Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'43


__ADS_3

"Ya ... tapi kan kasihan, Pa. Mas Rohan nggak punya tempat tinggal. Biarkan saja dia tinggal di sini. Setidaknya, sampai dia punya tempat tinggal lain aja, pah."


Pada akhirnya, dengan permohonan Amira, juga karena beberapa pertimbangan, Rohan diizinkan tinggal di rumah tersebut malam ini. Amira membawa Rohan ke kamar tamu, lalu menyediakan makan malam untuk mereka.


Setelah makan malam, Amira mengajak Rohan ngobrol hal serius. Dia ingin memberikan balasan untuk Rere yang dituduh menjadi penyebab rusaknya hidup mereka.


"Mas, aku ingin kita membalas Rere dengan balas setimpal. Apa kamu bisa bantu aku?"


Wajah bingung langsung Rohan perlihatkan.


"Balasan setimpal? Balasan apa, Mi? Jangan macam-macam kamu. Kita begini juga bukan salah Rere sepenuhnya. Malahan, dia yang menjadi korban dari kesalahan yang aku perbuat."


"Apa! Kamu ngomong apa barusan, mas! Salah kamu? Enak saja kamu ngomong kalau semua yang telah kita alami saat ini adalah salah kamu. Setelah semua yang Rere perbuat, setelah semua kejahatan yang menyebabkan kita kehilangan banyak hal, kamu masih bisa bilang ini salah kamu, mas Rohan. Yang benar saja kamu, mas!"


Amira terlihat sangat emosi saat ini. Wajah kesal akan apa yang Tohan katakan terlihat dengan sangat jelas. Meskipun dia sudah melepaskan kekesalannya melalui ucapan seperti barusan. Tapi tetap saja, Amira terlihat masih sangat marah.


"Mi. Kamu kok jadi sering emosian kek gini sih? Akhir-akhir ini, kamu jadi semakin banyak berbeda dari dirimu yang aku kenal dulu. Yang selalu sabar dalam setiap hal. Yang penuh dengan kelembutan dan juga kasih sayang. Sekarang, aku kek ngeliat bukan kamu aja yang ada di hadapanku, Amira."


"Gimana bisa aku sabar coba, Mas? Kamu aja nggak bisa aku ajak kerja sama. Setelah semua yang kita lalui, kamu masih ingin aku bersabar. Mas Rohan, aku itu sangat kesal dengan semua yang telah terjadi. Cobalah untuk mengerti apa yang sedang aku rasakan."


Amira berusaha untuk tenang sekarang. Meskipun sebenarnya, dia sangat amat ingin marah agar perasaannya bisa sedikit lega. Tapi tidak. Hal itu tidak bisa ia lakukan dengan leluasa. Mengingat, Rohan masih belum bisa memahami dia dengan cukup baik.


Sebaliknya, Rohan malah langsung memaklumi apa yang Amira katakan. Dia bisa menerima alasan yang Amira katakan dengan baik. Tanpa ada rasa kesal, atau rasa apapun yang sebelumnya masih bisa ia rasakan dengan sangat jelas.


"Mira, maafkan aku. Aku yang tidak bisa mengerti dirimu yang saat ini. Iya. Pukulan berat yang sedang kita terima memang sangat menyakitkan. Langsung mengubah semua yang sudah kita miliki selama ini. Tapi, aku minta kamu tetap sabar ya, Mi. Aku yakin, kita pasti bisa melewati semua ini nantinya."


Amira pun mengangguk pelan.


"Tapi, mas. Sebaiknya kita harus berusaha memulihkan kehidupan kita. Setelah semua yang Rere lakukan pada kita, aku punya cara jitu untuk membuat Rere sadar akan pentingnya diri kita untuk perusahaan yang dia pegang."

__ADS_1


"Apa maksud kamu, Mi?"


Amira pun langsung mengatakan rencana yang saat ini ada dalam pikirannya. Rohan yang mendengarkan rencana itu langsung memasang wajah kaget.


Awalnya, Rohan tidak menyetujui rencana yang Amira katakan. Tapi, setelah Amira membujuknya dengan kata-kata manis, Rohan pun langsung bersedia meski dengan sedikit berat hati.


"Baik, Mi. Kita akan lakukan rencana sesuai yang kamu katakan. Demi calon buah hati kita nanti."


"Iya, mas. Kita harus sedikit lebih tega jadi manusia. Karena dengan begitu, hidup kita akan lebih baik. Dan yang pasti, calon anak kita nanti tidak akan hidup menderita karena tekanan ekonomi."


...


"Gimana keadaan mama kamu, Re?"


"Eh, Vin. Mama ... yah, seperti sebelumnya, Vin. Masih belum ada perubahan."


"Kalau mama kamu, gimana? Apa mama kamu semakin membaik sekarang?"


"Syukurlah kalau gitu."


"Kamu pasti sangat bahagia, bukan? Mama kamu udah membaik sekarang. Tapi aku .... " Rere langsung menggantungkan kalimatnya. Dengan mata penuh harap dan juga rasa sedih, dia menoleh ke arah sang mama yang masih terlelap.


"Mama ku masih koma, Vin. Masih belum ada tanda-tanda perubahan yang bisa membuat hati ini bersemangat hingga detik ini."


Tangan Alvin pun ringan langsung menyentuh lembut satu pundak Rere. "Sabar, Re. Keajaiban pasti akan datang kok. Kamu hanya perlu bersabar dan banyak berdoa saja."


"Oh, iya. Hampir saja aku lupa bilang, kedatangan ku kali ini mau ngerekomendasikan dokter terbaik yang sebelumnya ngerawat mama, Re. Apa kamu bersedia aku pertemukan dengan dokter tersebut. Mana tahu, mama kamu juga cocok. Terus bisa sembuh kek mama aku."


Dengan mata yang berbinar sangat terang, Rere mengangguk cepat. Sepertinya, sebuah harapan langsung menyusup ke dalam hati Rere saat ini. Tanpa ada rasa ragu sedikitpun, Rere langsung mengatakan setuju.

__ADS_1


"Kalau gitu, besok pagi aku jemput kamu. Kamu libur, kan besok?"


"Iya. Bisa. Besok aku akan tunggu kamu di sini."


"Bersemangat amat kek nya."


"Tentunya, Van. Aku sangat bersemangat karena aku sangat ingin mama cepat sembuh."


"Kamu tenang saja. Aku akan bantu sebisa aku, Rere. Oh iya, ayo makan dulu. Nih, aku bawakan makan buat kamu." Alvin berucap sambil menyodorkan kantor yang sedari tadi ada di tangannya.


"Makan? Apa lagi nih?" Rere melihat dengan tatapan serius ke arah kantong yang ada di datang Alvin.


"Ambil dan buka saja. Kamu pasti tahu apa isinya."


Rere melakukan apa yang Alvin katakan. Ketika ia membuka plastik yang membungkus makanan tersebut, mata Rere langsung tertuju dengan tatapan lekat ke arah makanan tersebut. Lalu, detik berikutnya berpindah ke arah Alvin.


"Ayam ... bumbu?"


Bukan tanpa alasan Rere melemparkan pertanyaan itu. Karena ayam bumbu adalah lauk kesukaan Rere sejak ia masih kecil. Dan sekarang, Alvin masih mengingat apa yang ia sukai dengan sangat baik. Padahal, selama mereka makan bersama, tidak sekalipun Rere memesan makanan tersebut.


"Iya. Ayam bumbu rumahan. Makanlah! Itu sedikit spesial, Re. Karena itu, mama aku yang buatkan."


"Ma-- mama kamu, Vin?"


Alvin mengangguk sambil tersenyum kecil.


"Iya. Jangan banyak tanya. Makan saja. Nanti lauknya mendadak jadi nggak enak. Hargai aku dong, Re. Aku udah capek-capek ngerampok masakan mama ku lho tadi."


Rere ingin membalas candaan yang baru saja Alvin buat. Tapi sayang, hatinya yang saat ini rapuh tidak bisa ia ajak kerja sama. Dia malah terdiam dengan tangan yang lincah menyuapi makanan ke dalam mulut.

__ADS_1


Rasanya langsung membuat Rere terdiam. Rasa ayam itu membuat ia rindu akan masakan sang mama. Hal tersebut membuat Rere tiba-tiba memasang wajah sedih.


__ADS_2