
Rere pun langsung mengikuti apa yang mama mertuanya katakan. Dia bagun, lalu diajak duduk ke atas sofa yang ada di dekat mereka.
"Jika benar apa yang kamu katakan itu, maka buktikan semuanya, Re. Jangan hanya sebatas ucapan saja. Tapi berikan bukti dengan perbuatan. Mama ingin lihat bukti dari semua perkataan yang keluar dari mulut kamu secepatnya."
"Mama akan memaafkan Rere jika Rere bisa membuktikan apa yang Rere katakan?" Dengan penuh semangat, Rere melontarkan pertanyaan itu. Matanya kini berkilau karena merasa punya harapan kembali.
"Ya. Mama akan memaafkan kamu. Tapi, Re. Semua keputusan ada di tangan Alvin. Mama hanya bisa memaafkan kamu sebagai menantu mama saja. Tapi yang kamu sakiti sebenarnya, bukanlah mama. Melainkan, Alvin anak mama."
Rere paling mengerti dengan maksud dari perkataan sang mama mertua. Meskipun begitu, maaf dan kesempatan yang mama mertuanya berikan adalah hal terbaik pertama yang sudah ia dapatkan kembali setelah kesalahan yang dia lakukan.
Setelah beberapa saat ngobrol, Rere diizinkan sang mama mertua bertemu dengan sang suami yang saat ini sedang berada di kamarnya. Rere pergi ke kamar Alvin dengan diantar kan oleh salah seorang pelayan.
"Ini kamar tuan muda, nona." Pelayan itu berucap dengan nada agak dingin.
Tentu saja sedikit dingin. Kabar buruk di hari pernikahan menyebar dengan sangat cepat. Mereka menyesali apa yang sudah Rere lakukan di hari pernikahannya itu. Karena itu, mereka tidak menyukai Rere lagi sekarang. Karena Rere sudah dianggap manusia egois yang dengan sengaja menyakiti hati tuan muda mereka.
Tapi Rere tahu, kalau para pelayan itu sebenarnya tidak salah. Bagaimanapun, yang salah memang dirinya. Dia yang sudah melakukan sesuatu hanya dengan perasaan. Tidak dengan pemikiran.
"Terima kasih banyak."
Pelayan itu malah langsung meninggalkan Rere tanpa menjawab ucapan terima kasih yang Rere utarakan. Belum sempat Rere masuk ke kamar Alvin, sudah ia dengar omongan-omongan kecil dari dua pelayan yang ada di lorong lantai dua tersebut.
"Aku pikir, nyonya akan langsung mengusir perempuan yang tidak punya rasa malu ini dari rumah saat ia datang. Eh ... kenyataannya malah berbeda. Nyonya malah mengizinkannya masuk ke kamar tuan muda. Sungguh diluar logika."
"Peletnya sudah mengenai nyonya tuh. Makanya dia bisa diterima dengan baik oleh nyonya di rumah ini walaupun setelah kesalahan besar yang telah ia lakukan."
__ADS_1
"Hush, emang ini jaman apa sih? Emang pelet beneran ada? Jika iya, aku juga ingin menggunakannya."
"Ya ada. Buktinya saja ada di depan kita. Jika gak pakai pelet, mana mungkin dia bisa nyonya terima setelah kesalahan besar yang ia perbuat."
Sakit rasanya hati Rere ketika mendengar ucapan para pelayan itu. Mereka bahkan tak segan-segan ngomongin Rere. Bukan di belakang, tapi malah di depan muka Rere.
Namun, Rere tidak ingin menghiraukan apa yang para pelayan itu katakan. Karena yang paling penting sekarang adalah, mendapatkan maaf dari Alvin. Karena tanpa maaf itu, bagaimana Rere bisa bertahan menjadi istri dari Alvin?
Rere masih belum masuk. Ia mencoba mengetuk pintu kamar itu beberapa kali, tapi tetap tidak ada tanggapan dari si pemilik kamar tersebut.
'Alvin sedang apa sih? Apa dia sedang istirahat ya? Aku masuk aja atau nggak sih sekarang?"
Setelah membulatkan tekat, Rere memilih untuk langsung masuk ke kamar Alvin. Perlahan tapi pasti, tangannya membuka pintu kamar yang sedang tertutup rapat.
Kepalang tanggung, meskipun berat, Rere tetap melangkah. Ketika ia masuk ke dalam kamar, dirinya langsung di sungguh kan dengan sebuah foto besar di samping kiri tembok kamar tersebut.
Itu adalah foto dengan pakaian sekolah menengah atas yang masih terlihat jadul. Siapa lagi model dari foto itu kalau bukan dirinya. Yah, itu foto dirinya yang sedang melihat kesal ke arah Alvin.
Benar, itu foto mereka berdua. Foto yang entah bagaimana bisa Alvin miliki. Rere masih ingat dengan sangat baik kejadian di foto itu. Saat itu, Alvin sedang memberikan ia makanan ringan. Tapi Rere menolaknya mentah-mentah.
Tapi, Alvin tidak menghiraukan penolakan Rere sama sekali. Ia tetap memaksa Rere untuk menerimanya. Hingga membuat Rere jadi kesal bukan kepalang.
Rere menyentuh foto itu dengan lembut. Ada penyesalan di dalam hati Rere saat mengingat semua yang telah dia lakukan waktu dulu. Andai saja ia langsung menerima Alvin dulunya, lalu belajar mencintai Alvin dengan sekuat tenaga. Mungkin, saat ini hidupnya pasti sudah sangat bahagia bersama orang yang mencintai dirinya sepenuh hati.
Ketika memutar tubuh untuk menjauh dari foto tersebut, tangan Rere tanpa sengaja menyentuh bingkai foto kayu yang lainnya. Alhasil, bingkai foto tersebut jatuh karena sentuhan tak sengaja yang Rere berikan.
__ADS_1
Jatuhnya bingkai foto langsung membangunkan Alvin yang sedang terlelap. Meskipun bunyi yang dihasilkan oleh bingkai foto kayu itu tidak kuat, tapi Alvin yang memang sudah terlelap cukup lama itu langsung tersadar akibat bunyi yang mengganggu pendengarannya.
"Rere"
"Al-- Alvin. Maaf, itu ... aku tidak sengaja."
Bukan bingkai foto yang jatuh yang membuat Rere merasa sangat amat gugup sekarang. Melainkan, pertemuannya dengan Alvin yang membuat ia jadi merasa serba salah untuk saat ini.
"Kenapa kamu bisa ada di kamar ini sekarang?"
Pertanyaan Alvin sedikit menusuk buat Rere. Bagaimana tidak? Alvin terlihat sangat tidak menginginkan ia hadir di depannya untuk saat ini.
"Vin. Aku ... aku sudah izin sama mama kamu tadi. Aku ingin bicara sama kamu, karena itu aku ada di sini."
Alvin langsung membuang napas kasar.
"Heh! Oh, apa urusanmu menolong nyawa orang sudah selesai, Re? Kalau belum, mungkin kamu bisa pergi lagi sekarang. Kita bicara lain kali saja. Aku mau istirahat soalnya."
Alvin langsung memutar tubuh setelah mengucapkan kata-kata tersebut. Sementara itu, Rere yang tahu apa yang saat ini sedang Alvin rasakan, tidak akan pernah menyerah sebelum ia mencoba meminta maaf dengan tulus pada Alvin.
"Alvin aku minta maaf. Aku tahu kamu pasti sangat marah atas apa yang sudah aku lakukan. Tapi, Vin. Aku mohon mengerti lah. Aku .... "
Ucapan Rere langsung membuat Alvin menoleh kembali. "Pengertian yang seperti apa yang kamu inginkan dari aku, Re? Aku sudah mencoba mengerti kamu selama ini. Tapi sayangnya, pengertian yang aku berikan malah kamu salah artikan, Rere."
"Di hari pernikahan kita, kamu masih sempat memikirkan orang lain. Katakan padaku, aku harus mengerti seperti apa, Rere!" Kali ini, Alvin mulai memakai nada yang tinggi saat mengucapkan kata-kata. Tapi, nada tinggi itu masih tertahan dengan sangat baik di kerongkongannya.
__ADS_1