
Sekarang, bukan hanya hati saja yang sakit, tubuh yang sakit juga membuatnya merasa tidak nyaman untuk banyak bergerak. Air mata yang jatuh membuat ia semakin merasa lelah dan lemas saja.
Ingin rasanya Rere segera menghilang dari pandangan Alvin. Tapi sayangnya, itu sulit untuk ia lakukan. Bukan tidak bisa, tapi tidak ingin pergi lagi. Tidak ingin menghindar karena selamanya, permasalahan tidak akan pernah terselesaikan.
"Aku mencintaimu, Re. Karena itu aku tidak ingin kehilanganmu. Kamu tahu? Yang ada dalam pikiranku hanya kamu seorang. Cuma kamu, Rere."
"Kamu bohong, Vin. Kamu bohong."
Alvin langsung menjelaskan prihal Maya yang selama ini mungkin memang menjadi bayangan orang ketiga dalam benak Rere. Meskipun penjelasan itu tidak mendapatkan tanggapan sedikitpun, tapi Alvin memberanikan diri untuk menarik Rere ke dalam pelukan.
Tentu saja Alvin langsung menerima penolakan. Tapi kali ini, Alvin tidak menyerah dengan penolakan itu. Dia tetap mengunci Rere dalam dekapannya. Meskipun Rere berusaha keras untuk melepaskan pelukan tersebut.
"Mengertilah, Re. Pahamilah! Hanya kamu yang aku cintai. Aku ingin kamu menyadari satu hal, aku mencintaimu. Sudah lama aku bersabar, bertahan dalam diam. Jika bukan karena kamu, mungkin aku tidak akan jadi gila seperti ini."
"Tapi aku sekarang benci kamu, Vin. Kamu sangat jahat. Aku benci kamu paksa aku melakukan hal yang seharusnya kita lakukan dengan cinta. Karena tanpa kamu rebut paksa, aku juga pasti akan menyerahkannya. Karena aku sudah menyimpan kamu sebagai orang yang aku cintai dalam hatiku."
Alvin tentu saja sangat terkejut karena kata-kata itu. Kaget bercampur bahagia. Sangat-sangat bahagia. Ucapan cinta yang memang tidak diucapkan dengan terus terang, tapi itu terdengar lebih tulus dan lebih meyakinkan buat Alvin.
"Kamu mencintai aku?" Alvin berucap dengan mata yang berbinar karena sangat bahagia.
Kemudian, tubuh Rere yang sebelumnya sempat ia lepas, kini ia tarik ke dalam pelukannya kembali. Dia peluk erat-erat sampai Rere sulit untuk bernapas.
__ADS_1
"V-- Vin ... lepaskan aku!"
"Tidak akan, Re. Aku tidak akan melepaskan kamu lagi sekarang. Karena kamu adalah milikku."
"Kamu mau membunuhku sekarang, Vin? Aku hampir kehabisan napas saat ini."
Sontak, Alvin langsung melonggarkan pelukannya. Ia kecup kening Rere dengan lembut dengan penuh kasih. Tapi kali ini, apa yang Alvin lakukan tidak mendapat penolakan sama sekali dari Rere. Mungkin, cinta sudah mempersatukan mereka kembali.
Untuk beberapa saat, Alvin dan Rere saling diam. Baru kemudian, Alvin beranjak dari duduknya meninggalkan Rere yang masih terbungkus selimut di atas kasur.
"Tunggu sebentar. Aku akan kembali secepatnya."
Tidak ada jawaban. Wajah kesal masih Rere perlihatkan dengan jelas. Namun, kali ini, bukannya merasa tidak enak, Alvin malah tersenyum kecil saat melihat wajah kesal itu.
Rere langsung mengangkat wajahnya.
"Kamu naif, pembohong dan juga jahat. Aku benci padamu."
Ucapan itu langsung menghentikan langkah Alvin yang ingin beranjak meninggalkan kamar tersebut. Dia yang awalnya sudah membelakangi Rere, seketika memutar tubuh dengan cepat.
"Kenapa defenisi untukku berasa nggak enak semua ya, Re? Padahal, aku tidak begitu kok."
__ADS_1
Ya. Alvin tidak marah dengan semua yang Rere katakan. Ia malah tetap memperlihatkan ketenangan yang sebelumnya ia perlihatkan pada Rere. Sementara itu, Rere yang melihat ekspresi Alvin yang tidak ada sedikitpun rasa emosi mendadak jadi melemah. Rasa kesal yang tak terjawab membuat ia merasa tidak nyaman.
"Bohong kamu, Vin. Kamu sudah menyakiti aku dengan bersama perempuan lain. Aku sudah minta maaf padamu sebelumnya. Bahkan, aku juga sudah menjelaskan semua yang terjadi dengan aku di hari pernikahan kita. Bukannya kamu terima, kamu malah bersama perempuan lain tanpa memperdulikan aku yang jelas-jelas adalah istrimu."
"Rere. Aku sudah menjelaskan soal Maya, bukan? Aku dengan dia tidak ada hubungan selain CEO dengan sekretaris. Kedekatan aku dan dia hanya untuk menguji rasa cinta kamu untuk aku. Aku hanya ingin bikin kamu cemburu, terus datang padaku lagi. Tapi nyatanya, aku salah. Caranya tidak berhasil. Yang terbakar malah aku."
"Lagi-lagi aku yang harus menahan hati hingga hari ini, aku tidak sanggup lagi. Aku sudah cukup lama bersabar dengan cinta sebelah pihak yang tidak terbalaskan ini, Re. Sampai pada titik tertinggi pemikiran ku, jika begitu, memiliki raganya saja sudah cukup bagi aku tanpa harus memiliki hatinya. Karena itu, aku ... paksa kamu agar jadi istriku seutuhnya. Dengan begitu, kau akan terikat di sisiku untuk selama-lamanya. Meskipun itu sangat menyakitkan untuk kita berdua, tapi aku tetap akan melakukannya."
Alvin berucap dengan nada sangat sedih. Rere yang pernah ada di posisi ini, langsung memahami apa yang Alvin rasakan dari kata-kata yang Alvin sampaikan barusan. Bahkan, sekarang Rere juga sudah punya cinta untuk Alvin. Jadi, perasaan itu akan semakin mudah untuk Rere pahami.
"Aku tidak datang padamu meski aku merasa cemburu, itu karena aku sadar, aku sudah punya salah yang sangat besar terhadap kamu, Vin. Aku sudah membuat kamu sangat malu di hari pernikahan. Karena itu ... aku tidak menemui kamu meskipun hatiku terluka."
"Alvin. Aku sudah pernah terluka cukup dalam untuk yang pertama kali, jadi kamu harus mengerti dengan keadaan itu. Luka bagiku sudah biasa. Jadi, aku pasti akan sanggup menahannya. Meskipun luka yang kamu berikan terasa lebih menyakitkan dari yang pernah aku rasakan sebelumnya. Karena kamu adalah orang yang paling aku percaya dalam menjaga hati sebelumnya."
Alvin menatap Rere dengan tatapan prihatin. Tangannya pun ringan menyentuh pucuk kepala Rere.
"Maaf, aku sudah terlalu egois dengan terus terbawa suasana. Saat ini aku baru sadar, kalau hubungan itu harus saling terbuka dan saling percaya. Aku mencintai kamu sejak dulu hingga saat ini, Re. Dan rasa itu tidak ada perubahannya sedikitpun. Meskipun kamu sakiti aku dengan perbuatan yang menyebabkan aku hancur, tapi rasa cinta untukmu tetap tidak berubah."
"Ee ... Vin, aku juga minta maaf. Aku sudah berulang kali menyakiti hatimu. Aku menyesal sekali."
Ingin rasanya Rere mengulangi kata cinta yang telah ia ucapkan sebelumnya pada Alvin. Tapi, bibir itu terlalu berat untuk mengatakan. Terapksa, hanya kata maaf saja yang ia sampaikan pada Alvin sekarang.
__ADS_1
Namun, bagi Alvin, kata maaf saja sudah cukup. Bahkan, sangat cukup. Karena ia sangat mengharapkan kehadiran Rere di sisinya. Seperti yang sudah ia katakan tadi, tidak bisa memiliki hati, memiliki raga saja sudah cukup. Meski itu akan sama-sama menyakitkan buat kedua belah pihak.