
Seperti Alvin yang saat ini kebetulan lewat dari jalan tersebut. Ketika melihat Rere dari seberang jalan, tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri Rere dengan amarah yang meledak.
"Rere!"
Seketika, teriakan itu membuat Rere terkejut. Belum sempat ia menoleh ke arah asal suara, tangan seseorang langsung menggenggam erat tangannya.
"Alvin."
"Pulang sekarang!"
"Vin."
Rere langsung di tarik pergi oleh Alvin. Dimas yang melihat hal tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Karena lawannya tidak seimbang. Dia ingin melakukan sesuatu, tapi Alvin pasti tidak akan tinggal diam.
Sampai di mobil, Alvin langsung membuka pintu mobil dengan kasar. Tentu saja cengkraman tangan Rere tidak ia lepaskan sedikitpun.
"Masuk!"
"Vin, kamu keterlaluan. Ada banyak mata yang melihat ke arah kita sekarang. Lepaskan aku!"
"Aku bilang masuk, Rere! Kamu masih ingat siapa aku, bukan? Tidak akan lupa kalau aku ini suami kamu, kan Re!"
Rere memilih mengalah. Dia masuk ke dalam mobil dengan rasa malu yang sangat besar. Bagaimana tidak? Dia ditarik paksa di depan banyak orang. Layaknya penjahat yang tertangkap basah telah melakukan kejahatan besar sekarang.
Sepanjang perjalanan, tidak ada kata yang terucap. Keduanya saling bungkam satu sama lain hingga mobil berhenti di depan rumah Alvin.
"V-- Vin."
"Turun!" Alvin berucap sambil membuka pintu mobil.
Lagi-lagi, Rere tidak bisa mengatakan apapun. Jangankan membantah, berucap saja bibirnya mendadak berat. Entah karena apa, yang pasti, dia merasa takut akan sikap tegas Alvin saat ini. Sikap yang baru pertama kali ia lihat selama ia kenal dengan Alvin.
__ADS_1
Sama seperti sebelumnya, Alvin kembali mencengkram tangan Rere, lalu ia tarik masuk ke dalam rumah. Tanpa menghiraukan pandangan para pelayan tentunya, Alvin terus melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Saat ini, kebetulan sang mama sedang tidak ada di rumah. Mama Alvin sedang menemui dokter untuk konsultasi prihal kesehatannya seperti biasa. Yang ada hanya pelayan. Mana berani mereka angkat bicara saat melihat majikannya melakukan sesuatu yang menurut mereka masih wajar dilakukan. Apalagi itu pada wanita seperti Rere yang mereka anggap wanita berhati dan bersifat buruk.
"Mau kamu bawa ke mana aku, Vin? Tolong lepaskan aku, Alvin!"
Rere yang semakin merasa takut, kini berusaha memberontak. Tapi apalah daya, kekuatan Alvin sangat besar. Tidak sebanding dengan kekuatan yang Rere keluarkan.
"Vin."
Bruk! Alvin melempar tubuh Rere ke atas ranjang ketika mereka tiba di kamar Alvin yang pernah Rere datangi waktu itu. Tubuh yang tidak bisa menjaga keseimbangan itu tentu saja langsung terjatuh, tersungkur ke atas ranjang.
"Kamu lupa sudah punya suami, kan Re? Sekarang, aku akan buat kamu ingat kalau dirimu hanya bisa menjadi milikku."
Tatapan tajam itu terasa sangat menakutkan bagi Rere. Tidak hanya itu, ucapan Alvin barusan juga langsung membuat Rere merinding hebat.
Belum sempat Rere mengeluarkan kata-kata, Alvin kini malah sudah membuka kancing kemeja yang ia kenakan. Perasaan takut akan terjadi sesuatu semakin besar di hati Rere. Dia bangun dengan cepat dari ranjang. Tapi sepertinya, Alvin tidak akan membiarkan Rere melakukan apa yang ingin Rere lakukan.
"Alvin ...! Lepaskan aku!"
Rere berteriak keras. Tapi Alvin tidak akan menghiraukan apapun yang Rere katakan. Tekatnya sudah bulat, dia akan menggauli Rere selayaknya pasangan suami istri pada umumnya.
"Tidak akan, Re. Kamu milikku. Aku akan lakukan apa yang seharusnya aku lakukan."
"Alvin! Jangan main-main, Vin." Kali ini, Rere berucap sambil menjatuhkan air mata.
Bukan karena dirinya tidak siap untuk Alvin jadikan istri yang seutuhnya. Tapi, kejadian yang sudah berlalu membuat Rere merasa enggan untuk menerima perlakuan intim dari Alvin.
Tapi tetap saja, semua keputusan ada di tangan Alvin. Bagaimanapun Rere menolak, Alvin tetap terus memaksa. Karena saat ini, Alvin benar-benar dibutakan oleh rasa cemburu yang besar.
Alvin terus memaksa Rere membuka pakaian yang melekat di tubuh Rere. Meskipun Rere melakukan perlawanan, tapi pada akhirnya, ia kalah juga. Kemeja biru muda yang ia kenakan terlepas juga dari tubuhnya dengan hampir semua kancing tercabut dari tempat sebelumnya.
__ADS_1
Alvin benar-benar menggila sekarang. Setelah berhasil melepas kemeja yang Rere kenakan, dia melanjutkan aksinya dengan melepaskan apa yang harus ia lepas. Hingga pada akhirnya, tubuh polos yang tak pernah tersentuh terlihat.
"Alvin ... hiks, lepaskan aku." Rere menangis sedih. Bukan karena ia harus melepaskan kesuciannya. Tapi cara melepaskannya yang tidak ia sukai.
Tentu saja Alvin tidak mendengarkan apa yang Rere katakan. Selain terbakar api kecemburuan yang sangat besar, dia juga sudah terbawa hawa napsu saat ini. Bagaimana bisa ia sadar ketika melihat kebahagiaan surgawi yang ada di depan matanya?
Dan, untuk pertama kalinya, Rere digauli oleh lawan jenis yang membuat ia merintih kesakitan tanpa bisa melawan. Hal yang seharusnya ia lepas dengan sangat bahagia karena cinta, tapi malah di ambil dengan paksa oleh suaminya sendiri.
Kamar itu jadi saksi bisu dari apa yang sudah Rere alami hari ini. Aksi Alvin telah usai. Yang tinggal kini hanya raut penyesalan karena sudah melakukan hal tanpa berpikir ulang. Rere yang tidak ingin di sentuh, kini diam sambil memeluk lutut di tepi ranjang.
"Rere maaf. Aku .... " Alvin menggantungkan kalimatnya. Sungguh, dia sangat merasa bersalah sekarang.
Tangannya lagi-lagi ingin menyentuh Rere. Tapi sepertinya, Rere tidak menginginkan hal tersebut. Dengan cepat, Rere menepis tangan itu menjauh darinya.
"Re."
"Puas kamu, Vin? Kamu sudah melakukan hal besar yang selama ini tidak pernah aku lakukan. Kamu paksa aku layaknya aku orang yang tidak punya perasaan padamu. Seperti penjahat yang mengambil kesucian orang yang tidak ia kenali. Puas kamu melakukan hal itu, Alvin!"
Rere berucap dengan tatapan tajam. Hal itu membuat perasaan bersalah dalam hati Alvin semakin membesar saja. Dia juga merasa menyesal karena telah merenggut kesucian istrinya secara paksa.
Saat menyadari bahwa istrinya masih murni, Alvin sangat kaget. Tapi, hatinya juga merasa sangat amat bahagia. Namun, setelah melakukannya, dia malah merasa bersalah karena telah mengambilnya secara paksa.
"Re, aku minta maaf. Aku hanya ... hanya ingin menjadikan kamu milikku saja. Hanya milik Alvin seorang."
"Tapi bukan begini caranya, Vin. Aku tahu hak mu atas diriku. Tapi tidak memaksa layaknya aku bukan istri sah kamu, Alvin." Rere berucap tanpa mengangkat wajahnya sedikitpun.
Sekarang, bukan hanya hati saja yang sakit, tubuh yang sakit juga membuatnya merasa tidak nyaman untuk banyak bergerak. Air mata yang jatuh membuat ia semakin merasa lelah dan lemas saja.
_____________________________________________
Catatan.
__ADS_1
"Untuk malam pertama, aku hanya bisa bikin seperti ini saja. Maklum, takut ada yang masih di bawah umur di antara pembaca aku saat ini, karena itu, tidak bisa bikin yang terlalu hot gitu yah. Aish, ini aja udah berasa nggak nyaman bikinnya. Kek udah bikin dosa jamaah gitu aja aku sekarang. Beneran gak enak hati deh. Semoga mengerti yah teman-teman. Terima kasih banyak atas pengertiannya. Lope sekebon mangga pak camat deh, hehehe.