
"Kurang ajar! Siapa sih yang sudah mengirimkan aku pesan ini? Benar-benar cari masalah ini orang," ucap Alvin sambil bangun dari duduknya.
Dia kesal dengan pesan tersebut. Tapi, dia juga merasa marah akan apa yang sudah terjadi dengan Rere. Memang, sebelumnya Rere sudah bicara soal mantan suaminya yang masuk rumah sakit akibat kecelakaan di rumah sakit jiwa. Tapi, dia tidak sampai berpikir kalau Rere sampai harus merawat mantan suaminya itu dengan penuh kasih sayang seperti yang ia lihat di foto barusan.
"Tenang, Vin. Tenang. Mungkin ini hanya editan saja. Kamu jangan terlalu percaya begitu saja dengan apa yang matamu lihat saat ini. Karena apa yang matamu lihat itu belum tentu benar sepenuhnya."
Alvin berusaha untuk berpikir positif. Rasa cinta untuk Rere memang teramat besar. Sampai-sampai, dia merasakan rasa sakit yang luar biasa hanya dengan melihat foto saja.
Meskipun begitu, Alvin tetap berusaha meyakinkan hati kalau apa yang sudah matanya lihat, tidak sama dengan apa yang terjadi dengan Rere. Harapan yang besar Alvin pertaruhkan sekarang. Karena bagaimanapun, dulunya, Rere tidak sedikitpun mencintai dirinya.
"Ya Tuhan .... Semoga ini tidak nyata. Jangan hancurkan kebahagiaan ini yang maha kuasa. Aku begitu bahagia bisa memiliki dia meskipun belum sepenuhnya. Karena rasa cinta ini, tidak mungkin akan tetap bertahan jika aku harus bertahan sendirian dengan cinta sebelah pihak yang selama ini aku miliki."
Alvin terhenyak sesaat. Luka lama mendadak ia rasakan kembali terbuka. Rasa takut akan kehilangan apa yang ada dalam genggaman membuat Alvin merasa ingin segera bertemu Rere.
Dengan lincah, tangan Alvin mengutak-atik gawai nya kembali. Ia coba menghubungi nomor Rere secepat yang ia bisa. Tapi sepertinya, si pemilik sedang tidak bisa menjawab panggilan tersebut. Entah itu karena tidak menyadari, atau karena memang sedang dalam keadaan yang sibuk. Karena itu, panggilan tidak bisa tersambung.
Alvin mengganti nomor tujuan panggilan dengan calon mama mertuanya. Dengan cepat, panggilan dari Alvin mendapat jawaban.
"Ya, Vin. Ada apa, nak?"
"Ha-- halo, Ma. Mm ... Rere ada di rumah nggak sekarang? Kok aku hubungi nggak diangkat-angkat juga ya?"
"Mm .... " Orang tua paruh baya yang saat ini sedang ada diujung panggilan sepertinya sedikit cemas setelah mendengar pertanyaan dari Alvon barusan. Tapi itu tidak lama, karena detik berikutnya, mama Rere sudah bisa tenang kembali. "Rere nggak ada di rumah, Vin. Dia ke rumah sakit buat jenguk Rohan. Dia sudah bilang soal Rohan padamu sebelumnya, bukan?"
"Iya, Ma. Sudah. Oh, ya sudah kalo ia sedang sibuk. Panggilannya aku akhiri dulu ya, Ma."
__ADS_1
"Aa ... Vin, tunggu!"
"Iya, ma. Ada apa?"
"Jika ada hal yang tidak mengena di hati, mama sarankan agar kamu langsung utarakan pada Rere ya, Vin. Jangan saling menutupi, karena sebentar lagi, kalian akan menjalani biduk rumah tangga. Cobalah untuk saling terbuka satu sama lain ya, Nak. Mama nggak ingin kalian punya masalah sebelum menikah."
Alvin terdiam sejenak. Sang mama cukup peka ternyata. Dia bisa langsung tahu apa yang sedang Alvin rasakan saat ini tanpa harus Alvin mengatakannya secara langsung.
"Iya, Ma. Makasih banyak atas nasehatnya. Aku akan coba bicara empat mata dengan Rere nantinya. Ah, iya. Biasanya, Rere pulang jam berapa, Ma? Aku langsung jemput dia ke rumah sakit aja nanti."
"Mm ... kalau itu, mama kurang tahu, Vin. Tapi hari ini, Rere di hubungi oleh pihak rumah sakit untuk segera datang karena Rohan sudah sadar dari komanya. Jadi, mama gak tahu dia pulang jam berapa."
"Oh, iya deh kalo gitu."
"Mau ke mana, Vin?"
Pertanyaan itu terdengar ketika Alvin baru saja keluar dari kamarnya. Sang mama yang melihat anak yang baru pulang kerja, sekarang sudah rapi dengan pakaian yang berbeda, tentu saja langsung merasa penasaran.
"Eh, mama. Aku mau ... mau ke rumah sakit, Ma."
"Rumah sakit? Siapa yang sakit, Vin?" Wajah panik tergambar dengan sangat jelas di raut wajah sang mama.
Hal itu membuat Alvin langsung menyentuh lembut pundak mamanya. "Ma. Yang sakit itu kenalan Rere. Jadi, aku pergi ke rumah sakit buat temani Rere jenguk kenalannya. Mama nggak perlu cemas yah. Gak ada yang harus di cemaskan soalnya."
"O ... kalau gitu, mama ikut ya, Vin. Mama juga mau jenguk kenalan Rere sekarang."
__ADS_1
"E ... eh. Nggak bisa, Ma. Nggak bisa ramai-ramai datang ke rumah sakit. Pasiennya sedang kritis. Lagian, pasiennya sedikit gangguan jiwa, Ma. Kalau mama ikut, nanti aku bingung mau jagain yang mana."
Alvin bicara sambil mengukir senyum tak enak. Dia ingin jujur, tapi takut kalau hati sang mama juga ikut terguncang. Maklum, sang mama pernah terluka hanya gara-gara perempuan yang Alvin kenal.
Apalagi sang mama tahu, Alvin sudah pernah terluka gara-gara Rere. Bagaimana bisa Alvin jujur prihal masalah yang saat ini sedang ia hadapi. Karena buat bujuk mamanya untuk menerima Rere waktu itu saja dia sudah melakukan banyak cara.
Bagaimana jika sang mama tahu hal buruk terjadi lagi pada anak satu-satunya? Mungkin tidak akan tempat lagi buat Rere di hati sang mama nantinya.
"Kamu ini yah. Bilang aja kalau kamu hanya ingin berduaan saja dengan Rere, Vin. Pakai alasan macem-macem segala. Dasar anak nakal kamu," ucap mama Alvin sambil mengacak-acak rambut Alvin yang sudah tertata rapi.
"Mama .... "
"Apa? Mau bilang kalau kamu bukan anak kecil lagi, kan?"
"Alvin. Bagi mama kamu tetap anak kecil mama. Meskipun sekarang, kamu sudah sangat dewasa. Tapi anak kecil mama tidak akan pernah berubah di hadapan mama."
"Haish. Iya deh. Aku anak kecil mama. Aku terima kok."
Alvin sedikit bisa melupakan beban hati yang dia rasakan akibat foto Rere yang tadi ia lihat. Bersama mama, dia mampu mengarungi hidup sejak dulu hingga sekarang. Yah, sejak dia masih kecil, Alvin sudah kehilangan sosok papa karena sang papa pergi duluan. Pergi, dan tidak akan kembali lagi.
Sejak saat itu, Alvin hanya tinggal dengan mamanya. Belajar membangun perusahan bersama sang mama, hingga akhirnya, dia mampu menjadi penguasa di dunia bisnis setelah dewasa.
....
Tiba di rumah sakit, Alvin langsung menuju kamar rawat tempat di mana Rohan berada. Dia mengetahui kamar tersebut dari suster yang bertugas saat ini.
__ADS_1