Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'62


__ADS_3

"Ma, aku tahu mama tidak bisa berkata apa-apa atas apa yang sudah aku lakukan. Tapi, aku ingin bilang, mas Rohan sudah tidak ada lagi, Ma. Meskipun aku tidak bisa menolong nyawanya, tapi setidaknya, aku tidak merasa menyesal lagi dikemudian hari. Aku sudah melakukan apa yang bisa aku lakukan."


Dan, bruk! Tubuh Rere mendadak merosot jatuh ke lantai. Sepertinya, beban pikiran membuat tubuh Rere kehilangan kendali untuk saat ini. Dia juga sangat kelelahan sekarang. Karena itu, Rere tak sadarkan diri setelah beberapa saat ngobrol dengan sang mama.


"Ya Tuhan, Rere! Bi Sari! Tolong saya, bi!"


"Iya, nyonya. Astaghfirullah, non Rere. Kenapa dengan non Rere, nyonya?"


"Entahlah, Bi. Saya juga tidak mengerti. Tolong bantu saya bawa Rere masuk ke dalam. Setelah itu, tolong bibi hubungi Alvin."


"Iya, nyonya."


Sayangnya, Alvin yang bi Sari hubungi tidak menjawab sama sekali. Bahkan, nomor yang bi Sari hubungi saja tidak aktif.


Bagaimana mau aktif, orang ponselnya sudah Alvin banting. Yang jelas, ponsel itu sekarang mungkin sedang rusak parah di sudut kamar hotel tempat di mana Alvin berada saat ini.


"Nyonya. Mas Alvin nggak menjawab panggilan dari saya. Apa mungkin ... dia marah besar sampai tidak ingin menerima panggilan dari kita sekarang ya?"


Mama Rere langsung melepas napas berat.


"Heh ... mungkin saja, bi. Jangankan Alvin, aku selaku mama Rere saja merasa sangat kesal akan keputusan yang sudah Rere ambil. Anak ini sungguh sulit untuk di kasih tahu terkadang. Bertindak selalu menggunakan perasaan, bukan pikiran."


"Tapi non Rere gak salah, Nya. Yang salah itu mantan keluarga mertuanya non Rere. Mereka tahu kalau non Rere punya hati yang besar. Maka mereka manfaatkan untuk kepentingan mereka. Sangat menyebalkan mereka semua."


"Yah ... mungkin kamu ada benarnya, bi. Rere seperti ini juga mungkin karena mewarisi sifat lemah yang aku punya. Bisa-bisanya dimanfaatkan oleh orang lain karena sifat lemah itu."


"Bukan tidak sadar setelah dimanfaatkan, tapi sengaja tidak ingin melakukan pembalasan. Karena memikirkan orang lain yang lebih membutuhkan."

__ADS_1


Mama Rere menatap prihatin ke arah anaknya yang saat ini sedang terlelap. "Semoga kehidupan kamu nggak berantakan, Re. Mama sangat cemas sekarang."


....


Alvin pulang ke rumah sang mama setelah semalaman mengurung diri di kamar hotel. Pulangnya Alvin disambut dengan tatapan sedih oleh sang mama. Dengan cepat, dia memberikan pelukan hangat untuk anaknya.


"Alvin. Maafkan mama yang tidak bisa membantu kamu, nak. Kamu baik-baik saja sekarang, bukan?"


"Iy-- iya, Ma. Aku ... baik-baik saja."


"Ya sudah, sarapan dulu yah."


"Nggak, Ma. Nanti saja. Aku ingin ke kamar saja."


"Tapi, Vin. Kamu belum makan apapun semalaman. Mama tahu kalau kamu ... Rere masih belum kembali ke padamu, bukan? Mama tahu semuanya, nak."


Perkataan sang mama langsung membuat Alvin melonggarkan pelukan. Kemudian, dia melepas sepenuhnya pelukan tersebut.


"Ya ... ya sudah. Terserah padamu saja, Vin. Tapi yang pasti, mama akan antar kan makanan ke kamar kamu nanti ya, Nak. Mama tidak ingin kamu sakit karena nggak makan apapun dalam waktu yang lama."


"Ya, terserah mama saja."


Alvin pun berlalu meninggalkan sang mama sendirian. Beberapa jam kemudian, setelah sang mama selesai menyiapkan makanan, bahkan setelah sang mama siap mengantarkan makanan yang dia buat sendiri dengan tangannya untuk Alvin, salah seorang pelayan rumah mereka datang mendekat.


Si pelayan mengatakan kalau ada Rere di depan rumah mereka. Tentu saja wajah mama Alvin langsung berubah kesal. Amarah yang ia tahan, kini bangkit kembali.


"Apa! Heh! Akhirnya dia datang juga. Suruh dia masuk! Aku ingin bicara banyak dengannya sekarang," ucap sang mama dengan wajah kesal tanpa akhir.

__ADS_1


Pelayan itu melakukan apa yang majikannya katakan. Rere pun masuk dengan wajah penuh rasa bersalah menghadap mama Alvin yang saat ini sedang berdiri melihat ke arah luar jendela.


"M-- Ma."


Panggilan dari Rere langsung membuat mama Alvin memutar tubuh. Tatapan tajam menusuk jantung hati ia berikan ke pada Rere yang saat ini ada di hadapannya.


"Mama? Apa kamu pantas menyebut aku dengan nama itu, Re? Tepatnya, setelah semua yang kamu berikan untuk Alvin yang sangat amat tulus mencintai kamu. Apa kamu pantas memanggil aku dengan sebutan mama sekarang? Karena kamu sudah sangat mengecewakan hati aku juga hati anak kesayanganku, Rere."


Rere tidak menjawab. Karena dia tahu ini adalah kesalahan terbesar yang sudah ia lakukan. Rere hanya bisa menundukkan wajahnya saja sekarang. Menerima dengan hati sedih apa yang ingin sang mama mertua katakan.


"Kenapa diam, Re? Apa kamu sudah tidak bisa mengatakan satu patah katapun lagi sekarang? Mulutmu sudah tidak bisa kamu ajak bicara karena kesalahan yang sudah kamu perbuat?"


"Rere. Mama pikir, kamu sudah berubah. Kamu bisa menghargai perasaan tulus yang Alvin punya. Tapi nyatanya, kamu malah mempermainkan Alvin lagi dan lagi, Re. Mama sungguh tak habis pikir dengan ulah yang sudah kamu lakukan."


"Aku tidak pernah mempermainkan Alvin, Ma." Kali ini Rere tidak bisa diam lagi. Suaranya terdengar bergetar sambil mengeluarkan air mata, Rere mengucapkan kata-kata itu.


"Aku hanya ingin menolong nyawa orang, Ma. Aku tidak mempermainkan Alvin sedikitpun. Sama sekali tidak."


"Kamu bohong, Re. Jika kamu tidak berniat untuk mempermainkan Alvin, kenapa kamu sakiti dia sekarang. Kamu tahu, Rere? Perjuangan apa saja yang Alvin lakukan selama ini, hah? Cinta yang ia punya itu sangat amat tulus untuk kamu. Kenapa kamu tidak bisa menyadarinya sih?" Kali ini, sang mama berucap dengan air mata yang berderai.


Rere pun langsung bersimpuh sambil memeluk kaki mama mertuanya. Dia ceritakan semua yang terjadi agar sang mama mertua bisa mengerti seperti apa posisinya saat ini.


"Ma ... maafkan, Rere. Tolong berikan Rere satu kali kesempatan untuk membuktikan kalau Rere benar-benar punya rasa yang sama dengan Alvin. Cinta Alvin tidak hanya sebelah pihak sekarang, Ma. Tapi juga sudah terbalaskan. Rere mohon, Ma."


Rere berucap dengan isak tangis yang kuat. Setelah sebelumnya, dia sudah menjelaskan dengan susah payah apa yang sebenarnya terjadi. Sekarang, sepertinya sang mama mertua sudah mulai bisa mengerti. Itu terlihat dari tidak adanya jawaban dengan nada tinggi yang terucap.


Bahkan sekarang, mama Alvin sudah mulai terlihat agak tenang. Dia juga sudah menyeka air matanya yang sudah jatuh melintasi kedua pipi.

__ADS_1


"Bangun, Re." Mama Alvin berucap sambil mengangkat tubuh Rere agar tidak lagi bersimpuh di kakinya.


Rere pun langsung mengikuti apa yang mama mertuanya katakan. Dia bagun, lalu diajak duduk ke atas sofa yang ada di dekat mereka.


__ADS_2