Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'73


__ADS_3

Pagi harinya, Rere bagun sedikit terlambat. Ia bangun setelah Alvin selesai memilih pakaian yang ingin ia pakai untuk pergi ke kantor.


Ternyata, Alvin memilih sendiri semua yang ingin ia pakai. Tidak ada sedikitpun bantuan dari pelayan, atau pun sang mama. Rere jadi ingan mantan suaminya dulu. Selalu Rere yang siapkan. Jika tidak, maka bi Sari yang harus turun tangan.


Tapi Alvin sangat berbanding terbalik dengan mantan suaminya. Pakaian yang ia pilih semua saling cocok satu sama lain. Dan itu terlihat selalu pas seperti setiap kali sebelum mereka menikah. Dulu, Rere tidak memikirkan kalau pria ini begitu mandiri. Tapi sekarang, dia jadi sedikit kagum akan hal kecil itu.


"Kamu ... sudah siap, Vin? Nggak perlu bantuan aku buat pilih-pilih apa yang ingin kamu pakai ke kantor lagi ya?" Rere langsung melontarkan pertanyaan di saat Alvin hampir selesai memasang kancing kemeja yang ia pakai.


Sontak, Alvin menoleh. Sebuah senyuman ia lontarkan ke Rere dengan manisnya.


"Kalo hanya memilih pakaian, aku tidak perlu menyulitkan kamu lagi, Re. Karena aku sudah terbiasa memilihnya sendiri. Tapi jika untuk teman setiap suka dan duka, aku selalu butuh kamu. Karena aku tidak bisa sendirian terus selamanya." Bukannya menanggapi dengan serius, Alvin malah menggoda Rere.


"Alvin! Kamu yah."


Sontak, Alvin langsung mendekat yang membuat Rere mendadak merasa kaget dan sangat gugup. Jarak pandang yang hanya beberapa inci itu begitu mendebarkan hati. Apa lagi dengan mata yang saling tatap. Mana bisa Rere bernapas dengan baik.


"Ee ... e ... Vin, menjauh dari aku sekarang juga. Aku ingin ... ke ... ke kamar mandi." Rere berucap dengan kata-kata yang terpotong-potong karena terlalu gugup. Meskipun ia sudah mendorong Alvin sedikit menjauh, dan sudah mengalihkan pandangan dari wajah Alvin, tapi tetap saja, rasa gugup itu tidak berubah sedikitpun.


"Apa kamu tidak ingin membantu aku memasang dasi? Aku yakin kamu bisa melakukannya." Lagi-lagi, Alvin berucap tidak dengan nada serius. Melainkan, nada godaan untuk Rere.


"Itu ... aku memang bisa. Tapi ... aku ... ak-- aku ingin ke kamar mandi. Aku ke-- kebelet."


Rere segera menghambur dari tempat tidur. Berjalan cepat meninggalkan Alvin. Sementara Alvin yang melihat akan hal itu, langsung tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala pelan.


'Indah juga punya istri yang dicintai. Bisa menggoda tiap waktu dengan sesuka hati.'


...


Usai sarapan, mereka langsung menuju kantor. Tentunya, setelah banyak drama pagi yang Alvin ciptakan untuk Rere. Mulai dari tidak mengizinkan Rere ke kantor, hingga tidak ingin Rere pergi dengan mobil lain. Padahal, jarak kantor mereka berdua terbilang sangat jauh.

__ADS_1


"Kamu beneran yakin kita pergi hanya dengan satu mobil, Vin?"


"Tentu saja. Orang kita sekarang sudah mau gerak, bukan?"


"Ya tapi ... jarak kantor kita jauh. Gimana caranya kita berangkat hanya dengan satu mobil."


"Itu mudah. Tinggal aku antar kamu ke kantormu, setelah itu, baru aku ke kantorku."


"Aish, kamu bikin kerjaan aja pagi-pagi begini, Vin. Emang masih terkejar ya waktunya? Kamu bilang akan ada rapat pagi ini, bukan?"


Alvin baru ingat akan rapat pagi yang akan dia laksanakan. Karena itu, dia terlihat seperti sedang berpikir saat ini. Rere yang melihat hal itu tentu tidak ingin tinggal diam. Dia pun menyampaikan ide yang ia punya.


"Vin, aku pergi sendiri saja. Turunkan aku di sini sekarang yah. Aku naik taksi online ke kantorku biar kita bisa sampai ke kantor masing-masing tepat waktu."


"Eh! Nggak bisa gitu dong. Aku mau antar kamu sampai depan kantormu."


"Lalu bagaimana dengan rapat pagi mu, Vin. Ya ampun, rewel sekali sih punya suami yang manja kek anak-anak ini."


"V-- Vin. Apa-apaan sih? Kita tidak sedang ada di kamar sekarang. Ini mobil, ada pak sopir juga si sini. Menyingkir atau tidak kamu sekarang, hm?"


"Gak papa nona muda, bapak gak lihat kok." Eh, pak sopirnya malah angkat bicara. Yang membuat Rere semakin merasa malu.


Sementara Alvin pula, dia malah tersenyum lebar. "Nah, dengarkan. Kita hanya berdua saja sekarang."


"Alvin. Jangan main-main kamu."


"Nggak kok, sayang. Aku nggak main-main."


"Alvin."

__ADS_1


"Iya-iya. Aku nggak ganggu lagi."


Rere bisa bernapas dengan lega untuk sesaat. Tapi tidak dengan detik berikutnya yang Alvin langsung menjatuhkan ciuman tiba-tiba ke bibir Rere dengan mesra. Wajah Rere mendadak merona hebat akibat ciuman tersebut.


"Kau milikku. Sedangkan kantor, juga milik aku. Jadi, aku akan melakukan apa yang aku inginkan. Untuk itu, kita akan ke kantor kamu duluan. Biarkan saja rapatnya ditunda sampai aku kembali ke kantor."


"Eh ... nggak bisa gitu dong, tuan muda Utama. Yang akan kita lewati kali pertama kan kantor anda. Ya anda bisa masuk, sementara pak sopir akan mengantarkan saya setelah."


"Yang suami kamu itu aku yah, nona. Jadi, yang ingin mengantarkan kamu ke kantor itu saja. Anda paham apa yang saya katakan, bukan?"


Pada akhirnya, Rere terpaksa ikut Alvin ke kantor Alvin. Karena kebetulan, jadwal pagi ini Rere masih kosong. Kerjaan juga sudah di handel oleh Mona semuanya. Karena itu, Rere memilih mengalah agar Alvin tidak merusak jadwal pekerjaannya.


Ketika mobil Alvin tiba di depan kantor, si sekretaris langsung menyambut mobil tersebut dengan senyum lebar. Sekretaris ini juga sedikit berubah. Pakaiannya agak sedikit seksi menurut Rere yang sudah tidak melihatnya selama beberapa hari.


Namun, Rere masih belum bisa mengatakan apapun. Karena Alvin sudah turun duluan setelah pak sopir membukakan pintunya.


"Selamat pagi, pak Alvin."


"Pagi." Alvin berucap datar. Lalu, tangannya dengan lihai membuka pintu mobil tempat di mana Rere duduk.


"Silahkan, nyonya muda Utama. Anda sudah tiba di kantor Vin'S grup. Anda bisa turun sekarang," ucap Alvin dengan lembut yang membuat si sekretaris langsung memasang wajah terkejut dan tak percaya.


"Pak ... pak Alvin. Anda ... datang bersama .... "


"Istriku, Maya."


"Oh iya, jadwal hari ini harus kamu atur ulang yah. Karena aku ada urusan mendesak yang lainnya setelah rapat pagi selesai."


"Ayo, nyonya Alvin!" Alvin berucap sambil mengulur tangannya pada Rere.

__ADS_1


Cukup merasa tak nyaman akan keadaan ini. Tapi Rere tidak mau memikirkannya. Dia sudah pernah melewati masalah seperti ini dulunya. Sekarang, mungkin dia hanya perlu melakukan hal yang sama saja seperti tidak merasakan apapun dari tatapan Maya yang marah akan dirinya.


'Aku istri sah. Tidak akan aku biarkan lagi hal yang sama terulang. Bagaimanapun, apapun yang terjadi. Aku tidak akan pernah mau mengalah untuk yang kedua kalinya.'


__ADS_2