
"Apa? Papa menginginkan posisi direktur untuk Amira? Yang benar saja, pa. Sebagai asisten aku saja dia tidak becus, apalagi sebagai direktur. Mau di bawa ke mana perusahaan aku ini nantinya?"
Sebenarnya, Rere sangat amat kesal sekarang. Tapi sebisa mungkin ia tahan rasa itu agar tidak terlihat. Bagaimana tidak? Papanya ini memang sangat tidak mikir dulu sebelum berucap. Jika ia lawan dengan emosi, maka yang kesal pastilah dia sendiri.
"Kamu kan bisa menjadi pembimbing Amira, Rere. Kamu juga bisa mengajari Amira supaya dia bisa menduduki jabatannya dengan baik. Apa susahnya sih?"
Rere benar-benar meradang. Ingin sekali ia berteriak-teriak sambil bilang, 'papa nggak ngotak ya kalau bicara!' Tapi sayang, itu tidak akan pernah ia lakukan. Mengingat, bagaimanapun ia adalah anak dari pria itu. Tidak bisa ia menjadi anak durhaka hanya karena orang tuanya tidak punya pikiran.
Jika orang tua bod- oh. Maka anak harus lebih pintar. Karena itu, Rere masih bisa bertahan dengan ketenangan. Meskipun kenyataan yang ia rasakan sangat berbeda dari yang ia perlihatkan.
"Maaf, pa. Posisi direktur juga sudah ada yang mengisi sekarang. Yang kosong hanya posisi OB. Terserah pada Amira sekarang. Jika ia ingin posisi itu, maka biarkan dia bekerja. Jika tidak, maka tidak perlu bekerja."
Mata Haris langsung melebar karena ucapan Rere barusan. "Apa-apaan sih kamu, Re! Posisi direktur pun kamu bilang sudah ada yang menduduki setelah aku minta kamu meletakkan Amira ke posisi itu. Kamu ini anak aku atau bukan sih, Rere!"
"Sepertinya bukan, pah. Aku sepertinya bukan anak papa. Karena di mata papa hanya ada Amira. Sebab itu aku merasa, kalau aku bukan anak papa."
"Rere!" Sontak, Haris berteriak dengan tangan terkembang. Sepertinya, dia ingin menampar Rere. Tapi tangan itu tertahan di udara entah karena apa.
"Kenapa, pa? Papa ingin nampar aku? Ayo sini tampar, pa. Setelah itu, akan aku bawa papa ke kantor polisi atas tuduhan kekerasan."
"Kamu!"
"Aku capek, pah. Capek dengan papa yang selalu berada di pihak Amira. Yang selalu membela Amira tak kira ia benar atau salah. Sejak dulu hingga saat ini, aku seperti bukan anak papa. Karena yang selalu ada dalam hati papa hanya Amira. Sedangkan aku, hanya hanya punya papa sebatas nama saja."
Haris terdiam. Benaknya membenarkan apa yang Rere katakan. Tapi, tidak ingin mengakui secara terang-terang.
__ADS_1
"Sekarang, aku sudah tidak ingin berdebat dengan papa. Tidak ada permintaan apapun lagi yang bisa aku kabulkan untuk papa juga anak kesayangan papa itu. Mulai dari sekarang, jangan ajak aku bicara apapun soal Amira. Aku tidak punya waktu lagi untuk itu."
Rere benar-benar kesal sekarang. Kesabaran yang ia tahan, seperti sudah terkikis habis. Sirna bagaikan debu tersiram air hujan.
"Kalian berdua. Antar pria ini sampai depan pintu. Pastikan kalau ia tidak salah jalan. Dan pastikan juga kalau dia gak akan muncul lagi di dalam kantor."
"Baik, mbak."
Dua satpam langsung bergerak. Sementara Rere pun langsung meninggalkan papanya yang diapit oleh kedua satpam. Tidak Rere hiraukan tatapan tajam menusuk yang papanya berikan. Karena dia sudah sangat lelah dengan apa yang selama ini papanya lakukan padanya.
'Ya Tuhan ... aku capek. Mama, cepatlah bagun, ma. Rere tidak tahu harus apa sekarang. Papa semakin meraja lela. Beruntung perusahaan sudah mama serahkan pada Rere. Jika tidak, pasti papa yang akan berkuasa sekarang.'
Rere berkata dalam hati sambil menutup kedua matanya rapat-rapat. Dari sudut mata yang tertutup, buliran bening jatuh perlahan. Untuk beberapa saat lamanya, Rere menikmati luka sambil bersandarkan punggung ke daun pintu yang tertutup rapat.
Beberapa minggu berlalu. Keadaan sang mama masih seperti sebelumnya. Tidak ada sedikitpun perubahan yang terlihat. Sang mama masih terlihat nyaman dalam tidur panjangnya tanpa ingin bangun sama sekali.
Sementara itu, hubungan Rere dengan Alvin sepertinya ada sedikit perubahan. Alvin semakin sering menyediakan waktu untuk Rere. Meskipun sekedar ngobrol beberapa menit saja.
Dan ... surat pengadilan pertama telah pun dilayangkan pada Rohan. Pria itu kelihatannya sudah pasrah. Bahkan, beberapa waktu yang lalu, Rohan juga sudah menjatuhkan talak satu untuk Rere.
Kejadian itu saat mereka menyempatkan waktu untuk membahas prihal surat pertama yang pengadilan agama layangkan atas tuntutan cerai dari Rere. Rohan mengajak Rere bicara serius untuk membahas prihal gugatan tersebut.
"Kamu serius ingin bercerai dengan aku, Re?"
"Apa alasannya aku mempertahankan kamu, Mas? Jika kamu saja tidak sedikitpun meletakkan aku di dalam hatimu, lalu untuk apa aku bertahan?"
__ADS_1
"Bagiku, sudah cukup aku bertahan mencintai sebelah pihak selama hampir dua tahun, mas Rohan. Sekarang, aku tidak ingin bertahan lagi. Tidak ingin jadi manusia bodoh yang tetap mengharapkan bulan jatuh kepangkuan. Karena itu adalah hal yang sangat mustahil terjadi."
Entah apa yang ada dalam hati Rohan saat pembicaraan itu terjadi. Tidak sedikitpun dia menghalangi niat Rere untuk berpisah darinya. Malahan, setelah ucapan yang penuh keyakinan dari Rere terdengar ke kupingnya, Rohan langsung menjatuhkan talak pada Rere.
"Baiklah. Jika itu yang kamu katakan padaku, Re. Aku juga tidak akan mempertahankan kamu lagi. Dengan ini, aku jatuhkan talak satu padamu. Sekarang, kamu bukan lagi istriku, Rere."
Sakit. Sungguh sakit rasanya saat ucapan itu Rere dengar. Tapi, rasa sakit itu tak seberapa dibandingkan dengan ketika ia tahu, Rohan tidak sedikitpun mencintai dirinya meski sudah hampir dua tahun usai pernikahan mereka.
"Karena aku sudah menceriakan kamu dengan cara baik-baik, maka putusan sidang aku serahkan padamu, Re. Aku tidak akan datang ke persidangan lagi nantinya. Supaya perceraian ini berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan."
"Ya ... ya baiklah. Terserah padamu saja, mas. Aku lebih setuju kalau kita segera berpisah."
'Karena dengan begitu, kamu bisa segera menikahi Amira. Perempuan yang kamu kagumi dengan sepenuh hati. Yang semua cintamu telah kamu curahkan padanya,' kata Rere dalam hati.
Setelah obrolan itu, tidak ada obrolan lagi yang terjadi. Rohan malah langsung pergi begitu saja tanpa pamit pada Rere. Tidak mengucapkan satu patah kata sebelum meninggalkan Rere sendirian di cafe tempat mereka melakukan pertemuan.
Sudah dua minggu pula kejadian itu terjadi. Kini, hari putusan sidang yang kedua telah tiba. Rere sudah bersiap-siap untuk menghadiri sidang yang kedua kalinya.
"Non Rere pergi dengan siapa kali ini, non?"
"Sendiri lagi mungkin, bi."
"Lho, kok sendirian lagi sih? Sidang pertama, non Rere juga pergi sendirian. Sekarang, masa sendirian lagi. Bibi punya firasat gak enak lho, Non."
"Ah! Bibi ini ada-ada saja. Firasat apa sih? Nggak sudah macam-macam deh. Lagian, siapa juga yang harus aku bawa untuk mendampingi aku, bi? Mama lagi sakit. Bibi lagi jagain mama. Terus, siapa lagi coba? Nggak ada, kan?"
__ADS_1