
Kabar kesembuhan mama Rere kini sampai ke telinga para musuh bebuyutan. Amira yang mendengar kabar itu tentu saja langsung syok berat. Sedangkan papanya, berusaha untuk tetap tenang sambil memikirkan cara jitu agar anak kesayangannya terbebas dari tuntutan jika sang istri mungkin akan mempermasalahkan ulah sang anak yang sudah sangat keterlaluan.
"Tenang, Mira. Ada papa. Papa akan melakukan segala cara agar kamu terlepas dari jeratan hukum, nak."
"Bagaimana caranya, pa? Aku sangat tidak yakin kalau papa mampu melakukannya. Buat bujuk Rere agar aku bisa kembali ke kantor saja tidak bisa. Gimana cara papa bantuin aku lepas dari masalah besar ini sekarang?"
"Ya ampun .... Kenapa sih itu orang tua malah sadar sekarang? Saat aku masih belum bisa membalikkan keadaan sedikitpun." Amira terlihat sangat amat gusar. Sangking kesalnya, dia tidak menyadari akan kedatangan Rohan yang sudah berada di pintu dapur sejak beberapa saat yang lalu.
"Amira. Papa. Apa yang kalian bicarakan barusan?"
Sontak, pertanyaan Rohan membuat Amira kaget bukan kepalang. Dengan wajah panik, dia melihat ke arah Rohan. Gugup, takut, bahkan serba salah, semua sedang menyatu dalam hati Amira saat ini.
Namun, belum sempat Amira meloloskan satu patah katapun, pintu utama rumah mereka terdengar ketukan. Tentu saja perhatian mereka semua langsung teralihkan ke bunyi yang berasal dari ketukan tersebut.
"Mau ke mana, Amira? Kamu belum menjawab apa yang aku tanyakan." Rohan berusaha menghentikan niat Amira untuk pergi.
Tapi Haris tidak akan membiarkan itu terjadi. Dengan cepat Haris angkat bicara untuk menghentikan Rohan mencegah kepergian Amira.
"Ada papa, Rohan. Kamu bisa tanya pada papa apa yang sebenarnya terjadi. Untuk Amira, biarkan dia melihat tamu yang datang."
"Tapi, Pa."
"Kamu suami Amira sekarang, Rohan. Jadi, Amira lah yang lebih utama untuk kamu, bukan?"
Rohan tidak bisa membantah. Dia terpaksa melepaskan Amira pergi untuk melihat siapa yang sudah mengetuk pintu rumah tersebut. Sementara Amira sendiri, dia merasa cukup lega akan hal itu. Dia bisa menghindar dari Rohan, yang pastinya akan melontarkan banyak pertanyaan padanya jika ia tetap berada di sana.
__ADS_1
Namun, tanpa Amira tahu apa yang sedang menunggu kedatangannya saat ini. Kelegaan karena lolos dari Rohan tidak ada apa-apanya di bandingkan apa yang sedang menanti dirinya di balik pintu utama yang saat ini akan dia buka.
Mata Amira membulat sempurna saat daun pintu sudah terbuka dengan lebar. Dua orang polisi dengan seragam lengkap sedang berdiri tegap di depan pintu tersebut. Sementara satu lainnya, sedang berada di halaman rumah.
"Ca-- cari siapa, pak?" Amira sangat amat gugup sampai nada bicaranya tidak bisa ia ucapkan dengan baik.
"Dengan mbak Amira?"
"Iya, sa-- saya sendiri."
Memang, orang yang sudah bersalah pasti akan langsung kelihatan. Meskipun berusaha untuk tetap tenang, tapi tetap saja, wajah panik tidak akan bisa di sembunyikan.
Salah satu polisi langsung mengeluarkan surat penangkapan untuk Amira. Amira yang sebelumnya panik, ya semakin panik lah dia sekarang.
"Ti-- tidak mungkin, pak! Saya tidak melakukan kesalahan apapun."
Amira yang ingin beranjak pergi langsung di tahan polisi. Sementara yang lainnya langsung masuk ke dalam rumah untuk menggeledah rumah tersebut. Seketika, para tetangga langsung bermunculan untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Ketika Amira, Haris, dan Rohan di keluarkan dari rumah, saat itu pula, Rere dan sang mama turun dari mobil bersama bi Sari. Mereka bertatap muka selama beberapa detik hingga akhirnya Amira mengatakan semua yang ingin dia ucap.
"Ini semua ulah kamu ternyata. Aku tidak bersalah, Rere! Mama! Kenapa kalian malah menangkap aku. Aku akan tuntut kalian dengan pencemaran nama baik nantinya. Lihat saja kalian nanti."
Amira berteriak-teriak sebelum akhirnya ia di bawa langsung oleh polisi masuk ke dalam mobil. Sementara Rohan yang masih tidak mengerti kenapa dirinya juga terlibat, meminta polisi untuk memberikan ia waktu agar bisa bicara dengan Rere.
"Balas dendam apa-apaan ini, Re? Aku tidak tahu apa-apa. Kenapa kamu juga malah menangkap aku? Kamu sungguh sangat keterlaluan. Amira sedang hamil sekarang. Apa tidak bisa membicarakan semua ini secara baik-baik. Secara kekeluargaan."
__ADS_1
Mendengar perkataan Rohan, sang mama yang saat ini sedang duduk di atas kursi roda langsung bangun dengan cepat. Wajah kesal yang terlihat sangat jelas, kini melekat di raut sang mama. Lalu, plak! Plak! Dua buah tamparan mendarat mulus ke kedua pipi Rohan.
"Pria bodoh! Aku menyesal merestui Rere menikah dengan kamu. Bahkan, aku juga menyesal karena telah banyak membantu kamu dahulu. Manusia tidak tahu diri. Mulai sekarang, jangan pernah anggap kami kenal dengan kamu. Apalagi menganggap kami bersaudara dengan kalian. Karena mulai detik ini, hubungan persaudaraan kita sudah putus untuk selama-lamanya."
"Lastri! Amira tidak bersalah. Kenapa kamu malah penjarakan dia, hah?" Haris tidak bisa tinggal diam. Dia yang sejak tadi ingin bicara, sekarang akhirnya terlaksana juga.
"Cukup, Mas Haris! Mulai sekarang, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku akan gugat cerai kamu secepatnya. Karena kamu, tidak pantas di sebut sebagai suami dan papa untuk anakku."
"Ah, iya. Aku lupa kalau kamu hanya punya satu anak. Anakmu hanya Amira, anak satu-satunya yang lahir dari selingkuhan kesayangan kamu itu. Mulai sekarang, kamu bisa bersama dengannya. Jadi, aku harap kamu sangat bahagia."
"Tolong bawa mereka segera, pak polisi! Saya tidak ingin melihat mereka lagi. Saya mohon."
Polisi pun membawa ketiga tersangka menuju kantor mereka. Rumah itu kini mendadak sepi setelah beberapa saat kepergian para polisi. Warga yang sempat melihat, kini juga ikut bubar. Yang tinggal hanya Rere, bi Sari, dan juga mamanya.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan, Ma?"
Lastri tidak langsung menjawab. Dia lihat rumah itu dengan tatapan yang sangat sedih. Ada banyak kenangan indah namun juga pahit di sini. Yang mungkin akan membuat hatinya terus merasa tidak nyaman.
"Mama ingin jual rumah ini, Re. Mama tidak ingin tinggal di rumah ini lagi. Mama tidak ingin melihat rumah ini lagi sekarang. Apa kamu tidak keberatan dengan keputusan mama, Rere?"
Rere langsung memeluk lembut sang mama. "Nggak, Ma. Semua keputusan mama, aku akan dukung. Karena keputusan mama adalah yang paling tepat bagi aku."
....
"Sekarang katakan! Di mana data itu kalian sembunyikan, hah!"
__ADS_1
Amira, Rohan, dan Haris di interogasi dengan keras di kantor polisi. Ternyata, data yang mereka curi, Amira serahkan pada Dimas. Saat itu, dia datang menemui Dimas. Tepatnya, sebelum dia dan Rohan menikah.
"Kak Dimas. Apa hubungan kamu dengan Rere, hah? Kenapa kamu selalu keluar masuk ke kantor Rere, kak?"