Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'77


__ADS_3

"Halo, Maya. Apa kabar kamu sekarang?" Rere menyapa Maya ketika ingin di bawa ke sel tahanan.


Maya tidak menjawab satu patah katapun. Dia malu. Sangat amat malu sekarang. Ternyata, yang bodoh, memanglah dia. Bukan Rere.


"Sekarang, aku tidak ingin bertanya siapa yang akan menertawai siapa, May. Tapi, aku ingin bilang, lain kali, jangan pernah ulangi lagi hal bodoh seperti ini. Kamu terlalu polos jadi wanita. Sangat di sayangkan hal ini, Maya."


"Semoga kamu bisa memperbaiki diri di sini," ucap Rere lagi.


Sementara itu, Alvin sedang berada di tempat pertemuan tahanan bersama Dimas. Alvin mengatakan semuanya sekarang. Dimas bukan hanya terlibat kasus penculikan atas Rere, tapi juga penembakan. Dan, Dimas juga di jerat kasus pencucian uang yang sangat marak saat ini.


"Ternyata, semua ini adalah jebakan kamu, tuan muda! Benar-benar kurang ajar kamu, Alvin!"


Dimas marah bukan kepalang. Tapi sayangnya, sama seperti saat ia masih bebas dahulu. Dia juga tidak bisa melakukan apapun terhadap Alvin. Karena dirinya berada di tempat yang berbeda dengan tempat Alvin berada.


"Kenapa marah, Dimas? Aku melakukan hal yang pantas aku lakukan. Kamu sudah mengusik diriku sehingga hubungan aku dengan Rere memburuk selama beberapa saat. Jadi ini adalah bayaran atas apa yang sudah kamu lakukan."


"Beruntung istriku bisa aku rebut kembali. Jika tidak, kamu mungkin akan menerima hukuman yang lebih berat dari pada hukuman kurungan penjara di sini. Kamu mengerti?"


Dimas terpaku tak berdaya sekarang. Saat ini, dia baru menyadari akan kesalahan yang sudah ia perbuat. Tak seharusnya dia mengusik Alvin. Diamnya Alvin bukan berarti tidak berbahaya. Malahan sebaliknya.


Di dalam penjara, Dimas mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa berpikir dengan baik sebelumnya. Dia begitu terpuruk dalam perasaan penyesalan yang dalam.


"Kenapa tidak terpikirkan oleh pikiran ini kalau aku tidak boleh mengusik dia? Dia bukan tandingan ku. Kenapa aku begitu bodoh sebelumnya?"


Sayangnya, penyesalan sedalam apapun tidak akan bisa menggubah kenyataan. Karena semua yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa diulang kembali.


...


Hubungan Alvin dan Rere semakin harmonis saja setelah kejadian penculikan itu. Sekarang, mereka menghadiri pesta pertunangan Ivan dengan Mona yang dilaksakan di rumah Mona.


"Kamu memang yang paling cantik, Re." Pujian itu sudah lebih dari lima kali Alvin ucapkan. Tak ia hiraukan tanggapan orang lain yang mendengarkan pujian itu.


"Apaan sih, Vin? Kamu ini yah. Masih saja bisa menggoda aku di keramaian seperti ini." Meskipun bernada kesal ucapan yang Rere lontarkan, tapi wajahnya masih bisa memperlihatkan rona merah yang cukup kuat.


"Namanya juga orang yang lagi di mabuk cinta, kak. Udah dalam keadaan yang wajar itu si om muda saat ini," ucap Dani malah ikut-ikutan bicara.

__ADS_1


Alvin langsung memasang wajah kesal karena ucapan keponakan jauhnya ini.


"Heh! Tuyul datang dari mana kamu, hah? Ada aja gangguin orang."


"Santai, om. Cuma mau ikutan dikit doang kok."


Segera setelah selesai berucap, Dani beranjak meninggalkan Rere dan Alvin sambil berjalan mundur. Tak lupa ia tersenyum lebar, masih dengan mode menggoda Alvin.


Karena ulahnya itu, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang sedang memunggungi dirinya. Perempuan yang sedang memegang gelas minuman tersebut langsung menumpahkan minumannya ke lantai akibat ulah Dani.


"Aduh."


"Eh, maaf-maaf. Aku nggak sengaja," ucap Dani cepat berusaha membantu.


"Gak papa. Aku juga gak terluka kok. Hanya minumannya saja yang tumpah. Bisa aku ambil lagi."


Saat Dani melihat si gadis cantik, matanya langsung tertahan dan tak bisa ia alihkan. Dia adalah gadis cantik yang langsung mencuri hari Dani saat pandangan pertama.


"Aku ... Dani. Boleh aku tahu siapa nama kamu?"


Uluran tangan Dani gadis itu lihat sesaat. Tapi pada akhirnya, dia sambut juga meski terlihat sedikit ragu.


Ya, dia adalah Putri. Mantan adik ipar Rere sebelumnya. Dia hadir di pesta ini karena sang kakak yang akan bertunangan.


"Putri? Nama yang bagus."


Namun, Putri tidak menjawab apa yang Dani katakan. Matanya malah langsung melihat ke arah lain. Saat matanya menangkap keberadaan Rere, dia malah langsung meninggalkan Dani tanpa pamit terlebih dahulu.


"Kak Rere .... "


"Putri."


"Udah lama datangnya, kak?"


"Cukup lama, Putri."

__ADS_1


"Ee ... halo pak Alvin." Dengan berat hati, Putri juga menyapa Alvin setelah menyapa Rere dengan leluasa.


"Halo, Put."


Selanjutnya, Putri dan Rere malah ngobrol hangat. Alvin pun hanya bisa mendengarkan obrolan itu tanpa berniat mencampurinya.


Dani yang melihat hal tersebut, langsung menghampiri Alvin yang sedang berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari Rere dan Putri.


"Om. Kak Rere sepertinya mengenali gadis itu dengan sangat baik. Apa om muda juga kenal gadis itu?"


"Bukan kak, Dani. Tapi tante."


"Yah. Terserah sajalah, Om. Apa yang mau om katakan saja. Yang jelas aku sudah terbiasa memanggil istri om dengan sebutan kak. Sulit untuk aku ubah lagi. Untuk gadis itu ... jawab dong, om. Aku sangat penasaran dengannya."


Alvin mendengus pelan.


"Ada yang bening aja kamu langsung jelalatan yah. Dia itu adik dari mantan suami Rere yang lama. Namanya Putri. Udah, itu aja yang aku tahu."


Penjelasan itu malah membuat Dani tersenyum. Dia yang sangat usil, tentu saja langsung berniat mengusili Alvin setelah mendengar apa yang Alvin katakan.


"Cie ... jadi itu alasan om kesal sekarang? Ternyata, gadis itu mantan adik iparnya kak Rere yah."


"Aku nggak kesal, Dan. Bagaimanapun, Rere dan mereka itu kenal cukup lama. Lagian, mereka sudah menganggap Rere adalah bagian dari keluarga mereka dari dulu hingga sekarang. Mana mungkin aku bisa kesal akan hal itu?"


"Om yakin dengan apa yang om katakan barusan?"


"Dani ... jangan uji kesabaran om mu ini. Kamu akan terima akibatnya nanti. Aku tahu, kamu juga sudah tertarik dengan gadis itu. Jika tidak, bagaimana kamu bisa begitu antusias saat melihat gadis tersebut."


Akhirnya, mereka berdua sama-sama mengalah dalam perdebatan. Lalu, berbaur dengan Rere dan juga Putri. Dan di sana juga ada Mona dan Ivan yang menjadi tokoh utama dari acara hari ini.


Selang beberapa waktu, acara tersebut akhirnya usai juga. Alvin pun melepas napas lega karena sekarang, Rere sudah seutuhnya menjadi milik dia kembali.


"Apa-apaan sih, Vin? Acaranya yang selesai dengan baik, kamu yang malah terlihat begitu lega. Ada hubungan apa kamu sama acara ini, hm?" Rere malah menggoda suaminya dengan tatapan penuh selidik.


Godaan yang Rere berikan langsung membuat Alvin menarik Rere ke dalam pelukan.

__ADS_1


"Istriku tersayang. Jangan coba-coba menggoda aku ya. Kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini. Aku lega karena sekarang, kamu sudah kembali menjadi milik aku seutuhnya. Tidak seperti di acara tadi. Kamu jadi sibuk ngobrol dengan yang lain. Sedangkan aku, kamu abaikan begitu saja."


Rere malah terkekeh kecil. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa geli di hatinya saat ini. Alvin memang cukup bawel akhir-akhir ini karena itu, sedikit-sedikit, dia hanya ingin Rere menjadi miliknya.


__ADS_2