
Hari pernikahan Mona dan Ivan tiba. Rere dibantu dengan salah satu bibi yang bekerja di rumahnya sedang bersiap-siap untuk menghadiri pesta pernikahan tersebut.
"Nyonya Rere masih terlihat sangat amat muda ternyata yah? Saat berdandan natural lepas seperti ini, saya merasa kalau nyonya sedikit lebih mirip gadis remaja."
Rere langsung mengukir senyum kecil. Bukan bahagia, ia malah merasa sangat geli hati akan pujian yang dia anggap sedikit lebay tersebut.
"Bibi ngomong apa sih? Aku ini sudah cukup dewasa, tau nggak? Umur aja udah mau dua puluh delapan tahun sekarang. Jauh lah sama apa yang bibi katakan itu."
"Eh ... jangan salah, nyonya. Apa yang bibi katakan itu adalah fakta lho, Nya. Nyonya masih terlihat sangat amat muda. Apalagi dengan tampilan yang nyonya kenakan sekarang. Semakin terlihat aura mudanya."
"Yang bibi katakan itu benar lho, sayang. Kamu terlihat sangat muda. Bahkan, setiap hari juga kamu kelihatan kek anak ABG menurut aku."
Alvin yang entah kapan tiba di kamar tersebut juga ikut memuji dengan sepenuh hati.
"Apa-apaan sih, kak? Jangan ikutan muji-muji dengan ekspresi berlebihan gitu deh. Sudah cukup aja si bibi yang buat aku merasa geli hati. Eh, sekarang malah kamu yang menambahkannya. Sungguh mengesalkan."
"Aku serius, sayang." Alvin berucap sambil menyesuaikan posisi duduk Rere. Dia juga tak lupa menjatuhkan ciuman hangat ke pipi istrinya tanpa menghiraukan perasaan bibi yang ada di kamar tersebut.
Yah, beginilah mereka setiap waktunya. Lupa akan orang lain jika sudah berdua. Mereka pikir, orang lain tidak punya perasaan saja. Mereka terus memperlihatkan kehangatan dari pernikahan mereka setiap waktu yang bisa mereka lewati bersama.
....
Tiba di pernikahan Ivan dan Mona, Rere langsung di sambut hangat oleh keluarga mantan suaminya. Tak terkecuali sang mantan ibu mertua yang sangat ingin tahu bagaimana keadaan cucu satu-satunya yang saat ini Rere asuh.
"Kalian ... nggak bawa Adnan sekalian datang ke pernikahan Ivan?"
"Nggak, bu. Arham nggak bisa ikut karena dia yang masih kecil nggak boleh berbaur dengan orang yang terlalu ramai seperti pesta pernikahan. Aku terpaksa meninggalkannya di rumah."
Jawaban Rere membuat wajah si mantan ibu mertua sedikit kesal. Tapi, dia tidak bisa mengatakan apa yang ia rasakan pada Rere. Karena semua keluarga sudah mewanti-wanti sebelumnya. Dia tidak boleh bicara hal yang tidak baik pada Rere. Tidak boleh merusak suasana jika tidak ingin di abaikan semua keluarga.
__ADS_1
Tapi, jika ia tidak di peringati oleh semua anggota keluarganya tadi, maka ia akan mengatakan semua unek-unek yang saat ini memenuhi hatinya. Dia juga akan bilang, Rere tidak perlu terlalu berlebihan pada anak itu. Karena anak itu seharusnya tidak hidup bersama Rere melainkan bersama dengan anggota keluarganya.
Ya tapi, itu hanya andai-andai saja. Karena dia tidak bisa mengabaikan peringatan semua anggota keluarganya. Karena itu, terpaksa, ia harus bungkam seakan tidak terjadi sesuatu.
Sementara itu, Putri yang sedang sibuk, kembali ke tempat di mana ia seharusnya berada setelah menyapa mantan kakak iparnya barusan. Namun, Dani yang melihat kepergian Putri, dengan cepat menyusul dari belakang.
"Putri."
Panggilan itu membuat langkah Putri tertahan. Sontak, dengan malas ia menoleh. Dia tahu, dan sangat hafal pada si pemilik suara bariton yang membuatnya merasa tidak nyaman setiap kali bertemu.
"Kak Dani. Ada apa?" Meskipun tidak nyaman alias malas. Putri terpaksa mempertahankan perasaannya itu di depan Dani. Karena dia, tidak mungkin memperlihatkan semua yang ia rasakan secara terang-terangan.
"Bisa minta waktu sebentar? Ada hal penting yang ingin aku katakan."
"Hal penting? Apa?"
"Ada deh pokoknya. Tapi, tidak di sini. Ikut aku sebentar yah."
Sementara itu, si ibu yang melihat anak perempuannya di gandeng laki-laki, langsung pergi mengikuti ke mana arah Dani membawa anak perempuannya itu.
Ternyata, Dani membawa Putri keluar aula pernikahan. Di sini memang cukup sepi. Tapi, tidak bisa dibilang sangat sepi. Karena masih ada orang yang hilir mudik untuk masuk ke dalam aula pesta pernikahan Mona dan Ivan yang di adakan di gedung mewah pilihan Mona.
"Mau bicara apa?" Dengan masih mempertahankan kesabarannya yang setipis kulit bawang, Putri bertanya saat mereka baru saja menjejaki halaman luar aula.
"Tapi sebelum bicara, tolong lepaskan dulu tanganku. Kita sudah sampai, bukan? Jadi, kak Dani tidak perlu terus memegang tanganku seperti ini."
Seketika, Dani langsung melepaskan tangan Putri yang ia genggam. Dia juga mengukir senyum lebar nyengir kuda khas miliknya. Hal yang semakin membuat Putri merasa semakin risih saja melihatnya.
"Bicara cepat, kak Dani! Aku punya banyak urusan yang harus aku selesaikan. Apakah kam Dani bisa mengerti dengan kesibukanku sekarang?"
__ADS_1
"Ya Tuhan ... galaknya dirimu, Put. Sabar sedikit dong, Putri. Aku tahu kamu sibuk. Tapi, aku juga harus mengambil sedikit napas setelah beberapa kali serangan kata dengan nada tinggi yang kamu berikan."
Putri tidak menjawab lagi. Dia mulai merasa semakin bosan dengan pria satu ini. Pria yang sama sekali tidak ia harapkan kemunculannya. Eh ... tapi malah selalu muncul jika ada acara besar yang menyangkut kakaknya.
Saat melihat wajah kesal Putri, Dani bukannya cemas, ia malah semakin merasa senang. Entah kenapa, wajah itu terus saja mengusik hati dan juga pikirannya meski apapun bentuk emosi yang wajah itu perlihatkan.
"Kak Dani!"
"Ah! Iya."
"Cepat! Mau ngomong apa?"
"Oh iya hampir lupa. Aku kali lihat wajah kamu jadi lupa segalanya, Put."
"Lebay," ucap Putri sambil melengos ke samping.
"Eh ... beneran lho itu, Put. Aku bisa lupa dengan dunia sekeliling saat berhadapan dengan kamu."
"Ya sudah kalo gitu. Karena wajahku bisa bikin kamu lupa dengan dunia sekeliling, maka aku harus segera menyingkir agar kamu bisa sadar dan ingat lagi akan siapa diri kamu. Dan sebaiknya, aku juga perlu menjaga jarak agar kamu tidak lupa lagi pada dunia. Iya, kan?"
Setelah berucap, Putri ingin langsung beranjak meninggalkan Dani. Tapi, Dani langsung menahan langkah Putri dengan memegang tangannya.
"Eh ... ngomong apa sih kamu. Dan, mau pergi ke mana kamu sekarang, hm? Aku belum ngomong, kan?"
"Kan kak Dani lupa. Ya biar ingat lagi, maka aku harus pergi."
"Nggak kok, Put. Bukan itu yang aku maksudkan. Ya ampun ... ngomong sama kamu makin bikin aku tertantang saja deh, Putri."
"Beneran, aku ingin ngomong serius sama kamu sekarang," ucap Dani lagi dengan wajah serius.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu. Ngomong aja sesegera mungkin. Selagi aku masih bisa bertahan dengan kesabaran ku yang sangat amat sedikit saat ini. Maka, bicaralah dengan cepat."