
💗Madji💗
Wanita yang berada dalam pelukan Adji terus menangis tanpa henti. Hingga baju bagian depan Adji, basah.
Adji meraih bahu wanita itu dan menarik mundur, agar tak terlalu lama memeluk dirinya. Ia hanya takut sang istri melihat dan menjadi salah paham.
"Ma-maaf, Pak," ujarnya lirih sambil mengusap air matanya.
"Kamu kenapa? Tiba-tiba datang, meluk saya dan nangis."
Wanita berambut panjang itu pun menunduk. Bibirnya bergetar saat hendak berbicara. Dadanya pun terasa sesak. Antara takut, malu juga ingin minta tolong pada atasannya itu.
"Ngomong, Bel. Kamu kenapa?"
"Sa-sa-saya, hamil, Pak," ucapnya.
"Apa!" Suara keras yang lebih bisa disebut bentakan itu terdengar dari arah jalanan.
Adji dan Bella menoleh dilihatnya Maya berjalan cepat ke arah mereka berdua. Meninggalkan motornya di tengah jalan. Tepatnya di ujung gang.
Plak!
Tamparan mendarat di wajah Bella. Maya murka melihat rekan kerjanya. Terlebih ia mendengar pengakuan dari wanita itu bahwa dirinya telah hamil. Maya menatap sang suami.
"May, kenapa kamu tampar dia? Ini nggak seperti yang kamu bayangkan." Adji berusaha menjelaskan.
"Bang, aku emang belum bisa kasih kamu keturunan. Tapi, bukan berarti kamu bisa mainin aku di belakang. Mencari wanita lain untuk mendapatkan anak." Maya menatap geram ke arah suaminya.
"Astaghfirullah, May. Istighfar kamu. Mana mungkin aku melakukan itu. Dosa besar, May." Adji terus berusaha menjelaskan.
"Halah. Dosa dosa dosa. Kalau kamu udah tau enaknya juga, lupa itu dosa. Coba aku tanya. Siapa yang hamilin kamu? Jawab!" bentak Maya pada Bella.
Bella hanya menunduk, ia ketakutan. Ia hanya butuh seseorang untuk menguatkannya. Bibirnya terasa kelu, saat Maya bertanya siapa yang menghamilinya. Ia ingin bicara jujur, tapi ia juga takut.
"Tuh, nggak bisa jawab kan. Kalian benar-benar buat aku kecewa. Terutama kamu, Bang." Maya beranjak dari tempatnya berdiri.
Maya menuju ke kamar, mengemasi seluruh pakaiannya. Memasukannya ke dalan koper. Adji mengekor, berusaha untuk menahan sang istri.
"Kamu mau ke mana, Sayang? Aku bisa jelasin. Aku nggak berbuat apa-apa."
"Nggak usah panggil aku sayang lagi, Bang. Kamu urus aja dia, dan calon anak kamu itu."
"Astaghfirullah, May. Kamu nggak percaya sama aku?" Adji meremas rambutnya.
Maya berdiri tepat di depan suaminya. "Aku pergi, nggak usah jemput aku. Aku muak sama kamu!" ucapnya geram. Lalu menarik koper keluar kamar.
Adji terus mengejar, berusaha meraih tangan sang istri. Namun, cepat Maya menepisnya.
"Puas kamu! Merusak rumah tangga orang lain. Lihat saja besok. Kamu akan saya pecat! Nama kamu akan saya blacklist. Saya pastikan perusahaan lain nggak akan bisa lagi nerima kamu jadi karyawannya. Dasar pelakor!" ucap Maya tepat di depan Bella yang masih menunduk.
"May!"
Maya berjalan ke arah jalanan. Adji yang hendak mengejarnya itu berhenti. Karena tangan Bella menariknya kembali.
Adji serba salah, niatnya ingin membantu Bella. Namun, justru ia yang terkena masalah sekarang. Maya sudah pergi dan pasti dia pulang ke rumah orang tuanya. Ia merasa sudah gagal menjadi suami. Padahal besok adalah ulang tahunnya yang ke dua puluh.
"Maafkan saya, Pak. Saya butuh bantuan Bapak." Bella berlutut memohon di depan kaki Adji.
Adji meraup wajahnya dengan kasar. "Sebenarnya siapa yang hamilin kamu, Bel?"
"Jawab, Bel!"
"Pak Reza, Pak."
"Apa? Trus kenapa tadi kamu diam saja waktu istri saya tanya?"
"Saya takut, Pak."
Adji duduk di kursi teras. Sementara Bella bangkit berdiri. Ia ikut duduk di sebelah bosnya itu.
"Trus maksud kamu ke sini apa?" tanya Adji dengan nada lirih.
__ADS_1
Adji tak tahu lagi harus bagaimana. Sang istri pergi dari rumah hanya karena salah paham. Mendengarkan ucapan yang hanya sepenggal saja. Tanpa mengetahui cerita sebenarnya.
"Saya ingin minta bantuan Bapak, untuk menemui Pak Reza. Karena saya takut, Pak. Pak Reza nggak mengakui kalau anak ini adalah hasil perbuatannya waktu itu."
"Kalian melakukannya tanpa sadar?" tanya Adji menyelidik.
Bella mengangguk.
"Kok bisa?"
Bella menceritakan kejadian yang menimpanya. Tepatnya sebulan yang lalu, saat ada meeting dari kantor di sebuah hotel. Ketika seluruh klien dan atasan pulang termasuk Adji dan Maya.
Reza mengajak Bella dan temannya yang lain untuk karaokean hingga larut. Awalnya Bella biasa saja. Karena yang ikut juga teman-teman kantornya. Hingga larut malam. Reza memesan minuman beralkohol hingga mabuk dan tak sadarkan diri.
Bella kebingungan, apalagi saat itu teman-temannya tak ada yang mau membantu untuk mengantar pulang Reza. Dengan dalih sudah malam. Akhirnya Bella berinisiatif untuk membawa atasannya itu ke kost. Karena ia tak tahu di mana rumah bosnya itu. Dengan harapan, saat besok ia terbangun dan menyadari ada di kost, hati Reza akan terbuka untuknya.
Harapan itu tinggal harapan. Reza justru memperkosanya dalam keadaan mabuk berat. Bella tak kuasa melawan. Tubuhnya yang kurus itu tak bertenaga untuk melumpuhkan atasannya. Hingga akhirnya kejadian itu terjadi.
Bella pikir, semua akan baik-baik saja. Ia pun tak pernah menyangka. Kalau yang dilakukan bosnya untuk pertama kali itu langsung membuahkan hasil. Dan itu membuatnya hampir ingin bunuh diri.
Kemarin ia sempat menemui Reza untuk meminta pertanggung jawaban. Sayangnya, reaksi pria itu justru membuat Bella kesal. Ia menganggap dirinya murahan, mampu melakukan itu dengan pria mana pun. Reza juga tak yakin kalau anak dalam kandungan Bella adalah anaknya. Itu sebabnya ia pikir hanya Adji lah yang bisa membantunya.
Bella tak masalah kalau dirinya dipecat. Ia hanya butuh pengakuan oleh Reza. Bagaimana pun caranya. Ia pun janji, setelah masalahnya dengan Reza selesai, ia akan membantu Adji untuk menjelaskan semuanya pada Maya, bersama dengan Reza. Karena kalau sekarang pun ia jelaskan. Maya tetap kukuh dan tak mungkin percaya begitu saja, sementara yang berbuat belum mengakuinya.
"Begitu ceritanya, Pak. Saya nggak tahu rumah Pak Reza. Saya juga takut kalau sampai orang tua Pak Reza menemui saya. Saya juga takut kalau orang tua saya tahu." Bella kembali terisak.
"Ya udah, kita temui Reza sekarang. Saya tahu tempat dia di mana."
Adji bangkit dari duduknya kemudian melangkah ke dalam kamar. Berganti pakaian. Sebelum pergi, ia mengambil motor yang ditinggalkan istrinya di jalanan. Ia bawa masuk beserta belanjaan yang menggantung. Hatinya sedih, tapi demi kemanusiaan. Ia akan membantu Bella terlebih dahulu. Bukan tak sayang pada sang istri. Karena menemui istri dalam keadaan marah, itu sama saja menyulutkan kembali api yang hampir padam.
💗💗💗
Brak!
Maya masuk rumah sang ayah dengan membanting pintu dan melangkah cepat menuju kamarnya di lantai dua.
Sherli yang kebetulan sedang duduk di ruang keluarga, menatap heran dan kaget. Melihat sang kakak pulang membawa koper besar sendirian tanpa suami. Ia bisa menebak kalau kakaknya sedang ada masalah.
Sampai detik ini ia tak pernah menyangka. Kalau dalam rumah tangganya ternyata ada orang ketiga. Yang sedang berusaha menghancurkan pondasi yang telah dibangun sedemikian rupa.
Ia pikir, hanya masalah ekonomi saja. Ternyata pernikahan itu tak jauh pula adanya orang ketiga. Siapa kira, orang yang ia anggap seperti adiknya sendiri itu. Menusuknya dari belakang, merebut bahkan sampai berani menggoda suaminya.
Maya berbaring tengkurap. Menyembunyikan wajahnya yang merah dan basah di balik bantal. Matanya kian bengkak dan sembab. Air matanya tak berhenti menetes. Entah sampai kapan.
Bayangan akan sang suami yang begitu perhatian dan menyayanginya. Sabar, pengertian dan sholeh. Sirna karena perempuan bernama Bella itu.
"Pantas kemarin kamu sok romantis, Dji. Ternyata kamu …," gumamnya di sela isak tangis.
"Aku benci sama kamu, Dji! Aku benci!"
Maya memukul-mukul guling dengan kesal, meremasnya lalu membuangnya ke sembarang arah. Ia mengacak rambutnya sendiri dan berteriak sekencang-kencangnya.
💗💗💗
Di ruang keluarga, Sherli melihat sang ayah yang baru saja keluar kamar. Ia langsung menghampiri.
"Pa, Kak Maya pulang. Bawa koper, sendirian. Trus langsung masuk kamar. Berantem kayanya sama Mas Adji." Sherli mengadukan apa yang dilihatnya tadi.
Hardi menoleh ke atas, kamar sang Putri. Ia tersenyum kecil. Paham sekali. Dulu, waktu dirinya sedang bermasalah dengan sang istri, juga sama. Istrinya pulang ke rumah orang tuanya membawa koper. Lalu ia jemput kembali, dan akan berulang setiap kali terjadi pertengkaran.
Rumah tangga itu memang tak selamanya mulus seperti wajah glowingnya syahrini. Ada kalanya kerikil kecil menghampiri. Itu adalah ujian suami istri bagaimana caranya memahami satu sama lain.
"Pa, malah bengong. Samperin gih. Aku takut kenapa-napa. Soalnya tadi aku dengar Kak Maya teriak-teriak."
"Udah biarin aja. Biar tenang dulu."
"Emang kenapa sih, Pa. Nanti kalau Kak Maya bunuh diri gimana?"
"Ngaco kamu. Makanya jangan kebanyakan nonton sinetron. Kaya nggak punya iman aja bunuh diri."
"Ya mana tahu sih, Pa."
__ADS_1
"Ada apaan, Pa?" tanya Denis yang tiba-tiba datang.
"Itu, Mas ----"
Belum sempat Sherli melanjutkan pembicaraan, Hardi dengan cepat menutup mulut sang anak bungsunya itu.
Hardi takut, kalau masalah Maya diketahui oleh Denis. Padahal belum tahu pokok permasalahannya apa. Bisa saja nanti anak sulungnya itu akan melabrak menantunya atau bahkan memukulinya. Karena anak lelakinya itu sifatnya gampang emosi.
"Nggak apa-apa. Kamu dari mana, Den? Nggak malam mingguan?" Hardi melepas tangannya dari mulut Sherli. Ia lalu duduk dan mengambil majalah dari bawah meja.
Denis merebahkan tubuhnya di sofa. Menghela napas pelan. Menatap ke langit-langit.
"Tadi aku nggak sengaja ketemu Arin, Pa. Papa masih inget kan?"
"Iya, kenapa? Kamu masih suka sama dia?"
"Iya, tapi, dianya gitu nggak jelas."
"Makanya, Mas. Jadi cowok kalem dikit, biar kelihatan cool. Nggak pecilcilan kaya Mas Denis. Mana mulutnya lemes kaya perempuan," celetuk Sherli membuat kakaknya melotot.
"Ye, anak kecil tahu apa loe sama cowok."
"Ye, Mas. Cewek itu suka sama cowok yang cool, romatis, ganteng. Mas Denis mah nggak masuk kriteria."
"Eh, kata siapa? Gue ganteng begini nggak masuk kriteria. Emang sih gue nggak cool. Gue kan supel orangnya. Kalau romantis itu ya tergantung sikon lah." Denis menyombongkan dirinya sendiri.
"Halah, supel tapi nggak punya cewek. Itu namanya jones, bukan supel!" Sherli langsung beranjak dari tempat duduknya, sebelum sang kakak melemparnya dengan bantal sofa.
"Sialan, loe! Kadang-kadang kalo ngomong suka bener."
Denis akhirnya bangkit dari duduk menuju ke kamarnya di lantai dua. Ia yang baru saja pulang main futsal itu terkejut, saat melewati kamar sang adik, Maya. Pintu kamarnya terbuka sedikit.
"Tumben nih anak pulang," gumam Denis berusaha melongok ke dalam dengan mendorong pintu kamar Maya pelan.
Dilihatnya sang adik tengah berbaring memeluk guling. Tidur lelap dengan lampu yang masih belum menyala. Sudah hampir magrib, tepatnya pukul setengah enam sore. Ingin rasanya Denis membangunkan adiknya itu. Tapi ia takut, kalau sampai Maya kaget, melihatnya di dalam kamar. Bisa jadi, guling melayang ke kepalanya. Seperti yang sudah-sudah. Maya tidak suka ruang privasinya dimasuki oleh orang lain.
Denis membiarkan adiknya tidur, lalu merapatkan pintu kamarnya kembali. Ia pun masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.
💗💗💗
Maya terbangun mendengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya. Ia duduk dan mengucek matanya. Menggeliat lalu beringsut turun dari ranjang. Berjalan ke arah saklar lampu.
Menyalakan lampu, dan melihat jam di dinding sudah pukul setengah tujuh malam.
"Pantas gelap, dah malam," gumamnha seraya berjalan membuka pintu.
Dilihatnya sang adik berdiri di hadapannya.
"Kakak nggak lapar? Ditunggu makan malam sama Papa."
"Suruh duluan aja, Kakak mau mandi dulu."
"Oh, ya udah."
Sherli akhirnya beranjak dari hadapan sang kakak. Maya kembali masuk kamar. Saat hendak mengambil handuk, ponselnya berbunyi. Pertanda panggilan masuk.
Maya dengan cepat meraihnya, ia berharap sang suami menelpon dan menngajaknya pulang. Meskipun ia tadi bicara jangan dijemput, tetap saja hatinya ingin dijemput pulang.
Maya meraih ponsel dan melihat nama Riris di layar. Keningnya bertaut.
"Tumben nih anak nelpon," gumam Maya.
"Ya hallo, Ris. Tumben loe nelpon gue."
"May, loe di mana? Gue liat laki loe jalan sama cewek. Udah gitu dia dikeroyok. Nggak tau sama siapa." Suara Riris terdengar cemas.
Pegangan akan ponsel di tangannya melemah. Ponsel itu terjatuh di kasur. Maya terduduk lemah. Dadanya sesak. Dari seberang telepon sang sohib memanggil-manggil namanya lalu seketika panggilan telepon berakhir.
💗💗💗
Tbc
__ADS_1
Vote dan komennya ya gaesss.