
"Cukup, Mona! Kak Rere adalah wanita yang berhati sangat lembut. Jika dia datang ke sini hari ini, aku yakin itu bukan karena cinta. Tapi, karena hati lembutnya yang tidak akan pernah tega melihat orang lain berduka sedangkan dia bahagia."
Ucapan Ivan semakin membuat Mona terbakar api kecemburuan. Dengan tatapan tajam, akhirnya Mona hilang kendali juga.
"Kamu seakan cukup mengerti seperti apa mbak Rere, Ivan. Aku jadi curiga, kamu menolak menerima kenyataan itu karena kamu punya rasa pada mbak Rere. Iya 'kan, Ivan? Jawab dengan jujur, Van!"
Ivan yang diserang dengan pertanyaan bernada tinggi tentu tidak bisa menahan emosi. Sudah sifatnya yang dingin sulit untuk ditebak. Dia juga tidak bisa ditekan oleh perempuan. Karena itu, sampai detik ini dia tidak punya mantan pacar satu orang pun.
"Ya! Aku memang punya rasa pada kak Rere. Aku. Suka. Dia. Apa kamu puas sekarang?"
Mendadak, Mona langsung membeku akibat perkataan itu. Sementara Ivan yang tidak ingin tahu apa yang Mona rasakan, langsung meninggalkan Mona sendirian di tempat Mona berdiri sebelumnya.
....
Rere masih tidak kembali hingga malam menjelang. Resepsi pernikahan usai lebih cepat dari yang dijadwalkan. Alvin kini mengurung diri di kamar hotel tempat di mana akan dijadikan kamar pengantin mereka malam ini.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Alvin. Itu adalah vidio singkat pembicaraan Ivan dengan Mona. Ya, itu vidio yang sama dengan perdebatan Ivan dan Mona tadi sore.
Vidio itu diambil oleh mata-mata Dimas. Dan, diedit sedemikian rupa sehingga hanya pembicaraan yang membangkitkan amarah saja yang terdengar. Seperti, perkataan Mona yang mengatakan kalau Rere masih menyimpan cinta untuk Rohan. Karena itu dia lebih memilih datang ke rumah sakit dibandingkan menghadiri pesta pernikahannya sendiri.
Alvin yang mendengar perkataan itu tentu saja langsung membenarkan semuanya. Ditambah, dia tahu seperti apa penolakan Rere dulu terhadapnya. Karena itu, ucapan Mona langsung menyangkut dalam benak Alvin.
Thing! Pesan berikutnya masuk kembali. Pesan kali ini hanya berbentuk tulisan saja. Pesan itu mengatakan kalau Rere menikah dengan Alvin hanya karena ingin balas budi saja. Dan rasa cinta Rere masih tetap utuh untuk Rohan.
"Biadab ...!"
__ADS_1
Pank! Bunyi benda jatuh yang diakibatkan dari ponsel yang Alvin banting terdengar dengan sangat keras. Alvin benar-benar hilang kendali sekarang. Menyendiri bukannya bikin ia membaik, tapi malahan bikin hatinya semakin merasa sangat terluka.
Tapi, berbaur dengan orang lain juga bukan pilihan yang tepat. Karena saat ini, kondisi emosinya yang tidak bisa ia kendali mungkin akan menimbulkan masalah besar untuk diri sendiri juga orang lain nantinya.
Pilihan yang paling baik diantara yang baik masih tetap tinggal di kamar itu sendirian malam ini. Sementara di sisi lain, Rere sedang menemui Rohan yang masih dalam keadaan sekarat. Rere diizinkan masuk karena Rohan terus memanggil namanya sejak beberapa menit yang lalu.
"Mas Rohan. Ini aku, mas. Rere."
Berbeda dengan yang terjadi pertama kali, sekarang, Rohan masih tidak merespon meskipun Rere sudah berada di dekatnya. Sentuhan Rere masih tidak memberikan efek apapun untuk Rohan. Hal itu sangat menegangkan buat semuanya.
"Bagaimana ini, Dok? Anak saya masih tidak bereaksi sekarang. Apa dia akan baik-baik saja, dokter?" Ibu Rohan dengan perasaan sangat khawatir bicara dengan dokter.
Si dokter tentu saja tidak bisa menjelaskan apapun. Karena kesembuhan Rohan, memang bukan kuasa dia. Yang bisa ia lakukan hanya berusaha sebaik mungkin mengerahkan semua kemampuan yang ia punya.
"Tolong anak saya, Dok. Tolong dia."
"Benar, bu. Apa yang bapak katakan memang sangat benar. Kak Rohan mungkin masih belum menyadari keberadaan kak Rere. Karena itu, dia masih tidak merespon sekarang."
Putri pula angkat bicara.
Mendengar apa yang Putri katakan, si ibu langsung meminta Rere semakin keras untuk membuat Rohan sadar akan keberadaannya.
"Tolong lakukan dengan sungguh-sungguh, Rere. Buat Rohan sadar kalau saat ini, kamu ada di sisinya. Tolonglah selamatkan Rohan, Rere."
"Bu. Aku tidak punya kuasa untuk menyelamatkan mas Rohan. Karena kesadarannya itu diluar kendali kita sebagai manusia, bukan?"
__ADS_1
"Ibu tahu, Rere. Tapi, lakukan cara yang lebih efektif agar Rohan sadar akan keberadaan kamu. Cobalah untuk semakin mendekat ke tubuhnya. Buat ia merasa kalau ada kamu di sisinya."
"Bu. Jangan bicara hal yang sangat berlebihan. Ibu tidak lihat Rere sudah melakukan apa yang dia bisa lakukan? Mau dekat bagaimana lagi sekarang, ha? Rere sudah sangat dekat dengan Rohan. Tapi sayangnya, Rohan saja yang tidak bisa merasakan keberadaan Rere. Rohan tidak merespon, Bu. Ibu harus sadar akan hal ini. Rohan itu sedang berada di alam bawah sadar, Bu. Hanya Tuhan saja yang bisa menyadarkan dia."
Ya. Kali ini memang sangat jauh berbeda. Mau Rere menggenggam tangan Rohan, pria itu tetap tidak merespon sedikitpun. Yang ada, denyut nadinya bukan malah meninggi, melainkan, malah semakin melemah.
"Ya Tuhan. Keadaan pasien semakin memburuk sekarang." Dokter bergegas kembali ke posisi sebelumnya.
Dokter akan melakukan segala cara yang bisa ia lakukan untuk menolong pasien. Namun, semua kuasa tentu saja di pegang oleh yang Maha Kuasa. Denyut nadi Rohan yang semakin melemah membuat dokter tidak bisa melakukan apapun lagi. Hingga akhirnya, kabar buruk yang harus terdengar.
"Maafkan kami, pasien tidak bisa kami selamatkan lagi."
Sontak, kata-kata itu langsung menggemparkan keluarga Rohan. Kali ini, harapan sudah pupus. Rohan tidak terselamatkan lagi. Sang bunda langsung histeris tak karuan. Ruangan tersebut menggema seketika.
Manusia memang hanya bisa berusaha saja. Yang menentukan adalah yang Maha Kuasa. Begitulah hal yang paling pasti di dunia ini. Karena daun jatuh saja, tidak akan pernah jatuh tanpa persetujuan dari Yang Maha Kuasa. Apalagi hal-hal besar lainnya. Tidak akan pernah terjadi tanpa kehendak sang Pencipta.
Setelah merasa dirinya tidak dibutuhkan lagi di rumah sakit, Rere memilih pulang ke rumah. Terlintas dalam benak Rere untuk datang ke hotel, tapi segera ia urungkan. Karena ia pikir, Alvin pasti tidak akan ada di sana malam ini.
"Re, kamu baru pulang?"
Sang mama langsung menyambut kepulangan Rere dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan. Ingin marah, tapi juga merasa tidak tega akan apa yang baru saja anaknya alami.
"Ma."
"Ke mana saja kamu, Re? Apa sih yang ada dalam benak kamu, hah? Kenapa kamu bisa berpikir secara sepihak seperti ini. Kamu nggak tahu apa yang sudah terjadi dengan Alvin. Rere, mama .... Hah! Tidak tahu lagi harus berkata apa padamu, Re."
__ADS_1
"Ma, aku tahu mama tidak bisa berkata apa-apa atas apa yang sudah aku lakukan. Tapi, aku ingin bilang, mas Rohan sudah tidak ada lagi, Ma. Meskipun aku tidak bisa menolong nyawanya, tapi setidaknya, aku tidak merasa menyesal lagi dikemudian hari. Aku sudah melakukan apa yang bisa aku lakukan."