
Yang belum follow, bolehlah follow dulu. Tak kenal maka tak sayang.
Happy reading gaessss.
Maafkan jika ada typo yang bertebaran bak biji wijen.
💕💕💕
Awan hitam bergelayut di atas sana. Menaungi para pengantar jenazah kakak kandung Adji. Suara isak tangis dari seorang wanita membuat iba yang mendengar. Kini wanita tersebut resmi menjadi seorang janda, dan anak dalam pangkuannya menjadi seorang yatim.
Adji dan Maya yang berjongkok di sebelah wanita itu hanya bisa menguatkan. Sejak semalam saat jenazah suaminya tiba di rumah duka, ia terus menangis. Sesekali pingsan, karena tidak kuat harus menanggung semuanya sendiri. Ditambah sang putri yang juga rewel dan terus menerus nangis hingga kini terlelap di pangkuan sang bunda.
Para pengantar jenazah satu persatu sudah pulang. Kini hanya ada keluarga dari Adelia (istri Sean), Adji dan keluarga Maya.
"Mbak, yang sabar, ya," ucap Adji lirih pada wanita di sebelahnya itu.
Wanita itu hanya mengangguk pelan, seraya mengusap batu nisan suaminya.
Adji pun merasa kepergian kakaknya terlalu cepat, seandainya saja ia tahu. Kalau handphone Sean ketinggalan, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini. Seandainya saja ia bisa menahan Sean untuk tetap tinggal, atau memaksanya untuk segera mengucap syahadat. Mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Ia hanya bisa menyesali dirinya sendiri. Kedua orang yang ia sayang meninggal masih dalam keadaan kafir.
Doa terus ia panjatkan untuk sang kakak. Entah doa itu akan diterima atau tidak, entah doa itu sampai untuk Sean atau tidak. Yang pasti, ketulusannya untuk mendoakan sang kakak agar diberi tempat yang Indah di sana.
💕💕💕
Seminggu telah berlalu. Kini, Adji dan Maya berada di rumah kediaman kakaknya. Membicarakan masalah kelanjutan hidup kakak iparnya itu.
Adelia resmi menjanda dengan seorang anak perempuan. Ia tak tahu harus bagaimana. Rumah yang ia tempati akan segera disita karena sebagai jaminan untuk melunasi hutang almarhum suaminya.
Orang tua Adelia yang tinggal di Solo mengajaknya pindah. Namun, ia menolak karena bisnis yang ia jalani berada di kota ini.
Mereka bertiga duduk di ruang tamu.
"Riyu, Maya. Terima kasih kalian sudah menemani saya saat saya terpuruk. Kini saatnya saya pamit." Adelia mengusap pipinya yang basah.
"Mbak, mau ke mana?" tanya Adji menatap iba.
Adelia hanya menggeleng. "Mungkin saya akan cari rumah yang lebih kecil, sesuai dengan kemampuan saya."
"Gimana kalau Mbak tempati rumah Papi aja?" usul Adji.
"Kamu nggak keberatan rumah itu saya tempati?"
"Nggak sama sekali. Saya justru senang kalai rumah itu ada yang huni. Dari pada kosong."
Adelia tersenyum kecil, "Terima kasih, Riyu. Tapi rasanya saya tidak ada hak untuk tinggal di sana. Biarkan saya mencari rumah sendiri."
"Oh iya, Mbak. Kalau itu keingin Mbak Adel. Oh iya saya boleh ke ruangan kerja Kak Sean?"
"Oh boleh-boleh, ayo!" Adelia bangkit dari duduknya menuju ke lantai dua rumahnya.
Maya yang mengekor suaminya itu menarik tangan Adji. "Mau ngapain?" tanyanya seraya berbisik.
"Kepo!" ledek Adji seraya menjawil hidung istrinya.
Maya merengut kesal. Sejak tadi ia merasa suhu tubuhnya panas. Terlebih melihat keakraban suaminya itu dengan sang kakak ipar.
Adelia membuka pintu ruangan kerja milik suaminya dulu. Mereka masuk, Maya berdiri di tengah pintu. Memandangi isi di dalamnya. Hanya ada sebuah rak buku besar, toilet, meja kerja beserta sebuah kursi. Di dindingnya lukisan bergambar pemandangan alam dan hewan kuda. Sebuah jam dinding menempel di dekat rak buku.
Maya berjalan mendekati sang suami yang tengah duduk di kursi kerja. Adji membuka laci dan lemari yang berada di bawah meja. Mencari berkas yang ia perlukan. Surat perjanjian atau apa pun itu tentang kesepakatannya dengan Reza. Termasuk bukti transfer uang.
Setelah mendapatkan berkas, ia buka mapnya satu persatu di atas meja. Maya dan Adelia hanya diam tanpa mengerti apa yang sedang dilakukan pria itu.
"Sebentar ya, saya buatkan minum dulu." Adelia berjalan keluar ruangan.
"Kamu nyari apa sih, sayang?" tanya Maya bingung. Ia ikut melihat-lihat berkas di meja.
"Surat perjanjian."
"Perjanjian apa? Yang pernah kalian bikin dulu?"
"Bukan, May. Ini menyangkut perusahaan kamu."
"Aku nggak ngerti."
"Nanti saja, ya, aku jelasinnya. Kalau ketemu, kita langsung ke rumah papa kamu."
__ADS_1
"Buat apa?"
"Mau minta warisan, ya buat nyerahin bukti lah." Adji menatap istrinya yang melongo kebingungan.
"Makin nggak ngerti."
"Kamu tuh katanya sarjana, masa gitu aja nggak ngerti." Adji mulai meledeknya.
"Aku sebel sama kamu, dari tadi ditanyain kode-kodean melulu." Maya berjalan ke arah jendela menatap keluar.
Adji terkekeh melihat istrinya yang cemberut. Ia belum bisa cerita tentang masalah Reza dan Sean. Kalai mereka sempat terlibat kerjasama. Pada dasarnya itu bukan sebuah kerjasama, melainka penipuan atas dasar kerjasama.
Setelah Reza mendapatkan kedudukan di perusahaan Hardi. Lalu ia lepas tangan dan seolah tidak tahu menahu ke mana uang perusahaan itu menghilang. Hardi hanya tahu kalau semua data masuk ke rekening milik Sean. Tak ada aliran dana masuk ke rekening lain. Karena Reza dan ayahnya yang licik itu memintanya dengan dalih investasi.
"Yups, dapat!" Adji bersorak.
"Dapat apa, Riyu?" tanya Adelia yang kebetulan masuk membawa nampan berisi dua gelas orange jus.
"Mbak, saya bawa berkas ini. Saya pastikan rumah kalian ini akan kembali menjadi milik Mbak Adel." Adji mengangkat sebuah map berwarna hijau ke udara, menunjukkannya pada Adelia.
Maya menoleh dan mengernyit tak mengerti. Ia lalu melangkah mendekati suaminya itu. Melirik ke arah map yang dipegang Adji, seraya menerka-nerka isinya.
"Ya sudah, ini diminum dulu!" Adelia meletakkan minuman itu di atas meja.
"Eum, si kecil masih tidur, Mbak?" tanya Maya.
"Oh, iya. Dia kalau tidur lama."
"Siapa namanya?"
"Namanya Sunny," jawab Adelia tersenyum kecil.
Maya mengangguk paham.
"Maya sudah isi belum?" tanya Adelia membuat wajah Maya bersemu merah padam.
Maya menggeleng lemah. "Belum, Mbak."
"Sabar, saya doakan kalian agar segera diberi momongan."
"Aamiin, makasih doanya, Mbak."
Adji menatap ke arah sang istri. Dalam hatinya ia ingin sekali mengajaknya tinggal di sana. Saat itu ia pun merasa tidak enak dengan Sean. Takut dianggap menguasai warisan. Tapi, kalau sekarang ia juha masih bingung. Karena melihat kakak iparnya saja sedang mencari rumah untuk mereka tinggal, masa iya dia yang seorang laki-laki justru menempati rumah itu.
"Eum, kalau gitu kita pamit dulu, ya, Mbak. Keburu malam. Soalnya mau mampir dulu ke rumah papanya Maya," ucap Adji mengalihkan pembicaraan.
Ia bangkit dari duduknya setelah meminum jus buatan Adelia. Lalu melangkah menuju pintu dan keluar bersama keduanya. Kemudian mereka berdua berpamitan.
💕💕💕
Tepat pukul empat sore Adji dan Maya tiba di kediaman rumah Hardi. Mereka berdua disambut oleh Sherli yang sedang mengerjakan tugas sekolah di ruang tamu beserta tiga teman perempuannya.
"Assalamualaikum," sapa Maya seraya masuk, pintu rumahnya tidak tertutup.
"Waalaikum salam," jawab keempat gadis itu serempak.
"Eh, Kak Maya, Mas Adji." Sherli bangkit menyalami mereka, begitu juga dengan ketiga temannya.
"Papa udah pulang, Dek?" tanya Maya.
"Belum, jam lima nanti. Ada Mas Denis tuh baru pulang, lagi makan dia."
"Oh, okey. Gue ke dalam dulu, ya." Maya mengajak Adji menuju ruang makan.
"Itu siapanya kakak loe, Sher?"
"Pacarnya, ya?"
"Ganteng banget, kenalin dong!"
Ketiga teman Sherli mepet minta dikenalkan pada kakak iparnya itu.
"Apaan sih kalian, itu suaminya Kak Maya. Kalian mau jadi pelakor apa?" Sherli berdecak kesal.
Ketiga temannya itu bangkit dari duduk, lalu melangkah mengendap-endap ke arah dapur. Demi melihat Adji yang tengah duduk di ruang makan.
__ADS_1
"Woy!" panggil Sherli kesal.
Ketiganya menoleh, lalu tersenyum meringis. Kemudian kembali ke tempat semula.
"Udah sore, mending kalian pulang deh!" Akhirnya Sherli mengusir ketiga temannya itu. Karena tugas mereka juga sudah selesai.
"Ah payah, lu. Mau dikekepin sendirian tuh kakak ipar."
"Hu um."
Mereka merapikan kembali buku-buku, dan memasukkannya ke dalam tas masing-masing.
"Pamiy dulu dong!" pinta seorang teman Sherli.
"Nggak ada pamit-pamitan. Udah sana. Yang ada kalian genit-genitan." Sherli mengibaskan tangan pada ketiga temannya.
Ketiganya merengut berjalan ke arah pintu dan pulang bersama. Sementara Sherli tertawa cekikikan lalu bergegas menuju anak tangga, dan melangkah cepat naik ke arah kamarnya.
💕💕💕
Malamnya selepas makan malam bersama, Sherli langsung masuk kamar. Sedangkan Hardi, dan anak-anaknya masih berada di ruang makan. Si mbok membersihkan meja makannya.
"Kalian mau nginep?" tanya Hardi membuka percakapan seraya menatap anak keduanya.
Maya melirik ke arah suaminya.
"Eum, ada yang ingin saya bicarakan, Pa." Adji menatap papa mertuanya.
"Oh ya, silakan. Ada apa?"
Denis dan Maya saling pandang, kakaknya itu memberi isyarat pada sang adik dengan bibir yang bergerak. Ingin menanyakan apa yang akan dibicarakan oleh Adji. Maya hanya mengangkat kedua bahunya. Ia pun juga tidak tahu.
Adji menyodorkan map berwarna hijau yang ia bawa dari rumah almarhum kakaknya.
"Apa ini?" tanya Hardi bingung.
Hardi membuka dan membaca dengan seksama, tiba-tiba tangan kanannya memegang dada sebelah kiri. Lalu meletakkan map itu dengan kasar di atas meja.
Sontak ketiganya terkejut.
"Keterlaluan, Reza!" umpat Hardi kesal.
"Ada apa, Pa?" tanya Denis dan Maya berbarengan.
"Mereka mau ambil alih perusahaan kita. Dia sengaja mengambing hitamkan Sean. Tapi kita nggak punya bukti konkrit untuk menangkap dia. Perjanjian ini hanya perjanjian antara Reza dengan Sean. Sementara Sean sudah meninggal, dan yang berhak melapor adalah Sean." Hardi dengan geram berbicara pada kedua anaknya.
"Trus hutang si Sean gimana, Pa?" tanya Denis penasaran.
"Rumah dia kan mau disita. Karena laporan Papa sudah masuk. Perjanjian antara Papa dan Sean juga masih berjalan. Karena dia sudah meninggal. Papa juga bingung harus gimana. Kemarin Sean sempat ingin pasang badan untuk dipenjara, asalkan rumah itu tidak dijual."
"Sekarang Papa harus gimana? Mencari bukti kesalahan yang diperbuat oleh Reza. Sedangkan dia yang handle semuanya sekarang. Rasanya itu nggak mungkin." Hardi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau Papa mengizinkan, saya yang akan cari tahu," ucap Adji.
"Gimana caranya? Loe mau jadi mata-mata gitu. Loe aja nggak kerja, ngaco loe," celetuk Denis.
"Nah, gimana kalau kamu gantikan Reza saja? Biar itu si Reza, nanti Papa balikin dia ke tempat semula." Hardi tersenyum miring menatap menantunya.
"Tapi saya belum berpengalam, Pa." Adji berusaha menolak.
"Kan ada Maya, kamu bisa tanya dia. Nanti sekalian Papa kuliahin kamu, yang terpenting perusahaan harus bisa kembali untung seperti semula. Kasihan karyawan kita yang belum dapat gaji."
"Kamu Denis, cari klien. Biar mau kerjasama dengan perusahaan kita lagi. Kemarin klien sempat pada kabur gara-gara isu perusahaan kita mai bangkrut." Hardi menunjuk ke arah anak sulungnya itu.
"Iya, iya, Pa. Papa percaya itu sama dia? Masa pemulung jadi Manager. Kuliah enggak, pengalaman kerja nggak ada. Nanti kalau barang-barang kantor malah diloakin sama dia gimana?" tanya Denis menatap sinis adik iparnya.
"Ya udah, kamu aja mau?" tunjuk Hardi.
"Ya, jangan aku juga sih, Pa. Maya gitu."
"Ya udah, Maya itu perempuan. Biasanya kalau perempuan jadi pemimpin bakalan bawa perasaan. Kalau kalah tender, ntar nangis. Belum kalau ketemu klien ganteng, ntar digodain. Belum kalau ke luar kota. Susah, Den."
"Iya-iya." Denis merengut ke arah Adji.
Sebenarnya dia juga kepengen pegang perusahaan itu. Hanya saja ia bukan orang yang bisa serius menekuni laporan keuangan dan segala macam hal yang berhubungan dengan angka. Makanya dia lebih suka kerja bebas, di lapangan. Sering keluar kantor, jalan-jalan sambil cari jodoh. Sayangnya, sampai sekarang tuh jodoh dia belum ketemu juga.
__ADS_1
💕💕💕
Tbc