
Sejujurnya, dia juga sudah lama jatuh cinta pada Rere. Tepatnya, setelah pandangan pertama ketika ia bertatap muka dengan Rere.
Tapi, waktu telah menghalangi dia untuk mendekati Rere waktu itu. Karena halangan tuntutan orang tua yang menginginkan dia berkuliah di tempat yang jauh, niat itu terputus.
Sebenarnya, dia dengan Amira memang tidak punya rasa cinta. Dia hanya memanfaatkan Amira untuk kesenangan sesaat saja. Tapi, Amira yang sudah bucin duluan, tentu saja terus mengejar Dimas. Bahkan, memberikan apa yang paling berharga dalam hidupnya.
Cinta memang sesuatu yang rumit. Sulit untuk selalu dapat balasan. Karena dia tidak bisa dipaksa. Hanya bisa bergerak sendiri atas kemauan sendiri pula. Jika terbalas, maka akan sangat membahagiakan. Tapi jika tidak terbalas, maka akan sangat menyakitkan. Karena hanya akan mencintai dari sebelah pihak saja.
....
Pagi-pagi lagi, Dimas sudah mengawasi kantor Rere. Niatnya, dia akan menemui Rere di saat jam kerja. Karena dia yakin, kalau Alvin pasti akan datang ke kantor Rere ketika jam makan siang telah tiba.
"Pak Dimas. Mbak Rere nggak masuk hari ini." Seorang karyawan yang Dimas tanyai menjawab dengan mantap.
Jawaban tersebut sontak membuat wajah Dimas jadi terlihat begitu kecewa. "Tidak masuk? Kok bisa? Ah! Maksud aku, kok dia nggak masuk sih? Bukannya hari ini masih hari rutin Rere ngantor, kan?"
"Iya, pak. Biasanya, mbak Rere emang pasti masuk kantor. Tapi, dia langsung di boyong calon mertuanya ke butik hari ini. Maklum, sesi lamaran sudah resmi. Dan si calon mertua sangat ingin segera meresmikan mbak Rere jadi mantunya."
Dengan wajah bahagia, karyawan itu menjelaskan. Hal itu tentu saja semakin menambah rasa dongkol dalam hati Dimas.
"Oh. Ya sudah kalo gitu."
Tanpa menunggu jawaban dari si karyawan, Dimas langsung saja meninggalkan karyawan tersebut dengan wajah yang semakin terlihat kalau dirinya sedang sangat kesal.
Sampai ke dalam mobil, Dimas langsung menghubungi seseorang dengan wajah serius.
"Cari tahu ke butik mana Rere pergi hari ini. Aku ingin tahu sesegera mungkin."
"Ba-- baik, Bos." Terdengar jawaban dengan nada cukup gugup dari seberang sana. Tapi Dimas tidak menghiraukan hal tersebut. Dia malah memutuskan langsung sambungan panggilan tanpa ada kata putus terlebih dahulu.
__ADS_1
Dengan membawa hati penuh dengan amarah, Dimas menjalankan mobil mengitari jalan raya. Tanpa terasa, dia malah berjalan tanpa arah dan tujuan. Niatnya, dia hanya akan mutar-mutar di jalan sambil menunggu kabar keberadaan Rere dari anak buah yang dua suruh.
Namun, takdir hidup memang tidak akan bisa untuk di tebak. Saat Dimas melajukan mobil di persimpangan, tanpa sengaja, mobil Dimas malah menyenggol seorang gadis yang sedang mengendarai sepeda motor.
"Aduh!" Si gadis terjatuh akibat tersenggol mobil Dimas. Motor yang gadis itu kendarai juga terguling menimpa paha si gadis.
"Ya Tuhan!" Dimas berucap sambil turun dari mobil.
Ia panik. Tapi, tidak akan meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja. Dengan sigap, dia membantu si gadis agar bisa lolos dari sepeda motor yang tumbang.
"Ya ampun. Maafkan aku. Kamu nggak papa?"
"Gak papa apanya? Aku sakit," ucap si gadis sambil merintih. Namun, ketika gadis itu mengangkat wajahnya, matanya pun tertuju ke wajah Dimas yang bisa di bilang sangat tampan.
"Sini aku bantu kamu berdiri. Kita harus ke rumah sakit sekarang."
Meskipun kagum, gadis itu juga masih bisa menguasai diri. Kesadarannya masih cukup baik meskipun baru saja terpana saat melihat wajah Dimas.
"Nggak akan kemalingan, nona. Aku akan hubungi seseorang buat jaga motor kamu. Jadi, jangan cemas. Jika pun hilang, aku akan ganti dengan motor baru. Tidak perlu cemas."
Kesal dengan ucapan sombong dari Dimas, tapi tetap saja dia tidak bisa melawan. Karena saat ini, bagian tubuh yang baru saja tertimpa sepeda motor terasa cukup sakit. Dia juga ingin pria itu bertanggung jawab dengan dirinya. Bertanggung jawab atas apa yang baru saja ia alami.
Sementara itu, Rere sedang berada di butik ternama kota tersebut. Tempat paling berkelas yang sudah menjadi langganan mama Alvin.
"Gimana, Vin? Yang ini cocok nggak?"
Pertanyaan itu sang mama layangkan dengan harapan mendapat jawaban. Eh, yang di tanya bukannya memberikan jawaban, melainkan, malah melamun melihat calon pengantinnya yang saat ini sedang berjalan mendekat.
Si mama cukup kenal bagaimana anaknya. Karena itu, dia langsung mengukir senyum kecil. Dengan lembut, dia sentuh bahu sang anak.
__ADS_1
"Bentar lagi juga jadi milik kamu, Vin. Nggak perlu diperhatikan seperti itulah."
"Ah! Mama. Ngomong apa sih, Ma. Orang aku .... "
"Melamun? Iya, kan?"
Belum sempat Alvin menjawab, Rere yang sudah ada di depan mata langsung mengalihkan semua topik pembahasan. Dengan wajah malu-malu, Rere melihat Alvin yang sedari tadi terus menatapnya. Tak sekalipun Alvin mengalihkan pandangan dari Rere sejak awal Rere keluar dari ruang ganti.
"Gimana, Vin? Ma? Apa yang ini cocok dengan aku?"
"Cocok." Alvin menjawab dengan cepat.
"Semua yang kamu pakai pasti akan terlihat cocok di tubuhmu, Re. Jadi, tidak perlu bertanya. Semua juga akan terlihat cantik jika itu kamu yang memakainya."
"Manusia bucin kamu, Vin."
"Tapi, apa yang Alvin katakan ada benarnya kok, Re. Gaun itu cocok buat kamu. Malahan, sangat amat cantik. Mama suka deh lihatnya."
Rere semakin bersemu malu akibat pujian-pujian itu. Di tambah lagi, kedatangan sang mama yang juga ikut mengatakan kalau gaun yang ia kenakan memang cantik. Plus, godaan yang mereka berikan untuk Alvin yang memang terlihat sangat amat bucin sekarang. Rere semakin merasa malu.
Di sisi lain, Dimas sudah tiba di rumah sakit bersama gadis yang dia senggol sepeda motornya. Gadis yang tak lain adalah Putri, adik bungsu Rohan itu ternyata akan pergi ke butik di mana Rere sedang memilih gaun pernikahan. Dan ternyata, Putri akan menjadi pendamping Rere di hari pernikahan nanti.
Awalnya, Dimas kaget bukan kepalang. Tapi, beberapa saat berlalu, dia malah memikirkan sebuah ide yang cukup bagus yang bisa ia jadikan senjata perusak pernikahan Rere dengan Alvin.
"Kamu nggak benci sama Rere, Put? Diakan orang yang sudah menjobloskan kaka mu ke dalam penjara."
"Nggak, Kak Dimas. Aku nggak benci kak Rere. Karena bagaimanapun, yang salah itu kak Rohan. Dia pantas menerima hukuman atas kesalahan yang sudah dia perbuat."
"Ah! Tapi jika aku yang ada di posisi kamu, Put. Jujur, aku pasti akan sangat benci. Karena kakak ku malah masuk penjara, tapi dia malah tertawa bahagia. Ah! Maaf jika kata-kataku terkesan tidak enak didengar, Putri. Tapi jika aku jadi kamu, aku akan sangat malu. Jangankan jadi pendamping, datang saja aku tidak akan mau."
__ADS_1
Putri terdiam. Sejujurnya, benak Putri langsung membenarkan apa yang baru saja Dimas katakan. Tapi, dia sudah menganggap Rere sebagai kakak kandungnya sendiri. Lagian, yang salah juga bukan Rere, melainkan, Rohan, kakak kandungnya.