
Rere tiba ke rumah sakit setelah sebelumnya mereka mengantarkan Arham ke sekolah. Alvin yang tidak ingin meninggalkan Rere, kini ada di sisi Rere untuk menemani sang istri. Dengan perasaan yang sedikit cemas, dia terus menggandeng tangan istrinya dengan penuh rasa sayang.
Setelah giliran Rere tiba, Alvin menunggu hasil dari pemeriksaan itu dengan cepat. Wajahnya tak bisa berekspresi tenang. Terus saja terlihat tengang seperti orang yang sedang menunggu pasien dalam keadaan sekarat saja.
"Nah, Dok. Bagaimana keadaan istri saya? Dia sakit apa?"
Alvin langsung melontarkan pertanyaan ketika si dokter selesai memeriksa Rere. Belum juga Rere turun dari ranjang yang dokter gunakan untuk memeriksakan dirinya. Alvin sudah langsung menyerang.
Berbeda dari apa yang alvin tunjukkan, dokter perempuan itu malah tersenyum lebar.
"Pak, sepertinya, istri anda saat ini tidak sedang sakit parah."
"Maksudnya? Dia sakit ringan? Atau ... bagaimana, Dok? Tolong jelaskan pada saya supaya hati saya tenang."
Dokter itu masih tetap dalam keadaan tenang meskipun Alvin sudah terlihat semakin tak karuan saat ini. Dokter itu malah langsung mengulur tangan tanpa menjawab terlebih dahulu apa yang Alvin tanyakan.
"Sebelumnya, izinkan saya mengucapkan selamat pada kalian berdua yang tak lama lagi akan menjadi kedua orang tua."
Alvin semakin dibuat bingung dengan apa yang dokter itu katakan. Meskipun begitu, dia menyambut uluran tangan itu dengan cepat.
"Selamat ya pak, istri anda saat ini tidak sakit. Melainkan, sedang dalam keadaan hamil muda."
"Apa!" Alvin kaget bukan kepalang. Sangking kagetnya, dia sampai bagun dari duduknya dengan cepat.
"Istri saya hamil? Rere hamil? Nggak bercanda, kan Dok?"
"Tidak, pak. Saya serius. Istri anda sedang hamil delapan minggu untuk saat ini. Saya memang bukan dokter kandungan, tapi saya dokter. Bagaimanapun, saya tahu perbedaan orang hamil dengan tidak. Jadi, saat ini saya bisa pastikan kalau istri anda benar-benar sedang hamil."
__ADS_1
Tanpa berucap sepatah kata lagi setelah penjelasan panjang lebar itu Alvin dengar, Alvin langsung menarik Rere ke dalam pelukan. Rere yang saat itu masih syok, tentu saja semakin syok dengan apa yang Alvin lakukan.
"A ... pak, tolong hati-hati. Istri anda sedang hamil muda. Jadi anda harus menjaganya dengan sangat hati-hati."
Karena ucapan dokter tersebut, Alvin jadi berlebihan dalam menjaga Rere. Dia tidak mengizinkan Rere melakukan gerakan-gerakan besar. Bahkan, Rere selalu ingin ia temani di setiap waktu. Niatnya yang ingin ke kantor juga ia batalkan tiba-tiba karena kabar bahagia itu.
Tidak hanya Alvin yang bahagia dengan kabar tersebut. Kedua mama juga sangat amat bahagia. Bahkan, Arham kecil saja ikut merasakan kebahagiaan dari berita besar kali ini.
Yang tidak bahagian hanya mantan mama mertua Rere. Karena dalam benaknya langsung terpikir akan keadaan Arham, si cucu pertama dan terakhir dari anak pertamanya yang sudah tidak ada lagi.
"Bagaimana kalau kehadiran anak ini akan menyulitkan keberadaan cucu kita, pak? Kalah iya, aku akan ambil Arham dari mereka secepatnya."
"Cukup, Bu! Jangan bikin gara-gara kamu. Sudah cukup selama ini kamu selalu saja berpikir yang tidak baik tentang Rere. Sekarang, apapun yang terjadi, hanya Allah yang maha tau. Kamu tidak akan aku biarkan melakukan hal yang tidak baik nantinya."
Meskipun ingin membantah, si ibu tetap tidak bisa melakukannya. Ada suami yang menjadi penghalang. Karena itu, dia tetap hanya bisa menahan diri untuk yang kesekian kalinya.
Tujuh setengah bulan berlalu.
Setelah melewati waktu yang cukup lama, cerita yang panjang, dilema di mana-mana. Akhirnya, di kamar persalinan rumah sakit ternama, Rere melahirkan bayi cantik dengan normal.
Yah. Dia ingin melahirkan dengan cara normal. Meskipun hari persalinan sudah terlewatkan, Rere tetap bersikeras untuk bertahan. Meskipun keputusan Rere sedikit diberatkan oleh bidan yang menanganinya, tapi dukungan dari semua pihak keluarga membuat Rere penuh semangat.
Dukungan dari pihak keluarga memang hal yang paling luar biasa. Karena itu, saat ini Rere bisa melahirkan bayi cantiknya tanpa ada halangan sedikitpun.
"Terima kasih banyak, sayang. Ini adalah hal yang paling berharga setelah aku miliki kamu beserta keluarga kecil kita. Sekarang, setelah punya anak laki-laki, kita punya anak perempuan. Hidup ini sudah lengkap."
Alvin berucap sambil menyeka air mata yang jatuh perlahan. Tangisan haru itu tetap saja muncul meski tadi dia sudah menangis cukup lama saat menemani Rere di kamar persalinan. Saat bayi cantik mereka lahir, ia juga menangis bahagia. Dan sekarang, di kamar rawat, ia malah menangis lagi.
__ADS_1
Alvin yang kuat, sekarang bahkan terus menangis karena terlalu bahagia. Benar-benar hal yang paling langka selama ini untuk semuanya. Sedangkan bagi Alvin. Ia sama sekali tidak perduli akan penilaian orang lain. Baginya, yang terpenting dia bisa menumpahkan apa yang ia rasakan saat ini.
Sementara itu, kedua mama terlihat sangat amat bahagia juga. Lahirnya cucu pertama yang selama ini mereka impikan, sungguh sangat membuat hati senang. Secara bergantian, kedua mama menjaga anak tersebut. Bahkan, mereka juga sesekali berebutan anak cantik itu untuk di gendong.
Ucapan selamat dari orang-orang terdekat juga terus berdatangan. Anak pembawa kebahagiaan itu membuat hampir semua tertarik untuk melihatnya.
Sementara itu, Arham juga tak ketinggalan ikut bahagia. Meskipun ada banyak suara sumbang yang pernah ia dengar, tapi Arham tidak peduli. Meskipun anak itu masih terbilang berumur sangat kecil, tapi pikirannya sudah cukup bijak.
Dia mengabaikan suara sumbang yang mengatakan kalau dia tidak di sayang oleh mamanya setelah anak itu lahir. Anak kecil itu terus saja bahagia meskipun dia saat ini sudah punya adik baru. Karena kasih sayang dari kedua orang tua angkatnya sama sekali tidak berubah.
Saat ini, kebahagiaan keluarga kecil itu sudah terasa sangat lengkap. Bisnis yang Alvin jalankan juga semakin berkembang. Seperti halnya kehidupan pribadi yang sangat membahagiakan. Semua terasa berjalan sesuai dengan harapan.
Baik Rere maupun Alvin tidak lagi cemas akan orang ketika. Karena mereka tahu, dengan menjaga hati, menjaga kepercayaan, menjaga komunikasi, maka mereka pasti akan saling memiliki satu sama lain.
Tidak akan ada yang bisa memasuki hati setelah pintunya di tutup rapat. Karena pasangan itu bukan untuk memiliki karena kelebihan. Tapi untuk memiliki dalam kekurangan. Karena saling melengkapi kekurangan, maka dari situ berasal pasangan.
Cinta sebelah pihak mereka sudah saling terbalaskan. Tidak ada lagi hal yang menyakitkan. Kesabaran yang membuat mereka di pertemukan. Hingga akhirnya, sebuah keluarga bahagia mereka rasakan saat ini.
\***SEKIAN**\*
***dan***
***Sampai jumpa lagi*** ....
__ADS_1