Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'72


__ADS_3

Rere kesal. Tapi, ketika ia ingin menjawab, Alvin yang baru datang dari lantai bawah langsung mengambil alih.


"Barusan kalian bilang apa? Istriku pakai guna-guna?"


Kedua pelayan itu jadi kaget luar biasa. Sontak, mereka langsung menundukkan kepala. Tak satu patah katapun berhasil lolos dari bibir mereka berdua.


"Jika Rere pakai guna-guna, aku pastikan, kalian juga akan tunduk padanya. Rumah ini juga semua akan berada di bawah kekuasaan, Rere. Kalian paham?"


"Ma-- maaf, tuan muda. Kami hanya .... "


"Kalian tidak seharusnya lancang seperti ini. Aku bayar kalian untuk mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. Bukan untuk mengurusi kehidupan pribadi aku."


"Alvin, sudahlah. Jangan di perbesar lagi. Aku gak papa kok. Apa yang mereka katakan tidak sedikitpun menganggu aku. Jadi, biarkan saja mereka mau bicara apa."


"Tidak bisa, Re. Kamu adalah majikan di sini. Nona muda Utama, istri dari Alvin Utama yang punya rumah ini. Masa pelayan yang aku bayar tidak punya sopan santun terhadap istriku? Itukan nggak baik."


"Alvin."


"Minta maaf pada istriku sekarang juga!"


"Ba-- baik, tuan muda." Keduanya berucap serentak. "Nona Rere, maafkan kami. Kami tidak akan melakukannya lagi."


"Sudahlah. Aku gak papa."


Meskipun mereka minta maaf pada Rere, tapi hati mereka masih menyimpan rasa kesal. Setelah semua masalah dianggap selesai, Alvin lalu meminta kedua pelayan itu membereskan kamar. Mengganti seprei kamar yang sempat ternodai.


Ketika mereka melakukan tugas, noda darah membuat mereka menjadi bingung. Tapi, mereka tidak ingin mempermasalahkannya. Namun, saat salah satu dari keduanya membawa seprei keluar, tanpa sengaja bertemu dengan mama Alvin.


Sang mama tentu merasa curiga akan seprei yang di bawa itu. Dengan wajah penasaran, mama Alvin mendekati pelayan tersebut.


"Itu ... seprei kamar Alvin? Kok diganti lagi? Bukannya baru di ganti tadi pagi yah?"


"Iya, nyonya. Tuan muda minta di ganti karena ada noda ... darah di seprei nya."


"Noda ... darah? Kok bisa? Siapa yang terluka?"

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat mama Alvin langsung ingat dua kemungkinan. Pertama, Rere sedang halangan. Yang kedua ... itu hal yang sulit untuk sang mama percayai.


"Tidak mungkin Rere masih ... coba aku lihat nodanya."


"Aish, kalau begini aku harus tanya Alvin kali yah. Tapi ... ah, sudahlah. Lain kali saja aku pikirkan lagi. Untuk kamu, lanjutkan pekerjaanmu."


"Baik, nyonya."


Sang mama terus kepikiran. Dalam hati ia berucap, 'kalau iya Rere masih murni, Alvin beruntung juga dong. Punya istri janda, tapi masih segel. Aish, anak itu yah.'


'Ah! Tapi sebaiknya aku jangan terlalu berpikir soal ini dulu. Mana tahu itu noda lain.'


Sementara itu, di kamar Alvin, keduanya masih belum memejamkan mata. Mereka masih ngobrol hangat sambil duduk di atas ranjang.


"Re, bagaimana kalau kita tinggal di rumah sendiri. Bukankah itu akan adil buat aku dan juga kamu? Nggak tinggal bareng mama aku, atau bareng mama kamu, iyakan?"


Rere menatap lekat wajah Alvin yang berjarak tak jauh darinya. "Kamu yakin akan hal itu, Vin? Mama kamu mungkin gak akan setuju jika kita tinggal di rumah lain. Lah mamaku juga gak akan setuju mungkin. Karena baik rumah aku atau rumah kamu, itu sama-sama nggak ada orang selain kita berdua anak mereka."


"Ya nanti kita bikin mereka cucu yang banyak supaya bisa temani mereka, Re." Alvin berucap tanpa beban. Rere yang mendengar jadi merinding.


"Nggak kok sayang. Nggak keterlaluan. Aku serius nih. Bikin anak banyak, biar rumah jadi ramai."


"Bikin aja sendiri kalo gitu. Aku nggak mau banyak-banyak. Kamu pikir gampang ngelahirinnya ke dunia?"


Alvin menatap prihatin ke arah Rere.


"Iya juga yah. Yang ngalamin sakitnya kan kamu, Re. Aish. Ya sudah, satu aja sudah cukup."


"Oh, iya, Re. Mm ... bisa ubah panggilan kamu buat aku nggak?"


"Maksud kamu?"


"Ubah panggilan. Jangan panggil aku dengan sebutan nama. Panggil aku mas, abang, atau ... kakak kek gitu. Yang penting jangan Alvin. Nggak enak di dengar orang. Kamu itu udah jadi istri kesayangan aku soalnya."


"Hei ... jika aku bukan istri kesayangan, cuma sebatas istri doang, apa aku boleh panggil kamu dengan sebutan nama?" Rere malah menggoda Alvin.

__ADS_1


"Sayangnya, kamu sudah menjadi istri kesayangan aku, Re. Nggak akan bisa diubah lagi."


"Dasar kamu, Vin."


"Mm ... masih Alvin kah?"


"Iy-- iya baiklah. Nggak panggil kamu dengan sebutan nama lagi. Aku panggil dengan sebutan kakak saja. Tapi ... aku butuh waktu untuk terbiasa yah."


"Kakak? Mm .... " Alvin terlihat sedang berpikir. "Kenapa kamu pilih kakak, Re? Kenapa bukan mas saja?"


"Itu .... " Rere mengalihkan pandangannya saat berucap kata tersebut. "Itu karena, aku sudah pernah mencoba nama itu. Aku tidak suka dengan panggilan itu lagi, Vin. Ah! Maksudku, kak Alvin."


"Untuk panggilan kakak, aku ingin mencobanya. Karena kamu dulu juga pernah menjadi kakak kelasku. Aku rasa, panggilan itu sangat cocok."


"Tapi aku tidak suka, Re. Karena kamu hanya akan menganggap aku sebagai kakak kelas saja. Aku ingin kamu anggap sebagai suami tercinta kamu, Rere." Alvin berucap dengan nada sedih. Sayangnya, nada sedih itu sangat terlihat dibuat-buat.


Rere pun langsung membalasnya dengan nada dan wajah kesal yang ia buat-buat. " Ya sudah kalo gitu, aku panggil kamu kakek atau om saja deh. Bagaimana?"


"Apa! Aku nggak setua itu kok, nona Rere. Enak aja kamu panggil aku om yah. Apalagi kakek. Ya kali nona. Aku cuma tuaan dikit dari kamu."


"Tuaan dikit? Tapi tuaan juga, kan?"


Begitulah keduanya masih terus bercanda hangat menghabiskan malam bersama. Sepertinya, masalah besar sudah terlupakan sekarang. Mereka sudah bisa berdamai dengan keadaan. Bahkan, mereka terlihat seperti tidak mengalami masalah sebelumnya. Begitu hangat dan harmonis.


...


"Bos, saya sudah mendapatkan apa yang bos mau."


"Bagus. Katakan segera padaku apa yang kamu punya sekarang!"


"Kita bisa menggunakan sekretaris tuan muda Utama yang bernama Maya, bos. Sekretaris itu jatuh cinta pada tuan muda Utama. Jika kita panas-panaskan dia dengan bersatunya Alvin dengan istrinya, maka saya yakin, kita bisa menggunakan dia sebagai senjata handalan."


"Apa kamu gila! Dia tidak akan menyakiti Alvin. Tapi dia akan menyakiti wanita pujaan ku agar dia bisa bersama dengan Alvin. Aku tidak inginkan hal ini. Karena aku inginkan wanita pujaan ku ada dalam genggaman ku, bod- oh!"


Lalu, orang suruhan itu meyakinkan Dimas dengan susah payah kalau cara pandang bisa diubah. Hingga pada akhirnya, Dimas termakan ucapan juga. Dia setuju memakai Maya untuk menyakiti Alvin.

__ADS_1


"Jika ini tidak berhasil. Maka kamu yang akan tanggung akibatnya. Kamu mengerti?"


__ADS_2