
"Maaf, Re. Aku tidak bisa membiarkan kamu dalam masalah lagi kali ini. Aku akan bantu kamu dengan sekuat tenaga. Kamu itu bidadari ku. Meskipun hanya aku yang mencintai kamu. Tetap saja, aku tidak akan membiarkan kamu berada dalam masalah."
"Halo, Dani. Rencana B udah siapkan?"
" .... "
"Ya, kita pakai rencana B. Jangan sampai gagal. Jika tidak, aku akan buat kamu menjauh dari Rere selamanya."
Terdengar suara kesal dari balik telepon.
"Apaan sih, Om. Kak Rere itu punya aku. Nggak akan aku biarkan om menjauhkan aku dari dia. Ngerti nggak sih?"
"Anak kecil jangan banyak berkhayal. Lakukan tugas yang aku berikan dengan baik. Ingat, jangan sampai ketahuan atau kamu tahu akibatnya."
"Dasar om bawel. Udah tua juga masih aja bawel kek ... eh, emang semakin tua semakin bawel kan. Kek emak-emak gitu. Makin tua makin bawel aja."
"Dani .... "
"Iya, om. Iya. Tenang aja. Untuk kak Rere ku yang tersayang, nggak akan aku biarkan kegagalan terjadi. Sedikitpun nggak. Om gak perlu merasa cemas. Serahkan saja semuanya padaku. Aku ini adalah keponakan yang paling terpercaya kok, Om."
"Suka hati kamu ajalah. Yang jelas, jangan sampai gagal, Dani. Ingat itu!"
"Iya, om."
...
Persidangan hampir saja di mulai. Saat beberapa detik menuju mulainya persidangan, Rohan datang bersama Amira dan juga papa Rere. Sungguh hal yang sangat mengejutkan buat Rere.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Rohan yang sebelumnya mengatakan dia tidak akan datang, tapi kali ini malah datang. Bersama Amira dan papanya lagi.
'Tahan, Re. Jangan gegabah. Biarkan saja dia tidak menepati kata-katanya. Kamu juga sudah tahu dia, bukan? Pria yang tidak bisa memegang janji. Yang penting, hari ini kamu harus bisa bercerai dengannya. Jadi, jaga imej mu sekarang.'
Rere berusaha menguatkan hati. Dia sendirian tanpa teman saat ini terasa seperti berada di dalam kegelapan pekat yang tidak tahu ke mana arah dan tujuan.
Suara jaksa memenuhi ruangan tersebut. Awalnya, semua masih baik-baik saja. Tapi seiring berjalannya waktu, Rohan yang sudah menjatuhkan talak sebelumnya malah menuntut hak harta gono gini pada Rere.
"Apa-apaan ini, Mas? Harta gono gini apanya? Kamu dan aku nggak ada harta apa-apa. Semua harta yang ada padaku saat ini, itu semua adalah milik mamaku. Milik keluarga mama, mas Rohan."
Rere benar-benar tidak bisa menahan diri lagi setelah pengacara Rohan menyebutkan semua harta harus dibagi rata. Sungguh luar biasa. Bisa-bisanya Rohan tidak punya malu sampai bisa menginginkan harta yang bukan miliknya.
Sudah jelas kalau dari harta yang Rere miliki saat ini tidak ada sedikitpun hak Rohan. Orang Rohan saja tidak memberikan Rere nafkah yang cukup selama mereka menjadi pasangan suami istri.
"Maaf, pak. Sudah jelas kalau semua aset yang mbak Rere miliki juga miliknya pak Rohan. Jadi, semua harus di bagi sama rata. Sesuai dengan undang-undang yang berlaku." Pengacara Rohan yang angkat bicara sekarang.
"Tidak! Saya keberatan dengan usul itu. Gak ada gono gini yang bisa kami bagi. Karena itu tidak sedikitpun ada campur tangan mas Rohan."
"Panggilkan!"
Amira dan Haris langsung di minta ke depan. Sebelum memberikan kesaksian yang sudah pasti palsu, Amira tersenyum kecil ke arah Rere.
Amira pun langsung memberikan jawaban setelah jaksa meminta ia mengatakan apa yang ia ketahui. Tentunya, dengan wajah yang pura-pura ketakutan, Amira menjelaskan semuanya.
"Benar, pak. Mas Rohan adalah suami kakak saya. Mereka menikah hampir dua tahun. Keduanya sama-sama bekerja keras. Tapi kak Rere, tidak ingin mengakui hasil kerja mas Rohan. Yang ia tahu, hanya hasil kerjaannya saja. Padahal, itu tidak benar."
"Tunggu!" Sebuah suara langsung menghalangi ucapan Amira selanjutnya. Terlihat, semua yang ada di dalam ruangan itu juga sepertinya sedikit terkejut dengan kedatangan orang itu.
__ADS_1
"Maaf, pak Hakim. Saya adalah pengacara dari mbak Rere. Saya datang terlambat karena terjebak masalah di jalan. Saya harap, saya masih punya kesempatan untuk menjelaskan."
Pengacara itu dipersilahkan dengan penuh hormat. Sementara pengacara Rohan kini meneguk saliva karena sedikit ciut nyalinya. Bagaimana tidak? Yang baru datang ini adalah pengacara besar yang sudah beribu kali menangani kasus. Dan, karena kepintarannya itu, dia tidak pernah gagal dalam kasus yang ia tangani.
Lalu, dengan sopan si pengacara menjelaskan semuanya. Dengan bukti-bukti lengkap yang juga ia bawa bersamanya. Tidak satu patah katapun pengacara Rohan bisa angkat bicara. Karena setiap kali ingin bicara, pengacara Rere langsung menekan dengan sopan.
Alhasil, Rere lah yang memenangkan pengadilan kali ini. Bersamaan bukti lengkap, Rohan pula yang malahan di jatuhi denda karena tidak menafkahi Rere selama mereka menikah.
Amira yang awalnya berharap bisa memiliki sebagain harta Rere, kini malah langsung memperlihatkan wajah kesal. Bukannya dapat harta, eh ... Rohan yang malah kehilangan harta. Satu-satunya harta Rohan yang berupa mobil, harus di serahkan pada Rere sebagai ganti dendanya.
"Bagaimana ini, mas, pa? Semuanya jadi semakin berantakan."
"Amira. Kamu kok seperti ini sekarang. Kenapa jadi sangat gusar, hm?" Rohan yang mulai menerima perusbahan dari Amira mendadak merasa tidak nyaman.
"Bagaimana nggak gusar, mas? Kamu yang seharusnya menerima pembagian harta. Eh, malah kehilangan harta. Harta satu-satunya pula."
"Mira, jangan bicara seperti itu. Semua ini jugakan hasil dari rencana yang kamu buat. Papa sudah tidak setuju dari awal. Tapi kamu malah bersikeras. Lihatkan hasilnya."
Mendapat ucapan kesal dari sang papa, Amira langsung mengubah wajahnya. Dari kesal, langsung sedih. Hal yang sama sekali tidak pernah Rohan lihat selama ia kenal dengan Amira.
"Papa ... kok papa malah menyalahkan aku sih? Papa juga sih yang setuju. Lagian, mas Rohan yang nggak bisa bertahan dengan kuat. Masa iya langsung kalah setelah pengacara sialan itu datang."
"Agh! Pengacara yang aku bayar juga nggak ada gunanya. Bikin uang habis saja. Tapi hasilnya nggak ada. Kalah hanya dengan beberapa kali pukulan."
"Mi, kamu juga tahu itu pengacara handal yang datang untuk membela Rere. Ya jelas kita kalah lah. Mana bisa pengacara kelas bawah ngelawan pengacara yang paling terkenal di kota ini."
"Papa .... "
__ADS_1
"Iya-iya. Papa tahu kamu kesal. Tapi, ya bagaimana lagi, Amira? Orang kita sudah kalah, bukan? Nggak akan ada kesempatan lagi. Putusan hakim sudah sah. Palu sudah diketuk. Dan sekarang, Rohan dan Rere juga sudah bukan pasangan suami istri lagi."
Hanya Amira dan Haris yang ngobrol sekarang. Sementara Rohan malah terus membisu. Serangan dari perubahan sikap Amira membuatnya terhenyak tak percaya. Wanita yang selama ini ia kagumi dengan semua kelembutan, eh ... sekarang malah tak kalah menyedihkan dari sang mantan istri yang sudah ia campakkan.