Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'54


__ADS_3

Seketika, wajah semua keluarga langsung berubah menjadi bingung. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain. Tapi, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.


"Rere tidak ada di sini sekarang, Dok. Tapi kami janji akan bawakan Rere secepatnya," ucap si ibu dengan penuh rasa yakin.


Tentu saja ucapan itu langsung membuat semua mata terfokus pada ibu yang sudah mengucapkan kata-kata yang bagi mereka sangat tabu. Ucapan yang kebenarannya entah terwujud atau tidak.


"Ibu bicara apa sih? Bagaimana caranya kita bawakan kak Rere ke sini? Kita tidak akan mungkin bisa melakukannya." Ivan dengan tegas menolak.


Tapi, tentu saja penolakan itu membuang sang ibu kesal. Dengan tatapan penuh amarah, ibunya melihat ke arah Ivan.


"Kenapa tidak akan mungkin, Ivan? Rohan membutuhkannya. Kita harus mencoba. Minta tolong saja apa sulitnya sih? Ibu yakin, Rere masih punya hati untuk menolong meskipun dia tidak lagi ada hubungannya dengan kita."


"Tapi, Bu. Kak Rere sebentar lagi akan menikah. Kita tidak mungkin mengganggu dia, kan?"


"Mengganggu? Kamu pikir, nyawa kakak mu tidak berharga, Ivan?" Ibunya terlihat sangat amat marah sekarang.


Melihat hal itu, bapak Rohan angkat bicara.


"Bu, kita harus pikirkan jalan terbaik saat ini. Untuk sekarang, sebaiknya kalian jangan berdebat lagi. Keselamatan Rohan adalah hal yang paling penting buat kita, bukan?"


"Sebaiknya, kalian bawa orang yang bernama Rere secepatnya. Karena harapan untuk Rohan bertahan akan semakin besar jika orang yang ia sebutkan namanya ada di sekitar dia."


"Saya hanya bisa menyarankan. Selebihnya, tergantung pada keputusan kalian selaku anggota keluarga."


Karena ucapan dokter barusan, Dimas yang masih berada di sana langsung mengukir senyum lebar. 'Ya Tuhan. Ya Tuhan .... Kesempatan emas ternyata datang tepat pada waktunya. Ini dia hal yang paling baik untuk membuat hubungan Rere dan Alvin, tuan muda kurang ajar itu berpisah. Akan aku gunakan dengan sebaik mungkin.'


....


Malam harinya, bapak Rohan beserta Putri datang ke rumah Rere. Karena tidak punya pilihan lain, dan kondisi Rohan yang semakin memburuk setiap jamnya, si bapak terpaksa bertemu dengan Rere untuk meminta bantuan.

__ADS_1


"Apa, pak! Mas Rohan sekarat? Dan dia membutuhkan aku untuk memberikan dia semangat hidup?"


Berbeda dengan apa yang bapak Rohan dan Putri pikir, Rere ternyata sangat terkejut saat tahu kabar itu. Sebelumnya, kedua anggota keluarga Rohan berpikir jika Rere pasti akan bersikap biasa saja. Mengingat apa yang sudah Rohan lakukan terhadap Rere dahulu, pastinya membuat Rere begitu kesal terhadap Rohan.


Tapi nyatanya, Rere bukan orang yang pendendam. Yah, bagaimanapun, Rohan adalah seseorang yang pernah ia perjuangkan. Meskipun tidak mendapatkan hasil yang baik dari perjuangan itu. Tapi tetap saja, dia tidak mungkin tega membiarkan Rohan yang sangat amat membutuhkan dirinya ia lupakan begitu saja.


"Iya, Re. Karena itu ... bapak ... bapak singkirkan rasa malu yang saat ini sangat memberatkan hati bapak. Karena Rohan sangat amat membutuhkan kehadiranmu di dekatnya saat ini."


"Iya, kak Rere. Tolong kakak ku, kak. Tolong berikan dia semangat untuk hidup. Karena bagaimanapun, dia adalah kakak ku, kak Rere." Dengan deraian air mata, Putri ikut bicara.


Tak kuasa Rere menolak. Dia pun langsung menyetujui permintaan kedua orang yang memang sudah ia anggap sebagai keluarga meskipun hubungannya dengan Rohan sudah berakhir.


"Baiklah, pak, Putri. Aku akan datang ke rumah sakit malam ini juga. Apa kita berangkat bersama-sama saja?"


"Tidak perlu, Re. Bapak dengan Putri datang dengan sepeda motor. Jadi, kami pulang pakai sepeda motor saja."


Putri beserta bapaknya pun langsung pamit. Rere yang ingin segera pergi, langsung di cegah sang mama yang baru saja keluar dari kamar.


"Mau ke mana, Re? Siapa yang datang barusan?"


Dengan wajah cemas, Rere menceritakan apa yang sudah terjadi. Sejujurnya, sang mama masih kesal akan apa yang sudah anaknya alami waktu itu. Namun, dia juga tidak boleh menyimpan dendam. Bagaimanapun, Rohan sangat amat membutuhkan Rere saat ini.


"Kamu pergi dengan siapa, Re?"


"Pak Iyas, Ma."


"Oh, hati-hati di jalan. Oh iya, udah kabari Alvin belum?"


"Belum, Ma. Nanti aku kabari pas di jalan."

__ADS_1


"Ya sudah. Jangan lupa ngabarin nya ya, Re. Nanti dia cemas. Lagipula, bentar lagi dia akan jadi suami kamu. Cobaan orang yang mau nikah itu banyak. Jadi, jangan sampai goyah nantinya."


"Iya, Ma. Rere tahu kok. Ya sudah, Rere gerak sekarang."


Rere bergegas meninggalkan rumah setelah menyalami tangan sang mama. Kepergian Rere sedikit menimbulkan perasaan tidak nyaman ke dalam hati sang mama. Entah karena apa, tapi yang jelas, ada firasat buruk yang mendadak menyusup ke dalam hatinya.


Di sisi lain, Dimas sedang berusaha memata-matai Rere. Dia akan melihat semua perkembangan yang terjadi. Setelah itu, akan dia jadikan senjata handalan untuk membuat Alvin merasa cemburu dengan apa yang terjadi antara Rohan dengan Rere nantinya. Dengan begitu, hubungan Alvin dengan Rere pasti akan berada dalam masalah.


"Halo, apa kalian sudah menemukan nomor ponsel tuan muda Utama?"


"Maaf, Bos. Kami belum bisa melacaknya."


Wajah kesal langsung tergambar dengan jelas di wajah Dimas. "Dasar tak berguna! Kenapa mendapatkan nomor ponsel Alvin saja kalian sangat sulit sih!"


"Itu ... data tuan muda Utama sangat sulit untuk di bobol, Bos. Kami sudah mencoba. Tapi masih belum bisa. Bos harus sedikit bersabar. Ini sedikit membutuhkan waktu, Bos."


"Bodoh! Aku tidak perduli. Yang jelas, kalian harus dapatkan nomor ponselnya. Atau, sosial media apa saja yang bisa aku gunakan untuk menghubungi dia. Untuk apa aku bayar mahal kalau sosial media miliknya saja tidak bisa kalian tembus, hah!"


"Baik, Bos. Tunggu dengan sabar. Kami hanya membutuhkan waktu yang sedikit lama. Karena data tuan muda Utama tidak sama dengan data orang-orang biasa lainnya. Sistem pengamanan nya sangat ketat bos. Butuh waktu untuk membobol."


"Aku tidak perduli! Yang jelas, dapatkan cara agar aku bisa menghubungi tuan muda Alvin secepatnya.".


Setelah penegasan itu, Dimas langsung mematikan sambungan ponsel dengan anak buah yang dia suruh melakukan apapun yang ia inginkan. Dia kesal, meskipun sebenarnya dia tahu, kalau Alvin tidak sama dengan orang lain yang pernah ia ingin cari tahu tentang data diri dari orang tersebut.


....


Kekuatan cinta memang selalu membingungkan. Seperti kedatangan Rere yang langsung mengubah keadaan sekarat Rohan ke bentuk aman.


Yah, saat sebelum Rere tiba, dokter sudah sangat panik. Rohan benar-benar kritis saat itu. Tapi sentuhan Rere, malah mengubah kondisi Rohan secara perlahan. Denyut nadi yang melemah, seketika kuat kembali. Entah bagaimana caranya, tapi begitulah keadaannya. Rohan berhasil melewati masa kritis hanya dengan kehadiran Rere di ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2