Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'38


__ADS_3

"Sialan ...! Kalian semua akan aku balas nanti!" Amira berteriak sambil berlari meninggalkan semua karyawan yang sedang melihat kepergiannya dengan tatapan sinis.


Saat Amira berlari, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Rere yang kebetulan baru tiba ke kantor tersebut. Dengan tatapan penuh amarah, Amira ingin langsung menyerang Rere.


"Dasar kurang ajar kamu, Rere! Semua ini ulah kamu, kan? Aku di tertawan dan dihina karena kamu!" Amira berteriak sambil ingin memukul Rere.


Tapi sayangnya, Rere tidak akan diam dan menerima begitu saja serangan dari Amira. Rere langsung menghindar dari pukulan Amira. Sebagai balasan dari menghindar nya Rere, Amira pun langsung jatuh tersungkur ke lantai.


Amira pun meringis kesakitan. Sementara Rere, dia diam saja melihat adik tiri yang tidak tahu balas budi itu bangun sendiri.


"Yang kurang ajar itu kamu, Amira. Setelah aku berbaik hati padamu dengan berbagi semua yang kamu butuhkan sejak kecil, tapi imbalan yang kamu berikan sungguh menyakitkan. Kamu merusak hidupku. Kamu pantas dikucilkan sejauh mungkin agar tidak terus-terus menjadi benalu yang tidak tahu diri."


Mata Amira mendadak melebar. Ucapan Rere bukannya membuat Amira sadar, eh ... malah bikin Amira sangat amat kesal. Tapi Rere tidak perduli dengan apapun yang Amira rasakan. Setelah ia berkata apa yang ingin ia katakan, Rere langsung meninggalkan Amira.


'Kurang ajar kamu, Rere! Cukup sudah kamu hari ini mempermainkan aku. Akan aku balas apa yang telah kamu lakukan padaku hari ini dengan balasan yang sangat tidak kamu pikirkan sebelumnya. Akan aku baut kamu nangis darah menyesali semua yang telah kamu lakukan, Rere!"


Sebelum Amira benar-benar pergi meninggalkan kantor Rere. Dia sempat melihat seseorang yang cukup ia kenali datang ke kantor tersebut. Saat Amira ingin bertemu dengan orang itu, dia malah kehilangan kesempatan karena orang tersebut masuk ke dalam kantor dengan cepat.


"Sial! Kenapa aku hari ini begitu sial sih? Agh!"


...


"Apa! Rere benar-benar melakukan hal itu padamu, Mi?"

__ADS_1


"Iya, pa. Rere menurunkan jabatan ku dari asisten menjadi OB. Karyawannya bilang, hanya posisi itu saja yang masih kosong sekarang." Amira bercerita dengan nada putus asa yang terdengar sangat amat menyayat hati Haris. Tentu saja air mata tak lupa ia jatuhkan dengan sangat deras.


"Anak itu semakin menjadi-jadi sekarang. Tak aku sangka jika ia benar-benar begitu tega jadi manusia."


"Amira, kamu tenang saja. Biar papa yang bicara lagi nanti dengan Rere yah."


"Percuma, pa. Rere tetap tidak akan mendengarkan papa. Dia pasti punya banyak cara untuk membela diri. Aku sudah tidak kuat lagi menghadapi Rere, pa."


"Amira, sayang. Jangan bicara seperti itu. Papa janji, papa akan buat Rere minta maaf padamu ya."


Amira hanya memberikan anggukan pelan saja. Karena sejujurnya, hati Amira sangat tidak yakin dengan apa yang papanya katakan saat ini.


'Heh ... punya papa lemah, tidak bisa menjanjikan kesuksesan. Jika saja papa yang punya semua kemewahan ini. Aku juga tidak perlu hidup menyedihkan seperti ini. Tapi ya mau bagaimana lagi. Aku juga tidak bisa berharap apa-apa. Karena papa hanya punya satu pabrik tebu reot yang tidak bisa menghasilkan banyak penghasilan.' Amira mengeluh dalam hati.


Hal yang sering ia lakukan sejal dulu hingga saat ini. Menyesali kelemahan papa yang tidak bisa memberikan ia kemewahan. Terlalu naif untuk terlalu banyak berharap dari papa yang tidak memiliki akar seperti Haris.


...


"Cukup, pa! Jangan membuat ribut lagi di kantor ini. Yang salah bukan karyawan ku. Melainkan, anak kesayangan papa yang sangat papa bela separuh mati itu."


Haris yang mendengar ucapan Rere bertambah emosi sekarang. Dengan tatapan tajam, dia menatap Rere.


"Anak durhaka kamu, Re! Tidak punya sopan santun pada orang tua. Tidak mau mendengarkan perkataan orang tua. Mau jadi apa kamu, hah! Sudah dibesarkan dengan sangat baik, tapi malah jadi manusia yang kasar dengan hati pendendam. Aku sungguh sangat kecewa padamu."

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bicara seperti itu, pa. Kalian sudah mama tampung di keluarga setelah melakukan kesalahan. Tapi kalian sangat tidak tahu diri. Seperti menolong anj-ing terjepit saja. Sudah bebas, yang di tolong malah dia serang."


"Kamu .... " Haris ingin sekali memberikan pelajaran pada Rere. Tapi sepertinya, hal itu tidak bisa ia lakukan. Mengingat, ada dua satpam yang saat ini sedang berada di kedua sisi Rere. Yang mungkin siap menjadi tameng untuk melindungi Rere dari serangan siapapun.


"Apa, pa? Tidak terima dengan apa yang aku katakan? Pikirkanlah baik-baik apa yang aku katakan."


"Aku harap, tidak ada lagi keributan hari ini terulang kembali."


"Tapi Amira, dia berhak kembali ke kantor dengan posisinya yang sebelumya, Rere. Jangan kamu pura-pura mengatakan kalau posisi Amira sudah di duduki orang lain."


"Memangnya kenapa kalau posisi Amira sudah ada yang menduduki? Karena pada dasarnya, Amira memang tidak layak di posisi itu. Dia hanya bertahan karena aku menginginkannya saja, pa. Jika urusan skill, Amira sama sekali tidak punya."


Haris terdiam sesaat memikirkan apa yang baru saja Rere katakan. Amira memang tak sepintar Rere. Bahkan, Haris tahu sendiri seperti apa anak kebanggaannya itu.


Jika Rere berada di peringkat paling atas dalam urusan pelajaran, maka Amira berada di peringkat paling bawah. Atau paling tingginya, di peringat tiga dari bawah.


Hal itu memang sangat berbanding terbalik dari Rere. Amira tidak punya skill apapun. Sementara Rere, dia sangat pintar. Pantas mamanya memberikan ia posisi pemimpin utama di kantor sejak ia masih berada di bangku perkuliahan lagi. Karena Rere memang punya bakat yang bagus dalam memajukan perusahaan itu.


"Karena itu, posisi Amira memang sudah ada yang mengisinya," ucap Rere lagi dengan nada tidak setinggi yang sebelumnya.


Ucapan itu langsung menyadarkan Haris dari lamunan. Dia pun langsung bisa menerima apa yang Rere katakan. Tapi, otak Haris yang masih menginginkan anaknya berada di posisi baik, tetap tidak hilang.


"Baiklah. Jika posisi sebelumnya sudah tidak ada, maka berikan posisi Rohan sebelumnya pada Amira. Papa yakin, posisi itu masih kosong sekarang, bukan?"

__ADS_1


Sungguh luar biasa papa Rere ini. Anaknya saja sampai tidak bisa berkata apa-apa setelah ia meminta posisi Rohan sebelumnya. Posisi yang tak lain lebih tinggi dari posisi yang sebelumnya Amira jabati. Posisi kedua tertinggi setelah Rere sebagai CEO.


"Apa? Papa menginginkan posisi direktur untuk Amira? Yang benar saja, pa. Sebagai asisten aku saja dia tidak becus, apalagi sebagai direktur. Mau di bawa ke mana perusahaan aku ini nantinya?"


__ADS_2