
Putri terdiam. Sejujurnya, benak Putri langsung membenarkan apa yang baru saja Dimas katakan. Tapi, dia sudah menganggap Rere sebagai kakak kandungnya sendiri. Lagian, yang salah juga bukan Rere, melainkan, Rohan, kakak kandungnya.
"Yang kamu katakan itu mungkin ada benarnya, kak Dimas. Tapi, kak Rere tidak salah. Aku juga sudah menganggap kak Rere seperti kakak kandungku. Dia baik dan juga bersahabat. Sampai detik ini juga, kak Rere masih menganggap kami bagian dari keluarga meskipun hal buruk telah kak Rohan lakukan padanya."
'Sialan! Gadis ini ternyata tidak bisa aku provokasi. Gila! Aku pikir dia akan mudah terjebak karena usianya yang masih sangat muda. Tapi nyatanya, aduh ... hilang sudah harapanku. Eh, tapi sekarang aku tahu di mana Rere berada. Apa aku pergi ke sana sekarang saja?'
Pikiran Dimas mendadak menjadi kacau. Saat ingin pergi, dia malah berpikir dua kali. Karena tidak ada hasilnya juga jika ia pergi. Apa yang bisa ia lakukan di sana. Apakah dia harus menjadi penonton atas kebahagiaan Rere nantinya? Karena sudah bisa ia pastikan, Alvin pasti ada di sana. Selagi Alvin ada di sekitar Rere, dia tidak akan bisa menjangkau Rere.
Karena Alvin tidak akan mengizinkannya.
Karena pikiran-pikiran itu, Dimas jadi melamun di depan Putri. Tentu saja Putri langsung menyadari hal tersebut. Dengan wajah penasaran, dia menatap Dimas.
"Kak Dimas. Kok malah melamun sih?"
Suara yang disertai dengan sentuhan sontak mengangetkan Dimas. Namun, belum sempat Dimas berucap, suara deringan ponsel Putri langsung mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Sebentar, kak. Ibuku menelpon."
"Angkat saja. Gak papa."
"Ya emang mau aku angkat. Gimana sih?" Putri yang bawel tetap saja terlihat bawel meskipun dengan Dimas yang baru saja ia kenal beberapa jam yang lalu.
"Haish." Hanya itu yang mampu Dimas ucapkan. Karena detik berikutnya, Putri sudah tersambung dengan seseorang yang baru saja menghubungi dia.
"Apa! Kak Rohan tidak sadarkan diri sekarang?"
Wajah panik terlihat dengan sangat jelas. Putri yang awalnya duduk di atas ranjang rumah sakit, kini memaksa berdiri meski dengan kaki yang pincang.
__ADS_1
"Bagaimana bisa seperti itu, Bu? Apa yang terjadi?"
Dimas yang ada di sana memperhatikan dengan seksama. Wajah panik Putri semakin terlihat dengan jelas. Ditambah, buliran bening yang menggenang akhirnya jatuh perlahan.
Bagaimanapun, sebenci apapun Putri pada Rohan. Tapi tetap saja, darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah yang sama. Ikatan tali persaudaraan tidak akan pernah bisa diputuskan meskipun mereka saling marah satu sama lain.
"Hiks. Baiklah. Putri ke sana sekarang juga."
Dengan itu, Putri ingin langsung meninggalkan ruangan pemeriksaan. Tidak ia hiraukan lagi dengan kondisinya yang tidak terlalu baik akibat terjatuh beberapa jam yang lalu.
"Tunggu, Put!" Tentu saja Dimas tidak akan membiarkan Putri pergi sendirian. Bagaimanapun, dia juga merasa bertanggung jawab dengan Putri saat ini. Karena dia yang telah mengakibatkan Putri terjadi.
Dan lagi, sebuah ide jahat juga muncul dalam benak Dimas saat mendengar kabar Rohan sedang sekarang barusan. Dimas pikir, dengan Rohan yang sekarat, mungkin bisa ia manfaatkan untuk merusak hubungan Rere dengan Alvin.
"Mau ke rumah sakit mana, Put? Biar aku yang antar kamu ke sana."
...
Tiba di rumah sakit, semua keluarga Rohan sudah ada di sana. Tak terkecuali Ivan dan Mona. Mereka juga sudah ada di depan ruangan di mana Rohan berada.
"Ibu, bapak. Apa yang terjadi sebenarnya?" Putri berjalan dengan kaki pincang sekuat tenaga.
"Rohan .... Tunggu, Put! Apa yang terjadi dengan kaki kamu, nak?" Bapaknya dengan cemas melihat ke arah Putri yang memang cukup memprihatinkan.
"Putri jatuh, pak. Ceritanya panjang. Nanti saja Putri ceritakan. Sekarang, katakan pada Putri, kenapa kak Rohan bisa seperti ini?"
Bukan bapak yang angkat bicara duluan, tapi melainkan, ibunya. Si ibu menceritakan prihal kecelakaan yang Rohan alami dengan deraian air mata.
__ADS_1
Ternyata, Rohan ingin keluar dari rumah sakit jiwa. Dia bilang, ia ingin bertemu Rere. Dia merindukan Rere yang dia anggap masih menjadi istrinya. Dia juga ingin minta maaf ada Rere karena sudah lama tidak diizinkan pulang.
Rohan merasa sangat amat bersalah. Karena itu, dia ingin kabur dari rumah sakit. Tapi, ketika ia berhasil keluar dari kamar, dia malah terjatuh dari lantai dua rumah sakit tersebut. Dan sekarang, dokter masih berusaha mengobati Rohan sekuat tenaga.
Putri yang baru mendengar cerita itu tentu saja merasa sangat terpukul. Ditambah, ucapan sang ibu yang mengatakan kalau Rohan tidak ingat siapapun selain Rere. Hanya Rere yang ia ingat. Yang lain, tidak sama sekali.
'Maafkan Putri, kak Rohan. Selama ini, Putri tidak pernah mau kalau ibu ajak menjenguk kakak. Karena Putri masih kesal dengan ulah yang kak Rohan lakukan. Padahal, selama ini, kak Rohan sudah sangat amat tersiksa dengan rasa bersalah yang kakak pendam. Kaka tidak bisa menyampaikan perasaan kakak pada kak Rere. Kakak .... '
Putri sangat amat sedih. Bahkan, kata hati saja tidak bisa ia ucapkan sekarang. Rasa bersalah, penyesalan, semua terkumpul dan bergaul jadi satu. Sampai-sampai, dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya, ruangan itu terbuka. Dokter yang muncul langsung di sambut dengan banyak pertanyaan dari keluarga Rohan.
"Bagaimana keadaannya, Dok? Apa dia baik-baik saja sekarang?"
"Apa dia baik-baik saja, Dok? Dia gak papa, kan?"
"Dokter! Tolong katakan kalau dia baik-baik saja."
Dokter tersebut melihat dengan wajah sedikit tidak enak. Sepertinya, ada sesuatu yang tidak baik-baik saja yang akan keluar dari mulutnya.
"Bapak, ibu, Putri. Kalian tenang dulu. Biar dokter bisa menjelaskan bagaimana keadaan kak Rohan saat ini. Jika kalian terus bertanya, maka dokter tidak akan bisa menjelaskan," kata Ivan pula angkat bicara.
Setelah ucapan Ivan, dokter tersebut langsung angkat bicara. Sementara ibu dan bapak juga Putri berusaha menenangkan diri sekarang.
"Mohon maaf semua keluarga, saya harus menyampaikan berita yang kurang baik sekarang. Keadaan pasien tidak baik-baik saja. Pasien saat ini mengalami masa kritis. Tidak banyak yang bisa kita lakukan selain berdoa, memohon pertolongan yang maha kuasa. Dan, satu lagi. Apa di sini ada yang bernama Rere? Jika ada, tolong masuk sekarang. Temani pasien agar pasien bisa sedikit membaik. Karena hanya Rere saja yang ada dalam ingatan pasien saat ini. Pasien terus menyebut nama ini sebelum dia benar-benar tidak sadarkan diri."
Seketika, wajah semua keluarga langsung berubah menjadi bingung. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain. Tapi, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
__ADS_1