
💗 Madji 💗
💗💗💗
Jam di dinding sudah menunjuk ke angka empat. Maya mengerjap, saat ia hendak beringsut dari ranjang. Sesuatu melingkar di pinggangnya. Tangan sang suami erat memeluknya dari belakang, terdengar pelan helaan napasnya tepat di balik punggung.
Adji menggeliat, bukan terbangun. Ia justru menarik tubuh sang istri ke dekapannya. Dan mendusel kepalanya di punggung Maya.
Maya mengusap tangan suaminya lembut.
"Sayang, bangun. Udah mau subuh. Belum mandi," ucap Maya lirih.
"Hem, sebentar lagi."
"Ish, tumben kamu kaya gini?"
"Eum, lagi pewe."
Maya tersenyum kecil. Tak biasanya suaminya jadi manja seperti itu. Biasanya dia paling rajin, bangun pagi. Mandi, lalu masak nasi dan dirinya yang masak sayur untuk sarapan.
Adji menciumi bahu istrinya yang polos, sisa pergumulan semalam masih ada. Mereka melakukannya semalaman. Itu membuat tubuhnya terasa lemas.
Maya membalik tubuhnya, kini mereka saling berhadapan. Ia mengusap-ngusap wajah sang suami.
"Ayo, bangun!" ucap Maya lirih.
Adji mengerjap. Lalu dikecupnya bibir ranum di hadapannya itu. "Pagi, sayang," ujarnya lirih.
"Bangun, yuk! Mandi."
"Mandi bareng."
"Semalam masih kurang?"
Adji hanya tersenyum kecil. Ia tak pernah merasakan tubuhnya selelah itu. Atau mungkin karena pikirannya sekarang bukan lagi masalah oli, botol bekas, atau mesin. Melainkan berkas kantor dan laporan keuangan lainnya.
Maya menarik tangan suaminya hingga terduduk. Ia meraih pakaiannya yang berserak, lalu mengambil handuk. Melilitkannya ke tubuh dan melangkah keluar kamar.
Adji masih mengucek kedua matanya, ia sadar kalau tubuhnya masih bertelanjang dada. Hanya memakai boxer tanpa daleman. Dan itu membuatnya terasa ingin buang air kecil. Ia berlari ke kamar mandi menyusul sang istri.
💗💗💗
Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Maya sudah menyiapkan sarapan, juga bekal untuk makan siang mereka. Sementara Adji masih berkutat di kamar mandi. Mencuci pakaian kemarin.
Mereka kali ini berbagi tugas. Sang istri menyiapkan makanan, sementara sang suami mencuci. Setelah semuanya siap di meja, Maya kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian kerja. Baru setelah itu mengajak suaminya sarapan.
Adji sudah mulai menjemur pakaian. Setelah itu barulah ia mandi lagi, karena tubuhnya basah. Sepagi ini ia sudah dua kali mandi. Beruntung air yang dipakai masih air sumur. Bukan pam, bisa boros kalau tiap hari mereka habiskan untuk mandi saja. Belum kebutuhan lainnya.
Selesai mandi, Adji pun berganti pakaian di kamar. Maya sudah siap dengan pakaian kerjanya. Ia menoleh ke arah sang suami yang sedang berganti pakaian itu. Tanpa malu, Adji melepas handuk dan bugil di hadapan istri.
"Astaghfirullah, sayang. Nggak tau malu banget kamu," ujar Maya seraya menggelengkan kepala.
"Cuma di depan kamu aku kaya gini." Adji memakai satu persatu celana dan kaus.
"Iyalah, di depan yang lain awas aja kalau berani. Oh iya, ngomong-ngomong perut kamu kok makin maju ya?" Maya mendekat ke depan suaminya, memencet perut yang berlipat itu pelan sambil tersenyum.
Adji berdecak, ia mengambil celana panjangnya. "Gara-gara kamu!"
"Hahaha … jangan-jangan kamu hamil? Lihat tuh pipi kamu juga makin gembul." Kini tangan Maya menjawil gemas pipi sang suami.
"Udah deh, ngeledeknya."
"Kata orang, kalau suaminya gemuk. Berarti susunya cocok," ujar Maya lirih dan melangkah keluar kamar.
Adji mengekor sambil memakai kemeja. "Aku nggak gemuk, masih ideal kali."
"Iya, belum gemuk. Biasanya kalau laku-laku udah punya istri pasti perutnya buncit."
Maya menyendokkan nasi ke piring, mengambil telur dadar dan tumia buncis untuk sang suami. Ia lalu mengambil pula untuk dirinya sendiri.
Adji mengambil minum di meja. Lalu piring yang sudah disiapkan istrinya. "Gimana nggak buncit, sari-sari di dalam tubuh laki-lakimu ini kan sering diambil. Jadi butuh banyak asupan."
Maya terkekeh, "Sari-sari? Bisa aja kamu? Emang nutrsari?"
Adji menatap wajah istrinya sekilas, senyuman Maya membuat ia semakin bersemangat. Ia semakin hari semakin menyayangi wanita di hadapannya itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu Setia dan melindungi Maya.
"Kamu ngeliatin aku terus, kan aku jadi malu." Maya merasa diperhatikan, ia lalu mengambil minum dan menepuk lutut suaminya.
"Kamu cantik, May."
__ADS_1
"Dari dulu kan? Baru sadar?"
"Makin cantik, kalau nanti kita punya anak perempuan, pasti cantik kaya ibunya."
"Emang kamu udah mau punya anak?" tanya Maya dengan wajah tersipu.
"Emang kamu pikir, hampir tiap malam aku ngasih kamu benih, cuma buat senang-senang?" Adji melirik intens.
"Iya, sayang iya. Trus buat apa dong?"
"Ya kalo nggak dikeluarin, kena tanggung kaya readers kemarin. Hehehe."
"Hahaha …. Iya, dari pada jadi anak tuyul kan dibuang di kamar mandi?"
"Tau-tauan kamu?"
Maya menunduk malu, itu yang sering ia dengar dulu waktu zaman kuliah. Banyak teman laki-lakinya yang sering cerita tentang hasrat mereka yang belum bisa terpenuhi oleh wanita halal alias istri. Mereka tahu, kalau zina itu dosa. Sebenarnya bukan dosanya yang mereka takuti, melainkan pertanggung jawaban jika seandainya pasangan mereka sampai hamil di luar nikah.
Belum lagi masalah ekonomi, di mana mereka masih kuliah, belum bekerja. Ditambah kena marah orang tua, dan yang lebih parah adalah sanksi sosial. Akan banyak orang yang nyinyir dengan wanita yang hamil di luar nikah meskipun banyak kejadian. Bahkan dialami oleh anak sekolah sekalipun.
Mereka akhirnya menyelesaikan sarapan. Dan bersiap untuk berangkat kerja.
💗💗💗
Maya dan Adji tiba di kantor pukul setengah delapan. Mereka berdua naik ojek online. Sebenarnya Hardi menawarkan mobil untuk bisa digunakan mereka berangkat kerja. Namun, Adji menolak dengan alasan tidak ada tempat untuk parkir. Mana mungkin mobil Bagus itu diparkir sembarangan. Apalagi jauh dari kediaman mereka. Bisa-bisa spionnya diambil orang atau bahkan mobilnya yang dibawa kabur.
Maya duduk di kursinya, dan sang suami masuk ke dalam ruangannya. Di sana Reza sudah duduk di tempatnya seraya menyesap kopi hitam.
"Assalamualaikum," sapa Adji.
"Waalaikum salam."
"Mas, kemarin ada yang ketinggalan."
Reza mengernyit, ia mengingat-ingat benda apa yang tertinggal. Perasaan ia tak kehilangan apa pun.
Adji mendekati Reza, ia merogoh saku celananya. Dan memberikan flashdisk yang ia temukan kemarin.
Reza melotot, dan menelan saliva. Lalu meraih dengan kasar benda itu dari tangan Adji. "Loe dapet ini dari mana?" tanyanya gugup.
"Jatuh di bawah meja."
Adji mengangguk, sebenarnya ia bisa saja bilang nggak dibuka. Tapi, bukankah itu namanya berbohong. Memang salah kalau dia ingin tahu isinya.
Reza bangkit dari duduknya, menyondongkan tubuh ke depan, mengarah pada Adji.
"Loe buka sama istri loe?" tanyanya berbisik.
Adji mengangguk lagi. Reza menepuk keningnya lirih. "Mati, gue. Pasti Maya mikir yang enggak-enggak nih tentang gue," gumamnya.
"Kenapa, Mas?"
"Nggak apa-apa. Awas loe ya, jangan bilang siapa-siapa kalau gue punya ini."
"Iya, Mas."
Reza membuang muka kesal. Satu rahasianya sudah diketahui oleh Adji bisa saja rahasia dia lainnya sebentar lagi akan terbongkar. Ia pun mulai berjaga-jaga.
Adji kembali ke mejanya. Ia juga masih bingung apa yang harus ia kerjakan, sementara tak ada perintah atau berkas yang harus ia pelajari.
Tok tok tok.
Tiba-tiba sebuah ketukan di pintu mengejutkannya.
"Masuk!" teriak Reza.
Pintu terbuka, seorang wanita dengan memakai pakaian kerja berwarna cream mendekati Reza.
"Maaf, Pak. Tamunya sudah datang."
"Oh, iya. Suruh masuk, biar Pak Adji yang interview."
Wanita berambut panjang itu lalu keluar, dan kemudian seorang wanita berambut panjang lainnya masuk. Kali ini pakaiannya jauh lebih seksi. Dengan atasan kemeja kerja berwarna biru muda. Dan rok span di atas lutut berwarna hitam. Sepatu hak tinggi dan tas putih di tangannya. Ia memegang amplop coklat dan berjalan mendekati Adji.
"Eum, maaf." Adji melirik ke arah Reza. Mencoba mencari tahu siapa wanita di hadapannya itu.
"Itu, gantiin si Sari. Loe interview aja dulu," ujar Reza, menjawab kebingungan Adji.
"Silakan duduk, Mbak!" Adji mempersilakan wanita di depannya itu duduk.
__ADS_1
Aroma parfum yang menyengat membuat hidung Adji terasa gatal. Belum lagi kedipan manja yang dilayangkan oleh wanita di hadapannya membuat risih.
Adji membaca sekilas review identitas si pelamar kerja. Semua seusai dengan kriteria yang dicari. Pintar, enerjik, supel, dan berpenampilan menarik. Wanita di depannya pun pintar berbahasa inggris. Dilihat dari angka toefl yang tertera di CV nya.
"Namanya, Rania Isabella?" tanya Adji basa-basi.
"Iya, Bapak bisa panggil saya Bella."
"Oh okey, untuk sementara Mbak Bella bisa bekerja di sini. Dengan kontrak awal tiga bulan. Kebetulan kami memang butuh seseorang pengganti Sari yang tiba-tiba kemarin mengajukan resign. Karena Bu Diah akan cuti melahirkan," ucap Adji.
Kemarin ia sempat diberitahu oleh Maya, kalau ada pelamar yang datang untuk menggantikan Sari. Suruh diterima, karena Bu Diah sedang butuh orang.
"Bapak serius? Saya diterima?" tanya wanita itu berbinar. Tanpa sengaja ia meraih tangan Adji dan mengusap-usapnya sebagai tanda terima kasih.
Adji menarik tangannya menjauh, dan tersenyum kecil. Jantungnya berdebar-debar. Ia takut kalau sampai Maya melihat, bisa gawat.
"Mari saya antar ke tempat Bu Diah." Adji bangkit dari duduknya.
Wanita itu pun ikut berdiri, dan melirik ke arah Reza dengan tersenyum miring. Dan mengerlingkan sebelah matanya tanda berhasil.
💗💗💗
Maya melihat suaminya yang baru saja keluar ruangan dengan seorang wanita cantik dan seksi. Bibirnya mengerucut, mereka berdua berjalan ke arah ruangan Bu Diah.
"Mon, lu liat deh. Itu cewek yang gantiin Sari?" tanya Maya seraya menepuk tangan sohibnya itu.
Seketika Monik menoleh. "Iya, kok kaya cabe."
Maya mengernyit dan menoleh ke arah wanita di sebelahnya itu. "Cabe?"
"Iya, cabe. Cabe-cabean. Dandanannya norce. Hati-hati tuh, ntar laki lu digaet lagi sama dia."
"Nggak lah. Gue percaya kok sama suami gue."
"Tapi gue nggak percaya sama itu perempuan, May."
Maya terdiam, hatinya pun berkata demikian. Terlebih suaminya itu kan polosnya keterlaluan. Dia juga pecinta embak-embak. Nggak menutup kemungkinan dia bakalan suka sama Mbak-mbak yang baru datang itu.
"Kan elu bengong!" Monik menepuk bahu sohibnya pelan.
"Awas aja kalo tuh perempuan keganjenan," celetuk Maya.
Tak lama kemudian, Adji keluar ruangan. Maya tersenyum melihat suaminya berjalan sendiri tanpa wanita tadi. Mata mereka bertemu. Adji mengulum senyum menatap wajah istrinya.
Tiba-tiba dari arah belakang, seorang wanita berjalan cepat. Dan.
Bugh!
Wanita itu jatuh menubruk tubuh Adji dari belakang, karena keseleo dengan sepatu heelsnya. Ia menoleh dan sontak tangan pria itu menangkap tubuh wanita yang nyaris jatuh ke lantai.
Wanita itu memegang bahu Adji untuk berpegangan. Maya yang melihat melotot tajam. Merasa sang istri marah, Adji melepaskan pegangannya dan alhasil Bella jatuh ke lantai.
"Ma-maaf," ujar Adji lirih.
Wanita itu berusaha bangunn sendiri. Beberapa karyawan yang melihat menertawakannya. Begitu juga dengan Maya dan Monik.
"Rasain lu, kegatelan sih," gumam Maya kesal.
Adji merasa tidak enak karena telah melepaskan Bella tadi. Namun, Bella yang terlanjur malu itu, kembali melangkah dengan kaki sebelah pincang. Ia berjalan ke ruangan Bu Diah.
Adji mendekati meja istrinya, ia menunduk dan mengecup pipi sang istri yang terlihat cemburu.
"Ciye …."
"Duh, so sweet banget sih kalian."
"Aduh, Pak. Mata saya ternoda."
"Hargailah yang zomblo ini, Pak Adji."
Suara riuh dari belakang menyoraki tingkah Adji. Sebenarnya ia pun malu bersikap demikian di kantor. Tapi, itu untuk pembuktian kalau perasaannya hanya untuk sang istri tercinta. Maya pun yang tadinya kesal, kini hatinya melunak. Justru wajahnya tengah memerah bagai tomat.
"Kamu tenang aja, ya. Di hati ini cuma ada kamu," ucap Adji lirih di telinga sang istri.
Setelah itu Adji mengusap kepala istrinya lembut, sebelum kembali ke ruangannya.
💗💗💗
Tbc
__ADS_1
Vote komennya yaaaa.