Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'79


__ADS_3

"Sayang, semua akan baik-baik saja. Cobalah memikirkan secara perlahan apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Dan, cobalah pikirkan ulang apa yang sudah papa kamu katakan tadi. Mungkin, kamu bisa mengambil keputusan yang baik nantinya."


"Dan, ingat pulalah kalau semua keputusan yang kamu ambil, aku pasti akan mendukungnya dengan sepenuh hati."


Rere yang merasa terharu langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Alvin. Sampai detik ini, dia merasa sangat beruntung bisa memiliki dan dimiliki oleh Alvin. Pria yang sempat ia buang sebelumnya. Tapi, sangat amat membahagiakan saat bersama dengannya.


Hidup memang sangat rumit terkadang. Orang yang kita benci, tapi pada akhirnya adalah pilihan terbaik untuk hidup kita. Sungguh hal yang sulit untuk diterima oleh akal. Tapi, itulah kenyataan hidup. Yang benar-benar membingungkan terkadang.


"Terima kasih, kak Alvin. Terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan untuk hidup ini. Maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan, suamiku sayang."


Alvin langsung mencium lembut pucuk kepala Rere. Tangannya juga membelai lembut pipi Rere yang saat ini ada di bahunya.


"Aku yang harusnya berterima kasih padamu, sayang. Karena sekarang, cinta sebelah pihak yang aku punya sudah terbalaskan. Cinta yang sebelumnya hanyalah mimpi yang selalu aku rasakan, tapi sekarang, sudah mendapatkan balasannya. Aku bahagia. Sangat amat bahagia karena bisa saling memiliki dengan kamu."


Akhirnya, setelah memikirkan dengan sangat hati-hati, Rere pun langsung mengambil keputusan untuk menerima wasiat Amira. Sebelum itu, Rere juga sudah membaca surat Amira dengan sangat hati-hati.


Surat itu mengatakan kalau Amira meminta maaf dengan tulus pada Rere. Dia juga mengatakan semua penyesalannya, hingga mengungkapkan penyebab dari rasa ingin memiliki apa yang Rere miliki.


Itu tak terlepas dari rasa penyesalan sang papa yang selalu ia dengar. Dan juga, ditambah dengan rasa cemburu hati akibat dikhianati oleh orang yang paling ia cintai. Siapa lagi kalau bukan Dimas. Orang yang Amira sayangi sepenuh hati malah memilih Rere setelah Amira berikan semua hal yang paling berharga dalam hidupnya.


Amira juga menuliskan permohonannya dengan sangat dalam pada Rere untuk merawat anak yang ia lahir kan. *Meskipun dia masih punya anggota keluarga dari belah papanya, tapi aku ingin kamu merawat anakku, kak Rere. Meski statusmu hanya kakak tiri yang membenci aku. Tapi aku yakin, hanya kamu yang mampu mendidik anakku dengan baik. Aku mohon dengan sangat.*

__ADS_1


Begitulah penyampaian Amira lewat selembar surat yang ia titipkan pada papanya sebelum ia melahirkan. Setelah Rere dan Alvin datang ke rumah sakit, fakta baru pun mereka temukan.


"Sebenarnya, ibu Amira masih sempat kami tolong, mbak. Tapi, dia yang tidak ingin hidup lagi menolak pertolongan dengan keras. Ibu Amira menolak kami berikan obat, menolak kami pasangkan alat medis hingga akhirnya, ia semakin lama semakin lemah dan akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah beberapa jam usai persalinan."


Penjelasan itu membuat Rere terhenyak tak berdaya. Ternyata, Amira memang sudah bertekad untuk mengakhiri hidupnya. Pantas saja dia menuliskan surat wasiat dengan sangat baik. Meminta Rere merawat anaknya. Ternyata, dia benar-benar sudah memikirkan semua ini dengan sangat baik sebelumnya.


Ya. Amira memang tidak ingin hidup lagi. Karena dia tidak ingin anaknya menderita setelah ia lahir kan. Dia juga sangat menyesali semua yang telah ia lakukan. Perasaan bersalah itu membuat hidupnya sangat tidak tenang. Ditambah dengan kabar perginya Rohan, rasa bersalah itupun semakin berat untuk ia tanggung.


Rere pun membawa anak Amira ke rumah mamanya. Sementara jasat Amira, dia bawa serta untuk di makamkan.


Sang mama yang melihat hal tersebut tentu saja kaget bukan kepalang. Tapi, orang tua bijak ini tidak akan langsung mengurus hal yang bisa ia urus nanti. Karena itu, setelah pemakaman Amira usai, barulah mama Rere angkat bicara.


Setelah bertukar pandang, Rere pun angkat bicara. "Biar aku saja yang jelaskan, kak. Kamu gendong saja anak ini dulu." Rere berucap sambil memindahkan anak baik yang ada dalam gendongannya saat ini.


"Ma, Amira meminta aku menjaga anak ini. Bagaimana pendapat mama?"


"Tidak, Rere. Jangan ulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Sekarang, kamu memang belum punya anak. Bagaimana kalau kamu sudah punya anak nanti? Mama tidak ingin kesalahan yang sudah mama perbuat, berpindah padamu, Nak."


"Tapi, ma. Anak ini tidak salah, bukan? Aku yakin kalau didikan yang baik akan menjadikan dia manusia yang baik pula." Kali ini, Alvin pula yang angkat bicara.


Sang mama terdiam membisu saat mendengarkan perkataan Alvin. Sejujurnya, benak sang mama membenarkan perkataan tersebut. Tapi, hati yang was-was dan juga takut tidak mau mengakui akan kebenaran itu.

__ADS_1


"Alvin. Kamu kok malah bicara seperti itu? Bagaimana kalau kalian gagal dalam mendidiknya? Sama halnya seperti kegagalan yang mama alami dahulu saat mendidik Amira. Dia akan jadi seperti Amira yang tidak tahu berterima kasih, apalagi untuk balas budi, dia tidak akan pernah bisa."


"Mama jangan bicara seperti itu dong, ma. Amira itu bukan mama yang gagal dalam mendidiknya. Karena kesalahan papa yang terlalu memihak juga menyayangi dia terlalu berlebihan. Bukan kesalahan mama, kan Mah?"


Sang mama tidak menjawab perkataan Rere barusan. Dia memilih diam sambil memikirkan semua kejadian di masa lalu. Memang benar apa yang Rere katakan. Amira tidak akan jadi manusia yang salah jika bukan karena suaminya yang pilih kasih.


Sementara itu, Rere langsung mengeluarkan surat Amira yang sebelumnya sudah ia baca. Lalu, dia serahkan pada sang mama untuk mamanya baca pula.


"Apa ini, Re?"


"Surat dari Amira, Ma. Dia titipkan pada papa untuk aku. Mama baca aja dulu. Mungkin, mama juga bisa menguatkan keyakinan aku untuk mengasuh anak ini."


Tanpa menjawab apa yang Rere katakan, sang mama langsung membuka dan membaca surat tersebut. Setelah surat selesai di baca, Rere kembali menambahkan semua penjelasan tentang tekad Amira yang ingin mengakhiri hidup setelah melahirkan anak tersebut.


Perlahan, sang mama mulai mengerti seperti apa keadaan yang sedang terjadi. Memang, rasa takut akan masa lalu yang terulang kembali membuat hati sang mama masih merasa cemas. Tapi, saat melihat bayi tampan itu terus anteng dalam pelukan Alvin, sang mama pun langsung mengalah.


"Baiklah. Mungkin kehadirannya untuk memperbaiki masa lalu yang salah. Untuk itu, mama setuju kamu merawat anak ini, Re."


"Buktikan sama mama, Rere, Alvin. Kalau didikan kalian bisa mengubah kesalahan di masa lalu. Didikan yang baik dari kalian, bisa menciptakan anak yang baik pula. Mama menantikan hal itu."


Rere dan Alvin pun saling bertukar pandang, lalu tersenyum lebar. Saat ini, keraguan dalam hati Rere telah pun sirna. Yang ada, semangat yang kuat untuk menjaga anak yang tidak berdosa ini dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2