Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'60


__ADS_3

"Nyawa seseorang? Apa maksudnya sih, Vin?" Mama Alvin yang tidak mengerti terus melontarkan pertanyaan. Tapi mama Rere yang sudah tahu apa yang Alvin katakan, sekarang diam membisu.


Alvin melepas napas berat.


"Tolong jangan bertanya lagi, Ma. Bisakah sekarang kita nikmati saja pestanya? Nanti mama juga akan tahu semuanya setelah Rere tiba."


"Tapi, Vin."


"Tolong, Ma. Ada aku di sini, bukan? Sudah cukup aku yang menemani tamu-tamu kita sekarang. Aku juga mempelai hari ini, kan?"


Pada akhirnya, sang mama tidak mau bertanya lagi. Karena dia sangat tahu bagaimana karakter si anak. Sekali Alvin berucap, maka tidak akan pernah berubah. Jika dia tidak ingin menjelaskan, maka tidak akan bisa di paksa.


Omongan demi omongan Alvin abaikan begitu saja. Bukan karena tidak merasa sakit, tapi karena tidak bisa melakukan apapun lagi sekarang. Yang bisa Alvin lakukan hanyalah diam sambil menikmati luka yang terasa semakin perih setiap waktunya.


'Re. Aku tidak mengerti dengan hatimu. Setelah aku pikir perjuanganku sudah berhasil karena lamaran ku kamu terima, tapi dihari pernikahan kita, kamu malah pergi meninggalkan aku kembali. Apa gunanya kamu terima diriku jika pada akhirnya kamu abaikan lagi, Rere?'


'Sakit. Sangat amat sakit rasanya. Tidak akan pernah bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, Re, rasa sakit yang saat ini aku derita.'


Sementara itu, disisi lain, Rere beserta kedua mantan mertuanya sudah pun tiba ke rumah sakit. Sejujurnya, Rere sangat amat merasa bersalah karena lebih memilih datang ke rumah sakit ketimbang menghadiri resepsi pernikahannya.


Tapi, dia tidak ingin menjadi manusia yang egois. Nyawa manusia tidak akan pernah ada gantinya. Sekali pergi, tak akan kembali lagi. Karena itu, dia mengorbankan perasaannya hanya untuk memenuhi keinginan Rohan yang sangat mengharapkan kedatangannya.


"Kenapa kalian masih membawa kak Rere datang ke rumah sakit, bu, pak? Kalian tidak bisa begitu egois seperti ini. Hari ini adalah hari pernikahan kak Rere. Kenapa kalian begitu tega merusaknya?"


Ivan berucap dengan nada sedih dan juga kecewa. Wajahnya terlihat sangat tidak senang ketika melihat kedatangan kedua orang tuanya yang datang bersama Rere ke kamar tersebut.

__ADS_1


"Nyawa kakakmu ada dalam bahaya, Van! Kenapa kamu tidak mengerti juga sih, hah!" Sang bunda bicara dengan nada tinggi. Iya memang tak pernah bisa mengerti kenapa Ivan selalu tidak merestui apa yang ia lakukan jika itu menyangkut Rere.


"Aku tau. Tapi kalian sungguh egois, bu. Kalian tidak memikirkan keadaan kak Rere. Yang kalian pikirkan hanya kak Rohan. Kalian benar-benar tidak punya perasaan."


"Van. Cukup! Bapak dan ibu benar-benar tidak punya cara lain. Tapi, jika Rere menolak ajakan kami, maka kami juga tidak akan terus memaksa."


"Kenapa bapak juga jadi sangat egois sih? Kak Rere tidak akan pernah menolak ajakan kalian. Karena dia masih punya hati yang besar. Dia tidak akan tega berbahagia sedangkan kalian berduka. Aku harap kalian paham dengan apa yang aku katakan."


Ivan marah. Sangat amat marah. Wajahnya terlihat sedikit memerah saat ini karena sedang menahan amarah yang sedang menguasai hati.


Lalu, Ivan langsung melihat ke arah Rere yang saat ini masih terdiam membisu.


"Kak. Kamu seharusnya tidak datang ke sini sekarang. Pak Alvin pasti akan sangat kecewa padamu. Meskipun aku tahu, hatimu tidak akan pernah tega pada kak Rohan. Entah itu karena kamu masih cinta padanya, atau hanya sekedar rasa kemanusiaan saja. Yang jelas, seharusnya kamu tidak mendahulukan kak Rohan dari pada kebahagiaan mu sendiri."


Rere membalas tatapan Ivan dengan tatapan lekat yang sama. Kedua anak mata mereka saling lihat sekarang.


"Kau masih saja sama, kak. Hatimu terlalu baik meskipun pada orang yang sudah menyakiti dirimu sendiri. Jika aku jadi kamu, aku tidak akan melakukan hal ini. Kamu memang cocok berbahagia dengan pak Alvin. Semoga saja hubungan kalian tidak akan pernah rusak hanya karena kebaikan mu hari ini."


Ivan langsung beranjak pergi setelah berucap kata-kata itu. Mona yang sudah lama tiba, tapi diam membeku dengan jarak yang cukup jauh dari keluarga Rohan pun langsung mengikuti Ivan dari belakang.


"Van, tunggu!" Mona berucap sambil terus mengejar Ivan yang berjalan dengan langkah besar.


"Apa!"


"Itu ... bisakah kita bicara sebentar?"

__ADS_1


"Bicara apa?"


"Tunggu! Kamu sudah sedikit tenang belum?"


"Katakan apa yang ingin kamu katakan, Mona! Jangan bikin hatiku yang kesal semakin bertambah kesal."


Mona menarik napas berat, lalu membuangnya dengan sekali hembusan. "Itu, aku pikir kamu sedikit berbeda saat bicara dengan mbak Rere, Van. Ada hal lain selain rasa prihatin sebagai mantan adik iparnya mbak Rere, gitu."


Perkataan Mona membuat Ivan terdiam sesaat dengan tatapan tajam menatap manik mata Mona. Hal tersebut membuat Mona langsung merasa sangat tidak nyaman. Mendadak, dia merasa ragu akan apa yang baru saja ia katakan.


"Itu ... aku hanya merasa kamu sangat jauh berbeda dari adik ipar yang lainnya, Van. Karena biasanya, adik ipar orang lain pasti sangat memihak pada kakaknya. Sedang kamu, malah terlihat gusar saat melihat mbak Rere lebih memilih datang ke rumah sakit dan meninggalkan hari pernikahannya hanya demi menolong kakakmu."


Ivan langsung melepas napas kasar.


"Semua itu karena aku tidak suka dengan sikap kakakku yang dulunya mengabaikan kak Rere, Mon. Kak Rere adalah wanita yang baik. Lihatlah sekarang, Mona! Dia masih datang ke rumah sakit padahal ini hari bahagianya. Karena itu, aku sangat kesal dengan keadaan ini."


Wajah Mona mendadak sedih.


"Untuk yang kesekian kalinya kamu memberikan pujian itu untuk mbak Rere, Van. Tapi, aku akui memang mbak Rere adalah wanita yang baik. Namun, apa mungkin dia seperti ini karena ia masih menyimpan cintanya untuk kakakmu, Van?"


Mata Ivan langsung melebar. Wajahnya pun terlihat sangat tidak suka dengan kata-kata yang Mona ucapkan barusan.


"Jangan katakan itu, Mona. Aku tidak suka mendengarnya," ucap Ivan dengan nada sedikit tinggi.


Tentu saja ucapan itu langsung membangkitkan perasaan kesal dalam hati Mona. Tebakannya atas Ivan yang punya rasa spesial pada Rere, semakin terasa kuat sekarang.

__ADS_1


"Kenapa, Van? Kenapa kamu mendadak tidak terima dengan apa yang aku katakan? Tebakan aku mungkin benar, Ivan. Mbak Rere masih menyimpan rasa cinta untuk kakakmu. Jika tidak, dia tidak akan datang ke rumah sakit sekarang. Lebih baik dia menghadiri pesta pernikahannya yang mewah ketimbang hadir di rumah sakit hanya untuk melihat kakakmu."


"Cukup, Mona! Kak Rere adalah wanita yang berhati sangat lembut. Jika dia datang ke sini hari ini, aku yakin itu bukan karena cinta. Tapi, karena hati lembutnya yang tidak akan pernah tega melihat orang lain berduka sedangkan dia bahagia."


__ADS_2