
Yang belum berteman mohon follow dulu ya gaes, gratis kok 😁😁😁
.
Lantunan ayat suci terdengar merdu di telinga, Adji yang sejak pukul setengah empat sudah terbangun, menunaikan sholat dua rokaat kemudian menunggu adzan subuh berkumandang dengan mengaji.
Sayup-sayup adzan subuh mulai terdengar. Ia mengakhiri ngajinya, lalu ke kamar mandi, dan berwudhu kembali.
Saat dirinya baru saja membuka pintu hendak ke mesjid, sesosok wanita berambut panjang yang ia kenal sudah berdiri di hadapannya.
"Astaghfirullah, Mbak. Ngagetin aja. Ngapain subuh-subuh ke sini?" Adji terkejut, ia merapikan peci yang ia kenakan.
Wanita di hadapannya itu malah meringis.
"Mau bantuin, Loe."
"Bantuin apa?"
"Katanya mau ngelamar kerja. Nih gue udah bawa laptop, biar bisa bikin surat lamarannya." Maya memperlihatkan tas yang dibawanya itu.
"Ya sudah, tapi saya mau sholat dulu ke mesjid. Mbak mau ikut?"
"Gue lagi nggak sholat."
"Loh kenapa, Mbak? Kok nggak sholat?"
"Ya halangan."
"Halangan maksudnya?"
"Aduh, Adji. Eum ... Masa loe nggak tahu sih. Halangan. Itu ... Merah-merah." Wajah Maya tersipu.
Adji mengernyit.
"Nggak sholat dosa, Mbak. Sholat itu tiang agama. Ibarat kata nih ...."
"Stop, Adji. Gue tahu. Nggak usah ceramah. Gue lagi haidh alias menstruasi. Masih nggak ngerti juga?" Maya mulai kesal.
"Owh, menstruasi. Ngomong dong, Mbak. Nggak usah berlibet." Adji cengengesan.
"Tau ah!"
"Ciye PMS ya?" godanya.
"Adji!" Maya hendak memukul bahu Adji.
"Jangan sentuh, Mbak! Saya udah wudhu."
Maya cemberut kesal diledek terus menerus.
"Ya udah, Mbak tunggu di dalam. Pintu saya tutup ya. Saya ke mesjid dulu."
Maya menurut, ia masuk dan duduk di dalam, sementara Adji berlari ke mesjid, agar tidak ketinggalan sholatnya.
***
.
Adji menatap layar laptop milik Maya yang baru saja dibuka. Jemari Maya mulai bermain di atas keyboard. Mencari contoh surat lamaran kerja.
"Dji, mana berkas loe?" tanya Maya.
"Berkas apa, Mbak?"
"Ya yang kemarin gue bilang. Ijasah, KTP."
Adji menggeleng. Maya menatap bingung.
"Nggak ada? Kok bisa?"
Adji hanya mengangkat bahunya. "Ceritanya panjang, Mbak. Semua habis terbakar."
"Astaga. Sekarang loe nggak punya kartu identitas sama sekali dong?"
KTP ada sama KK.
"Mana?"
"Sebentar." Adji menuju ke kamar, mengambil KTP dan KK yang pernah dibuatkan oleh Eyang Tarjo. Kakek yang menolongnya dulu.
__ADS_1
"Ini, Mbak." Adji menyerahkan pada Maya.
Maya hanya membaca sekilas. Ia merasa nama panjang Adji sama dengan nama bosnya di kantor. Namun, ia enggak menanyakan, mungkin saja hanya kebetulan.
"Trus gimana dong? Atau gini aja. Loe Dateng dulu aja ke sana. Bilang berkas kebakar, tapi loe niat kerja kok. Bilang gitu."
"Iya, Mbak. Saya mandi dulu ya."
"Iya, yang wangi ya. Pake baju yang kemarin gue kasih."
Adji tersenyum dan mengangguk.
***
.
.
Selesai mandi, Adji mencoba beberapa baju yang diberikan oleh Maya, ia merasa cocok dengan kaus berkerah warna marun, dan celana jeans-nya. Tapi dia tidak punya sepatu atau sendal bagus. Ia menghela napas pelan, kemudian kembali ke ruang tamu, dilihatnya Maya tertidur dengan kepala bersandar di kursi.
Adji merapikan laptop di meja, kemudian ia masukkan ke tas Maya. Menatap wajah cantik di sebelahnya dengan dada berdebar-debar. Ia ikut duduk bersandar.
"Katanya mau nolongin, eh malah ditinggal tidur," bisik Adji di telinga Maya.
Maya menggeliat, dan terkejut saat mendapati Adji sudah rapi dan duduk di sebelahnya.
Maya mengendus.
"Wangi, Dji."
"Iya dong."
Maya menjatuhkan kepalanya ke bahu kiri Adji. Tangannya merangkul lengan bocah itu.
"Mbak, udah siang. Ayo. Emang Mbak Maya nggak kerja?" tanya Adji gugup.
"Sebentar kenapa sih, Dji. Bentar aja. Gue nyaman banget ini."
"Yeh, Mbak. Udah ngebet banget kayanya ya?" Adji kembali meledek.
Maya mencubit pinggang bocah itu.
"Makanya jangan ngeledek terus. Loe bisa bawa mobil?"
Adji mengernyit, lalu menggeleng.
"Berat, Mbak."
"Emang digotong?"
"Ya saya nggak bisa, bisanya naik sendal. Hehehe."
"Ya udah, yuk."
***
Adji duduk di sebelah Maya yang sibuk di belakang kemudi. Perasaannya tak karuan, setelah sekian lama ia tak pernah lagi pergi jauh, apalagi harus ke kota.
Jalanan kota pagi itu begitu ramai, antrian kendaraan memenuhi jalan menunggu lampu hijau. Sesekali cowok itu melirik ke arah wanita di sebelahnya. Tak menyangka kalau dirinya sudah membuat si wanita itu rela berkorban meluangkan waktu dan tenaga untuknya yang hanya seorang pemulung. Ia menjadi takut kalau tidak bisa membahagiakannya.
"Coba alamatnya mana, Dji!" Maya meminta alamat toko kue yang dimaksud.
Adji menepuk keningnya.
"Astaghfirullah, Mbak!" serunya lirih.
"Kenapa?"
"Kartu namanya ketinggalan." Adji menatap Maya, ada raut kecewa di wajahnya.
Maya mendengkus. "Ya udah, nanti gue tanyain bos gue deh."
"Jadi ke kantor Mbak dulu nih?"
"Ya iyalah, salah sendiri ketinggalan."
"Ya maaf, Mbak."
"Iya."
__ADS_1
Maya menginjak gas kembali saat lampu merah telah berganti menjadi hijau, menuju ke kantornya.
Lima belas menit kemudian, mobil Maya memasuki halaman kantor menuju parkiran, kebetulan sekali ia melihat bosnya juga baru datang dan baru saja turun dari mobilnya.
"Nah, itu bos gue, Pak Sean namanya, suaminya Adelia." Maya menunjuk ke arah yang dimaksud.
Mata Adji terbelalak, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia harus cepat pergi dari situ sebelum Sean melihatnya.
"Loe kenapa, Dji? Kok muka loe pucet," tanya Maya saat menyadari perubahan wajah pria di sebelahnya itu.
"Saya ... Saya pulang aja, Mbak." Adji serta turun dari mobil Maya dan berlari menjauh dari kantornya.
"Adji, tunggu!" Maya mengejar.
Sean yang melihat ikut mengejar Maya.
"Aduh!" Kaki Maya keseleo karena memakai sepatu dengan hak tinggi, tubuhnya hilang keseimbangan. Spontan Sean menangkap tubuh ramping itu.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Sean khawatir.
"Kaki saya, Pak."
"Kamu ngejar siapa?"
"Itu, teman saya. Dia mau kerja di tempat istri Bapak. Di toko kue, katanya sedang butuh karyawan, cuma lupa bawa alamatnya, saya juga nggak tahu, maksud saya mau tanya ke Bapak. Eh dia malah pergi, Pak." Maya menjelaskan sambil memijit kakinya yang sakit.
"Loh, emang siapa namanya?"
"Adji."
"Adji?" Sean mengernyit.
Maya hanya mengangguk. Sean membantu Maya jalan memasuki kantor.
***
.
Adji mengatur napasnya yang tersengal. Ia tak menyangka kalau Sean sang kakak adalah atasan Maya. Entah apa yang akan terjadi nanti kalau sampai kakaknya tahu ia masih hidup. Meskipun Adji begitu merindukan kakak dan sang ayah. Namun, perlakuan mereka dulu membuatnya khawatir.
Dunia memang begitu sempit, susah payah ia menghindar, tetap takdir mempertemukannya kembali pada keluarga yang pernah menyakitinya. Apalagi kini Sean sudah terlihat sukses, dan ayahnya pasti bangga akan hal itu.
Sean dan ayahnya mungkin tak akan mengakui Adji lagi sebagai anggota keluarga mereka, tapi dendam mungkin saja masih ada di hati mereka karena beranggapan kalau dirinya telah berkhianat.
Adji duduk di atas trotoar, menatap nanar ke arah jalanan. Kehidupan yang ia jalani sudah aman dengan hanya menjadi seorang pemulung. Namun, apakah pertemuannya dengan Maya akan membuat hidupnya kembali terancam?
Maya mungkin akan marah padanya karena sudah melarikan diri. Tapi, kalau ia masih tetap di sana, dan bertemu dengan Sean. Entah apa yang akan terjadi. Perkelahian yang akan mempermalukan kakaknya juga Maya.
Ia menghela napas pelan.
"Ternyata loe di sini!" Sebuah suara hampir membuatnya jantungan.
Suara itu, suara yang dikenalnya. Sean.
Adji menengadahkan kepala, pria bertubuh tinggi dan berbadan proposional, menatap tajam. Ia bangkit dan hendak berlari, namun tangan kekar itu menariknya.
"Mau ke mana?" tanyanya menyeringai.
"Lepasin, Kak!" Adji memberontak.
"Gue yakin sih, kalau loe masih hidup. Akhirnya kita ketemu lagi adikku yang manis." Sean mengusap dagu Adji.
"Lepasin!"
"Enggak! Gue bakal bawa loe ke bokap. Biar loe tahu rasa!"
"Enggak! Lepasin, Kak."
Sean tak menghiraukan jeritan sang adik. Tangan kekarnya tetap menarik Adji membawanya masuk ke dalam mobil. Adji berusaha melarikan diri, namun ia tak mampu. Karena Sean mengancam keselamatan Maya.
Terpaksa Adji mengikuti perintah Sean yang kini tengah membawanya pergi jauh, pergi ke rumah yang hampir membuatnya kehilangan nyawa. Apa yang akan dilakukan oleh Sean dan sang ayah. Adji sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Ujung matanya mulai basah. Mungkin ini memang sudah jalanNya.
****
.
Bersambung.
Vote dan komennya yuaaaa
__ADS_1
Makasih 😘😘😘😘