Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
43


__ADS_3

💗Madji💗


💕💕💕


Malam harinya. Di kediaman rumah Hardi.


Selepas makan malam bersama, Hardi mengajak anak dan menantunya bicara di ruang keluarga. Saat itu Denis tak terlihat, karena kebetulan sedang pergi ke Bogor acara kantor.


Hardi duduk di sofa panjang,  bagian tengah. Maya di ujung sofa sebelah kanannya,  sementara Adji di sofa lain samping mertuanya itu.


"Bagaimana kerjaan kalian?" tanya Hardi membuka percakapan.


"Alhamdulillah, baik, Pa," jawab Adji.


"May, kamu bantu suami kamu kan di kantor?"


Hardi menatap putrinya, Maya hanya meringis.


"Kamu gimana sih? Bukannya diajarin."


"Ya, maaf, Pa. Kan ada Reza. Hehehe."


"Kalau begini, Papa kan jadi bingung juga mau mindahin si Reza."


Maya merengut, Adji hanya menunduk.


Hardi sebenarnya ingin kalau Maya juga ikut membantu Adji dalam pekerjaan. Tapi, sepertinya sang putri justru sibuk sendiri. Ia hanya takut jika saat Reza pindah nanti, Adji belum paham sepenuhnya tentang kantor yang ia pegang itu.


"Okey, Dji. Dalam dua hari ini. Kamu sudah melakukan apa aja?" tanya Hardi menatap menantunya itu.


"Eum, ----" Adji pun menjelaskan.


Kalau hari pertama ia masuk sebagai manager di kantor sang mertua. Ia disibukkan dengan karyawan baru. Pencarian karyawan pengganti untuk Sari. Lalu Reza juga memberitahukan tentang beberapa laporan yang masuk untuk bulan ini. Berhubung saat dirinya masuk adalah akhir bulan. Ia harus memeriksa seluruhnya.


Adji pun baru tahu, kalau ternyata audit yang harusnya dikerjakan dan diperiksa tiap hari. Oleh Reza tak dikerjakan, sampai menumpuk. Sebulan sekali ia baru mengerjakan laporannya. Dan Adji lah yang kena untuk menyelesaikan semuanya.


Untuk hari ini, ia belajar pembukuan. Mengoreksi setiap laporan. Dan membaca beberapa surat kontrak yang akan disepakati untuk kerjasama.


"Kayanya Papa butuh seseorang untuk bisa membuat surat perizinan. Karena saking banyaknya lulusan ekonomi dan akuntansi di kantor. Papa lupa butuh sarjana hukum juga untuk bidang personalia. Kamu Papa kuliahkan di fakultas hukum ya." Hardi menatap menantunya penuh harap.


"Eum, saya terserah Papa saja."


"Okey, Papa tadi sempat minta brosur ke kampus Papa dulu. Ini bisa kamu baca-baca. Oh iya sebentar." Hardi memberikan selembaran yang ia bilang tadi. Lalu pergi ke kamarnya mengambil ponsel.


Ia pun kembali, dan memperlihatkan beberapa foto yang sempat ia ambil.


"Papa juga abis dari sana, tanya-tanya. Besok kalian ke sana ya. May, temani suami kamu daftar kuliah ya." Hardi menepuk bahu anaknya pelan.


"Iya, Pa."


"Oh iya, Dji. Kapan Papa bisa gendong cucu nih?" tanya Hardi tiba-tiba.


Maya dan Adji saling pandang. Maya menunduk malu. Adji pun begitu.


"Eum, Papa doakan saja yang terbaik buat kita, Pa. Ya kalau saya sih usaha terus, Pa. Cuma mungkin Allah belum mempercayai kita." Adji tersenyum kecil.


"Iya, pasti Papa doain kalian. Kalian kan masih muda. Masih bersemangat, tapi ya jangan lama-lama, ya, Dji. Takut Papa keburu tua, nggak bisa main sama cucu nanti."


"Hehehe .…"


Mereka pun tertawa bersama.


"Kalian nginep?" tanya Hardi lagi.

__ADS_1


"Enggak, Pa. Kita nggak bawa baju ganti."


"Ada baju Denis."


"Lain kali saja, Pa. Kayanya kita harus pulang. Ini sudah jam setengah sembilan."


"Naik apa? Bawa aja tuh mobil, May. Papa besok biar sama Denis."


Adji memberi kode pada sang istri untuk tidak menerima tawaran Hardi.


"Enggak ah, Pa. Naik ojol aja. Kita pulang, ya, Pa. Assalamualaikum."


Maya dan Adji pun pamit pulang. Mereka menyalami Hardi lalu keluar rumah setelah Maya memesan ojol untuk pulang.


💕💕💕


Sesampainya di rumah. Mereka membersihkan diri, mandi dan sholat isya berjamaah.


Maya merapikan mukena kembali ke dalam lemari. Sementara sang suami masih mengaji. Karena dirinya sakit perut ia pun berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya.


Selesai mengaji, Adji menyimpan mushaf di atas lemari. Melipat sarung dan sajadah, kemudian ia simpan di dalam lemari. Kini dirinya hanya mengenakan celana pendek dengan kaus singlet berwarna putih dan duduk di tepi ranjang.


Adji membuka ponselnya. Ada beberapa pesan WA tertera di layar. Kebanyakn belum ia save nomor pemiliknya. Namun, ia tahu siapa saja


Karena terlihat dari foto profil sang pemilik nomor tersebut.


Ia menyimpan satu persatu nama-nama di dalam ponsel miliknya. Karena sedari pertama ponsel itu ia pegang, hanya nama sang istri yang ia simpan dengan tulisan "Mayang" sebenarnya dulu Maya menulis nama itu dengan tulisan "Cintaku." Adji menggantinya.


Ada pesan masuk dari seorang wanita teman sekantornya.


Monik.


Pak Adji. Ini nomor saya. Di save ya. Monik.


Pak Adji. Maya nya ada? Saya telpon dari tadi nggak diangkat?


Bella.


Malam, Pak. Bapak udah makan belum? Bapak lagi ngapain?


Dua jam yang lalu.


Adji tersenyum kecil hendak membalas pesan tersebut. Namun saat jemarinya hendak merangkai kata. Tiba-tiba dari sebelah kiri, terdengar suara orang berdehem. Itu membuatnya hampir melempar ponsel ke lantai.


"Ehem, ehem. Ada gebetan baru nih," sindir Maya.


Adji menoleh, "Gebetan apa sih, Sayang?" tanya Adji menatap sang istri yang naik ke atas tempat tidur dengan cemberut.


"Itu, yang lagi sok perhatian."


"Siapa?"


"Ya siapa lagi yang barusan kamu wa an."


Adji tersenyum kecil.


"Oh, Mbak Bella? Kamu cemburu ya?"


"Enggak, ngapain cemburu." Maya tidur menyamping membelakangi suaminya.


"Yakin nggak cemburu?" goda Adji.


Tak ada sahutan dari mulut istrinya itu. Adji meletakkan ponselnya di atas lemari. Ia tak jadi membalas pesan dari Bella. Ia jutru merangkak naik mendekati istrinya.

__ADS_1


Maya memeluk erat guling. Ia berusaha memejamkan mata. Hatinya seakan terbakar rasa cemburu. Melihat sang suami hendak membalas pesan wa dari Bella.  Ia tak tahu pesan itu sudah dikirim atau belum, yang pasti ia tidak suka kalau suaminya menanggapi pesan dari perempuan lain.


Adji mengusap bahu istrinya lembut, lalu turun ke pinggang ramping itu dan mendarat di bokong. Ia mengusap-usapnya di bagian itu.


"Sayang, jangan ngambek dong. Kamu nggak ingat pesan Papa kamu tadi apa?" Adji berusaha membujuk sang istri.


Maya pura-pura tidak dengar.


"Masa gitu aja marah. Katanya nggak cemburu. Sayang, madep sini dong. Aku kangen tau."


Adji berusaha memutar tubuh sang istri agar menghadap ke arahnya. Maya memutar tubuhnya dengan terpaksa, seraya memejamkan mata.


"Dih, pura-pura bobok." Adji menarik hidung istrinya pelan.


"Kalau bobok begini, dipaksa begituan. Kena pasal pemerkosaan terhadap istri nggak ya?" tanya Adji meledek agar sang istri mau membuka mata.


Maya masih diam, sebenarnya ia ingin tertawa. Ia tak menyangka kalau suaminya update dengan berita terkini tentang RUU-KUHP.


"Kalau kena pasal trus masuk penjara, mending selingkuh aja ya. Kan suka sama suka." Adji kembali duduk.


Pluk!


"Aduh!" pekiknya seraya memegang kepala.


Maya tengah memukulnya dari belakang dengan bantal.


"Kalau ngomong jangan sembarangan. Awas aja kalau selingkuh! Barang kamu aku potong kecil-kecil," omelnya.


"Aw." Adji nyengir seraya memegangi bagian tengah selangkangannya. Merasa ngilu dengan ucapan sang istri. Dia pikir bakso dipotong kecil-kecil.


"Ya udah, yuk!" Adji mengerlingkan sebelah matanya.


Maya kembali memeluk guling dan memejamkan mata. Adji menghela napas pelan.


"Tuh kan, minta diperkosa." Adji menggelitik telapak kaki sang istri.


"Geli, Bang," ucap Maya seraya menarik kakinya menjauh dari tangan sang suami.


"Ayolah, Dek. Abang pengen nih."


"Pengen apa, Bang?"


"Makan kamu, Dek."


Napas Adji kian memburu. Maya justru menarik diri.


"Kamu kenapa sih?"


"Perut aku sakit," ujar Maya mengusap perutnya.


"Kenapa? Kamu makan sambal kebanyakan sih tadi di rumah Papa."


"Bukan."


"Lah,  terus?"


"Aku lagi dapet." Maya meringis, memperlihatkan barisan giginya yang putih.


"Yah, puasa deh." Adji menjatuhkan diri di atas kasur dengan rasa menahan hasrat.


"Hehehe. Ya maap. Tapi kan masih bisa service pakai yang lain, Bang."


"Hem."

__ADS_1


💕💕💕


Tbc.


__ADS_2