Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
45


__ADS_3

💗Madji💗


Yang belum follow, bolehlah follow dulu.


Tak kenal maka tak sayang.


💗💗💗


Hari terus berganti, bulan pun berlalu. Tanpa terasa setahun telah terlewati. Pasangan yang fenomenal. Antara seorang pemulung dengan seorang gadis anak pemilik perusahaan retail. Kini pernikahan mereka sudah menginjak tahun kedua.


Belum ada suara tangis bayi, atau pun tersematnya janin di dalam rahim sang istri. Seperti pasangan lainnya.


Brak!


Maya masuk rumah dengan membanting pintu, Adji sang suami yang melihat menatap heran. Ia yang tengah menyirami tanaman, ikut masuk mengikuti langkah istrinya ke kamar.


Tiba-tiba Maya sesenggukan, duduk di tepi ranjang. Adji menatap heran, lalu mendekati istrinya


"Kamu kenapa? Kok pulang-pulang nangis. Belanjaannya mana? Bukannya tadi kamu mau ke warung sayuran." Adji berusaha bertanya untuk mengetahui apa yang tengah terjadi pada istrinya itu.


"Mayang, cerita dong. Apa ada orang yang nyakitin kamu?"


Maya memejamkan matanya, ia mengusap pipinya yang basah. Lalu melihat ke arah suaminya.


"Bang, kapan kita punya anak? Aku capek dengar ibu-ibu ngomongin kita," ujar Maya masih dengan terisak.


Adji menghela napas pelan, menyentuh bahu sang istri. "Kamu yang sabar, itu rahasia Allah."


"Tapi aku capek, Bang."


"Emang mereka bilang apa?"


"Mereka sih nggak bilang apa-apa. Ada yang bilang kita nunda punya anak, karena sibuk kerja."


"Hem."


"Ada juga yang bilang aku nggak subur."


"Hem."


"Ada juga yang bilang, kita terlalu ngejar harta, sampai lupa bikin anak. Padahal kerja buat apa kalau nggak ada anak."


"Hem."


"Kupingku panas, Bang."


"Hem."


"Kamu nyebelin banget, sih. Istrinya cerita cuma hem hem hem aja."


Adji terkekeh. "Emangnya kita pernah lupa ya bikin anak?"


Maya melirik, dengan wajah bersemu merah. Di saat hatinya sedih, sang suami selalu bisa membuatnya kembali tersenyum.


"Mayang, dengar aku. Anak itu kan rezeki. Hanya Allah yang tahu, kapan rezeki itu datang. Tugas kita hanya berdoa dan berikhtiar."

__ADS_1


"Kita kan udah berdoa sama usaha. Allah nggak sayang sama kita ya, Bang?"


"Astaghfirullah. Kamu kok jadi kaya anak kecil?  Justru karena Allah sayang sama kita. Allah sedang menguji kita. Allah juga masih kasih kita kesempatan untuk berduaan, pacaran terus."


"Emang kalau udah punya anak nggak bisa pacaran? Berduaan?"


"Mungkin aja kan?"


"Tapi kenapa sih, Bang. Yang lain pada cepet-cepet hamil. Apalagi anak-anak yang masih sekolah itu. Mereka gampang banget hamil. Nggak perlu susah payah berdoa, berusaha kaya kita."


Kembali Adji menarik napas dalam-dalam. Ia mengerti gimana perasaan sang istri. Begitu juga dengan dirinya. Siapa sih yang tidak ingin memiliki keturunan hasil pernikahan. Tapi, ia juga sadar. Ia tak ingin menuntut lebih pada istrinya itu.


"Allah senang mendengar doa kita, Yank."


"Apa aku resign aja. Biar fokus. Mungkin aja kan aku kecapean kerja? Gimana menurut kamu?"


"Apa? A-aku sih terserah kamu aja. Gimana nyamannya kamu. Tapi, yakin kamu nggak akan bosan di rumah."


"Demi, Bang. Demi datangnya buah hati kita."


Adji tersenyum, meraih bahu sang istri merangkulnya. Maya meletakkan kepala di bahu suaminya.


"Insya Allah, Allah akan beri kita keturuan di waktu yang tepat."


"Aamiin."


"Aku pernah baca, Bang. Kalau mau cepat hamil banyak makan toge buat kesuburan. Sama telur bebek biar spermanya kental." Maya menatap suaminya.


"Iya, aku juga pernah dengar."


"Ya udah, aku ke pasar deh. Beli itu semua."


"Aku antar ya!"


"Nggak usah, Bang. Aku bawa motor aja."


"Yakin nggak mau diantar?"


"Iya."


Maya meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangannya. Lalu melangkah keluar kamar dengan semangat hendak ke pasar.


Adji ikut keluar, melihat istrinya memutar motor yang mereka beli enam bulan lalu secara cash. Maya memakai helm dan melambaikan tangan ke arah sang suami. Lalu motor melaju melewati gang menuju jalan besar.


Adji kembali melanjutkan aktivitasnya. Menyirami tanaman yang ia tanam. Kini tanaman itu bertambah banyak. Karena tiap bulan, ia selalu membeli kembali pot, tanah, pupuk dan benihnya. Sudah berapa kali saja sawi, kacang panjang, juga cabai yang sudah dipanen. Lumayan untuk membuat mie rebus. Dan sayur lainnya.


💗💗💗


Maya tiba di pasar, memarkir kendaraannya di parkiran. Lalu melangkah masuk melewati pintu samping pasar. Karena kalai lewat depan agak jauh kalan ke dalam tempat pedagang sayur.


Bagian depan pasar, di isi oleh pedagang buah-buahan. Pasarnya dua lantai. Bagian lantai dua khusus penjual emas, barang elektronik juga pakaian anak dan dewasa. Sementara di bagian bawah depan, khusus kosmetik, sepatu sandal dan warung kelontong.


Bagian luar kanan, khusus perabotan rumah tangga. Dari yang kecil seperti sendok, sampai yang besar seperti lemari juga ada.


Maya melewati pintu samping yang langsung menuju ke lantai bawah belakang. Bagian sayur mayur, ikan, daging sapi, dan ayam potong.

__ADS_1


Maya terlebih dahulu ke tukang sayuran. Kembali tauge sekilo, bawang merah putih. Cabai keriting, sayur sop, tomat dan oncom. Hari ini ia akan masak tumis tauge pakai oncom. Tak lupa pula bumbu dapur. Kemudian tahu dan tempe, makanan wajibnya kini.


Lauknya ia membeli satu ayam negeri yang dipotong menjadi sepuluh bagian. Sebagian akan diungkep, bisa untuk bekal makan siang besok. Ceker dan kulitnya akan ia buat sayur sop.


Ia juga membeli sekilo ikan lele. Kebutuhan untuk seminggu ke depan. Ia belanja. Kalau sayuran ia masih bisa belanja dadakan di warung dekat rumah. Tapi, kalau lauk pauk lebih hemat belanja di pasar tradisional.


Selesai ia membeli kebutuhan tersebut, ia ke toko kelontong. Membeli minyak goreng dan telur bebek mentah juga telur ayam. Lalu kecap, sabun cuci baju,  dan sabun cuci piring juga gula pasir.


Tangan kanan dan kirinya penuh belanjaan. Ia bahkan menyewa tukang panggung untuk membantunya membawa barang-barang ke parkiran motor.


"Makasih, ya." Maya menyodorkan yang sepuluh ribuan pada bocah remaja yanh baru saja membantunya membawa barang belanjaan.


"Iya, Kak." bocab remaja itu tersenyum semringah menerima bayaran. Ia lalu kembali ke dalam pasar mencari pelanggan lain yang butuh bantuannya.


💗💗💗


Selesai mandi, Adji duduk di kamarnya. Membuka ponsel miliknya, sebenarnya ia agak takut kalau sering main handphone di rumah. Takut kalai sang istri memergoki, atau mencurigainya.


Padahal bisa saja ada pesan atau panggilan penting dari rekan kerja. Meskipun sebenarnya nggak mungkin kalau hari libur begini.


Adji melihat beberapa pesan wa yang belum ia baca. Sejak pulang kerja kemarin sore, ia belum membuka handphone nya lagi.


Ricard.


[Terima kasih, Pak. Laporannya sudah saya terima.]


Danang.


[Proposal produk sabun baru, mau masuk market kita, Pak. Mohon bantuannya.]


Liana.


[Maaf, Pak. Pak Reza minta laporan yang kemarin.]


Bella.


[Pak, saya mau curhat dong.]


Adji mengehela napas. Menghapus pesan terakhir dari Bella. Bisa gawat kalau istrinya tahu, kalai Bella sering sekali curhat dengannya.


Tiba-tiba saja layar ponselnya berubah, sebuah panggilan video call dari Bella memanggilnya. Tangan Adji gemetar dan gugup, cepat ia memutus panggilan itu lalu mematikan ponselnya. Dadanya masih berdegup kencang.


"Assalamualaikum," sapa seseorang dari luar.


Adji meletakkan ponselnya kembali ke dalam lemari. Ia lalu melihat siapa yang datang.


"Waalaikum salam."


Adji membuka pintu rumahnya, di depannya kini telah berdiri seorang wanita berambut panjang. Dengan dres di atas lutut berwarna hitam. Paha putihnya terlihat sangat mulus. Adji menelan saliva. Kenapa bisa wanita yang baru saja hendak menelponnya itu sudah berdiri di hadapannya.


"Pak Adji!" teriaknya.


Wanita itu seketika memeluk tubuh Adji, dan menangis terisak-isak. Sungguh itu membuatnya tak bisa berkutik. Namun, ia pun tak berani menyentuh punggung wanita itu. Harapnya hanya satu, sang istri tak melihat kejadian itu.


💗💗💗

__ADS_1


Tbc


Vote dan komentarnya yaaaa.


__ADS_2