
"Apa tanggapan mama saat kamu bilang begitu?"
"Awalnya dia kaget. Tapi selanjutnya, dia lega dan bahagia karena hubungan kita sudah mulai menemukan titik terang."
"Lalu pakaianku bagaimana? Aku tidak punya baju di sini, Alvin."
"Kamu cocok kok pakai kemeja aku. Tetap cantik meskipun kebesaran." Alvin berucap sambil tersenyum genit menggoda.
Ya. Sekarang, Rere menang sedang memakai kemeja abu-abu milik Alvin. Setelah mandi, dia tidak bisa memakai pakaiannya lagi. Karena bajunya sudah rusak akibat ulah Alvin tadi. Karena itu, mau tidak mau, dia terpaksa memakai kemeja Alvin yang memang tidak sesuai ukuran dengan tubuhnya.
"Apaan sih? Aku nggak akan mau keluar dengan pakaian ini. Nggak akan pernah." Rere berucap sambil menahan semu merah di pipinya. Yah, dia malu, juga tergoda akan apa yang baru saja Alvin ucapkan.
Alvin malah tersenyum lebar karena melihat rona wajah itu. Hatinya yang bahagia, semakin bahagia saja sekarang.
"Ya sudah kalo gitu, kamu nggak perlu keluar dari kamar ini. Kamu tetap saja di sini. Untuk urusan makan malam, aku akan minta pelayan bawakan. Dan yang paling penting adalah, aku akan selalu menemani kamu di kamar ini. Kamu nggak akan sendirian, Rere."
"Alvin."
Rona wajah Rere semakin kuat saja karena ucapan Alvin yang bernada godaan itu. Sementara Alvin yang tahu akan hal tersebut, kini semakin melebarkan senyumannya.
"Tenang, sayang. Tidak perlu marah seperti itu. Aku gak kejam kok. Untuk urusan pakaian kamu, aku sudah siapkan. Jadi, kamu tidak perlu cemas lagi sekarang."
"Oh ya, Re. Boleh aku bertanya padamu? Tapi ini mungkin sedikit ... mm ... gimana yah? Semoga nggak merasa risih dan tidak akan marah dengan apa yang akan aku tanyakan."
Rere menatap Alvin dengan wajah serius.
"Mau nanya apa?"
"Itu ... kenapa bisa kamu masih ... mm ... masih murni? Anu vir-- virgin?"
__ADS_1
Sulit memang pertanyaan itu untuk Alvin ucap. Tapi hatinya yang sangat amat penasaran, tentu mengharuskan ia agar tetap bertanya meskipun sangat berat.
Rere menatap lekat Alvin. Tapi, bibirnya masih tidak bergerak untuk menjawab. Hal itu membuat Alvin merasa was-was dan takut.
"Itu .... " Alvin sangat gugup sampai tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Sementara itu, Rere yang paham akan apa yang Alvin rasakan, langsung menarik napas dalam-dalam, terus membuangnya secara perlahan.
"Pertanyaan mu akan aku jawab, Vin. Mantan suamiku memang tidak pernah menyentuh aku. Karena sejak awal pernikahan, yang ia cintai bukan aku, melainkan Amira, adik tiri ku. Kamu juga sudah pasti tahu akan hal itu, bukan?"
"Jadi ... karena tidak cinta, maka dia tidak melakukan kewajibannya sebagai suami? Begitu maksud kamu, Re?"
Rere mengangguk pelan. "Iya. Saat itu aku sadar, cinta sebelah pihak memang selalu menyakitkan sebelah pihak pula, Vin. Tapi, bagi aku yang sudah pernah dicintai dengan tulus, aku merasa lebih bahagia dicintai dari pada mencintai, Alvin."
"Kamu ... ingin menyindir aku ya, Re? Aku yang mencintai kamu, tapi .... "
Seketika, ucapan Alvin tertahan dengan jari Rere yang menutup bibir Alvin dengan lembut.
Alvin terdiam. Dadanya saat ini sedang bergemuruh hebat. Detak jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari yang biasanya, membuat Alvin tidak bisa berucap satu patah katapun. Dia gugup. Sangat gugup sekarang. Selain ucapan Rere, jarak antara mereka yang sangat dekat juga membuat perasaannya tak karuan.
Beberapa menit kemudian, setelah perasaan bisa ia kuasai, Alvin langsung menarik Rere ke dalam pelukannya. Dengan mata yang berkata-kata, dia mendekap erat tubuh langsung milik Rere.
Kini, ucapan yang selama ini ia impikan, akhirnya ia dengar juga. Hal itu sangat amat membahagiakan buat Alvin.
"Jika ini mimpi, maka aku tidak ingin bangun lagi, Re. Aku ingin tetap berada di alam mimpi yang indah ini." Alvin berucap lirih sambil terus memeluk tubuh Rere.
Rere pun membelai lembut punggung Alvin. "Jika kamu tidak mau bangun, lalu aku harus melakukan apa, Vin. Aku ingin hidup di dunia nyata. Bisa merasakan keluarga yang harmonis bersama kamu. Masa kamu nggak mau bangun."
"Tentu saja aku akan bangun jika memang ini adalah kenyatannya." Alvin berucap sambil melonggar pelukan, lalu menoel lembut hidung Rere.
__ADS_1
Sang mama yang saat ini sedang menguping dari balik daun pintu langsung menyeka air mata. Akhirnya, kebahagiaan sang anak satu-satunya tiba juga. Penantian yang selama ini anaknya lakukan, akhirnya terbalaskan juga.
...
Setelah makan malam hangat keluarga untuk yang pertama kalinya, mereka ngobrol dengan hangat pula di ruang keluarga. Rere dan mama Alvin tampak sangat akur, hal itu membuat Alvin semakin bahagia.
Hari yang semakin malam, sang mama yang sangat pengertian langsung menyuruh anak juga menantunya kembali ke kamar. Rere terlihat agak enggan kembali karena dia takut akan kelakuan Alvin terulang lagi. Tapi, mau tidak mau, dia terpaksa masuk juga.
"Kamu masuk duluan ya, Re. Ada yang ingin aku ambil di ruang kerjaku."
"Ya sudah."
Rere berjalan meninggalkan Alvin setelah berpamitan dengan sang mama. Tapi, baru juga ia mau menjejaki pintu kamar, omongan yang tidak enak kembali terdengar dari pada pelayan.
"Heh! Aku benar-benar bingung dengan tuan muda dan nyonya. Perempuan ini beneran punya tempat yang bagus di mata majikan kita. Beneran manjur itu pelet yang dia gunakan."
"Iya. Aku jadi iri padanya. Dia bisa memenangkan hati tuan muda kembali setelah melakukan kesalahan fatal."
"Kenapa harus iri sih kamu? Orang dia bisa diterima dengan baik karena guna-guna yang ia pakai."
Kali ini, Rere tidak bisa tahan lagi. Dia sungguh sangat emosi. Kemarin, dia masih bisa bertahan karena dia tidak tinggal di rumah ini. Lah sekarang, dia sudah tinggal di rumah ini, sudah dianggap Alvin sebagai istri. Tapi masih saja tak dianggap siapa-siapa oleh para pelayan. Sungguh mengikis kesabarannya.
"Maaf. Kalian nuduh aku pakai guna-guna. Apa kalian punya buktinya?"
Kedua pelayan yang baru saja bicara diam sesaat. Setelah saling bertukar pandang, akhirnya, salah satu dari mereka angkat bicara.
"Tentu saja punya. Kamu bisa diterima dengan baik setelah kesalahan yang kamu buat sebelumnya pada majikan kami. Apa itu tidak cukup untuk kami jadikan bukti, jika kamu memang memakai guna-guna pada kedua majikan kami."
Rere kesal. Tapi, ketika ia ingin menjawab, Alvin yang baru datang dari lantai bawah langsung mengambil alih.
__ADS_1
"Barusan kalian bilang apa? Istriku pakai guna-guna?"