Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'82


__ADS_3

"Ya udah kalo gitu. Ngomong aja sesegera mungkin. Selagi aku masih bisa bertahan dengan kesabaran ku yang sangat amat sedikit saat ini. Maka, bicaralah dengan cepat."


Dani tahu, Putri tidak pernah mengganggap ia ada. Putri juga tidak sedikitpun merasakan apa yang saat ini ia rasakan. Tapi hati, sayangnya tidak bisa Dani tahan. Hati sangat menginginkan melepaskan semua beban yang sedang ia pendam.


"Aku suka padamu, Put. Aku ingin memiliki kamu sebagai pendamping hidupku."


Deg, seketika mata Putri langsung melebar akibat pernyataan cinta yang Dani katakan. Sungguh, ia sangat amat kaget dengan pernyataan cinta dadakan yang Dani ungkapkan saat ini. Ditambah, pernyataan cinta itu sudah jelas-jelas hanya cinta sebelah pihak saja.


Karena harusnya, Dani tahu bagaimana perasaan dia saat ini. Sejak awal pertemuan, tak sekalipun ia memberikan sinyal baik pada Dani. Dia selalu berusaha mengabaikan Dani. Bagaimana bisa Dani malah menyatakan cinta sedangkan dia saja tidak pernah memberikan harapan untuk Dani?


"Aku ingin memilikimu, Put. Kalau perlu, sekarang juga aku ingin mengikatmu dengan pertunangan atau janji pernikahan sekalian."


"Hah! Apa kamu sudah gila, kak Dani! Aku tidak sekalipun memberikanmu respon yang baik sejak awal pertemuan kita. Lalu kenapa kamu bisa menyatakan cinta padaku. Jangan main-main kamu, kak."


"Aku serius, Putri. Aku nggak main-main dengan apa yang aku katakan."


"Kamu beneran sudah gila, kak Dani! Saat ini, aku tidak sedikitpun berpikir untuk menikah. Karena jalan yang ingin aku tempuh masih panjang. Aku ingin menyelesaikan sekolahku. Meraih mimpi yang selama ini aku simpan dengan baik dalam benakku."


"Aku berjanji akan memberikanmu kebebasan untuk meraih mimpi seperti yang kamu inginkan, Putri. Jika kamu menjadi pendamping hidupku, maka aku yang akan membiayai hidupmu dengan baik. Aku pastikan, semua impianmu itu akan aku wujudkan."


Dani memang terkesan sangat amat memaksakan keinginan. Dia memang jauh berbeda dengan Alvin dalam mengejar cinta. Tapi tujuannya hanya satu. Ia tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai untuk yang kedua kalinya. Seperti dia kehilangan Rere karena kalah dalam segala hal dari om mudanya.


Sementara itu, Putri yang mendengar ucapan Dani barusan semakin kehilangan kesabaran. Namun, saat ia ingin mengatakan semua yang ada dalam hatinya, sang bunda malah muncul untuk mencegah niat Putri tersebut.


"Putri. Apa yang kalian bicarakan di luar sini?"

__ADS_1


"Oh, ini siapa, Put? Pacar kamu ya?"


Si ibu malah berucap sesuka hati.


Sebelumnya, si ibu sudah mendengarkan semua yang Dani dan Putri bicarakan. Karena itu, dia sengaja mengacaukan pembicaraan barusan. Si ibu tahu, anak perempuannya pasti akan kehilangan akal sehat sebentar lagi jika tidak ia kacau kan pembicaraan ini.


"Oh, tante ... ibunya Putri ya? Saya Dani, Tan. Keponakan jauh om Alvin."


Tentu saja si ibu sudah tahu siapa pria yang ada dihadapannya saat ini. Karena dia sudah sering melihat kemunculan Dani beberapa waktu yang lalu. Bahkan, dia juga pernah melihat Dani ketika Rere masih menjadi menantunya dulu. Karena itu, dia cukup kenal dengan si Dani ini.


"Oh, nak Dani. Panggil ibu saja. Karena Putri juga memanggil dengan panggilan yang sama."


"Ibu ngomong apa sih?" Tentu saja Putri kesal bukan kepalang. Tapi saat ia berucap, si ibu malah mencubit kecil lengannya agar tidak bicara lagi.


"Oh, iy-- iya deh, bu."


"O-- oh. Iy-- iya deh. Su-- sudah kok. Sudah selesai." Dani malah jadi gugup akibat sikap si ibu yang sedikit berlebihan. Terlihat cukup bersahabat, tapi terlalu mencolok untuk orang yang baru pertama ngobrol dengan jarak dekat.


Putri pun di ajak masuk ke dalam oleh ibunya. Sampai ke dalam, si ibu malah membawa Putri ke belakang pelaminan.


"Kenapa ke sini, Bu? Katanya ada yang harus Putri lakukan? Tapi ... kok malah ke belakang panggung kek gini sih? Apa yang harus Putri kerjakan di sini?"


"Ssst! Ibu ajak kamu ke sini bukan mau ngasih kamu kerjaan, Putri. Tapi, ibu ingin ngomong sama kamu."


"Ngomong apa?"

__ADS_1


"Ibu sudah mendengarkan semua yang kamu bicarakan dengan pria tadi. Ibu ingin kamu menerima pernyataan cintanya."


"Apa!" Putri kaget bukan kepalang. Tentu saja. Karena dia tak pernah terpikirkan sedikitpun akan ucapan ibunya ini sebelumnya.


"Bagaimana mungkin ibu ngomong begitu, Bu? Aku .... "


"Cukup, Putri! Ibu tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi, apa kamu tidak dengar kalau Dani itu bersedia menanggung beban hidupmu nantinya. Kamu harus menerima dia meskipun tanpa cinta."


Ucapan yang penuh dengan tekanan itu membuat Putri bembelalakkan mata lebar-lebar. Tapi, saat ia ingin berucap, bapaknya datang untuk menjadi penengah dari perdebatan antara dirinya dengan si ibu.


"Kalian lagi ngomong apa sih di sini? Apa kalian tidak bisa menahan emosi kalian dulu, hah? Ini pernikahan Ivan. Jangan bikin malu dia dengan tingkah kalian. Paham tidak kalian berdua?"


"Ba-- bapak." Ibu Putri terlihat cukup kaget. Tapi, dia juga sangat kesal dengan apa yang baru saja terjadi.


Tapi, ucapan si bapak mereka dengar dengan baik. Mereka langsung mengakhiri pembicaraan itu dengan segera meninggalkan belakang panggung, lalu berbaur dengan suasana pesta pernikahan Ivan dan Mona yang sedang berlangsung.


Sepasang mempelai yang cukup bahagia terlihat sedang duduk di atas pelaminan. Pasangan itu, dulunya juga pernah melewatkan masa sulit layaknya Rere dan Alvin yang pada akhirnya hidup bahagia saat ini.


Cinta sebelah pihak, juga punya sisi baik dan buruknya. Rere sudah mengalami kedua sisi itu. Dia pernah kandas akibat cinta sebelah pihak yang ia alami. Tapi, dia sekarang juga sangat bahagia akibat cinta sepihak itu. Intinya, tergantung takdir baik yang membawa kebahagiaan atau keburukan. Tapi, kesabaran tidak akan pernah sia-sia. Layaknya Alvin yang bisa menikmati buat dari kebahagiaan yang pernah ia semai dulu.


"Sayang, aku mencintai kamu." Sempat-sempatnya Alvin berbisik kata itu di tengah-tengah keramaian. Hal yang hanya bisa Rere sambut dengan gelengan pelan, tapi wajahnya bersemu merah muda akibat terbawa suasana.


"Ya elah. Pasangan yang terus kasmaran setiap waktu. Udah mau salaman sama pengantin bisa-bisanya kalian bermesraan. Aku masih belum punya pendamping ini," ucap Dani bernada kesal.


"Kalo gitu, cari pacar segera biar kamu nggak akan terus-terusan jadi manusia iri yang berasa ditindas mulu setiap waktu." Alvin berucap dengan nada yang sama.

__ADS_1


"Om ... tega banget dirimu. Akan aku buktikan kalau aku juga bisa kayak kamu, Om. Berhasil dalam cinta."


Alvin hanya mendengus pelan. Sedangkan Rere tersenyum kecil. Ya. Usaha keras yang Dani lakukan memang karena terobsesi dengan keberhasilan Alvin. Karena Alvin yang berhasil memiliki Rere yang menolak keras Alvin dulunya. Tapi, pada akhirnya bisa jatuh cinta dan hidup bahagia.


__ADS_2