
💗💗💗
Tanpa sadar, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Maya bergegas ke teras untuk menyirami tanaman milik sang suami. Pohon bunga Melati yang terlihat mulai berbunga, wanginya menusuk indera penciuman. Harum dan menyegarkan. Sementara pohon Mawar yang berada di sebelahnya justru bunganya terlihat layu, bahkan warnanya mulai kecoklatan.
Maya menyentuh ujung bunga Mawar, tiba-tiba saja bunga itu luruh perlahan ke atas tanah. Rontok dan berguguran. Mungkinkah itu pertanda rumah tangganya akan seperti bunga Mawar itu.
Dada Maya kembali sesak mengingat kejadian kemarin. Setiap kali dirinya berada di rumah sang suami, maka bayangan akan wajah wanita rekan kerjanya itu selalu menghantui. Terlebih saat ini Adji tak ada di sisinya.
Ujung mata Maya mulai berair, air mata kembali berurai. Sepertinya ia tak sanggup jika terus-menerus seperti saat ini. Ia pun melangkah masuk kembali ke rumah.
"Mbak Maya," panggil seseorang.
Maya menghentikan langkah, dan menoleh ke arah suara. Seorang wanita berambut panjang kemerahan, yang kemarin menangis di hadapan suaminya. Kini tengah berdiri di depannya dengan seorang pria yang tak asing juga.
Tanpa pikir panjang, Maya mendekati wanita itu. Dengan wajah yang memerah menahan marah, karena wanita itu tak membawa serta suaminya.
"Di mana suami saya? Hah! Kamu sembunyikan di mana suami saya!" bentak Maya.
Wanita itu ketakutan, ia hanya menunduk.
"Hey, aku bicara sama kamu. Jawab! Di mana suami saya?" Kali ini Maya mulai geram, ia menjambak rambut wanita itu. Namun, wanita itu tak membalas. Ia hanya mencoba menjauhi tangan Maya dari rambutnya.
"May, udah, May. Udah!" Pria di sebelahnya mulai melerai.
Isak tangis keluar dari sang wanita tersebut.
"Nggak usah sok nangis, loe. Setelah apa yang loe lakuin ke suami gue." Maya menahan tangisnya. Ucapan yang awalnya dengan kamu saya, kini beralih menjadi gue elo karena ia merasa tak perlu lagi bicara sopan pada wanita yang telah menggoda suaminya.
"May, kedatangan kita ke sini untuk meminta maaf sama loe sama Adji. Adji mana?" tanya si pria.
"Eh, Reza. Loe tanya aja sama perempuan ular ini. Dia yang bawa suami gue." Nada suara Maya makin tinggi.
"May, nggak mungkin. Dari kemarin gue sama Bella di rumah sama keluarga gue juga. Dia juga nggak bilang pergi sama Adji."
Maya menggeleng tak percaya. "Nggak mungkin, trus kalau kaya gitu. Suami gue di mana?"
Perlahan Bella menghapus air matanya. Ia merasa bersalah atas kejadian kemarin. Mungkinkah atasannya itu pergi karena sang istri marah.
"Sayang, coba kamu ceritakan yang sesungguhnya pada Maya." Reza mengusap punggung Bella lembut.
"Maafin saya, Mbak. Kemarin saat Mbak Maya pergi dari rumah. Pak Adji memang berniat untuk mengantar saya ke rumah Mas Reza. Tapi, saat Pak Adji masuk ke rumah untuk berganti pakaian. Saya pergi, saya sadar tidak seharusnya saya melibatkan Pak Adji untuk masalah saya ini. Saya nggak mau rumah tangga Pak Adji dan Mbak Maya hancur gara-gara saya. Makanya saya pergi untuk mencari Mas Reza sendiri. Setelah itu saya nggak tahu lagi. Maafkan saya, Mbak." Bella menunduk.
"Maaf? Setelah apa yang loe lakukan dengan suami gue? Iya?"
"Mbak, sumpah saya nggak ngapa-ngapain sama Pak Adji."
"Tapi loe hamil, masa mau bilang kalau nggak ngapa-ngapain."
"May, May. Udah, May. Adji nggak salah. Gue yang salah." Reza angkat bicara.
__ADS_1
"Loe mau melindungi mereka? Iya?"
"Bu-bukan. Anak yang dikandung Bella, a-anak gue," ujar Reza seraya memalingkan wajah.
"Apa? Trus, ngapain kemarin loe ke sini minta pertanggung jawaban suami gue?" Jari Maya menunjuk ke arah wanita di sebelah Reza.
"Sa-saya cuma mau minta tolong Pak Adji mengantar saya bertemu keluarga Mas Reza."
"Ngaco! Loe tuh ngaco! Minta tolong sama suami orang. Trus sekarang di mana suami gue?"
Mereka berdua menggeleng lemah. Maya menarik napas pelan, ia lalu terduduk di kursi teras mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kita bantu cari," ucap Reza ikut duduk di sebelah Maya.
Maya hanya menatap kosong ke arah depan. Ia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Orang yang membuat rumah tangganya retak sudah di depan mata. Namun, tak bersama suaminya. Lalu ke mana Adji pergi?
"Assalamualaikum," sapa seseorang.
Ketiganya menoleh ke arah suara. Seorang pria paruh baya berjalan mendekat ke arah Maya. Maya berdiri menyambut kedatangan pria itu.
"Waalaikum salam. Pak RT. Ada apa, ya, Pak. Maaf kalau saya membuat keributan." Maya menjabat tangan pria paruh baya tersebut.
"Oh nggak apa-apa, Mbak. Oh iya, Mbak Maya sudah dengar kabar?"
"Kabar apa, ya, Pak?"
Maya membuka mulutnya lebar, lalu menutupnya dengan telapak tangan. Dadanya terasa sakit mendengar penyataan Pak RT barusan. Suaminya kritis. Kok bisa?
💗💗💗
Di ruangan berukuran kurang lebih 4x4m2. Seorang pria berbaring lemah tak berdaya di atas brankar. Sementara sang istri terus menggenggam tangannya. Air mata Maya takhenti menangis. Berkali ia memanggil-manggil nama sang suami, berharap suaminya itu akan membuka mata. Namun, Adji masih tak sadarkan diri.
Operasi si kepala Adji yang dilakukan kemarin malam sudah berhasil dilewati. Hanya saya ia belum sadar sejak keluar dari ruang operasi. Wajahnya masih terlihat lebam sana sini. Terutama di bagian bibir yang membengkak.
"Bang, bangun, Bang. Bang Adji, maafin aku. Aku udah salah menilai kamu. Aku bodoh karena tak percaya dengan suamiku sendiri. Maafkan aku, Bang." Maya mengecup tanga suaminya.
"Bang Adji, bangun. Kamu ingat kan janji kita? Kita akan menua bersama. Menjadi ayah dan ibu untuk anak-anak kita nanti? Menjadi kakek dan nenek untuk cucu kita kelak. Aku nggak sanggup kalau melewati semuanya sendiri." Air mata Maya terus mengalir. Hidungnya pun mulai berair.
"Bang, aku sayang sama kamu. Aku mencintai kamu selamanya. Kenapa kamu nggak sadar juga? Kamu nggak sayang sama aku? Kamu nggak kangen sama aku?"
Dada Maya semakin sesak, tak ada tanda-tanda kalau suaminya akan sadar. Ia pun tak akan menyerah, ia akan terus menunggu suaminya sampai sadar dan pulih. Bahkan ia sudah janji pada dirinya sendiri untuk selalu percaya pada sang suami. Karena selama ini suaminya itu memang tak pernah membohonginya. Rasa ego dan cemburu yang membuat hatinya tak percaya pada ucapan suaminya sendiri.
Maya memeluk tubuh suaminya, menciumi setiap inci wajah tampan itu perlahan. Mengusap wajah sang suami lembut. Dan membisikkan perlahan di telinga suaminya.
"Bang, ini aku istrimu. Aku sayang kamu." Maya mengusap tangan sang suami lalu mengecup kening Adji yang masih berbalut perban itu dengan lembut.
💗💗💗
Di depan ruangan ICU, sepasang sejoli yang tadi mengantar Maya ke rumah sakit kini tengah duduk menunggu rekannya yang masih berada di dalam.
__ADS_1
Reza dan Bella duduk bersisian, tangan Reza tampak menggenggam erat tangan wanita di sebelahnya. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka telah menjalin hubungan selama lima bulan. Membuat komitmen yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Reza tak pernah menyangka, kedekatannya dengan Bella yang notabene hanya sekedar atasan dan bawahan saja di kantor. Membawa mereka pada perasaan masing-masing. Perasaan nyaman dan bahagia setiap kali mereka bersama. Meski tak saling mencintai. Ia pun sebenarnya tahu, kalau bawahannya itu tak pernah menyukai Adji, tapi menyukai dirinya. Untuk menghilangkan perasaan Bella padanya, ia mengalihkan Bella untuk menggoda Adji.
Sayangnya, Adji terlalu alim dan mencintai istrinya. Berbagai cara mereka lakukan untuk menghancurkan rumah tangga Adji, tak pernah berhasil. Malah senjata yang ia hendak berikan pada Adji, berupa obat perangsang, justru mengenai dirinya sendiri.
Kini, Reza harus bertanggung jawab atas perbuatannya dengan sang pacar. Awalnya ia berpacaran dengan Bella hanya untuk senang-senang saja. Bahkan ia tampak takut saat Bella menemuinya dan mengatakan kalau dia sedang mengandung anak darinya.
Reza takut ayahnya akan marah dengan perilakunya itu. Ia sempat kabur dan mengusir Bella. Sampai akhirnya Bella meminta bantuan pada Adji.
Bella nekat mendatangi rumah orang tua Reza, demi janin yang berada dalam kandungannya itu. Ia rela apa pun yang akan terjadi nanti, seandainya keluarga kekasihnya itu menolak dan mengusirnya.
Ternyata dugaannya salah, keluarga Reza justru meminta maaf pada Bella, karena ayah Reza adalah sahabat ayahnya. Ayahnya Reza merasa gagal mendidik anaknya. Lalu meminta Reza untuk kembali pulang.
Saat itu juga, orang tua Reza mengantar Bella ke rumah sakit untuk cek kandungan. Yang awalnya Reza menolak, ia terharu saat melihat sebuah lingkaran kecil di dalam perut kekasihnya itu. Yang tak lain adalah janin yang dikandung oleh Bella, calon anaknya.
Sejak saat itulah, Reza mulai menyadari akan kesalahannya. Dan berusaha untuk menyayangi dan melindungi kekasih dan janin yang dikandungnya itu.
Bella merebahkan kepalanya di bahu Reza. Reza hanya tersenyum kecil lalu mengusap rambut kekasihnya itu.
"Kamu lapar?" tanya Reza.
"Enggak."
"Kita cari sarapan, ya. Kasihan si dedek kan butuh asupan juga."
Bella mengangkat kepalanya, menatap pria di sebelahnya itu dengan tersenyum. Hatinya jauh lebih baik dan bahagia. Karena akhirnya sang kekasih yang awalnya cuek itu kini sudah mulai menunjukkan perhatian sedikit demi sedikit.
"Kenapa? Kita cari makan yuk!" ajak Reza lagi.
"Tapi, Mas. Kita belum tahu keberadaan Pak Adji, nanti kalau Mbak Maya butuh kita lagi, gimana?"
"Ya udah, kamu tunggu sini, ya. Aku dari sarapan buat kamu."
Bella hanya mengangguk pelan. "Oh iya, kamu udah hubungi keluarga Mbak Maya?"
"Sudah, mungkin sebentar lagi mereka tiba."
"Owh."
Reza mengusap perut kekasihnya yang masih datar itu. "Ayah cari sarapan dulu, ya," ujarnya.
Bella terkekeh mendengar ucapan kekasihnya itu. Ia berharap keluarganya nanti akan harmonis seperti keluarga atasannya, Adji dan Maya. Sebuah acara pernikahan sederhana untuknya sedang dipersiapkan oleh orang tua Reza. Sebelum janin dalam kandungan Bella semakin besar.
💗💗💗
Tbc.
Vote dan komennya pleaseee.Â
__ADS_1