
Begitulah sesi lamaran Alvin untuk Rere akhirnya selesai. Para karyawan yang ikut hadir menyaksikan, tak kalah heboh karena ikut menghayati apa yang sedang terjadi.
Di antara para karyawan yang bahagia, ada juga yang merasa terluka. Dia tak lain adalah, Ivan. Rasanya cukup sakit untuk Ivan ketika menyaksikan sesi lamaran itu.
Namun, dia cukup sadar diri. Dia juga sudah berusaha sekuat tenaga buat berdamai dengan keadaan. Ivan bahkan berusaha melabuhkan hatinya ke Mona. Tepatnya, bukan melabuhkan hati. Melainkan, menjadikan Mona hanya sebatas pelarian saja.
Waktu itu, karena pernyataan cinta yang Mona berikan, Ivan malah langsung berpikiran lain. Dia dengan cepat membalas pernyataan cinta itu. Bukan karena dia juga merasakan perasaan yang sama dengan yang Mona rasakan. Melainkan, dia hanya ingin melupakan Rere dengan menerima perasaan cinta Mona sebagai pelarian semata.
Dia jahat. Dia kejam. Dia bajingan. Dan, dia benar-benar tidak punya hati yang baik. Ya. Ivan mengakui semua itu. Dia mengakui kalau dia memang jahat atau apalah semacamnya. Karena dia dengan tega memanfaatkan seseorang yang mencintainya dengan tulus hanya untuk dia jadikan pelarian saja.
Tapi apalah daya. Dia hanya ingin mencoba melupakan Rere. Meskipun kenyataannya, dia akan menyakiti Mona jika Mona tahu akan hal tersebut.
"Ya ampun ... bahagia banget jadi mbak Rere ya, Van. Dia punya pak Alvin yang dengan beraninya menyatakan cinta di depan semua orang. Aku sungguh sangat iri dengannya."
"Mana mamanya pak Alvin langsung jadi pendukung utama dari apa yang anaknya lakukan lagi. Ingat nggak tadi apa yang mamanya pak Alvin bilang?"
Ivan ingat. Sangat ingat apa yang mama Alvin katakan. "Ini lamaran kecil. Lamaran besarnya akan nyusul beberapa hari lagi. Yang sabar yah calon menantu, kamu gak lama lagi akan jadi menantuku yang sesungguhnya. Istri dari tuan muda Utama satu-satunya. Nyonya Alvin Utama."
"Mama ... nggak perlu ditegaskan lagi. Dia udah jadi nyonya Alvin sekarang."
"Kamu yah. Anak nakal. Nggak sabaran."
"Menantuku, jika anak ini nakal, bilang mama yah. Katakan pada mama kalo dia bikin kamu susah. Biar mama yang ngasi dia pelajaran."
__ADS_1
Rere pun tersenyum lebar sambil mengangguk kan kepalanya. Saat itu, Rere terlihat sangat amat bahagia. Sampai Ivan langsung berpikir, jika dia yang ada di posisi itu, mungkin ibunya gak akan bilang gitu. Karena ibunya adalah tipe orang yang suka membela anaknya sendiri. Bukan membela menantu yang menurutnya tak lebih dari orang luar semata.
"Van. Ih .... Kamu kok malah bengong sih? Aku kan lagi ngomong sama kamu."
Mona terlihat sangat gusar akan Ivan yang tidak menanggapi apa yang ia katakan.
Ivan yang saat ini sedang mengemudi malah hanya menoleh sesaat, kemudian langsung fokus ke jalanan yang ia lalui kembali.
"Maaf, Mon. Aku kan lagi nyetir. Harus fokus. Nggak bisa ngobrol."
"Ih, apa-apaan sih? Masa nyetir nggak bisa ngobrol sih, Van. Aduh, kamu makin lama makin aneh aja yah."
"Nggak. Bukan makin lama makin aneh. Tapi kamu akan aneh saat pembicaraan itu mengenai mbak Rere. Ada apa sih, Van?"
"Kamu tahu mbak Rere itu sebelumnya adalah bagian dari keluarga aku, bukan? Tentu saja ada rasa aneh saat orang yang sebelumnya menjadi keluarga kita, tapi pada akhirnya tidak memiliki hubungan lagi dengan kita. Ah! Rasa itu sulit aku jelaskan, Mon. Aku rasa, kamu juga tidak akan memahaminya. Karena kamu tidak ada di posisi aku."
Mona terdiam. Benaknya membenarkan apa yang Ivan katakan. "Maafkan aku, Van. Aku nggak peka akan apa yang kamu rasakan. Selanjutnya, aku nggak akan bahas mbak Rere lagi di depan kamu. Sekali lagi, maaf ya, Van."
"Gak papa, Mon. Aku maklum. Mbak Rere itu orang yang paling kamu banggakan bukan. Orang yang kamu jadikan teladan selama ini. Aku yakin, kamu tidak akan salah karena telah menjadikan ia teladan. Karena dia adalah orang yang spesial."
Saat memuji Rere, mata Ivan langsung berbinar terang. Ada kekaguman yang sulit untuk di jelaskan. Kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan dalam hatinya. Mona merasakan hal itu. Tapi, dia tidak ingin membahasnya lagi.
Menyadari akan apa yang sudah dia lakukan adalah salah. Ivan pun kembali mencairkan suasana dengan cepat.
__ADS_1
"Kak Rohan saja yang bodoh. Masa sudah punya istri masih bisa tergoda dengan wanita lain. Aku sangat menyayangkan kebodohan yang kaka ku perbuat. Jika saja dia tidak sebodoh ini, maka kehidupan kak Rohan juga tidak akan hancur seperti saat ini."
Wajah sedih yang Ivan perlihatkan membuat Mona ikut merasa iba. Dengan lembut, Mona menyentuh pundak sang kekasih agar bisa membuat kekasihnya merasa sedikit tenang.
Sementara itu, Dimas yang mengetahui kabar lamaran Alvin untuk Rere berjalan lancar, langsung merasa gusar. Dia yang sedang berada di perusahaan langsung mengacak-acak isi meja dari ruangan kerjanya.
"Kurang ajar! Kenapa Rere malah menerima lamaran tuan muda Utama itu sih? Dia nggak tahu apa? Ada aku yang selama ini selalu berharap agar dia menjadi milikku."
Dimas menggenggam erat bingkai foto Rere yang selama ini dia letakkan di atas meja kerjanya. Karena ulahnya barusan, bingkai foto itu terjatuh ke bawah. Kaca dari bingkai itu pecah berserakan akibat terbanting barusan.
"Kenapa aku masih kalah dari tuan muda Utama sih, Re? Aku sudah usaha dengan sangat keras, kau tahu? Tapi tetap saja, aku masih terlambat."
"Jika kalah dalam perjuangan bisnis, aku masih terima, Rere. Tapi kalah dalam cinta, aku tidak bisa terima."
"Aku sadar kami berbeda. Bahkan, sekeras apapun aku berusaha, tetap saja tidak bisa menyaingi tuan muda Utama dalam melakukan usaha di bidang bisnis. Tapi cinta. Tidak. Aku tidak akan pernah mau mengalah. Bahkan, jika pun aku kalah, aku tidak akan pernah mengakuinya. Karena kamu, adalah milikku, Rere. Milik Dimas Sanjaya. Ingat itu!"
Dimas terus mengatakan apa yang ingin hatinya katakan pada foto Rere yang ada dalam genggaman tangannya. Tidak ia hiraukan tangannya yang saat ini sedang terluka akibat goresan beling yang pecah. Karena sekarang, yang paling terasa itu adalah goresan dalam dadanya yang sedang terluka lebar.
"Kau milikku, Rere! Hanya akan menjadi milikku. Jika pun sekarang, Alvin bisa menggenggam dirimu, maka aku pasti akan merebutnya dengan cara apapun."
Entah itu cinta atau hanya obsesi, yang jelas, tekad Dimas sudah sangat bulat sekarang. Dia akan merebut Rere, karena dia sangat ingin memiliki perempuan itu.
Sejujurnya, dia juga sudah lama jatuh cinta pada Rere. Tepatnya, setelah pandangan pertama ketika ia bertatap muka dengan Rere.
__ADS_1
Tapi, waktu telah menghalangi dia untuk mendekati Rere waktu itu. Karena halangan tuntutan orang tua yang menginginkan dia berkuliah di tempat yang jauh, niat itu terputus.