
Seketika, Amira pun langsung membalikkan tubuhnya setelah ingat sesuatu.
"Huh ... jika saja mas Rohan juga bisa ikut aku kembali ke kantor besok. Semua pertunjukan pasti akan semakin menyenangkan. Tapi sayang, papa malah tidak bisa membujuk Rere agar mas Rohan juga bisa ikut kembali ke kantor."
....
Seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya. Amira kembali ke kantor dengan rasa bangga. Pagi-pagi lagi, dia berangkat dengan stelan kantor yang aduhai. Dari atas sampai bawah, semua terlihat cukup elegan, layaknya bos yang mimpin perusahaan saja.
"Pagi ini, akan aku buat mata semua karyawan terbuka. Aku lebih segalanya dari pada Rere. Aku jauh baik dari pada Rere. Dari segi penampilan, aku lebih unggul dari dia. Dari segi kecantikan, aku juga lebih cantik tuh."
Amira terus membanggakan dirinya hingga mobil yang ia kendarai tiba di depan kantor Rere. Dia pun kembali melebarkan senyum yang penuh dengan kemenangan.
"Sekarang, pertunjukan akan segera di mulai. Aku yakin. Semua mata akan tertuju padaku hari ini. Ah! Siapa dulu dong, Amira."
Namum, apa yang Amira pikirkan tidak seperti yang sedang terjadi sekarang. Sejak pertama ia menjejakkan kaki ke dalam kantor, tidak ada satupun yang memberikan tatapan serius padanya. Mereka masuk, lalu melihat Amira sesaat. Kemudian, mereka kembali fokus dengan apa yang mereka kerjakan sebelumnya.
Hal itu membuat Amira sedikit bingung. Sekarang, keadaan malah berbalik dari apa yang ia bayangkan. Yang dibuat bingung bukan para karyawan yang ada di kantor ini ternyata, melainkan, dirinya sendiri. Dirinya yang ingin menjadi penyebab kebingungan orang-orang. Eh ... malah dia yang terjerumus dalam niat yang dia pikirkan sebelumnya.
'Ini ... kenapa sih mereka gak ada yang merasa bingung dengan kemunculan aku? Kemarin, mereka semua tahu kan kalau aku di pecat. Lah sekarang, kenapa mereka nggak heran sama sekali dengan kemunculanku di kantor hari ini?'
'Tunggu! Apa Rere sudah mengumumkan pada mereka kalau hari ini aku kembali bekerja? Karena itu, mereka tidak terkejut atau apalah itu dengan kedatanganku sekarang.'
'Agh! Biarkan saja. Aku tidak perlu memikirkan apa yang saat ini karyawan itu pikirkan. Yang jelas, aku bisa kembali ke kantor. Dan aku telah berhasil membuktikan pada semau orang, kalau Rere, tidak akan bisa melakukan apapun padaku.'
__ADS_1
Amira tersenyum lebar. Baru juga kakinya mau menuju ke arah ruangan pimpinan utama di lantai atas, sebuah suara langsung membuat langkahnya terhenti. Sontak, Amira langsung melihat dengan tatapan merendah ke arah si penilik suara yang sebelumnya berhasil membuat langkah kakinya tertahankan.
"Mona. Ada apa sih? Main panggil-panggil aja."
"Kak Amira, aku panggil kaka karena ada hal yang ingin aku bicarakan."
Amira langsung memutar malas bola matanya. Yah, dia pikir, tidak ada gunanya dia bicara dengan Mona. Karyawan bawahan yang tidak selevel dengannya.
Seperti inilah Amira. Dia selalu merasa dirinya tinggi. Selalu tidak bersahabat dengan karyawan yang berada di bawahnya. Tidak sama seperti Rere yang meskipun pemimpin, tapi dia sangat ramah juga sangat bersahabat dengan semua karyawan tak kita apapun jabatan mereka.
"Apa sih yang ingin kamu bicarakan, Mona? Gak bisa apa, lakukan sendiri semua pekerjaan kamu. Setelah ada hasilnya, baru kamu serahkan padaku, mengerti?"
"Ah! Ini bukan soal aku, kak. Bukan soal pekerjaanku. Melainkan, soal kak Mira."
Sontak saja, mata Amira langsung membulat karena melihat seragam yang saat ini masih ada di tangan Mona. Satu pasang seragam OB yang selalu di pakai oleh OB di kantor ini.
"Apa-apaan ini, Mona! Kenapa kamu berikan padaku seragam OB itu? Udah gil_a kamu yah!"
Tentu saja Amira langsung naik emosi sekarang juga. Bagaimana tidak? Dia tiba-tiba di berikan seragam OB. Sungguh sebuah penghinaan yang sangat besar untuk dirinya.
"Kak Amira, seragam OB ini milik kakak. Mulai sekarang, kakak bekerja di bagain OB karena hanya posisi OB saja yang kosong di kantor ini."
"Apa!" Semakin tinggi nada bicara Amira setelah mendengar penjelasan dari Mona barusan. Tangannya pun dengan ringan menepis tangan Mona sehingga seragam OB itu jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Kurang ajar! Kamu pikir aku layak dengan posisi rendahan itu, hah! Tidak! Aku tidak akan pernah setuju jika aku di tempatkan di bagian tukang bersih-bersih."
Suara Amira yang tinggi pun langsung mengundang tatapan mata ke arah dirinya. Seketika, dia kembali menjadi pusat perhatian untuk yang ke sekian kalinya.
"Maaf, kak Mira. Layak atau tidak, bukan saya yang menentukan. Saya sebagai karyawan di sini hanya mengikuti apa yang atasan saya katakan. Atasan saya memerintahkan menempatkan kak Amira ke posisi OB. Karena memang, hanya posisi ini saja yang masih kosong di perusahaan kami."
Semakin naik darah Amira mendengar penjelasan Mona. Jika dia hanya berduaan saja dengan Mona, maka dia sudah pasti akan melakukan kekerasan agar perempuan yang ada di depannya ini sadar, kalau mereka jauh berbeda.
"Omong kosong apa yang kamu katakan barusan, Mona? Hanya posisi OB yang kosong? Yang benar saja kamu. Posisi direktur dan asisten pribadi CEO masih belum ada yang menempati, bukan? Karena kami baru saja di keluarkan beberapa hari yang lalu. Otomatis, masih belum ada yang mengambil tempat kami. Karena aku yakin, untuk menggantikan kami juga pasti butuh waktu."
"Ah! Lagian, nggak akan ada orang yang cocok berada di posisi kami selain kami saja," ucap Amira lagi dengan bangga.
Para karyawan yang mendengar ucapan Amira barusan langsung merasa geli hati. Amira yang begitu percaya diri membuat beberapa karyawan tidak bisa berdiam diri sambil mendengarkan celotehan Amira begitu saja.
"Ya Tuhan, kak Amira. Kok kamu begitu percaya diri banget sih jadi orang. Siapa bilang kalau nggak ada yang bisa gantiin posisi kamu sebagai asistennya mbak Rere?"
"Iya. Orang sehari setelah kamu dipecat, perusahaan kami langsung menemukan orang yang paling tepat untuk berada di samping mbak Rere. Tangan kanan yang sudah pasti tidak akan menyakiti bosnya sendiri."
"Huh ... kasihan kamu, Amira. Makanya, jadi orang jangan terlalu ke PD-an deh. Masih banyak yang lebih pantas dari kamu di sini."
"Dan kamu, emang kamu paling cocok jadi OB sih, Amira. Tukang bersih-bersih yang pasti cocok dengan status dan tampang yang kamu miliki. Karena, suami saudara aja kamu bereskan. Lah apa lagi debu atau kotoran yang menempel di barang. Iya, nggak?"
Amira sangat amat malu. Ucapan demi ucapan itu layaknya kotoran yang di lemparkan ke wajahnya. Tidak bisa berkata-kata karena sibuk mengurus rasa jijik. Begitulah yang Amira rasakan saat ini. Tidak punya ruang untuk menjawab, karena sibuk dengan amarah yang membuat bibir tertutup.
__ADS_1
"Sialan ...! Kalian semua akan aku balas nanti!" Amira berteriak sambil berlari meninggalkan semua karyawan yang sedang melihat kepergiannya dengan tatapan sinis.