Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'64


__ADS_3

"Di hari pernikahan kita, kamu masih sempat memikirkan orang lain. Katakan padaku, aku harus mengerti seperti apa, Rere!" Kali ini, Alvin mulai memakai nada yang tinggi saat mengucapkan kata-kata. Tapi, nada tinggi itu masih tertahan dengan sangat baik di kerongkongannya.


Sementara itu, Rere langsung menundukkan kepala karena merasa sangat bersalah.


"Tapi kamu tahu alasannya, kan Vin? Aku meninggalkan pesta pernikahan karena ingin menolong nyawa orang lain. Nyawa orang tidak akan bisa digantikan, Alvin."


"Oh, iya kamu benar, Re. Nyawa orang memang tidak akan pernah bisa digantikan. Apalagi itu nyawa orang yang pernah kamu cintai sepenuh hati, iyakan?"


"Aku nggak tahu kalau keadaannya akan sama atau malah akan berbanding terbalik jika saat itu, aku yang ada di posisi Rohan. Karena sepertinya, bukan menolong nyawa orang yang paling penting di sini. Melainkan, menolong nyawa siapa, itu yang paling penting."


Ucapan Alvin mulai membuat Rere merasa tidak tenang. Karena itu, dia langsung mengangkat wajahnya. Namun, belum sempat Rere menjawab apa yan sudah Alvin katakan, Alvin kembali berucap lagi.


"Aku tahu, Re. Kamu masih mencintai Rohan, karena itu kamu memilih menjenguk dia ke rumah sakit dibandingkan menghadiri pesta pernikahanmu sendiri."


Deg, perasaan Rere mendadak tak karuan. Matanya pun mulai membelalak akibat ucapan Alvin barusan.


"Kamu bilang apa, Vin? Aku masih mencintai mas Rohan?"


"Nggak sama sekali, Alvin. Aku tidak mencintainya lagi. Rasa cinta itu sudah musnah sejak aku tahu kalau dia lebih memilih Amira dari pada aku."


Rere berusaha menjelaskan apa yang saat ini ia rasakan. Tapi sayang, semakin ia jelaskan, Alvin malah semakin merasa emosi. Dia malah merasa jika Rere semakin membohonginya sekarang.


"Bohong, semua! Bohong! Jika kamu tidak mencintainya, maka kamu tidak akan datang ke rumah sakit itu untuk dia, Re! Kamu lebih memilih dia dari padaku. Kau tahu, seperti apa perasaanku saat kamu lebih mementingkan mantan suamimu ketimbang aku, Re?"


"Hancur! Aku hancur sehancur hancurnya. Belum lagi saat omongan orang yang mengatakan hal yang tidak baik ketika melihat aku sendiri. Apa kamu puas sekarang! Kamu puas karena telah menyakiti aku berulang kali, Rere?"

__ADS_1


Rere memang tidak bisa menenangkan Alvin dengan kata-kata. Karena itu, dia berusaha mendekati Alvin dengan pelukan. Rere berharap, Alvin bisa merasakan ketulusan dari apa yang ia katakan.


Pelukan dari belakang itu membuat Alvin tidak berontak. Ia malah menutup mata rapat-rapat. Berusaha mengumpulkan kesadaran normal yang masih tersisa.


"Maafkan aku, Vin. Aku salah." Ucapan dengan nada pelan dan terdengar sesenggukan karena Rere saat ini sedang menangis, ternyata tidak mampu meluluhkan Alvin.


Perlahan, pelukan tangan Rere yang melingkar di pinggangnya Alvin bukan. Meskipun terasa cukup kasar, tapi sebenarnya, Alvin sangat terluka sekarang. Dia tidak ingin melukai Rere, perempuan yang paling ia cintai dari dulu hingga saat ini. Tapi, hatinya yang terasa perih masih belum siap untuk memaafkan perbuatan Rere yang sangat amat besar.


"Vin." Rere yang tak percaya akan apa yang Alvin lakukan langsung menatap Alvin dengan tatapan iba.


Tapi sepertinya, Alvin berusaha dengan sangat keras untuk mengabaikan perasaan itu.


"Pergilah dari kamar ini sekarang juga, Re. Karena aku yakin, yang paling membutuhkan kamu itu bukan aku, melainkan Rohan, mantan suamimu yang sedang sekarat di rumah sakit."


Setelah berucap, Alvin langsung menjauh dari Rere. Sementara Rere langsung menundukkan kepalanya dengan berbagai rasa yang sedang tercampur aduk menjadi satu di dalam hati.


Sontak, langkah Alvin langsung terhenti seketika. Perlahan tapi pasti, dia memutar tubuhnya dengan tatapan yang semakin sulit untuk Rere pahami.


"Dia sudah tiada? Kenapa bisa? Bukankah kamu adalah obat yang paling mujarab buatnya, Rere? Sampai-sampai, kamu harus meninggalkan pesta pernikahanmu hanya untuk menolong nyawanya. Kenapa bisa dia pergi setelah kamu ada?"


Pertanyaan Alvin membuat kesal hati Rere. Tapi, dia sangat maklum dengan Alvin sekarang. Karena Alvin sedang sangat kecewa akan dirinya.


"Vin."


Baru juga Rere ingin bicara, Alvin malah mendahuluinya lagi. "Ah! Apa karena dia sudah tidak ada sekarang, karena itu kamu datang padaku, Rere?"

__ADS_1


Pertanyaan yang tidak bisa Rere tahan emosi akhirnya muncul juga. Dengan tatapan tajam, Rere memanggil nama Alvin dengan nada tinggi.


"Alvin! Cukup ya, Vin. Aku tahu kamu sangat kecewa padaku. Aku juga tahu kamu tidak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan. Aku terima semua tuduhan mu tentang aku sebelumnya. Tapi untuk tuduhan kali ini, aku tidak akan terima."


"Aku datang bukan karena mas Rohan yang sudah tidak ada lagi sekarang. Tapi, aku datang karena kamu, Alvin. Aku tahu aku punya salah besar padamu, tapi itu tidak ada sangkut pautnya dengan hati."


"Sudah aku jelaskan, aku datang ke rumah sakit hanya untuk menolong saja. Meskipun aku tidak berhasil menolongnya, tapi setidaknya, aku tidak akan hidup dengan rasa menyesal, Vin. Karena nyawa manusia memang tidak akan ada duanya."


Setelah mengeluarkan semua unek-unek yang ada dalam hatinya, Rere langsung meninggalkan Alvin sendirian di kamar tersebut. Eh ... sepertinya bukan Alvin yang ngambek sekarang, melainkan Rere.


Alvin yang Rere tinggalkan di kamar terdiam sesaat. Setelah beberapa waktu, dia mampu juga menguasai diri. Alvin duduk di sisi ranjang. Ia acak-acak pelan rambutnya dengan kedua tangan.


"Kenapa hidupku jadi sangat amat rumit begini sekarang, Tuhan? Aku ingin percaya apa yang Rere katakan. Tapi kenapa hati ini tidak mau mempercayainya sih?"


....


Setelah kejadian itu, Rere kembali ke rumahnya. Dia memang merasa bersalah, tapi sekarang, hatinya juga merasa cukup kesal akan apa yabg sudah Alvin katakan padanya.


Namun, dia juga menyesali apa yang sudah ia lakukan. "Ya Tuhan. Tidak seharusnya aku bersikap begitu pada Alvin. Yang kecewa itukan dia sebenarnya. Seharusnya, aku bisa membujuk Alvin dengan sabar agar dia mau mengerti."


"Rere-Rere. Kamu bisa kasar dengan Alvin setelah semua kesalahan yang sudah kamu perbuat? Benar-benar perempuan berhati kecil kamu ini."


Sejak ia pulang, Rere selalu melihat ponsel untuk memastikan kalau Alvin menghubunginya. Tapi, sampai ke malam juga tidak ada satu pesan singkat pun yang Alvin kirim.


Kini, Rere tak ubah seperti anak remaja yang sedang bertengkar dengan pacarnya. Dan sekarang, sedang menunggu sang pacar untuk membujuk lewat chat atau panggilan.

__ADS_1


Tapi nyatanya, hingga hari menjelang pagi pun, Alvin tidak memberikan kabar sedikitpun pada Rere. Jangankan datang ke rumah untuk beetemu, memberi satu kabar saja tidak sama sekali.


Hal tersebut membuat Rere begitu sedih. Rasa bersalah yang muncul dalam hatinya semakin membesar saja. Rere pun bertekat untuk bertemu Alvin di rumahnya. Kali ini, dia akan meminta maaf dengan sungguh-sungguh, agar Alvin bisa memberikannya kesempatan untuk membuktikan apa yang ia katakan itu memang benar adanya.


__ADS_2