
"Tenang dulu ya, ma. Kita akan berikan Amira dan papa pelajaran. Tapi untuk saat ini, aku ingin mama sembuh dulu. Jangan pikirkan yang lain dulu ya, ma. Karena kesembuhan mama adalah prioritas utama untuk kita saat ini."
Sang mama mengangguk pelan. Rasa bersalah akan apa yang sudah terjadi tidak bisa ia sembunyikan. Tapi mendengar penuturan dari anak tercinta, Lastri juga ikut mencoba untuk menenangkan hati.
....
"Halo, tante." Alvin menyapa mama Rere dengan ramah.
Setelah mendengar kabar kalau mama Rere sudah sadar dari koma, Alvin langsung datang ke rumah sakit tersebut. Tentu saja dia ikut bahagia karena kesadaran sang calon mama mertua. Tentunya, yang Alvin harapkan selama ini.
"Dia .... "
"Dia Alvin, Ma. Pria yang aku ceritakan pada mama tadi."
"Oh, jadi kamu Alvin ya, nak? Pantas saja Rere begitu bahagia saat menceritakan dirimu. Ternyata, kamu memang sama persis dengan yang ia ceritakan."
"Ih, Mama." Rere langsung merona akibat perkataan sang mama.
Sementara Alvin yang melihat perubahan itu, langsung tersenyum lebar. Niat untuk menggoda semakin bermekaran dalam hati Alvin saat ini.
"Apa saja yang ia ceritakan tentang aku, Tan? Dia nggak muji-muji aku, kan tan?"
Seketika, Alvin langsung bisa akrab dengan mama Rere. Di tambah, si bibi juga ikut-ikutan tak kalah heboh di tengah-tengah obrolan para majikan. Sungguh, mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang sangat hangat.
Beberapa jam berlalu, karena sang mama masih membutuhkan banyak istirahat, maka Alvin berinisiatif untuk meninggalkan kamar rawat setelah beberapa waktu ngobrol dengan hangat. Rere pun langsung mengantarkan Alvin hingga ke depan pintu kamar rawat tersebut.
"Mm ... Re. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
"Prihal apa?"
"Soal bukti dari pencurian semua data di kantor kamu. Aku sudah mendapatkan semua bukti yang bisa menjerat para pencuri dengan hukuman penjara yang cukup lama."
__ADS_1
"Benarkah?" Mata Rere seketika langsung berbinar. Kebetulan, dia sangat ingin mengusir dua manusia yang sudah sangat tidak tahu malu itu. Jika benar mereka pelakunya, maka wajib lah mereka di hukum.
"Iya. Tapi sayangnya, semua data yang mereka curi, tidak bisa aku dapatkan. Karena data itu sudah jatuh ke tangan seseorang yang tidak bisa aku jangkau. Entah siapa, tapi sepertinya, orang ini cukup kuat, Re."
"Ya, Tuhan. Ini bahaya, Vin. Bagaimana ini bisa terjadi?" Rere sungguh sangat cemas saat ini. Bagaimana tidak? Meskipun perusahaan tetap berjalan seperti biasa. Tapi data penting yang bersifat rahasia tidak bisa jatuh ke tangan orang lain begitu saja. Itu sama saja dengan menaruh bom waktu di sekitar tempat mereka berdiri. Cepat atau lambat, bom itu akan meledak juga.
Alvin langsung menyentuh pelan bahu Rere.
"Kamu tenang saja, Re. Aku akan tetap berusaha untuk mendapatkannya. Tidak perlu cemas yah. Fokus sama urusan pribadi kamu aja untuk saat ini. Ada banyak hal yang harus kamu urus, bukan?"
Rere menatap wajah Alvin dengan lembut. Wajah pria yang dulunya pernah ia abaikan. Karena dia tidak cinta dengan pria ini dulunya. Dan, yang paling parahnya, dia merasa sangat risih dengan pria ini waktu itu.
Tapi sekarang, pria inilah yang menjadi malaikat penolong untuknya. Melakukan banyak hal, termasuk memperbaiki hatinya yang rusak. Membuat ia merasa sangat nyaman dan selalu kuat untuk tetap melangkah. Membantu ia bangkit ketika ia terjatuh.
Singkatnya, pria ini adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Rere akhir-akhir ini. Jika untuk membalas kebaikan, mungkin Rere tidak akan bisa. Karena ada banyak kebaikan yang harus dia balas pada pria ini.
"Re. Kenapa? Apa aku sebegitu tampannya sekarang sampai kamu terus menatap wajah ini dengan tatapan lekat?"
"Ih! Jadi orang kok terlalu tinggi percaya dirinya, Van. Siapa yang terus menatap kamu? Aku? Nggak tuh. Gak sama sekali." Rere berucap sambil merona dengan membuat muka ke arah samping.
"Kamu yakin? Tapi kayaknya, kamu sedang merona deh saat ini. Aku tampan, kan Re?"
"Nggak!"
"Kamu bohong tuh. Kuping kamu merah, Rere."
"Alvin!"
"Aku bercanda."
Keduanya terus melanjutkan candaan sampai beberapa waktu berlalu. Kebahagiaan tergambar dengan sangat jelas di wajah Rere saat ini.
__ADS_1
"Dia memang pantas untuk kak Rere ternyata."
Seseorang yang melihat dari kejauhan, berucap pelan pada dirinya sendiri. Dia adalah Ivan. Adik kandung Rohan yang selama ini juga mengagumi Rere.
Rasa kagum dalam hatinya berubah menjadi suka sejak sang kakak menikahi Rere. Tapi, dia sudah mencoba menekan perasaan itu. Namun, bukannya lenyap, rasa itu malah tumbuh semakin membesar.
Lalu, secercah harapan kembali datang saat perceraian Rere dengan sang kakak. Tapi lagi-lagi, Ivan sadar akan siapa dirinya. Dia tidak mungkin bisa meraih Rere meskipun berusaha sekuat tenaga. Selain status mantan ipar yang dia sandang, Rere juga sudah dekat dengan seseorang yang paling berkuasa. Mana mungkin dia siap jika harus bersaing dengan si pria tersebut.
"Lupakan! Lupakan semuanya, Ivan. Kamu dan dia tidak akan bersama."
"Siapa? Kamu dengan dia? Siapa, Van?"
Suara khas milik Mona terdengar sangat jelas. Suara itu sontak membuat Ivan terlonjak kaget. Ya, Ivan datang ke rumah sakit ini bersama Mona. Mereka datang untuk menjenguk mama Rere yang sudah sadar dari koma.
"Mona! Ya ampun .... " Ivan berucap sambil memegang dadanya akibat terkejut.
"Ya elah, Van. Gitu aja kok terkejut sih. Kamu kek habis lihat setan aja tau nggak. Ada apa sih?"
Ivan langsung bernapas lega karena Mona tidak cukup memahami apa yang ia katakan barusan. Namun, hutang penjelasan agar Mona tidak curiga tetap harus dia balas.
"Itu ... kamu datang yang tiba-tiba, tentu saja bikin aku terkejut, Mon."
"Yah ... kok malah nyalain aku sih, Van. Kamu yang lagi ngomong sendiri tadi. Sekarang, jelaskan padaku, Ivan! Barusan, kamu bicara apa, hm? Untuk siapa perkataan yang kamu katakan itu."
"Untuk seseorang. Kamu tidak perlu tahu. Yang jelas, orang itu ... yah, yang jelas kamu tidak perlu tahu aja deh intinya."
Setelah berucap, Ivan ingin langsung meninggalkan Mona. Tapi sepertinya, reaksi Mona akan kata-kata yang baru saja Ivan katakan sedikit berbeda.
"Aku jelas ingin tahu, Van. Karena aku suka kamu."
Seketika, Mona langsung menutup mulutnya setelah kata-kata itu lolos dari mulut. Sungguh, Mona tidak percaya kalau mulutnya tidak bisa ia ajak kerja sama. Malah berucap begitu saja tanpa bisa ia kontrol.
__ADS_1
Tentu saja langkah Ivan langsung tertahan. Pernyataan suka yang datang tiba-tiba membuat hatinya kaget luar biasa. Dia yang baru saja terkejut, ditambah terkejut lagi. Bagaimana tidak hampir jantungan coba?