Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
37


__ADS_3

πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Denis sudah bersiap menuju ke kantor sang adik. Sebagaimana pesan ayahnya untuk membawa pulang Maya, karena ingin bertemu. Ia melangkah ke arah parkiran. Membuka pintu mobil lalu masuk.


Setelah mesin mobil menyala ia mulai melajukan kendaraannya keluar basement. Baru saja melaju sepuluh meter, antrian panjang kendaraan sudah memenuhi jalanan.


Lampu merah yang berada di depan membuat kemacetan semakin parah. Kanan kirinya terdapatΒ  gedung bertingkat, di mana setiap kali jam pulang kantor tiba. Kendaraan dari dalam gedung keluar secara bergantian.


"Ah, sial! Macet banget lagi. Maya pasti ngomel nih kalo gue telat jemput!" rutuknya kesal seraya memukul stir mobil.


Ia meraih ponselnya, dan segera menelpon sang adik.


"Ya, May. Gue masih kejebak macet nih. Loe ke rumah sendiri bisa nggak?" tanya Denis.


"Ya udah, gue naik ojek online aja," jawab suara di seberang sana.


"Okey,Β  makasih adikku, Sayang. Loe emang pengertian banget deh. Bye. Gue tunggu di rumah ya." Denis menutup sambungan telepon. Ia lalu bernapas lega.


Jarak antara kantornya dengan kantor Maya bisa ditempuh satu jam lebih kalau tidak macet. Bagaimana kalau macet? Belum lagi dari kantor Maya ke rumah butuh waktu satu jam. Terlalu lama dijalan.


Akhirnya Denis langsung menuju ke rumah. Perlahan kendaraan di depannya mulai maju. Sampai ia berada tepat di depan lampu merah. Mobilnya berhenti. Kedua matanya memandang ke arah depan.


"Arin?" ucapnya lirih saat melihat seorang gadis yang baru saja melintas di depan mobilnya bersama seorang pria seusia gadis itu.


Ia mendengkus kesal.


"Pantes loe nolak gue, Rin. Mungkin loe lebih memilih cowok yang seumuran sama loe," gumamnya lirih.


Lampu berubah menjadi kuning, kemudian hijau. Denis menginjak gas perlahan dan melaju.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Maya tiba di depan pagar rumah sang ayah, tepat saat adzan magrib berkumandang. Ia lalu membuka pagarnya dan berjalan ke dalam. Pintunya tidak terkunci. Ia langsung saja masuk setelah sebelumnya mengucap salam.


"Kakak?" Sherli yang asyik nonton televisi langsung menghampiri kakaknya.


"Papa mana?" tanya Maya sambil menaruh tas di sofa, dan melepas sepatu juga kaus kakinya. Lalu ia berjalan ke bawah tangga meletakkan sepatu di rak.


"Di kamar, Kak. Dari semalam Papa nggak enak badan."


"Oh ya? Udah periksa?"


Sherli hanya menggeleng lemah. Maya akhirnya melangkah ke arah kamar sang ayah. Membuka pintunya perlahan. Ia dapat melihat pria paruh baya yang sedang bersandar seraya membaca sebuah buku.


"Assalamualaikum, Pah," sapa Maya, ia mendekati sang ayah. Mencium punggung tangannya dengan takzim.


"Maya, gimana kabar kamu, Nak? Papa kangen." Mata tua itu basah.


"Alhamdulillah, kabar aku baik, Pah. Papah udah makan? Minum obat?" tanya Maya yang kini duduk di tepi ranjang seraya memijat kaki sang ayah.


Hardi tersenyum, "Udah. Kamu udah makan belum?"


"Nanti saja, Pah. Belum lapar. Kenapa Papah nggak berobat? Katanya sakit."


"Udah sembuh, obatnya kan kamu." Hardi mengenggam tangan sang putri.


"Tangan kamu jadi kasar begini, Sayang?" tanya Hardi seraya melihat telapak tangan putrinya itu.


Maya meringis.


"Papah tahu, kamu kerja kan di rumah Adji. Maksud Papah, ya nyuci, ya masak," tebak Hardi.


"Iya, Pah."


"Alhamdulillah, anak Papah yang manja ini bisa melakukan pekerjaan rumah."


"Ish, Papah." Maya tersipu malu.


Hardi bangga, putri kesayangannya itu mau melakukan pekerjaan rumah yang mana dulu ia tak pernah kerjaan di rumahnya sendiri.


"Kamu udah bilang Adji kan kalau mau ke sini?" tanya Hardi lagi memastikan.


"Udah, Pah."


"Bagus deh."


"Pah, aku mau sholat magrib dulu, Ya."


"Owh,Β  iya. Papah juga belum sholat."


Maya mengernyit. "Papah sholat?" tanya Maya bingung. Karena yang ia tahu, ayahnya itu dulu jarang menunaikan ibadah yang satu ini.


"Alhamdulillah, udah sebulan ini Papah suka ikut pengajian di kantor. Papah mulai bebenah diri, takut terlambat, May. Apalagi Papah udah tua. Umur nggak ada yang tau kan?"


"Alhamdulillah, kalau begitu kita jamaah aja yuk, Pah!"


"Boleh, ajak Sherli sekalian, May."


"Iya, Pah." Maya beranjak dari duduknya menuju ke luar kamar.


Mereka bertiga sholat magrib berjamaah di mushola kecil dalam rumah.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Di tempat lain, Adji yang sejak jam tiga sore sudah pulang ke rumah. Kini sedang berada di sebuah mesjid. Ia baru saja selesai melaksanakan sholat magrib berjamaah.


Ia mengambil sebuah mushof kecil di lemari kaca. Membuka dan membacanya dengan suara rendah. Lantunan ayat suci alquran mengalun Indah. Lama ia tak menyentuh benda itu, hampir seminggu dan rasanya seperti ada yang hilang dari dalam hidupnya. Kesibukan menjadi suami hampir membuatnya lalai. Ia tahu itu sebuah kesalahan.


Tiba-tiba seorang bocah laki-laki duduk di sebelahnya dengan napas memburu. Bocah itu menepuk-nepuk bahu Adji.


"Bang, Bang Adji!" panggilnya.

__ADS_1


Adji menghentikan bacaannya lalu menoleh ke arah sebelah. "Kenapa, Van?" tanya Adji pada bocah bernama Ivan itu.


"Di rumah Bang Adji ada orang, dari tadi gedor-gedor rumah Abang terus. Katanya Kakaknya Abang. Mending Abang pulang deh. Takut warga ngamuk," ucap bocah berusia tiga belas tahun itu.


"Owh, gitu. Ya udah. Makasih ya, Van."


"Iya, Bang."


Adji bangkit dari duduknya, kembali ia menaruh mushof yang belum selesai ia baca di lemari. Kemudian bergegas pulang.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Dari kejauhan Adji sudah dapat melihat siapa tamu yang dimaksud Ivan tadi. Pria itu tengah duduk di teras rumahnya. Wajahnya menunduk, rambut sedikit berantakan. Namun, ia tetap terlihat gagah memakai kemeja hitam lengan pendek dipadu dengan celana jeans dan sepatu kets putih.


"Assalamualaikum," sapa Adji.


Pria itu menoleh lalu mendekati Adji dan mengguncang bahunya. "Dji, akhirnya loe dateng juga. Gue nungguin loe dari tadi. Ini penting banget, ada yang mau gue omongin," cerocosnya.


"Kita ngobrol di dalam aja, Kak. Nggak enak dilihat orang." Adji mengajak kakaknya masuk.


Mereka duduk di ruang tamu.


"Ada apa? Tumben Kakak malam-malam ke sini?" tanya Adji.


"Dji, gue cuma mau ingetin loe. Ini penting. Menyangkut keluarga istri loe." Sean menatap tajam.


"Maksud Kakak apa?"


"Loe pasti udah tau kasus yang menimpa gue kan? Jujur, gue pasang badan sekarang, gue nggak masalah masuk penjara, istri gue udah ikhlas. Karena gue nggak bisa ngembaliin itu uang perusahaan yang sama sekali gue nggak nikmatin sepeserpun."


Adji melongo mendengarnya. Maksud dari perkataan kakaknya itu apa? Kenapa Sean tidak menikmati uang itu?Β  Ke mana uang itu?


"Aku nggak ngerti, bukannya Kakak udah mindahin semua uang perusahaan juga sebagian saham milik ayahnya Maya ya? Masa Kakak nggak nikmatin." Adji menggeleng tak percaya.


"Dji, loe harus percaya sama gue. Gue cuma diperalat, Dji." Kali ini nada ucapan Sean benar-benar meyakinkan.


"Trus kalau Kakak diperalat. Apa hubungannya sama aku? Aku nggak bisa bantu Kakak."


"Dji, gue emang nggak butuh bantuan loe. Tapi loe harus bantu keluarga istri loe. Perusaan itu sekarang di kendaliin sama Reza dan bokapnya. Tanpa sepengetahuan bokapnya Maya. Separuh sahamnya udah di tangan mereka. Kalau sampai bokapnya Maya mempercayai semuanya di tangan Reza, perlahan dia akan kehilangan semuanya."


"Apa?"


Sean akhirnya bercerita. Kalau sebenaranya ia hanya dimanfaatkan oleh Reza yang notabene adalah sobat karibnya bersama Doni. Dulu saat ayahnya Sean bangkrut dan ia tak memiliki pekerjaan. Doni dan Reza lah yang membantunya.


Kini saat mereka melihat kesuksesan sahabatnya itu. Mereka iri. Terlebih Sean berhasil merebut hati seorang wanita yang terkenal sebagai Putri kampus. Sementara mereka berdua masih sendiri.


Dengan mengatasnamakan persahabatan, Doni dan Reza berupaya untuk mengajaknya berbisnis dan berinvestasi. Tanpa curiga,Β  Sean menyetujui semua itu. Ia rela korupsi, bahkan sampai memalsukan tanda tangan demi investasi yang sampai detik ini ia tak pernah tahu hasilnya.


Terakhir kali ia sadar kalau ternyata dirinya hanya di manfaatkan. Saat Sean tahu betul ke mana ia mentransfer dana besar itu. Dan ternyata uang itu selama ini masuk ke rekening atas nama ayahnya Reza beserta saham yang ia jual milik ayahnya Maya.


Stres terlebih Sean ketahuan memanipulasi data keuangan kantor. Sementara perjanjian antara dirinya dengan Reza tak ada bukti tertulis di atas materai. Uang itu lenyap, bahkan ia sama sekali tak pernah menikmatinya.


Uang menghapus segalanya, persahabatan, karir dan juga nama baik. Orang tidak akan ada yang percaya lagi dengan dirinya sekarang. Sean rela pasang badan pada polisi kalau ayahnya Maya menangkapnya. Dan itu sudah dibicarakan oleh keluarga sang istri.


"Minum dulu, Kak!"


"Thanks, Dji." Sean menyesap perlahan kopi buatan sang adik.


"Dji, lo harus selamatkan perusahaan Pak Hardi. Dia orang baik, Dji," ucap Sean menatap erat sang adik.


"Kakak nggak megang bukti apa gitu, biar Reza bertanggung jawab atas semuanya?"


Sean hanya menggeleng. "Bodohnya gue ya itu, Dji. Terlalu percaya. Karena gue pikir. Mereka adalah sahabat gue, mereka bantu gue saat gue susah. Gue juga nggak mengira kalau Reza tega sama gue. Apalagi Doni yang murka banget karena cintanya ditolak mentah-mentah sama Maya."


"Mungkin kalau aku yang bilang, keluarga Maya nggak ada yang percaya, Kak. Nanti dikira aku minta jabatan di kantor. Aku nggak punya pengalaman. Ijazah SMA ku saja belum aku ambil. Atau Kakak mau bantu aku bicara sama Pak Hardi. Mungkin Kakak masih punya bukti tranfer itu?"


"Oh iya,Β  ada. Buku tabungan gue. Semua ada di sana ke mana dana itu gue transfer. Okey. Besok loe nggak ke mana-mana kan? Gue bakalan bawa, dan akan jelasin semuanya sama bokapnya Maya." Kini kedua mata Sean kembaliΒ  bersemangat.


"Iya, Kak. Warisan Papih, Kak?" tanya Adji ragu.


"Nanti ajalah, gue belum butuh. Kemarin itu gue pikir bisa buat bayar semuanya untuk mengembalikan nama baik gue. Tapi setelah gue pikir-pikir lagi. Kasihan bokap, cari uang buat kita, beli rumah itu buat kita, masa kita jual gitu aja demi hutang apalagi ini semua salah gue. Kalau loe pengen rumah bokap dijual dan uang itu loe butuh. Nggak masalah. Nanti gue yang bayarin aja, gue jual rumah gue. Yang penting rumah bokap tetep ada"


Adji tersenyum senang mendengarnya. Ia memang tidak berniat untuk menjual rumah warisan itu. Karena hanya rumah itu kenangan satu-satunya yang mereka punya.


"Enggak, Kak. Disewain aja rumahnya. Biar ada yang ngerawat," usul Adji.


"Boleh tuh,Β  atau kalau loe mau tempatin juga nggak apa-apa, Dji."


"Enggak ah, Kak. Bayar listrinya mahal. Hihihi." Adji terkekeh.


Sean hanya menggeleng. Mereka berbincang lama. Suasana seperti itu yang Adji rindukan. Sang kakak yang arogan kini tengah berubah menjadi lebih jinak. Uang memang telah membutakan semuanya.


"Dji, gue,Β  gue pengen kaya loe, Dji," ujar Sean lirih.


Adji mengernyit. "Maksudnya? Kakak mau mulung?" tanyanya tak percaya.


"Bu-bukan itu, Dji. Gue pengen kaya loe, belajar ngaji. Masuk Islam."


"Masya Allah, Kakak serius?" Kini kedua mata Adji berbinar mendengar ucapan sang kakak.


Sean mengangguk lirih. Keinginannya sudah kuat dan mantap. Ia ingin berubah. Bukan berarti keyakinan yang lama tak bisa merubahnya. Ia hanya merasa adanya sebuah rasa nyaman itu ada saat bersama orang-orang muslim, terlebih sang istri juga seorang muslim. Mereka dulu menikah beda agama.


"Kapan Kakak mau berikrar?" tanya Adji memastikan.


"Baiknya kapan?"


"Secepatnya, Kak. Niat baik jangan ditunda-tunda."


"Gimana kalau besok aja, sekalian gue bawa bukti tentang Reza."


"Nggak sekarang aja?Β  Aku bilang sama pak ustadz kalau mau."

__ADS_1


"Besok aja, Dji. Masa gue pake baju begini?"


"Aku punya kok baju koko, sarung, peci. Tapi kalau Kakak mau besok. Ya udah besok aku tunggu. Ba'da Dzuhur aja."


"Sip, makasih Dji. Loe emang baik, loe emang adik gue yang paling the best." Sean bangkit dan memeluk erat adiknya itu.


"Kakak juga, paling the best."


"Gue balik ya, oh iya istri loe mana?" tanya Sean seraya melangkah keluar rumah.


"Lagi ke rumah bokapnya. Tuh dia pulang!" Adji menunjuk ke ujung jalan di mana Maya sudah terlihat dan sedang melangkah mendekati mereka.


"Assalamualaikum," sapa Maya.


"Waalaikumsalam."


Maya meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Ia juga bersalaman dengan Sean.


"Ada kamu Sean?" tanya Maya gugup.


"Iya, May. Gimana kabar Pak Hardi? Sehat?" tanya Sean.


Maya mengangguk lirih.


"Salam ya buat ayah kamu, ucapin permohonan maaf saya sama ayah kamu. Saya janji akan bertanggung jawab. Saya juga minta maaf sama kalian. Selama ini saya banyak salah."


Lagi-lagi Maya hanya mengangguk. Ia merasa heran dengan sikap Sean yang tak seperti biasanya.


"Saya permisi dulu. Dji, gue pulang,Ya." Sean pun berpamitan.


"Iya, Kak. Hati-hati."


Sean tersenyum. Ada perasaan bahagia saat Maya dam Adji melihat senyum itu dari wajah orang yang selama ini mereka kenal galak, kasar dan arogan.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Malam mulai beranjak naik. Kedua insan kini tengah di atas peraduan. Adji berbaring di kasur sementara sang istri tengah memijit kaki suaminya.


"Kakak kamu kenapa?Β  Aneh." Maya menatap sang suami.


Adji menatap ke langit-langit kamar.


"Aku senang, Kak Sean akhirnya mau berubah. Dia mau masuk Islam."


"Kamu serius? Alhamdulillah. Trus-trus dia cerita apa lagi?" tanya Maya antusias.


Maya ikut berbaring di sebelah suaminya. Memeluk sang suami dari samping sambil menatap wajah Adji.


"Ya besok dia mau ke sini, mau aku ajak ke pak ustadz."


"Aku seneng deh, dia terlihat keren kalau baik gitu. Nggak serem kaya biasanya."


Adji mendelik melirik ke arah sang istri, merasa istrinya sedang memuji sang kakak sementara di situ ada dirinya.


"Iya deh, Kak Sean emang keren. Ganteng dan tajir," celetuk Adji dengan nada kesal.


"Ish, kamu kenapa sih? Kok judes gitu ngomongnya?"


"Ya kamu, mijitin nggak jadi. Eh malah muji-muji Kak Sean. Emang aku kurang ganteng apa?"


"Oh iya lupa. Kamu ganteng banget, Sayang. Mana baik, sholeh, pintar, rajin ibadah, sayang istri. The best pokoknya." Maya kembali duduk dan meraih kaki suaminya. Ia lupa kalau tadi sedang memijit, karena keasyikan ngobrol.


Adji menarik tangan istrinya hingga terjatuh tepat di atas tubuhnya. Maya menatap wajah sang suami yang tepat di depannya itu.


Hidung mereka bersentuhan, deru napas terdengar memburu di antara keduanya.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di bibir tipis Maya, mereka saling berpagutan sambil berpelukan erat. Menikmati malam berdua.


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar keras di depan. Keduanya saling pandang. Maya seketika melompat dan turun dari ranjang, begitu jiga dengan Adji yang ikut berlari keluar.


Maya membuka pintu perlahan. Warga ramai-ramai mendatangi rumahnya.


"Ada Pak RT?" tanya Adji pada seorang pria yang berdiri paling depan.


"Nak Adji, Kakak kamu kecelakaan. Tewas di tabrak truck waktu mau nyeberang."


"Bapak tau dari mana itu Kakak saya?" tanya Adji masih tak percaya.


"Si Ivan yang tadi kebetulan lewat jalan sana. Dia ketemu sama Kakak kamu, mau balik ke sini kayanya. Ada yang ketinggalan mungkin."


Adji masuk ke ruang tamu melihat ke arah kursi,Β  benar. Ponsel milik kakaknya tergeletak di sana.


"Lalu Kakak saya di mana, Pak?" tanya Adji berusaha kuat. Ia hanya berharap itu bukan Kakaknya.


"Mayatnya masih di jalanan, nunggu polisi datang."


Adji berlari ke jalanan di susul beberapa warga. Maya mengekor setelah menutup dan mengunci pintu rumah.


Dari kejauhan kerumunan warga terlihat ramai menyaksikan kejadian tersebut. Truck yang diduga telah menabrak tubuh itu sudah diamankan beserta supir dan keneknya.


Adji masih tak percaya, ia mendekati tubuh yang tertutup daun pisang. Ia terduduk dan kedua matanya kian basah, saat melihat sepatu putih yang ia kenal.


Matanya terpejam sesaat, menahan sesak. Ia beranikan diri membuka daun yang menutupi wajah korban. Wajahnya bersih, bahkan seperti tak ternoda dengan darah. Darah mengalir dari bagian belakang kepalanya.


Adji menelan ludah. Tangisnya pecah saat itu juga. Maya mengusap bahu dan menguatkan sang suami. Ia pun ikut menangis. Mereka tak percaya. Pertemuan tadi adalah pertemuan terakhir.


Adji menyangga kepalanya dengan kedua tangan. Bahunya terus terguncang hebat. Ia sudah merasa senang mendengar kakaknya ingin berubah, kakaknya jadi baik. Tapi hanya hitungan menit saja tadi. Sekarang ia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Ayah dan kakaknya telah pergi lebih dulu. Doa dan harapannya hanya satu. Semoga Allah senantiasa menerima niat baik sang kakak untuk menjadi seorang mualaf.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


bersambung


__ADS_2