Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'67


__ADS_3

Meskipun sangat amat bingung, tapi Mona tetap mengiyakan apa yang Rere katakan. Namun, ketika ia mengambil amplop untuk dibuang, dia malah menjatuhkan isi dari amplop tersebut hingga berserakan ke lantai.


Lembar demi lembar foto tergeletak di atas lantai. Wajah kaget Mona mendadak menghilang saat melihat foto yang matanya lihat sekarang.


Ya. Isi dari amplop itu adalah foto Alvin bersama Maya. Tidak terlalu intens sih sebenarnya. Hanya saja, foto itu cukup membuat hati terluka. Apalagi untuk orang yang menjabat sebagai istri dari pria yang ada di dalam foto tersebut.


"M-- mbak Rere ... ini ... maafkan saya, mbak."


Rere yang sama sekali tidak bergerak dari duduk sebelumnya, kini langsung melepas napas berat. Satu tangannya sontak langsung menyentuh lalu memijat kepalanya dengan pelan.


"Sudahlah. Tidak perlu minta maaf, Mon. Bereskan saja dengan cepat. Lalu, lakukan apa yang sudah aku katakan padamu sebelumnya."


Saat ini, setelah mendengar ucapan Rere, Mona semakin merasa yakin kalau Rere tidak mencintai Alvin. Perlahan tapi pasti, setelah melakukan apa yang Rere katakan, Mona kembali menatap Rere dengan tatapan lekat.


"Mbak, maaf. Bukan aku ingin mencampuri urusan hidupmu, tapi aku ingin tahu, apa kamu tidak merasa sakit hati saat melihat semua ini?"


Rere pun langsung menatap tajam Mona. Tatapan tajam tersebut membuat Mona mendadak jadi salah tingkah.


"Maaf, mbak. Aku tahu aku keterlaluan. Karena itu .... "


"Tidak." Rere memotong ucapan Mona sambil bangun dari duduknya. "Kamu mungkin tidak salah karena telah bertanya."


Lalu, Rere memunggungi Mona. Perlahan dia ceritakan apa yang selama ini ia pendam. Rere bisa sedikit terbuka pada Mona saat ini, karena ia sudah menganggap Mona seperti adik kandungnya sendiri. Teman curhat yang selama ini paling dekat dengannya..


Sementara itu, Mona langsung merasa sangat bersalah saat mendengar semua ungkapan hati Rere. Dia lirik lagi amplop yang saat ini ada di tangannya. Ingatan akan Alvin yang sedang bertatap mata dengan seorang perempuan membuat rasa bersalah dalam hati Mona bertambah besar.

__ADS_1


"Mbak aku tahu apa yang sedang kamu rasakan. Maafkan aku karena sudah salah paham padamu, mbak. Aku juga sudah sempat membenci kamu sebelumnya. Aku sangat menyesal, mbak Rere."


Mona berucap sambil menundukkan wajahnya.


Perlahan, buliran bening juga terlihat jatuh melintasi pipi. Dia sungguh sangat menyesal karena pernah membenci Rere hanya karena seorang pria.


Rere mengelus lembut pundak Mona.


"Sudahlah. Jangan menangis, Mona. Aku tahu kamu pernah merasa tersakiti olehku sebelumnya. Karena itu sikapmu terhadapku sedikit berbeda belakangi ini, bukan?"


Sontak, ucapan itu membuat Mona langsung mengangkat wajahnya. "Mbak tahu? Maksudnya ... mbak .... "


Rere dan Mona pun semakin terhanyut dalam obrolan satu sama lain. Mona tak lupa mengeluarkan semua isi hatinya. Sampai, dia ceritakan prihal pengakuan Ivan yang menyukai Rere.


Awalnya, Rere cukup kaget, tapi dengan cepat dia menyangkal akan hal tersebut. Setelah itu, diapun memastikan dengan sangat keras kalau ia dan Ivan tidak akan pernah sejalan. Jadi, Mona tidak perlu berpikiran yang tidak-tidak.


Usai mengobrol banyak dengan Mona, Rere kini kembali pada keadaan kesepian setelah kepergian Mona. Di ruangannya, dia hanya bisa diam tanpa melakukan pekerjaan apapun.


Ingatan akan foto Alvin yang sedang bersama perempuan lain mengisi benak Rere saat ini. Meskipun sudah Rere usir sekuat tenaga, tapi tetap saja ia tidak berhasil. Ingatan itu seakan melekat dalam pikirannya.


Rere menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk beberapa detik. Lalu, sebuah hembusan napas kasar ia lepaskan. Tangannya pun ringan memegang ponsel. Dia nyalakan layar ponsel dengan mengetuknya. Di sana, foto ijab kobul mereka terpasang dengan indah.


"Vin, kenapa kamu jadi jahat begini sih sama aku? Kau lupakan aku begitu saja, Alvin. Meskipun penyebab rusaknya hubungan adalah aku, tapu ini terlalu kejam untuk disebut sebagai balas dendam."


"Ya Tuhan, aku sudah jelaskan padanya semua hal yang terjadi. Kenapa dia tidak mau mengerti juga?"

__ADS_1


"Dan sekarang, dia malah bersama perempuan lain. Aku merasakan luka yang sama dengan sebelumnya. Kenapa hidup begitu tega memberikan luka yang sama untuk yang kesekian kalinya? Kenapa aku harus merasakan lagi luka ini? Dan kenapa, luka ini malah Alvin yang memberikannya sekarang? Dia orang yang aku anggap tidak akan pernah menyakiti hati ini walau sedikitpun."


"Lagi-lagi aku terlalu percaya diri. Terlalu berharap pada manusia yang pada akhirnya, yang aku dapatkan hanya luka."


"Aku benci semua ini. Berpura-pura baik-baik saja itu sangat menyakitkan."


.....


"Yang tuan muda inginkan sudah saya lakukan. Tapi tuan muda, apakah ini tidak terlalu beresiko bagi hubungan tuan muda dengan nona muda? Karena saya rasa, ini sedikit berlebihan."


"Iya, ini memang berlebihan. Tapi memang inilah yang aku mau. Aku ingin melihat dia marah karena melihat aku bersama perempuan lain dengan sangat mesra. Karena itu, aku minta kamu melakukan semua ini."


Orang suruhan itu hanya diam saja sekarang. Bagaimana tidak? Dia sudah sangat dibuat bingung oleh seseorang yang sedang di mabuk cinta. Masa ingin membuktikan cinta dengan saling menyakiti? Inikan bodoh namanya.


Sementara itu, di sisi lain, Dimas sedang tertawa bahagia. Kesempatan yang ia pikir sirna, ternyata masih ada. Meskipun Rere sudah menikah dengan Alvin, tapi hubungan yang tidak baik membuat Dimas berpikir kalau dia masih punya kesempatan untuk bergerak.


"Kau milikku, Re. Karena itu aku akan berjuang lebih keras lagi sekarang."


"Aish, kalau sudah memang milik aku itu nggak akan ke mana ternyata." Dimas bahagia bukan kepalang.


Usaha untuk dekat dengan Rere ia lakukan kembali. Seperti biasa, dia akan ke kantor hanya untuk bicara. Setelah itu, mengajak Rere makan siang bersama. Yah, meskipun itu tidak semudah yang Dimas bayangkan, tapi tetap saja, usahanya berhasil. Rere setuju untuk makan siang dengan Dimas.


Setelah makan siang, Dimas mengajak Rere jalan-jalan ke taman. Dia ingin melakukan pendekatan agar bisa masuk ke hati Rere. Karena kebetulan, Rere sekarang sedang tidak baik-baik saja. Dimas berharap dengan keberadaannya, Rere bisa merasa, kalau dia selalu ada untuk Rere di saat Rere butuhkan.


Cinta memang rumit ternyata. Demi cinta, orang bisa lupa segalanya. Yang pintar saja bisa jadi bodoh. Tapi yang bodoh, masih saja tetap bodoh karena cinta. Begitulah istilahnya.

__ADS_1


Seperti Alvin yang saat ini kebetulan lewat dari jalan tersebut. Ketika melihat Rere dari seberang jalan, tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri Rere dengan amarah yang meledak.


"Rere!"


__ADS_2