Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'45


__ADS_3

Alvin sontak menatap lekat wajah Rere.


"Apaan sih, Re? Kamu nggak punya salah apa-apa kok. Jangan bicara yang tidak-tidak."


Meskipun Alvin yang sekarang sudah dewasa. Dan terlihat sangat jauh berbeda dari Alvin yang waktu remaja. Tapi tetap saja, saat berhadapan dengan Rere, Alvin masih tidak bisa menguasai diri. Dia masih terlihat sangat gugup. Wajahnya masih merona. Kupingnya masih memerah ketika ia merasa gugup. Bahkan, dia terlihat seperti bukan dirinya saat berhadapan dengan Rere.


Sungguh, cinta yang dia punya, tidak bisa mencegah semua kelemahan yang dia miliki muncul di depan Rere. Perempuan yang selalu ada dalam hatinya sejak remaja hingga dia dewasa seperti saat ini.


...


Beberapa hari kemudian, kabar kebangkrutan perusahaan Rere masih tidak juga terdengar oleh Rohan dan Amira. Mereka sangat mendambakan kabar tersebut, tapi sampai detik ini, kabar itu tak kunjung muncul.


"Gimana sih, Mas? Kok perusahaan itu masih berjalan seperti biasa sih? Nggak ada rumor kebangkrutan sedikitpun. Rumor yang aku sebar juga nggak ada pengaruhnya sedikitpun."


Amira sangat gusar sekarang. Hatinya yang gusar semakin bertambah sangat amat gusar ketika melihat ke kantor Rere. Kantor itu tidak menampakkan perubahan sedikitpun. Malahan, terlihat seperti tidak punya masalah sama sekali.


"Aku juga nggak tahu, Mi. Yang semakin membuat aku bingung, kita sudah melakukan hal besar, tapi tidak mendapatkan tanggapan sama sekali. Perusahaan yang sudah bersaing dengan perusahaan Rere pun tidak bersedia menerima info yang kita miliki. Ini adalah hal tergila yang pernah aku alami selama aku hidup."


"Masa, ada saingan yang menolak bantuan yang bisa menguntungkan perusahaannya sendiri. Inikan gila namanya."


Amira dan Rohan tidak tahu, kalau di belakang Rere ada pendukung yang paling kuat. Yang selama ini menjadi raja di dunia bisnis. Yang punya pengaruh paling besar, yang tidak mudah untuk ditembus. Mana berani orang mencari masalah dengan perusahaan Alvin. Apalagi, perusahaan kecil yang Rohan dan Amira datangi.


Perusahaan yang jelas-jelas sangat mendambakan perusahaan Alvin untuk diajak bekerja sama. Demi Rere, Alvin rela melakukan segala cara agar Rere tetap bisa mempertahankan perusahaan keluarga yang saat ini Rere pegang.

__ADS_1


Meski semua data sudah hilang, proyek milyaran juga sudah lenyap. Tapi tetap saja, dukungan besar yang Alvin berikan membuat Rere bisa bertahan meski berada di ambang kehancuran.


"Mas, kalau begini caranya, kita yang ada dalam bahaya tapi tidak menerima hasil apa-apa. Ini sungguh menyebalkan, Mas."


Amira terus merungut, sedangkan Rohan hanya bisa sambil mendengarkan apa yang Amira katakan sambil menahan hati. Semakin lama, Amira terasa semakin jauh berbeda. Tapi sayangnya, mau bagaimana lagi sekarang? Semua susah terjadi. Rere yang ia lepas, tidak mungkin ia gapai kembali.


Sambil ngomel tak jelas, mata Amira jelalatan melihat ke sekeliling kantor Rere. Saat itulah, tanpa sengaja ia melihat Rere yang keluar dari kantor bersama dengan seseorang yang tidak asing lagi baginya.


Orang yang sebelumnya juga pernah dia lihat masuk ke dalam kantor tersebut. Yang membuat hatinya gugup tak karuan. Pria dari masa lalu yang sangat ia kenali. Dimas. Dia adalah cinta pertama Amira yang sudah pernah mengambil semua yang berharga dari diri Amira. Tapi sayang, setelah mendapatkan apa yang ia mau, pria itu malah pergi meninggalkannya begitu saja. Beruntung, dia tidak hamil gara-gara pria tersebut.


Ekspresi Amira membuat Rohan langsung penasaran. Tapi sayangnya, saat dia melihat ke arah yang Amira lihat, pria itu sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan Rere. Dia juga sudah tidak terlihat di depan saja.


"Ada apa sih, Mi? Kok kelihatanya serius amat kamu lihat ke sana? Kek ngelihat apa gitu."


"Apa?" Tentu saja Rohan bingung. Amira yang ia tanya, bukannya menjawab pertanyaan, malah meminta ia melakukan hal yang sama sekali tidak ia pahami


"Ngapain ngikutin mobil ini, Mira? Buat apa?"


"Ikuti saja apa yang aku katakan, mas! Di dalam sana ada seseorang yang aku kenal. Aku .... " Amira sadar apa yang baru saja dia katakan. Lalu, dengan wajah penuh rasa bersalah, dia mengalihkan pandangannya ke sisi lain.


"Di dalam sana ada Rere, mas. Aku hanya ingin tahu Rere ingin pergi ke mana. Karena itu, aku minta kamu buat ikuti mobil itu," ucap Amira berusaha mengalihkan pemikiran Rohan tentang dia. Karena tadi, dia sudah bicara dengan nada tinggi pada Rohan.


"Rere? Jadi, kamu tadi lihat dengan tatapan serius itu cuma ngeliat Rere, Mi? Yang benar saja, Amira."

__ADS_1


"Kenapa? Nggak boleh aku lihat Rere kek gitu, mas? Rere udah bikin aku hidup kek gini, mas Rohan. Yah, meskipun dia bersedia melepaskan kamu. Tapi tetap saja, urusan pribadi mana boleh ia samakan dengan urusan kerja. Aku tetap tidak bisa terima apa yang sudah dia lakukan padaku, mas."


Rohan hanya bisa melepas napas pelan.


"Iya. Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan. Maafkan aku, Mira. Semua ini karena aku. Andai saja aku tidak begitu lemah waktu itu. Kita pasti sudah bersama sejak lama."


Amira menoleh sesaat. Lalu, dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali.


"Sudahlah. Semua sudah terjadi juga. Tidak bisa diubah lagi."


Karena baru saja bertemu Dimas, hati Amira jadi terombang-ambing sekarang. Rasa cinta untuk Rohan, kini mendadak ia pertanyakan. Sebab, ada hati untuk Dimas yang masih tetap terjaga hingga detik ini. Meskipun pria itu sudah menyakiti dirinya.


Perjalanan berlangsung tidak sesuai dengan keinginan. Rohan yang mengendarai mobil sampai terjebak di lampu merah membuat mereka kehilangan mobil yang mereka ikuti. Hal itu membuat Amira begitu kesal.


"Apa-apaan sih, mas? Kenapa kamu malah berhenti? Mobil yang kita ikuti jadi hilang sekarang, kan?"


"Kamu nggak lihat, Mi? Kita berhenti karena lampu merah. Kamu kok malah marah-marah sama aku sih?"


"Ya tetap saja, itu semua karena kamu yang nggak becus nyetir mobil. Kalo kamu bisa bawa mobil dengan baik, kita gak akan terjebak di lampu merah saat ini."


Rohan semakin gerah saja dengan sikap Amira. Perlahan tapi pasti, ia mulai bosan dengan sikap Amira yang semakin lama semakin parah dari sikap Rere yang dulu ia hadapi. Yang membuat Rohan merasa sangat bosan untuk bertahan.


"Kenapa kamu semakin lama jadi semakin tak sabaran, Amira? Semakin hari, aku jadi merasa, sikap kamu semakin jauh berbeda. Lebih buruk dari sikap Rere yang selalu manja padaku dulu."

__ADS_1


"Apa! Kenapa kamu malah jadi bandingin aku dengan Rere. Ingat, mas! Aku bukan Rere. Kita dua orang yang sangat jauh berbeda. Selama ini aku sabar, bulan? Tapi kamu aja yang nggak peka. Sabar juga ada batasnya, mas."


__ADS_2