Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
15


__ADS_3

***


.


Tiga hari berlalu, keadaan Maya mulai membaik, meskipun masih belum diperbolehkan pulang. Adji masih setia menjaga kalau malam, ia pun juga diam-diam sering menyusup masuk ke rumah sang ayah. Ia berharap ayahnya lekas siuman dan dapat menyaksikan pernikahannya nanti.


Pagi ini Adji sudah rapi, ia akan pergi ke tempat Maya, karena weekend. Kemungkinan ia tak akan bermalam di rumah sakit.


"Adji!" Sebuah panggilan mengejutkannya yang baru saja melangkah hendak keluar rumah.


Adji menoleh, dilihatnya Pak RT berjalan ke arahnya membawa sebuah amplop coklat besar.


"Iya, Pak. Ada apa?" tanyanya.


"Ini, surat pengantarnya udah jadi. Lancar ya, Dji. Bapak cuma bisa doain yang terbaik buat kamu."


"Terima kasih, Pak."


Pak RT menyerahkan berkas itu pada Adji. Kebetulan sekali dia juga akan ke rumah sakit, sekalian memberikan berkas itu pada keluarga Maya.


"Mau ke mana?" tanya Pak RT.


"Mau ke rumah sakit, Pak. Calon saya kan masih dirawat."


"Owh, salam ya. Biar lekas sembuh."


"Terima kasih, Pak. Mungkin besok udah boleh pulang."


"Iya, aamiin."


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak."


"Iya, Dji. Hati-hati."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Adji kembali melangkah menuju jalan raya, menunggu angkutan umum yang lewat. Ia harus dua kali ganti angkot untuk sampai di rumah sakit.


***


Keberuntungan mungkin sedang berpihak pada Adji, angkot yang ditunggunya langsung ada di depan jalan. Ia tak ingin membuang waktu, langsung ia naik ke dalamnya. Mengambil duduk di depan pintu.


Angkot melaju pelan sambil mencari penumpang lainnya, setelah agak penuh barulah sopir melajukam mobilnya sedikit cepat.


Adji turun di sebuah pasar, sebelum ke rumah sakit ia akan membeli buah-buahan sebagai buah tangan. Tak etis rasanya jika ia datang dengan tangan kosong. Masih ada sedikit uang di dompetnya. Cukup untuk membeli dua kilo jeruk, dan sisanya untuk ongkos pulang nanti.


Langkahnya berhenti di depan kios buah-buahan. Memilih jeruk yang hendak ia beli.


"Sekilo berapa, Pak?" tanya Adji.


"Yang mana? Ini tiga puluh lima ribu, yang ini dua puluh lima ribu." Si bapak penjual buah menunjuk dua jenis jeruk.


Dilihat dari ukurannya memang yang lebih mahal agak lebih besar. Dan warnanya juga kuning. Sementara yang harganya lebih murah warna jeruknya masih banyak yang kehijauan.


"Mau yang mana?"


"Nggak bisa kurang?" tanya Adji sambil memegang jeruk yang besar.


"Dikit."


"Lima puluh ribu, dua kilo?" Adji tersenyum.


"Yah, jangan segitu, Mas. Tambahan lagi."


"Yah, Pak. Uang saya cuma ada segitu. Kalau nggak boleh, ya sudah saya beli di tempat lain aja. Maaf. Permisi." Adji hendak melangkah keluar kios.


"Eh, tunggu, Mas. Ya udah sini. Ambil berapa kilo?" Si bapak tadi menghentikan langkah Adji.


Adji tersenyum kecil, berhasil ia gunakan cara ibu-ibu yang suka menawar. Pergi saat tak dikasih harga yang ia tawar tadi, sampai si penjualan kembali memanggilnya.


"Dua kilo aja, Pak."


Si bapak dan Adji memilih-milih jeruk tadi dan memasukkannya ke dalam plastik, lalu ditimbang.


"Yang lain nggak?" tanya si bapak.


"Lain kali aja, Pak. Terima kasih," ucap Adji sambil memberikan uang lima puluh ribu pada si bapak tadi.


Si bapak memberikan kantung plastik berisi jeruk itu pada Adji. Ia lalu kembali ke arah jalan raya, dan mencegat angkot menuju rumah sakit.


***


"Gimana kabar kamu, May?" Pria jangkung berkulit putih itu menatap berdiri di samping Maya yang duduk di ranjangnya.


"Alhamdulillah baik, Don," ucap Maya lirih.


"Ya elah, May. Masih canggung aja loe sama Doni. Dia kangen tahu sama loe." Kini teman wanita Maya bernama Diana menimpali.


Teman-teman Maya datang menjenguk membawa seorang pria yang dulunya pernah naksir Maya. Namun, Maya lebih memilih Alex saat itu untuk menjadi kekasihnya.


"Apaan sih loe?" Maya sedikit tersipu.


"Aku dengar dari teman-teman kamu, Alex meninggal?" tanya Doni.


"Iya."


"Berarti, aku ada kesempatan dong?"


"Maksudnya?"


"Uhuk-uhuk ...." Sebuah suara batuk yang disengaja membuat Doni menunduk, dan Maya melotot ke arah Sari yang sejak tadi bermain handphone tapi telinganya tetap awas.


"Maya udah mau merit keleus," timpal Gendis.


"Oh ya? Benar itu, May?" Doni menatap tak percaya.


Maya hanya mengangguk pelan.


Ceklek.

__ADS_1


Suara pintu terbuka.


Semua mata terkejut memandang ke arah pintu saat melihat siapa yang datang. Seorang pria muda dengan rambut sedikit gondrong, memakai kaus warna merah hati dan celana bahan warna hitam. Ditangan pria itu membawa bungkusan plastik kresek warna putih.


Pria itu berhenti, ia tak kalah terkejut melihat ruangan calon istrinya itu penuh. Bahkan ia tak mengenal siapa saja yang ada di ruangan itu. Keluarga Maya pun tak terlihat.


"Adji," panggil Maya dengan senyum mengembang.


"Siapa?" tanya Doni mengernyit.


Ketiga teman wanita Maya yang sedang duduk di sofa, langsung bangkit. Takut terjadi sesuatu pada kedua pria itu. Mereka tahu kalau Adji adalah calonnya Maya.


"Eum ... Don, mendingan kita balik, yuk!" ajak Diana sambil meraih tangan Doni.


"Gue masih mau ngobrol sama Maya. Dia belum jawab pertanyaan gue, Di." Doni melepas pegangan tangan Diana.


"Eum ... lain kali aja, Don." Kini Sari mencoba membujuk Doni.


"Emang dia siapa sih?" tanya Doni penasaran.


"Dia calon suami aku." Maya menimpali.


Doni langsung menoleh ke arah Maya.


"Kamu serius? Anak kaya gini yang mau jadi suami kamu?" Doni mendekat ke arah Adji yang masih diam mematung.


Doni menatap Adji dari ujung rambut sampai kaki, lalu merampas plastik yang dibawa oleh Adji.


"Apaan nih? Jeruk? Katanya calon suami, masa ke sini cuma bawa jeruk. Murahan lagi." Doni tersenyum mengejek. Ia menggeleng dan meletakkan plastik itu di meja.


"Doni!" bentak Maya.


"Kenapa, May? Kamu jangan bercanda kalau cari suami. Suami itu yang punya masa depan, paling enggak kerjaannya jelas. Bisa kasih nafkah kamu. Ini, lihat deh. Tampangnya aja nggak meyakinkan."


"Stop! Don! Aku minta kamu keluar dari kamarku, dan jangan temui aku lagi!" Maya kini benar-benar marah. Ia tak terima calon suaminya dihina seperti itu. Memangnya dia siapa?


Doni memang kaya raya, tapi itu semua karena orang tuanya. Dia kerja juga di perusahaan orang tuanya. Sombongnya keterlaluan dari zaman kuliah dulu. Mungkin memang lebih baik Alex waktu itu.


"Okey, aku keluar. Tapi anak ini juga keluar!" ucapnya.


Karena melihat kondisi semakin tidak mengenakkan untuk Maya dan Adji. Ketiga wanita teman Maya akhirnya menarik paksa tangan Doni untuk keluar dari ruangan. Meski berontak, Doni bisa diamankan.


Maya bernapas lega, begitu juga dengan Adji.


Adji berjalan mendekati sang kekasih. Dan tersenyum.


"Kok loe malah senyum-senyum sih?" tanya Maya bingung.


"Mbak, makasih ya."


"Makasih apa?"


"Mbak, belain saya."


"Ya haruslah, gue nggak terima loe dihina sama dia."


"Emang dia siapa?"


"Teman kuliah gue."


Maya melotot.


"Enak aja, mantan gue kan udah mati. Tuh si Alex jelek."


"Nggak boleh gitu, Mbak. Inget Mbak dulu pernah ngapain aja sama dia? Pernah sayang, pernah cinta, pernah tunangan pula."


"Udah deh, nggak usah dibahas. Masa lalu biarlah berlalu."


Mereka lalu terdiam, Adji menarik kursi plastik dan membawanya ke samping ranjang sang kekasih.


"Lagian kamu ngapain bawain aku jeruk sih, kan sayang uangnya. Mending disimpan." Maya menunjuk plastik yang tergeletak di meja.


Adji dengan sigap mengambilkannya lalu ia duduk lagi.


"Emang nggak boleh? Murahan ya?"


"Bukan gitu maksud gue."


"Mbak, maaf ...." Adji menunduk.


"Tuh kan, baver amat sih."


"Boleh minta sesuatu nggak?"


"Apa? Cium?"


Adji terkekeh.


"Dih, maunya. Saya kan bau, Mbak. Seneng banget cium-cium."


"Ish, geer banget. Orang becanda kok." Wajah Maya memerah.


"Mbak, bisa nggak kalau, Mbak nggak manggil loe gue sama saya?" Adji menunduk lagi.


Maya menatap pria yang duduk di sampingnya.


"Kenapa?"


"Biar enak aja dengernya, kita kan udah mau nikah."


"Trus panggilnya apa?"


"Ya aku, ka-kamu." Adji gugup, Maya tersenyum kecil.


"Iya, tapi kamu jangan panggil aku Mbak lagi."


"Ya nggak bisa, Mbak kan emang lebih tua dari saya."


"Tuh kan, kamu nggak malu jalan sama embak-embak kaya aku?"


"Ngapain malu, kalau embak-embaknya cantik kaya Mbak Maya."

__ADS_1


"Loe, eh kamu bisa aja."


Mereka tersenyum dan saling pandang sesaat, lalu keduanya membuang muka karena malu.


"Dji," panggil Maya lirih.


"Ya, Mbak."


"Mau itu!" Maya menunjuk jeruk yang sedari tadi dipegang oleh Adji.


"Dibuka?"


"Iya lah, masa diliatin."


Perlahan Adji membuat kulit jeruk itu, mengupaskannya untuk sang pujaan hati.


"Mbak, manja juga, ya."


"Nggak boleh? Manja sama calon suami sendiri?"


"Hehehe ... boleh kok."


"Dji, nanti kalau kita udah nikah, kamu kerja ya di kantor bokap."


Deg.


"Apa? Kerja? Jadi apa? Saya kan cuma lulusan SMA."


Maya mengunyah jeruk pelan, "Ya itu sih gampang, nanti kan kamu bisa kerja sambil kuliah."


"Tapi, Mbak. Saya nggak enak sama keluarga Mbak. Nanti dikira saya aji mumpung."


"Ya masa kamu mau terus jadi pemulung sih?"


"Kenapa? Mbak nggak suka? Mbak takut saya nggak bisa ngasih nafkah kaya yang teman Mbak bilang tadi?"


"Bu- bukan itu maksudku. Ya ... aku kan juga mau kamu maju."


"Nanti ya, Mbak. Saya pikir-pikir dulu. Oh iya hampir lupa. Sebentar."


Adji mengambil sebuah map dari dalam tasnya.


"Ini berkas saya udah jadi, Mbak. Om Hardi nggak ke sini?" tanya Adji seraya memberikan amplop itu.


"Wah, Alhamdulillah. Nanti digabung sekalian sama punyaku. Biar Tante Rosa yang urus. Eum ... Papa nanti sore, katanya ada janji sama orang katering."


"Mas Denis?"


"Eum, biasa di mah malam mingguan sama pacarnya."


"Adik kamu?"


"Ngapain nanya-nanya dia, kamu suka ya?"


"Ye, emang nggak boleh? Semua juga kutanyain."


"Awas aja kamu kalau suka sama Sherli!" ancam Maya


"Iya, Sayang ...." Adji mencubit gemas pipi kekasihnya itu.


***


.


Hari kian sore, setelah menjenguk Maya, Adji langsung pulang. Kini ia sudah kembali berganti pakaian dengan pakaian tugas. Baju hitam, dan celana pendek. Dilihat jam di dinding sudah masuk pukul empat sore. Selesai melaksanakan sholat ashar, ia berjalan keluar rumah tak lupa kembali membawa peralatan tempurnya untuk dijalan.


Sebuah karung sudah ia pegang beserta besi panjang. Ia menyusuri jalanan perkampungan untuk kembali mencari botol bekas, dari pagi perutnya belum terisi nasi, karena uang di dalam dompetnya sudah habis. Meski perih melanda perut kosongnya, ia tetap terus melangkah menyambangi tiap-tiap tempat sampah.


Keberuntungan kembali berpihak padanya, di ujung gang terlihat sebuah tenda dan terdengarย  suara musik dangdut menggema. Sebuah pesta pernikahan, kakinya dengan cepat melangkah ke sana.


Benar dugaannya. Gelas plastik juga botol plastik bekas berserak di aspal, bagai melihat berlian, Adji memungutnya satu persatu dan memasukkannya ke dalam karung. Setengah karung terisi, dirasa cukup dan tak terlihat lagi barang berharga yang berserak. Ia kembali melanjutkan perjalan.


Adji terduduk di trotoar, mengusap peluh dikeningnya. Lelah yang ia rasakan, diambilnya botol minum yang ia bawa, menengguk pelan isinya. Kemudian ia kembali bangkit menuju komplek perumahan, sebelum malam.


***


Sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang, saat itu Adji sudah berada di pengepul untuk menukar hasil jerih payahnya hari ini. Mungkin memang tidak seberapa, karena hanya sekarung penuh yang bisa ia bawa.


Dua puluh satu ribu, uang yang didapatnya. Ia berjalan sedikit terhuyung ke arah warteg langganannya.


"Lu kenapa, Dji? Muka lu pucet amat?" tanya si Mpok warung.


"Nasi, orek sama tahu ye, Mpok. Kasih kuah santen dikit," ujarnya lirih menahan perutnya yang perih.


"Owh, iye iye, bentar gue bikinin."


Tak lama kemudian sepiring nasi beserta lauknya tersaji.


"Minumnya apa?"


"Teh tawar anget aja," jawab Adji sambil mengunyah makannya.


"Ya ampun, Dji. Lu kelaparan? Dari mana?" tanya si Mpok sambil menuang teh tawar untuknya.


"Iya, Mpok. Seharian saya belum makan. Baru cari duit."


"Ya ampun, Dji. Lu kalo laper, ke sini aje, nggak apa-apa bayarnya ntar kalo lu punya duit. Dari pada lu kenapa-kenapa dijalan. Siapa yang mau nolongin lu." Si Mpok meletakkan segelas teh tawar di hadapan Adji.


Adji hanya tersenyum kecil sambil menghabiskan makannya. Sebenarnya ia bisa saja tadi ngebon, hanya saja ia tak tega jika harus mengutang seperti yang lainnya. Sebisa mungkin ia akan berusaha sendiri. Apalagi hanya untuk sekedar beli makan saja.


***


Setelah mengisi perut, ia lalu melangkah pulang dengan mempercepat kakinya untuk sampai di rumah, karena ia harus mandi dan melaksanakan sholat magrib.


Lima belas menit ia tempuh, kini dirinya sudah berada di samping rumah, menaruh kembali peralatan kerjanya dan masuk ke rumah. Mandi lalu sholat.


Tak banyak doa yang ia rapal malam ini. Ia hanya memohon pada yang Maha Kuasa, agar segala yang ia citakan terlaksana dengan baik, ayahnya agar segera siuman, dan rezekinya diperlancar.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komentarnya yaaa


Makasih ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2