arti dari hidup.


Tapi selama itu pula, Rere masih belum memiliki anak dengan Alvin. Banyak omongan yang tidak enak terdengar. Tapi Alvin yang sangat mencintai Rere, siap memasang badan dengan menyampaikan macam-macam alasan kenapa mereka masih belum mempunyai anak hingga detik ini.

__ADS_1


Rere pun semakin bersyukur bisa menikah dengan Alvin. Ternyata, cinta sejati itu benar-benar ada. Bukan hanya khayalan belaka. Karena sekarang, dia sudah punya Alvin sebagai buktinya.


"Nah, sayang. Kamu sudah dengar apa yang Arham katakan, bukan? Kami nggak masalah. Karena bagi kami, yang terpenting itu adalah kamu. Kesehatan kamu, semua tentang kamu adalah prioritas utama bagi kami. Benarkan, nak?"


Arham mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Iya. Papa benar."


Rere tidak bisa berkata-kata karena dua manusia yang ada di dekatnya saat ini. Yang bisa ia lakukan hanya tersenyum lebar dengan perasaan sangat terharu.


"Kalian berdua memanglah pria terbaik untuk mama. Ya sudah kalo gitu, mama akan ke rumah sakit agar kalian tidak lagi mencemaskan mama."


"Jika mama baik-baik saja, maka saat itu kami baru bisa tenang."


Ucapan Arham Alvin sambil dengan senyuman sambil menganggukkan kepala dengan pelan. Sementara Rere, dia hanya bisa menggeleng dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.


Ya. Dua manusia itu semakin membuat hidupnya bahagia. Karena itu, dia merasa sangat cukup meskipun dia masih belum bisa menjadi ibu sejati dengan mengandung, juga melahirkan anak dari rahimnya sendiri.


Jika di tanya, apakah ada kesedihan dalam hati Rere ketika ia masih belum bisa memberikan Alvin buah cinta? Jawabannya, tentu saja ada. Karena bagi seorang istri, menjadi ibu mungkin termasuk ke dalam impian indah.


Di tambah, Mona yang menikah dengan Ivan setelah dia saja sudah punya dua anak sekarang. Sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan yang saat ini sudah berusia tiga tahun.


Ah! Jangankan Mona dan Ivan, Dani dan Putri yang menikah setelah Mona saja sudah mempunyai anak saat ini. Pernikahan yang terpaksa Putri terima, ternyata berakhir bahagia. Cinta akhirnya datang karena kebersamaan. Putri membukakan pintu hatinya untuk Dani setelah pernikahan berlangsung beberapa tahun.


Dan sekarang, mereka hidup bahagia dengan satu anak laki-laki yang baru berusia dua tahun. Hardy nama putra tersebut. Yang semakin membawa warna bahagia ke dalam kehidupan rumah tangga yang awalnya sangat Putri benci.

__ADS_1


...


Rere tiba ke rumah sakit setelah sebelumnya mereka mengantarkan Arham ke sekolah. Alvin yang tidak ingin meninggalkan Rere, kini ada di sisi Rere untuk menemani sang istri. Dengan perasaan yang sedikit cemas, dia tetap menggandeng tangan istrinya dengan penuh rasa sayang.


__ADS_2