Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'74


__ADS_3

'Aku istri sah. Tidak akan aku biarkan lagi hal yang sama terulang. Bagaimanapun, apapun yang terjadi. Aku tidak akan pernah mau mengalah untuk yang kedua kalinya.'


Begitulah tekat Rere sudah ia bulatkan. Ditambah, sekarang sang suami ada di pihak nya. Jadi, semakin besar semangat Rere untuk mempertahankan sang suami yang memang seharusnya ia pertahankan.


Sementara itu pula, Alvin dengan bangganya membawa Rere masuk ke dalam kantor. Keberadaan Maya ia abaikan begitu saja.


Maya yang menerima perlakuan itu tentu saja merasa sangat sakit. Dia pun beranjak meninggalkan pintu utama kantor menuju taman.


Di sana, Maya melepaskan semua amarah dengan mencabut-cabut bunga yang ada di sekitarnya. Dimas yang melihat hal tersebut langsung menghampiri Maya.


Target yang sejak tadi ia buru, akhirnya masuk kandang juga. Hal itu tentu sangat memudahkan Dimas untuk meracuni Maya dengan kata-kata yang mungkin akan menaikkan kemarahan Maya sebelumnya.


"Hei! Ngapain kamu sakiti taman yang tidak berdosa itu, nona? Yang seharusnya kamu sakiti, malah tidak kamu sakiti. Tapi yang tidak seharusnya kamu sakiti, malah kamu sakiti. Aneh sekali kamu."


Maya langsung menoleh cepat. Dengan tatapan yang penuh kemarahan, ia melihat Dimas. "Siapa kamu, hah? Apa urusan kamu dengan apa yang ingin aku lakukan? Kamu bukan siapa-siapa. Jadi, jangan pernah ikut campur jika tidak ingin berakhir seperti bunga ini."


"Wow! Galak sekali anda, nona." Dimas terlihat memasang wajah ketakutan. Tentu saja itu hanya dia buat-buat saja.


"Maya. Aku tahu apa yang sedang kamu rasakan. Karena itu aku berani mengajakmu bicara sekarang," kata Dimas lagi. Kali ini dengan wajah yang begitu serius.


Maya yang mendengar namanya di sebut sontak kaget plus bingung. Dia yang awalnya duduk, kini langsung bangun untuk melihat Dimas dengan jelas.


"Kamu ... tahu namaku? Bagaimana bisa?"


Dimas tersenyum kecil. Lalu, dia mengajak Maya untuk ngobrol serius diujung taman. Maya yang penasaran, tentu saja setuju.


Cukup lama mereka menghabiskan waktu hanya untuk ngobrol. Sampai-sampai, Maya lupa akan tugasnya di dalam kantor hanya gara-gara mendengarkan omongan Dimas dengan serius.

__ADS_1


"Jadi, kita hanya perlu memisahkan mereka berdua saja? Benar begitu yang kamu maksudkan?"


"Ya. Kita hanya perlu memisahkan mereka dengan ide yang sudah aku katakan. Dengan begitu, kita bisa saling memiliki orang yang kita cintai. Apa kamu setuju untuk bekerja sama dengan aku?"


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Maya menyambut uluran tangan Dimas juga. Meskipun yang ia inginkan menyingkirkan Alvin, tapi tidak tidak bisa membocorkan hal tersebut. Dia harus membuat partnernya percaya kalau usaha itu akan membuahkan hasil.


Sementara Dimas dan Maya sudah mencapai kesepakatan kerja, rapat di kantor Alvin sudah selesai. Selain sekretaris, Alvin punya Dani yang ia panggil kembali untuk menjadi asisten pribadinya.


Dani cukup bisa Alvin andalkan sebagai keponakan jauh. Semua tugas yang Alvin berikan, selalu bisa ia kerjakan dengan baik. Dani juga sering merangkup tugas sebagai sekretaris selama ia menjadi asisten om nya itu.


"Dani." Rere cukup kaget saat melihat anak itu bekerja di kantor Alvin.


"Kak Rere."


Saat Dani ingin menyapa lebih dekat, Alvin langsung menghadangnya dengan cepat. Hal tersebut tentu saja menghentikan langkah Dani seketika.


Dengan wajah penuh rasa kesal, Dani melihat ke arah Alvin. "Oh, Om ku yang kurang ajar, kenapa kamu selalu jadi penghalang buat aku sih? Nyebelin banget."


"Eh ... enak saja. Aku sudah terbiasa memanggil dia dengan sebutan kakak. Nggak akan aku ubah lagi, mengerti om muda yang tumben mengaku dirinya sebagai om setelah berada di depan istrinya."


"Eh ... sudah-sudah. Kalian berdua apa-apaan sih? Kok malah berdebat. Nggak ada kerjaan ya?" Rere yang sejak tadi diam, kini tak bisa menahan diri. Dia langsung ambil posisi ke tengah untuk melerai perdebatan suami juga mantan sopirnya ini.


"Kak, bukan aku yang salah. Tapi, om tua ini yang nyari ribut duluan. Dia malah menghalangi aku untuk menyapa kamu." Dani berucap dengan wajah sedih.


Ketika ia ingin menyentuh tangan Rere, Alvin langsung bergerak cepat menepisnya.


"Dasar keponakan jauh yang kurang ajar kamu, Dan. Jika kamu bikin ulah lagi dengan istriku, maka aku terpaksa memulangkan kamu kembali keluar negeri. Biar tinggal saja sekalian kamu di sana buat selama-lamanya. Aku juga akan pindahkan kamu dari daftar keluarga mas Iyas, biar tahu rasa kamu."

__ADS_1


"Nah, lihat kan betapa kejamnya suamimu, kak Rere. Dia bukan hanya ingin mengusir aku dari perusahaan ini, dari negara, juga bahkan dari keluarga ku sekalian ingin dia singkirkan. Benar-benar om jahat luar biasa suamimu itu, kak."


"Kamu ya .... "


"Aduh ... sudah-sudah. Kalian berdua kok kek anak TK yang sedang rebutan main sih? Nggak ada sikap orang dewasanya sama sekali. Gak malu sama umur tuh kalian berdua."


"Yang salah dia, kak." Dani berucap sambil menunjuk Alvin.


"Apa! Aku lagi yang kamu salahkan?"


"Aduh ... kalo gini, kalian berdua berdebat saja sampai kalian capek. Aku nggak akan ikut campur sekarang."


Saat Rere ingin beranjak. Alvin dan Dani kompak mencegahnya. Mereka pun langsung memperlihatkan ke kompakan dalam membujuk Rere agar tidak pergi.


Sekarang, Dani sudah bisa menghindari perasaannya sendiri. Dia sadar, Rere memang tidak untuk di miliki olehnya. Melainkan, hanya bisa di kagumi saja. Dani bahagia saat Alvin dan Rere menikah. Bahkan, dia lebih bahagia lagi ketika melihat Rere dan Alvin bisa bersama seperti saat ini.


Baru juga bisa ngobrol baik di ruangan Alvin, sebuah panggilan langsung mengganggu obrolan mereka. Panggilan yang datang dari ponsel Alvin membuat Alvin harus menjauh dari Rere dan Dani.


"Jangan macam-macam kamu selama aku ngobrol di telepon, Dani. Jika aku melihat kamu nakal sedikit saja, siap-siap nama kamu hilang dari daftar keluarga mas Iyas."


"Dasar om muda yang kekurangan hati kamu, om. Aku nggak kekurangan pikiran kok. Pergi sana! Biar aku temani kak Rere sekarang."


"Tante. Bukan kakak."


"Suka-suka aku dong, om."


"Kurang ajar kamu!" Alvin berucap sambil ingin memukul Alvin. Tidak beneran. Karena itu cuma akting saja.

__ADS_1


Rere yang melihat hal itu, hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Cukup aneh plus lucu tingkah dua anak manusia yang saat ini ada di depannya. Sudah dewasa, tapi masih kek anak-anak. Memperebutkan hal yang sudah pasti tidak bisa direbutkan.


Setelah kepergian Alvin untuk menjawab panggilan, Rere pun ngobrol santai dengan Dani. Tentunya, tidak ada perdebatan yang terdengar lagi di antara mereka berdua.


__ADS_2