Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
29


__ADS_3

****


Adji beranjak dari duduknya,  berjalan menuju ke kamar.  Mengambil sebuah map berwarna coklat yang sudah lusuh, dan membawanya kembali ke ruang tamu. 


Ia membuka map tersebut, membacanya perlahan.


"Ini surat tanah milik Eyang Tarjo. Beliau memberikan ini buat aku, " gumamnya.


"Luasnya berapa, Dji?"


"Seratus dua puluh meter."


"Wah, luas ya. Ditawar berapa permeternya?"


"Katanya sih tujuh juta."


Kedua bola mata Maya seketika membulat mendengarnya,  membayangkan berapa banyak jumlah nol. Jika 120m dikalikan tujuh juta. Bukan jumlah yang sedikit. Bahkan Adji bisa kaya mendadak,  dan mereka tidak akan hidup susah.


"Wow,  itu bukan jumlah yang sedikit,  Sayang. Kamu bisa beli rumah yang bagus di pinggir kota,  sisanya bisa buat modal usaha." Maya berkata riang.


Adji hanya menggeleng melihat tingkah sang istri yang menurutnya aneh. Bagaimana tidak, saat rumah kediaman sang suami hendak digusur, dia malah senang. Padahal hanya itu harta yang suaminya punyai.


"Aku nggak akan jual," ucap Adji lirih.


"Loh kenapa, Dji? Kesempatan nggak akan datang dua kali loh." Maya menatap tak percaya dengan apa yang diucap suaminya.


"May,  ini rumah orang yang dulu pernah menyelamatkanku. Aku nggak pernah tahu bagaimana pengorbanan Eyang Tarjo mencari uang untuk membeli tanah dan membangun rumah ini. Sementara aku?  Siapa? Bukan anak apalagi cucu.  Justru kalau bisa aku akan mewakafkan tanah ini untuk dibangun sebuah mushola. Agar setiap orang yang beribadah di rumah Allah itu,  dapat mengalirkan pahala untuk Eyang."


Maya menunduk, malu.


Adji mengusap tangan sang istri lembut.


"Aku tahu maksud kamu baik, ingin melihat suami kamu nggak susah lagi. Aku, akan baik-baik saja. Selama kamu setia nemenin aku dari nol. Kita berjuang bersama."


"Maafin aku," ucap Maya lirih.


"Nanti malam kita ke rumah Papi aku. Sudah lama aku belum menengoknya."


"Iya,  Dji."


Akhirnya mereka berdua sepakat untuk tidak menjual harta satu-satunya peninggalan Eyang Tarjo. Mereka kembali ke kamar membereskan pakaian.


"Dji, kita belum sarapan loh. Kamu nggak lapar?" tanya Maya seraya menata baju-bajunya di lemari.


"Lapar sih. Di ember dekat kompor ada beras,  di lemari kecil ada mie instan, tapi nggak ada telurnya. Kamu masak ya! Aku mau ke samping dulu. Banyak botol yang masih berserakan, merusak pemandangan. Mau aku rapihin dulu." Adji bergegas keluar kamar menuju samping rumahnya.


Maya masih terdiam di tempatnya, Adji menyuruhnya masak? Ia menghela napas pelan.


"Cuma masak nasi sama mie instan mah kecil," gumamnya lirih.


Ia lalu bangkit dari duduknya. Menutup pintu lemari dan melangkah ke dapur. Setelah menemukan ember berisi beras yang dimaksud. Maya lalu menakar beras tersebut dengan kaleng takar ukuran setengah liter ke dalam sebuah baskom. Kemudian ia mencuci beras tersebut.


Setelah selesai ia kembali ke dapur dan celingukan mencari benda yang biasa ada di rumahnya untuk memasak nasi. Karena yang ia cari tidak ketemu, Maya menghampiri suaminya.


"Dji,  mejikom di mana?" tanyanya.


Adji menoleh dan mengernyit. "Mejikom? Buat apa?"

__ADS_1


"Masak nasi-lah."


"Hahaha... nggak ada,  kamu aronin dulu trus nanti dikukus pake dandang. Ada semua kok alatnya di dapur."


Adji malah terbahak,  sementara merengut kesal. Ia kembali ke dapur.


"Aronin tuh apa? Kalau dandang aku tahu. Dikukus ya? Emangnya lontong." Maya menggumam sendiri sambil mencari alat yang dimaksud.


"Ah, nggak ngerti. Mending aku bikin mie aja deh. Nggak pake nasi juga nggak apa-apa."


Maya mengambil sebuah panci dan mengisinya dengan air, lalu meletakkannya di atas kompor yang menyala.


Menunggu sampai air itu mendidih lalu memasukkan mienya.  Tak terasa air matanya menetes, belum ada satu hari di rumah itu ia merasa sudah banyak pelajaran yang dapat dipetik. Ternyata hidup itu tak semudah yang ia bayangkan sebelumnya.  Bahkan untuk makan saja ia kesusahan memasak nasi. Berbeda dengan kehidupannya dulu,  yang serba dilayani. Ia hanya berharap dalam hati, semoga Adji bisa menerimanya yang notabene belum bisa masak.


Akhirnya mie telah matang dan siap dihidangkan. Maya meletakkan dua mangkuk berisi mie itu di meja depan. Lalu memanggil suaminya yang terlihat sedang menaruh karung berisi botol bekas ke atas gerobaknya.


"Dji, makan yuk!" ajak Maya yang memanggilnya dari balik jendela.


"Loh,  emang udah mateng?" tanya Adji menatap tak percaya.


"Udah,  ayo!"


Adji menghentikan aktivitasnya, dan melangkah masuk. Sebelumnya ia pergi ke belakang terlebih dahulu untuk mencuci tangannya.  Lalu kembali ke ruang tamu.


"Loh,  mana nasinya?" tanya Adji bingung saat melihat ke meja hanya ada dua mangkuk mie instan goreng.


"Eum... aku... aku nggak bisa masaknya, Dji. Maafin aku." Maya menunduk lalu kembali terisak.


Adji mengusap bahu sang istri, dan tersenyum kecil. "Ya ampun,  kenapa tadi nggak panggil aku sih? Udah ah, gitu aja nangis. Ya udah mienya dimakan dulu. Nanti aku ajarin caranya masak nasi tanpa mejikom." Adji mengusap air mata sang istri lembut.


Maya mengangguk. Mereka sarapan hanya dengan mie goreng saja, dan itu sudah nikmatnya luar biasa. Ya-lah. Laper


***


.


"May,  aku kerja dulu, ya." Adji berpamitan.


Dilihatnya sang suami dengan pakaian khas pemulung, baju lusuh warna hitam yang sudah kusam dipadu dengan topi berbentuk bundar berwarna putih yang memudar.


Maya yang tengah mengisi air di ember langsung berjalan mendekat.


"Kamu mah mulung?"


"Enggak, cuma mau ke pengepul aja. Nukerin botol."


"Aku ikut."


"Jangan! Jauh, lagipula di luar panas banget. Nanti kulit kamu hitam."


"Tapi aku pengen tahu. Masa nggak boleh." Maya merengek seperti anak kecil


"Kapan-kapan aja, ya,  sayangku. Tuh cuciannya udah manggil." Adji mengusap-usap pipi istrinya dengan lembut.


"Ya udah deh, kamu hati-hati, ya."


"Iya,  pintunya kunci aja dari dalam kalau kamu mau istirahat."

__ADS_1


"Iya."


Maya lalu meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Ada getir saat melihat Adji berjalan keluar meninggalkannya.  Perasaan yang ia rasakan saat ini tak bisa dibayangkan lagi. Antara haru, bahagia, atau sedih.  Semakin ia melihat suaminya bersungguh-sungguh mencari uang, semakin besar pula perasaan cinta dan sayang itu pada sosok Adji, suaminya.


Betapa Adji begitu menyayanginya, meski usianya lebih muda. Namun, ia justru lebih dewasa dalam bertindak dan mengambil keputusan.


Seperginya sang suami, Maya kembali menekuni pekerjaan barunya. Yakni, mencuci pakaian. Tidak banyak, hanya pakaiannya dan Adji.


Selesai menjemur,  ia merasa tubuhnya letih. Maya berbaring di ranjang, tak lupa menutup pintu depan seperti pesan suaminya. Perlahan matanya mulai berat. Ia pun terpejam.


***


.


Maya terbangun mendengar suara klatak klituk dari arah dapur. Takut ada orang asing yang masuk, ia pun segera beringsut dari ranjang melangkah ke dapur.


Ia bernapas lega saat melihat suaminya yang berada di sana sedang mengambil dua buah piring juga gelas dan sendoknya.


"Eh,  kamu udah bangun?" tanya Adji saat melihat sang istri yang berdiri di tengah pintu dapur.


Maya tersenyum lalu membantu suaminya mengambil nasi yang masih berada di dalam dandang. Kemudian membawanya ke depan.


Mereka duduk di ruang tamu. Adji pulang membawa sebuah bungkusan. Maya membuka bungkusan itu.


"Kamu beli apa?" tanya Maya.


"Buka aja, makan siang kita. Sama sayuran buat nanti malam dan besok pagi."


Maya membuka bungkus kertas itu, ada sebuah paha ayam goreng, dua buah tahu tempe. Lalu di dalam plastik setengah kiloan ada tumis kangkung.


"Kok ayamnya cuma satu? Trus sayurannya mana?" tanya Maya.


"Iya,  ayamnya buat kamu aja. Sayurannya ku simpan di lemari belakang. Ya udah di makan,  ini sambalnya. Enak loh."


Adji menyomoy satu buah tahu goreng juga tempe, dan menuang sayur kangkung di atas nasi. Menyisakan sebagian untuk sang istri.


Adji menatap Maya yang diam terpaku memperhatikan dirinya.


"Kenapa? Kamu nggak suka ya sama makanannya?  Maaf, aku nggak tanya kamu dulu makanan kesukaan kamu." Adji memandang sedih ke arah istrinya.


Tiba-tiba saja kedua mata Maya yang sejak tadi berkaca-kaca,  kini perlahan mulai basah,  lalu bahunya terguncang. Adji bingung dan merasa bersalah.


Ia mendekati Maya,  merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan. "Maaf, aku sudah membuatmu sedih. Aku belum bisa membahagiakanmu," ucap Adji lirih.


"Bukan itu,  Dji. Kita udah suami istri,  kenapa makanan saja kamu bedakan? Kalau memang uangnya tidak cukup untuk membeli dua ayam goreng,  ya sudah aku nggak usah kamu belikan. Aku mau kok makan makanan yang sama kaya kamu," ucap Maya di sela isak tangisnya.


"Karena aku menyayangi kamu,  aku nggak mau istriku makan yang nggak enak, aku ingin kamu bahagia sama aku." Adji mengusap kepala istrinya dengan lembut.


"Dji,  jadi istri kamu aja aku udah bahagia. Jangan perlakukan aku seperti ini. Harusnya aku yang melayani kamu, bukan kamu, Dji. Nanti kalau uang kamu habis hanya untuk menuhin kebutuhanku gimana?"


Adji malah terkekeh.


"Ya kalai habis cari lagi-lah. Selama pabrik masih memproduksi minuman dengan botol plastik. Di situ rezeki kita masih ada. Iya nggak? Lagi pula aku kerja buat kamu,  ya kalah habis buat menuhin kebutuhan kamu ya nggak apa-apa dong."


"Adji," pekik Maya seraya mencubit pinggang sang suami lirih.


Di saay seperti itu, Adji masih bisa bercanda.  Akhirnya Maya membagi sebagian ayam tersebut untuk bisa dimakan berdua. Mereka makan siang bersama dengan bahagia juga kesederhanaan.

__ADS_1


****


bersambung


__ADS_2