
"Apa! Kenapa kamu malah jadi bandingin aku dengan Rere. Ingat, mas! Aku bukan Rere. Kita dua orang yang sangat jauh berbeda. Selama ini aku sabar, bulan? Tapi kamu aja yang nggak peka. Sabar juga ada batasnya, mas."
Kalau sudah begini, Rohan pasti langsung memilih diam. Pernikahan antara dirinya dengan Amira yang sedang direncanakan, rasanya ingin sekali ia batalkan. Jika saja dia tidak meniduri Amira sebelumnya, mungkin saja dia benar-benar akan membatalkan pernikahan itu.
...
Waktu berjalan dengan cepat. Amira akhirnya sah menjadi istri Rohan karena anak yang saat ini ada dalam kandungannya. Sayang, pernikahan mereka hanya sebatas pernikahan siri saja. Rencana pernikahan besar yang Amira impikan tidak terlaksana.
"Eh, nak Rere. Gimana kabar mamanya, Nak? Apa sudah ada perubahan?"
Seorang tetangga saat bertemu dengan Rere di rumah sakit, langsung menghampiri Rere dengan cepat hanya untuk menyapa. Si tetangga yang rumahnya berada persis di depan rumah mama Rere, tentu saja cukup mengenali Rere dengan sangat baik.
"Tante, Marni. Mama sedikit bereaksi sekarang. Peluang untuk sadar juga sudah terlihat, tan."
"Oh, syukurlah, nak. Semoga saja jeng Lastri sadar dengan cepat. Oh iya, nak. Tahu kabar pernikahan Amira dengan mantan suami kamu nggak?"
Deg, wajah Rere langsung berubah seketika. Bagaimanapun, perasaan itu tentu saja akan bereaksi sendiri meskipun dia sudah tidak mencintai Rohan lagi.
"Maksud tante Marni, Amira menikah dengan mas Rohan? Di mana? Kok nggak ada kabar sama sekali, Tan?"
"Aish. Kamu sih nggak pulang bareng sebentar pun setelah kejadian mama kamu masuk rumah sakit beberapa waktu lalu. Jadinya, nggak tahu kan apa saja yang terjadi di rumah kalian."
Rere hanya memberikan tatapan penasaran pada wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini. Iya, benar. Setelah mamanya masuk rumah sakit, dia tidak pernah pulang ke rumah sang mama barang satu kali pun.
Bukan tidak mau, tapi tidak punya waktu untuk pulang. Karena begitu banyak yang harus Rere urus. Mulai dari kantor yang ia tangani sendiri, sampai urusan rumah, juga urusan sang mama yang ada di rumah sakit. Semua menyita waktu Rere hampir habis setiap hari. Bahkan, Rere tak jarang merasa kekurangan dengan waktu dua puluh empat jam yang ia punya dalam satu hari.
"Apa yang terjadi di rumah, tante?"
__ADS_1
Si tante Marni langsung menceritakan semua hal yang sudah terjadi di rumah orang tua Rere setelah Rere melontarkan pertanyaan tersebut. Apa yang tante Marni katakan, tentu saja membuat Rere kaget sekaligus merasa sangat amat kesal.
"Apa! Amira membawa mas Rohan tinggal di rumah?"
"Iya, nak. Amira sudah membawa mantan suami kamu tinggal di rumah kalian selama beberapa waktu. Hingga akhirnya, warga kesal dengan hal tersebut. Yang paling membuat kesal warga itu, papa kamu, pak Haris nggak berkutik sama sekali. Dia beralasan, mereka mau segera menikah. Bahkan, pak Haris sudah menjual pabrik tua yang ia miliki hanya untuk resepsi Amira dengan mantan suami kamu, Nak Rere."
Panas. Rasanya sangat amat panas hati Rere mendengar semua yang tetangga samping rumah mamanya itu katakan. Bukan karena cemburu, tapi melainkan, karena kesal akibat adik tiri yang tidak punya malu itu benar-benar bertindak semena-mena. Sesuka hati melakukan apa yang ia inginkan.
"Ah! Tapi, nak Rere. Warga yang kesal akan hal itu langsung memergoki Amira sedang begituan dengan mantan suami kamu di dalam rumah. Saat itu, papa kamu tidak ada di rumah. Dan, warga yang memang selalu mengintip rumah kalian hanya karena merasa kesal, langsung memergoki pasangan itu lagi ... yah, kamu paham sendirilah apa yang tante katakan."
"Kurang ajar! Mereka sungguh sangat keterlaluan. Berani-beraninya mereka mengotori rumah mama dengan perilaku bia-dab seperti bina- tang!"
Rere yang kesal langsung masuk ke kamar sang mama sambil terus ngomel. Tentunya, setelah pembicaraan antara dia dengan tante Marni berakhir karena urusan masing-masing.
"Ada apa sih, non? Kok wajahnya seperti udang rebus saja."
"Dua manusia? Apa sih maksudnya, non. Ya Tuhan, tolong tenang dulu ya, non. Setelah itu, baru non Rere ambil keputusan. Nggak bisa non Rere mengambil keputusan di saat hati sedang marah."
"Dan lagi, bagaimanapun, papa non juga orang tua non Rere. Tidak boleh main kasar meski hati sedang sangat marah, non."
"Bukan papa, bik. Tapi Amira dan mas Rohan."
"Apa? Apa maksudnya, non?"
Rere lalu menceritakan semua yang dia dengar dari tante Marni. Cerita itu membuat bi Sari ikut merasa geram. Namun, ada hal lain yang terjadi. Karena cerita itu, perlahan tapi pasti, sang mama yang sedang koma langsung merespon dengan memperlihatkan gerakan-gerakan kecil.
Awalnya, Rere dan bi Sari masih belum menyadarinya. Tapi, ketika Rere melihat secara tak sengaja, dia sangat amat bahagia.
__ADS_1
"Bi, mama!" Hanya dua kata itu yang mampu Rere ucap sangking bahagianya dia.
"Ya Tuhan, nyonya Lastri."
"Panggil dokter, bik!"
"Baik, non."
Secepat yang ia bisa, bi sari beranjak meninggalkan kamar tersebut. Tanpa memerlukan waktu lama, dokter pun langsung datang ke ruangan tersebut.
Saat dokter tiba, mama Rere sudah membuka matanya. Dan dia sudah mulai melakukan gerakan tangan untuk menyentuh anaknya yang saat ini sedang berada di sampingnya dengan air mata berderai. Tangisan bukan karena sedih, melainkan karena sangat amat bahagia.
"Mama."
"Mbak. Biarkan kami memeriksa keadaan pasien terlebih dahulu." Salah satu dari dua suster berucap tegas.
"Tidak perlu, suster. Biarkan saja mbaknya di sini. Tidak akan ada yang terganggu," kata dokter mencegah apa yang si suster katakan.
Sungguh luar biasa, mama Rere sadar dari koma lebih cepat dari yang dokter perkirakan. Memang belum sembuh total. Tapi, mama Rere tidak mengalami hal serius sedikitpun. Luka di bagian kepala juga tidak ada masalah sama sekali sekarang.
"Mama ... syukurlah, Ma." Rere semakin bahagia setelah mendengar apa yang dokter katakan.
"Re. Maafkan mama ya, nak. Mama sudah menyusahkan kamu terlalu lama. Mama begini karena Amira, Re. Dia yang sudah memukul mama dengan gucci sampai mama tak sadarkan diri. Anak itu sungguh tak tahu balas budi."
Mendidih darah Rere mendengarkan apa yang mamanya katakan. Namun, sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap terlihat tenang. Karena kesembuhan sang mama adalah hal yang paling penting buatnya.
"Tenang dulu ya, ma. Kita akan berikan Amira dan papa pelajaran. Tapi untuk saat ini, aku ingin mama sembuh dulu. Jangan pikirkan yang lain dulu ya, ma. Karena kesembuhan mama adalah prioritas utama untuk kita saat ini."
__ADS_1