Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'59


__ADS_3

Tubuh dengan kepala berdarah itu terlihat sangat memprihatinkan. Sampai-sampai, Putri tidak tahu lagi harus berucap apa. Dia bingung dengan kondisi kakaknya yang entah bagaimana bisa jadi seperti ini lagi.


"Ap-- apa yang terjadi, bapak?" Putri berusaha bertanya. Sekuat tenaga ia kerahkan baru ia bisa mengatakan pertanyaan itu.


"Kakak mu .... "


"Ini semua gara-gara kalian! Sudah ibu katakan untuk memanggil Rere datang ke sini tadi malam, tapi kalian tidak mendengarkannya. Kalian lihat 'kan apa akibatnya? Kakakmu, Rohan yang menerima akibatnya. Dia yang menerima akibatnya! Kalian paham!"


Sang ibu marah bukan kepalang. Tak ia hiraukan lagi peraturan rumah sakit yang tidak mengizinkan dirinya berisik.


"Kalian puas sekarang! Puas! Rohan kembali dalam keadaan kritis. Semua gara-gara kalian yang tidak mengizinkan ibu untuk menghubungi Rere."


"Sekarang, ibu tidak mau tau. Panggil Rere untuk datang ke rumah sakit secepatnya!"


"Tapi, Bu."


"Ibu tidak akan mendengarkan kata-kata kalian lagi. Panggil Rere yang datang atau ibu yang akan datang ke pesta pernikahan Rere? Kalian tinggal pilih mana yang baik saja. Karena ibu tidak akan mengalah lagi dengan kalian."


Karena tidak punya pilihan, bapak Rohan mengizinkan Putri untuk menghubungi Rere. Namun, tentu saja tidak akan ada jawaban dari panggilan yang Putri lakukan. Karena saat ini, Rere sedang sangat berbahagia.


Sekarang, Rere sudah sah menjadi istri dari Alvin. Hal itu cukup membahagiakan hati Rere. Meski sebelumnya, Rere masih merasa bimbang dan masih merasa tidak yakin akan apa yang sudah ia pilih. Tapi setelah melewati hari-hari menuju pernikahan, hatinya semakin merasa kalau benih cinta yang Alvin semai sudah tubuh dengan baik dalam hatinya. Karena itu, sahnya pernikahan ini sangat membahagiakan hati Rere.


"Terima kasih, Re. Akhirnya, kita menikah juga," ucap Alvin dengan suara pelan di kuping Rere.


Rere yang mendengar ucapan yang lebih tepat di sebut bisikan itu pun hanya mengukir senyum kecil. Hatinya bahagia. Tapi, tidak bisa ia utarakan pada Alvin yang baru saja menjadi suaminya.


Di sisi lain, Dimas yang sedang menunggu reaksi dari Rohan, atau pun keluarga Rohan, langsung gusar seketika. Hatinya yang kesal, semakin kesal karena tidak ada reaksi sedikitpun yang terlihat.


"Bagaimana sih ini? Kenapa tidak ada reaksi sama sekali. Apa yang sudah terjadi sih?"

__ADS_1


Panggilan masuk membuyarkan pikiran Dimas. Dengan cepat, Dimas menjawab panggilan yang datang dari anak buah yang ia tugaskan untuk memantau keadaan di kediaman Rere.


"Halo, Bos."


"Ya. Ada kabar baik sekarang? Apa pengacau sudah terlihat?" Dimas bertanya dengan penuh semangat.


Sebaliknya, suara anak buah itu terdengar cukup ketakutan. "Tidak ada, bos. Ee ... bukan kabar baik. Tapi malahan, kabar buruk yang ingin saya sampaikan."


"Apa?"


"Bos, itu ... mereka sudah resmi menikah. Mereka .... "


"Apa! Kamu bilang apa barusan! Mereka sudah sah!" Bak guntur yang membelah pohon, begitulah suara tinggi Dimas terdengar menggelegar.


Dima sangat amat marah. Dia tak habis pikir jika rencana yang ia buat ternyata gagal total. Rere sekarang sudah sah menjadi istri Alvin. Wanita yang ia dambakan akan menjadi istrinya. Tapi ternyata hanya cuma khayalan belaka.


"Saya harus apa, bos? Mereka sudah sah menikah sekarang. Jadi, tidak ada yang bisa saya lakukan lagi, bukan?"


"Dasar bodoh! Bajingan! Sekarang tidak ada gunanya lagi kamu bertanya. Karena memang sudah tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi, bod- oh!"


Dimas langsung membanting ponselnya dengan keras. Amarah Dimas benar-benar meluap saat ini. Rencana gagal total. Harapan langsung hampa seketika.


Namun, rencana itu tidaklah benar-benar sia-sia. Meskipun sudah terlambat, tapi pernikahan Rere masih tetap mengalami kekacauan.


Ketika mobil pengantin yang membawa Alvin dan Rere ingin menuju gedung tempat resepsi pernikahan diadakan, ibu Rohan langsung menghadangnya. Dengan wajah penuh amarah, wanita itu meminta Rere datang ke rumah sakit untuk menjenguk Rohan yang kembali sekarat.


"Tapi, Re. Resepsi pernikahan kita akan diadakan, bukan? Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Re. Apa kata orang-orang kalau kamu pergi. Keluarga kita akan malu karena tidak ada mempelai yang menemani para tamu undangan yang datang."


Alvin berusaha menahan. Tapi ibu Rohan semakin keras memaksa. Rere benar-benar ada di dalam dilema yang akut. Dia tidak tahu harus memihak yang mana. Karena kedua-duanya sama penting saat ini.

__ADS_1


Kemudian, panggilan dari rumah sakit datang ke ponsel ibu Rohan. Dokter meminta Rere segera datang karena kondisi Rohan semakin kritis saja. Selang beberapa saat panggilan berakhir, bapak Rohan pun muncul. Karena kondisi Rohan yang semakin memprihatinkan, dia terpaksa ikut-ikutan memohon.


Hal tersebut tentu membuat Rere tidak bisa menolak. Bagaimanapun, nyawa manusia tetap lebih penting. Meskipun dia harus mengorbankan hari bahagia yang seharusnya ia nikmati. Tapi dia tidak bisa jadi jahat dengan mempertahankan egonya hanya karena dia ingin menikmati hari bahagia tersebut.


"Vin. Maafkan aku. Aku harus ke rumah sakit sebentar untuk melihat keadaan mas Rohan. Mas Rohan sangat membutuhkan aku sekarang. Aku mohon pengertian kamu, Vin."


"Tapi kamu juga harus mengerti aku, Re. Ini hari pernikahan kita. Apa tidak bisa kamu mengesampingkan kepentingan orang lain terlebih dahulu, ha?"


"Maaf, Alvin. Tidak bisa. Nyawa manusia adalah hal yang paling penting. Aku tidak ingin menyesal seumur hidupku."


Setelah kata-kata itu Rere ucap, dia langsung meninggalkan Alvin di mobil pengantin mereka. Rere bergegas pergi ke rumah sakit bersama kedua mantan mertuanya untuk melihat Rohan.


Sementara Alvin, dengan perasaan sangat sedih, dia datang ke gedung resepsi mereka. Ketika dia tiba, tentu saja semua mata langsung menyambut kedatangan dirinya. Pertanyaan kecil sampai ke besar pun langsung dia terima.


Alvin tidak memberikan jawaban apapun. Dia tetap bungkam sampai akhirnya sang mama yang melontarkan pertanyaan.


"Di mana Rere, Vin? Bukannya kalian berdua berbarengan tadi? Kenapa sekarang, kamu malah datang sendirian?"


"Rere ... dia ada urusan, Ma."


"Urusan apa, Vin? Katakan dengan jelas! Jangan bicara terputus-putus seperti ini."


"Iya, Vin. Coba kamu jelaskan, apa yang sudah terjadi sebenarnya," kata mama Rere ikut memaksa.


Alvin menatap datar mama Rere. Rasa sakit yang ia rasakan terlalu besar sampai ia sulit untuk berucap. Tapi, setelah mamanya paksa lagi dan lagi, akhirnya, dia mampu mengatakan dengan jelas juga.


"Rere ... harus menolong nyawa seseorang. Orang itu lebih membutuhkan Rere dari pada aku. Karena itu, saat ini, Rere tidak ada di sini bersama kita."


"Nyawa seseorang? Apa maksudnya sih, Vin?" Mama Alvin yang tidak mengerti terus melontarkan pertanyaan. Tapi mama Rere yang sudah tahu apa yang Alvin katakan, sekarang diam membisu.

__ADS_1


__ADS_2