Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
14


__ADS_3

***


.


Maya masuk ke ruang gawat darurat karena darah terus keluar dari keningnya. Sementara Adji sudah mulai sadarkan diri. Ia terbaring di sebuah ruang rawat inap. Pria yang membawanya ke rumah sakit menatap tajam.


Mata Adji terbelalak melihat siapa yang berdiri di sebelahnya.


"Ka-kakak. Kok bisa di sini?" ucap Adji terbata.


"Gue yang nolongin loe sama cewek loe."


"Mana Mbak Maya, Kak?"


"Masih di UGD, sekarat."


Adhi hendak bangun, namun Sean menahannya.


"Mau ke mana?"


"Gue harus liat kondisinya, Kak."


"Udah sih, loe tenang aja. Beruntung kalian gue tolongin." Sena kini duduk di hadapan Adji.


Tangan Adji masih tersambung dengan selang infus. Adhi menatap jengah sang kakak. Dia tahu, pasti kakaknya itu akan kembali bicara tentang penawarannya tadi.


"Kakak mau apa lagi?" tanya Adji.


"Gue nggak mau apa-apa, cuma mau ngingetin loe aja. Kalau loe mau pernikahan loe sama Maya berjalan lancar, loe harus terima tawaran gue. Enak kok, loe nggak perlu mulung lagi. Kita bakalan menguasai perusahaan itu. Gue yakin. Bokapnya Maya pasti percaya sama loe."


"Kak, sampai kapanpun, gue nggak bakalan mau ngikutin rencana busuk loe."


Sean bangkit dari duduknya.


"Okey, kalau loe nggak mau, gue bakalan cabut semua pengobatan cewek loe yang saat ini sedang berjalan. Karena apa? Keluarganya belum ada yang tahu kalau dia kecelakaan. Dan loe tahu itu tandanya apa? Loe bakal kehilangan dia. Selamanya!" tegas Sean.


Sean berjalan pelan ke arah pintu. Tangan Adji meremas seprai geram. Ia harus mengambil keputusan. Kalau tidak kakaknya itu akan berbuat di luar akal sehatnya.


"Tunggu, Kak!" panggil Adji.


Sean menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke arah sang adik.


"Kenapa? Loe udah berubah pikiran?" tanyanya sinis.


Adji menghela napas pelan. Lalu mengangguk.


"Okey, gue bakalan ngikutin apa mau loe. Tapi tolong, jangan cabut pengobatan dia. Gue sayang banget sama dia."


"Okey. Loe tenang aja. Gue bakalan biayain dia sampai sembuh." Sean berjalan mendekat lalu menepuk pundak sang adik pelan.


"Besok kalau  loe udah boleh pulang, datang ke rumah. Tanda tangani kontrak kerjasama kita. Untuk merebut perusahaan bokapnya Maya," ucap Sean lagi.


Adji mengangguk lirih. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Karena iapun tak mampu juga membiayai pengobatan Maya, ditambah uang yang dikumpulkannya untuk membeli cincin pernikahan saja masih belum cukup.


***


Dua hari sudah Adji dirawat, dan ia belum bisa melihat kondisi sang kekasih. Kini ia diperbolehkan untuk pulang. Cepat Adji ke ruangan UGD. Mencari tahu kondisi Maya.


"Maaf, Sus. Pasien atas nama Maya, yang dua hari lalu kecelakaan itu, sekarang di rawat di mana ya?" tanya Adji pada seorang suster jaga.


"Owh, tunggu sebentarya, saya cek dulu," ucap  suster  tersebut.


Tak lama kemudian, "Sudah di pindah ke ruang rawat inap. Lantai tiga, kamar mawar nomor 301, Pak."


"Owh, makasih, Sus."


Dengan cepat Adji menuju kamar yang dibilang suster tadi. Napasnya tersengal karena ia tidak naik lift melainkan naik tangga darurat untuk mengejar waktu.


Sesampainya di depan kamar, Adji mengatur napasnya. Lalu perlahan memutar kenop pintu kamar. Pintu terbuka. Maya terlihat sedang berbaring dan disuapi oleh seorang wanita muda.


Ternyata di kamar itu juga ada keluarga Maya yang lain, Papanya juga Denis kakak Maya.


"Adji!" panggil Maya saat melihat Adji masuk.


Seluruh mata memandang ke arahnya. Mata Maya berbinar. Adji menyalami papanya Maya juga Denis.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Hardi.


"Alhamdulillah, Om. Saya hanya memar saja."


"Maaf, kami nggak sempat jenguk kamu, karena kondisi Maya kemarin semakin buruk, beruntung malam tadi mulai stabil dan bisa dibawa ke ruang inap," jelas Hardi.


"Iya, Om."


"Bos kamu baik juga ya, May," celetuk Denis.


"Iya, Mas. Untung dia lewat, kalau enggak mungkin aku yang lewat," ujar Maya.


"Mbak, siapa?" tanya wanita muda di hadapan Maya.


"Oh iya, Dji. Kenalin nih adik gue, Sherli."


Adji menjabat tangan wanita muda yang sejak tadi curi-curi pandang ke arahnya, dan ternyata adalah adiknya Maya. Ia baru melihat dan bertemu dengan gadis itu, meskipun Maya sering menceritakannya.


"Ganteng banget, Mbak," bisik Sherli di telinga Maya.


"Eh anak kecil, awas aja kalo suka. Calon suami gue tuh."


"Iya, iya."

__ADS_1


Maya manyun. Apalagi melihat Sherli anak baru gede itu yang tak henti memandangi wajah sang pujaan hatinya.


"Pah, itu Sherli nggak sekolah? Ajak pulang gih. Mas, loe nggak kerja?" tanya Maya.


"Sekolah kan, Sher?" tanya Hardi.


"Iya, Pah. Yah elah, Mbak. Gitu aja marah." Sherli menyalami Maya dan berjalan ke arah pintu.


"Ya udah, Papa kerja dulu, Ya. Adji, tolong jaga Maya."


"Iya, Om." Adji mencium punggung tangan Hardi.


"Bilang aja loe mau berduaan, ngusir kita lagi." Kini Denis bangkit dari duduknya.


Maya hanya cengengesan.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Adji berjalan mendekati sang kekasih, menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang.


"Emang loe udah boleh pulang?" tanya Maya.


Adji menggeleng.


"Saya kabur, Mbak."


"Ah serius. Buron dong?"


"Nggak apa-apa, yang penting bisa lihat kondisi, Mbak."


"Ish, nggak boleh gitu."


Adji hanya tersenyum kecil.


"Dji, maafin gue ya. Gara-gara gue, loe jadi celaka."


"Kebalik kali, Mbak."


"Dji, pernikahan kita tinggal sebulan lagi. Loe udah siap?" tanya Maya sambil mengusap tangan Adji.


"Insya Allah, Mbak. Lahir batin malah."


Maya terkekeh.


"Surat-surat lengkap kan, Dji?"


"Oh iya, saya lupa belum nyiapin semuanya. Nanti pulang dari sini deh ya."


"Buruan loh, Dji. Gue nggak mau pernikahan kita gagal gara-gara nggak dapet izin dari RT."


"Hehehe ... ngebet ya, Mbak."


Maya mencubit tangan pria di hadapannya itu.


"Aw."


"Emang, kalau pacaran di suruh lari-larian?"


"Ish, loe tuh ya."


Adji memandangi wajah kekasihnya tanpa kedip.


"Dji, jangan liatin gue kaya gitu, ah." Maya terlihat salah tingkah.


"Mbak, adiknya cantik juga ya."


"Adji!" Maya memukul Adji kesal.


"Iya, bercanda, Sayang." Adji mengusap kepala Maya lembut.


"Loe udah sarapan?"


"Belum, nanti aja, belum laper."


"Owh."


"Oh iya, Mbak. Saya pulang dulu ya."


"Mau ke mana? Masih pagi."


"Katanya mau cepet nikah, saya mau ngurus berkas nih."


"Oh iya, ya udah hati-hati."


"Mbak, istirahat ya." Adhi mengecup tangan Maya lembut.


"Dji, ini enggak." Maya menunjuk ke arah pipinya.


Adji tersenyum kecil, lalu menguncupkan jarinya dan menyentuh kedua pipi Maya.


"Udah kan?"


Maya tersenyum malu. Meskipun hanya dengan tangan kecupan itu, tapi membuat hati Maya berbunga-bunga. Adji lalu berpamitan.


Sebenarnya Adji bukan hanya akan mengurus surat-surat untuk pernikahannya, melainkan ia juga akan pergi mendatangi kakaknya di rumah papanya.


***


Adji melangkah gontai ke arah jalan pulang. Masih bimbang dengan keputusannya itu. Di lain sisi ia tak ingin membuat Maya kecewa. Ia berharap keputusannya itu sudah benar. Walau bagaimanapun juga, Papi adalah orang tuanya yang sedang butuh banyak biaya


"Mas Adji," panggil seseorang.

__ADS_1


Adji menoleh, Arin mendekatinya.


"Kamu, Rin. Ada apa?"


"Aku dengar, Mas kecelakaan?"  tanyanya cemas.


"Iya."


"Gimana keadaannya?"


"Alhamdulillah, nggak kenapa-kenapa. Oh iya, bapak ada, Rin?"


"Owh, ada, Mas. Ada perlu apa?"


"Ini, eum ... mau minta surat pengantar buat ke KUA," jawab Adji lirih.


Terlihat jelas raut wajah Arin yang kecewa saat mendengar Adji ingin membuat surat pengantar ke KUA.


"Mas jadi, nikah sama dia?" tanya Arin lirih.


"Iya, Inysa Allah."


"Selamat, Ya, Mas."


"Makasih, aku masuk ke rumah dulu ya, mau siapin berkas." Adji pamit dan melangkah ke arah pintu rumah. Sementara Arin masih berdiri mematung menatap kepergian pria yang disukainya.


***


.


Adji membuka kembali surat-surat penting miliknya, beberapa yang dibutuhkan, seperti KTP juga KK. Lalu ia bergegas ke rumah pak RT membawa berkas yang dibutuhkan.


Sesampainya di rumah pak RT, ia langsung disambut hangat oleh bapaknya Arin itu.


"Wah, yang mau nikah," serunya saat Adji baru saja mengucapkan salam, karena kebetulan pintu rumah Pak RT terbuka.


"Bapak, bisa saja. Pasti Arin ya yang bilang?"


"Iya, duduk, Nak Adji."


"Makasih, Pak."


Merek berbincang sebentar, Pak RT mengarahkan Adji tentang syarat yang harus dibawa juga bagaimana alurnya.


Saat mereka berbincang, Arin datang dari arah dapur membawa dua gelas minuman untuk Adji dan bapaknya.


"Diminum, Mas."


"Makasih, Rin."


Arin kemudian duduk di sebelah bapaknya. Menatap erat ke arah lelaki yang sampai saat ini tak pernah bisa ia lupakan.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Rin." Adjipun berpamitan.


"Mau ke mana lagi?"


"Saya masih ada urusan."


"Kamu bukannya baru pulang dari rumah sakit?"


"Iya, Pak. Tapi udah mendingan kok."


"Ya sudah, sekali lagi selamat ya, Nak Adji." Pak RT menjabat tangan Adji.


Kemudian Adji melanjutkan langkahnya menuju rumah kediaman sang ayah. Berbekal alamat yang diberikan Sean kemarin ia menaiki beberapa kali angkutan umum untuk sampai ke rumah papi.


***


.


Akhirnya Adji tiba di depan gerbang rumah besar itu, masih teringat jelas saat sang ayah menyeretnya ke gudang belakang rumah hendak membakar dirinya hidup-hidup hanya karena ia menjadi mualaf. Namun, ia sudah memaafkan semuanya.


Kini tujuannya bukan hanya ingin menyelamatkan Maya dan keluarga besar calon istrinya itu, melainkan juga untuk menyelamatkan sang ayah dari siksa neraka. Ia akan bertekad untuk menjadikan ayahnya mualaf seperti dirinya, tanpa sepengetahuan Sean sang kakak.


Langkah awal mungkin ini akan begitu sulit, karena ancaman Sean padanya. Tapi, semua akan dilakukannya secara diam-diam. Setelah berpikir agak lama, ia putuskan untuk melangkah masuk membuka perlahan gerbangnya.


Sean tampak berdiri tegap di depan pintu rumah, melipat tangannya di dada. Menyambut kedatangannya.


"Selamat datang kembali adikku sayang ... akhirnya kita bisa berkumpul lagi." Sean mendekat dan merangkul Adji mengajaknya masuk.


"Silakan, dibaca dulu surat kontraknya." Sean langsung menunjukkan surat kontrak perjanjian itu yang diletakkan di meja.


Adhi duduk, membaca dengan seksama isi surat kontrak itu. Sebenarnya tidak ada yang menyulitkan atau bisa mengancam jiwa orang lain. Hanya ia harus bisa mengambil alih perusahaan itu menjadi atas namanya, kemudian setelah perusahaan menjadi miliknya, Sean meminta itu semua dialihkan atas namanya.


Adji tersenyum miring, sebuah rencana matang di kepalanya.


"Udah, cepat! Tanda tangan!"


"Iya," jawab Adji seraya meraih pulpen untuk menandatangani surat itu.


Selesai, Sean langsung merampasnya dan pergi keluar. Meninggalkan Adji sendiri di ruang tamu. Tak lama kemudian suara deru mobil terdengar diiringi suara pintu gerbang yang dibuka.


Sean sudah berlalu. Dia pasti kembali ke kantornya. Adji melangkah menuju kamar ayahnya. Membuka pintunya perlahan. Kondisi ayahnya masih sama. Belum sadarkan diri.


Adji mengambil kursi dan duduk di samping ranjang. Membuka sebuah mushof kecil yang dibawanya dari rumah. Membacakan surat dari Alquran, berharap sang ayah mendengarnya lalu sadar kembali.


Suara merdunya menggema di ruangan. Lantunan ayat suci mulai mengalun indah. Meski ia belum terlalu fasih membacanya, ia tetap bersungguh-sungguh dalam menjalani agama barunya itu. Berharap semoga kelak sang ayah juga kakaknya dapat mengikuti jejaknya. Dan bersama-sama ke surga-Nya.


Aamiin.

__ADS_1


***


Next


__ADS_2