Cinta Sebelah Pihak

Cinta Sebelah Pihak
'83


__ADS_3

Alvin hanya mendengus pelan. Sedangkan Rere tersenyum kecil. Ya. Usaha keras yang Dani lakukan memang karena terobsesi dengan keberhasilan Alvin. Karena Alvin yang berhasil memiliki Rere yang menolak keras Alvin dulunya. Tapi, pada akhirnya bisa jatuh cinta dan hidup bahagia.


Besar harapan Dani kalau ia juga bisa seberhasil Alvin saat ini. Tanpa ia sadari, ada banyak perjuangan yang sudah Alvin lakukan selama bertahun-tahun baru bisa menerima kebahagiaan tersebut. Waktu yang tidak sedikit, juga kesabaran yang sangat besar. Itulah yang Alvin tukar dengan kebahagiaannya sekarang.


....


Acara pernikahan Ivan dan Mona usai. Dani pun melanjutkan usahanya untuk memiliki Putri meskipun ia tahu, Putri tidak menyukai dirinya.


Seorang utusan ia kirimkan untuk membicarakan prihal niatnya buat memiliki Putri. Bukan papanya yang pergi, melainkan, orang suruhan yang tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga mereka. Karena jika kali ini di tolak, maka sang papa tidak akan merasakan amarah apapun.


Apa yang Dani lakukan sekarang juga tidak ada satu keluarga pun yang mengetahuinya. Termasuk, Rere dan Alvin. Mereka juga tidak tahu menahu akan hal tersebut.


"Katakan pada nak Dani, kami menerima niatnya untuk melamar Putri. Meskipun Putri masih belum lulus sekolah, tapi kami bersedia menikahkan dia dengan nak Dani secepatnya."


Ucapan mantap dari bapak membuat orang utusan itu tersenyum lebar. Sementara Putri yang ada di dalam kamar sedang menangis sesenggukan di temani Mona.


Ya. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi sekarang. Dani yang gencar, juga pekerja keras dengan status karier yang sangat bagus saat ini membuat keluarga mempertimbangkan pertimbangan yang sulit untuk menolak. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk menerima. Tidak hanya ibunya saja yang setuju, tapi bapak, bahkan kakak satu-satunya memilih setuju.


Sebelum orang urusan itu datang, ibunya sudah bicara panjang lebar dengan semua keluarga. Awalnya, bapak enggan menerima, tapi atas paksaan ibu, mereka ikut mempertimbangkan semuanya secara halus.


"Dani juga tidak buruk, pak. Dia anaknya pak Iyas, saudara jauh mamanya pak Alvin. Orang tua itu juga sopir pribadinya kak Rere dulu. Seorang pekerja keras meski berasal dari keluarga yang terpandang dengan kehidupan yang bisa dibilang cukup mewah."

__ADS_1


Ivan menjelaskan latar belakang Dani pada bapaknya dengan antusias. Sikap yang Ivan perlihatkan membuat ia ingat akan Rere. Jika Ivan tidak bersikap dingin pada orang tersebut, berarti, orang itu bisa di bilang cukup spesial untuk menjadi bagian dari keluarga mereka.


"Terus, kenapa pak Iyas bisa jadi sopirnya mbak Rere?" Mona yang merasa pekerjaan pak Iyas agak tidak menggambarkan kehidupan yang Ivan katakan, langsung angkat bicara.


"Ya itu karena, pak Iyas suka mengemudi. Mengemudi adalah hobinya sejak remaja. Karena itu, dia memilih menjadi sopir agar bisa terus menjalankan hobinya. Sedangkan usaha yang sesungguhnya, di jalankan oleh anak sulungnya sekarang."


"Kamu cukup tahu banyak tentang Dani, Van. Bapak jadi merasa, kalau kamu memang dekat dengan Dani sejak awal. Benarkah?"


"Nggak, Pak. Aku hanya tahu cerita singkat dari kak Rere saja. Tapi, untuk kualitas Dani sendiri, dia cukup baik. Aku tahu dia anak yang seperti apa karena cukup sering bertemu dengannya. Dia tangan kanan pak Alvin saat ini."


"Dan yang terpenting, dia bukan pria bajingan yang suka gonta ganti perempuan. Sejauh ini, aku masih tidak mendengar kabar dia dekat dengan perempuan. Karena itu, aku pikir dia cukup baik untuk menjaga Putri."


Apalagi Ivan, Putri paling menghormati posisinya sebagai kakak. Memang, Ivan bukan kakak pertama, tapi kharismanya paling besar dalam keluarga. Dia tidak akan bicara jika ia tidak ingin bicara. Lebih tepatnya, dia tidak suka mencampuri urusan yang tidak penting menurutnya.


Jika sekarang Ivan angkat bicara panjang lebar. Itu tandanya, masalah itu cukup menarik perhatian Ivan. Dan, Ivan cukup tertarik dengan orang luar yang ia bahas saat ini. Karena itu, Putri jadi serba salah sekarang.


Di satu sisi, dia benar-benar tidak suka Dani. Bahkan, ia benci dengan pria tersebut. Karena pria itu tiba-tiba datang lalu merusak semua yang ia impikan. Tapi, pada sisi lain, ia juga merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Pujian untuk Dani, juga ekspresi suka yang kakaknya perlihatkan membuatnya dipaksa untuk berpikir ulang tentang Dani.


Karena itu, jawaban yang paking tepat untuk Putri ucapkan hanya lah. "Tapi, kak. Putri masih sekolah. Masih butuh dua tahun lagi untuk bisa menyelesaikan sekolah Putri. Jika Putri menikah, maka tidak akan ada sekolah yang mau menerima Putri lagi."


"Tenang saja, Put. Kita akan rahasiakan pernikahan kamu baik-baik. Atau, kamu bisa melanjutkan sekolah rumahan seperti anak yang tidak bisa sekolah ditempat umum. Bisa, bukan?"

__ADS_1


"Ta-- tapi .... "


"Putri. Apa yang kakak mu katakan mungkin ada benarnya. Bapak sudah tua. Tidak bisa memberikan kamu pendidikan yang layak karena tidak punya penghasilan. Tempat bapak kerja sudah tidak ada lagi. Kakak kamu sudah menikah. Dia harus menafkahi keluarganya sendiri. Bagaimana bisa kamu bertahan jika dana tidak ada untuk menjalani sekolahmu, nak."


Pada akhirnya, Putri sadar kalau tidak ada yang mendukung dia saat ini. Semuanya menginginkan ia menikah. Putri hanya bisa terdiam sambil menahan air mata.


Kemudian, sang bapak berucap lagi. Membandingkan anak tetangga yang baru saja ketahuan hamil di luar nikah, padahal masih sekolah, sama seperti Putri.


"Jangan sampai kamu terjerumus seperti teman kamu yang itu, Put. Sampai sekarang, dia masih tidak punya seseorang yang mau menikahinya lagi. Siapa yang mau barang rusak, Putri."


"Ya lagian, yang ingin menikah dengan kamu juga bukan orang tua, kan Put? Anak muda yang tampan. Yang punya pendidikan bagus juga punya pekerjaan paling baik. Apa lagi yang kamu pertimbangkan, hah?" Kali ini, si ibu yang merasa menang baru angkat bicara setelah sekian lama terdiam.


"Putri tidak suka Dani. Putri tidak cinta dia. Putri tidak ingin menikah muda sebenarnya."


"Jadi kamu mau menikah setelah jadi nenek-nenek ya, Put! Mau jadi perawan tua kek perempuan ujung jalan sana! Tinggal sendirian tanpa teman juga saudara. Karena semuanya sudah hidup bahagia bersama keluarga masing-masing."


Setelah si ibu bicara dengan nada tinggi, Putri pun langsung ke kamar. Hingga saat ini, dia hanya diam di kamar sambil menangis. Setelah orang utusan datang, Mona yang ikut menemani Putri di kamar.


"Tidak perlu menangis, Put. Mungkin, dia beneran jodoh kamu."


Lalu, Mona menceritakan perjalanan cintanya bersama Ivan. Ada banyak hal yang ia lewati sebelum akhirnya, dia dinikahi dan menjadi istri sah seperti saat ini.

__ADS_1


__ADS_2