Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
44


__ADS_3

💗Madji💗


💕💕💕


Hari ini, Maya dan Adji izin untuk tidak masuk kantor. Mereka akan pergi ke sebuah kampus yang direkomendasikan oleh Hardi. Sebuah kampus di tengah kota Jakarta.


Mereka berdua baru saja turun dari busway tepat di depan kampus tersebut. Saling diam dan tak banyak bicara. Entah apa yang sedang mereka pikirkan.


"Sayang, jangan cepet-cepet dong jalannya." Adji mengejar sang istri yang jalan lebih dulu di depannya.


Maya menghentikan langkah di sebuah taman kampus. Menoleh ke arah suaminya.


"Abis kamu matanya ke mana-mana, mentang-mentang banyak mahasiswi."


"Astaghfirullah, Mayang. aku tuh lihat sekeliling doang. Nggak ngeliatin cewek. Satu aja nggak habis-habis."


Maya cemberut, sebenarnya ia masih kesal dengan kejadian semalam. Hanya saja ia pendam. Ditambah pula dengan dirinya yang sedang PMS. Lengkap sudah penderitaan Adji.


"Kita ke mana ini?" tanya Adji bingung.


"Ke tempat administrasi lah."


"Iya, di sebelah mana?"


Maya juga tidak tahu di sebelah mana. Ia pun berjalan mendekati seorang wanita berjilbab merah muda yang sedang duduk di sebuah kursi panjang.


"Maaf, Mbak. Mau nanya. Ruang administrasi di mana ya? Mau daftar mahasiswa baru," tanya Maya pada wanita itu.


"Oh, di sebelah sana, Kak!" wanita itu menunjuk ke araha belakangnya.


"Oh di sana ya? Makasih, ya."


"Iya, sama-sama."


Maya kembali melangkah mendekati sang suami. "Di sana, yuk!"


Adji mengikuti langkah sang istri menuju tempat yang dimaksud. Mereka akhirnya tiba di sebuah lobi kampus. Ada beberapa tulisan sebagai arahan ke mana mereka hendak melangkah.


Kedua mata Maya tertuju pada sebuah tempat seperti loket pembayaran. Ia mendekat.


"Maaf, Bu. Kalau mau daftar mahasiswa baru di mana?" tanyanya.


"Itu, Dek. Via online bisa. Di sebelah sana. Atau ambil formulir juga bisa. Ada di meja depan sana."


"Oh makasih, Bu."


💕💕💕


Hampir tiga jam mereka berada di kampus tersebut. Selesai melakukan pendaftaran dan membayar uang administrasi juga pembayaran satu semester ke depan untuk sang suami. Maya lalu mengajak suaminya ke kantin. Ia haus ingin minum yang bisa menyegarkan tenggorokannya.


Mereka tak bisa duduk di kantin kampus karena penuh. Akhirnya mereka keluar dari kampus mencari tukang jualan yang nongkrong di sekitar kampus.


Maya mendatangi pedagang bakso dan mie ayam. "Kamu mau makan apa, Bang?" tanyanya.


Adji hanya menggeleng. Ia belum lapar, karena masih jam sebelas siang. Biasa ia makan jam satu.


"Bang, kamu kenapa sih? Emang nggak lapar?"


"Aku cuma haus, Mayang."


"Ya sudah, kita beli minuman aja, trus pulang." Maya mengambil dua botol teh pucuk dari dalam box yang terletak di dekat gerobak pedagang bakso itu.


"Ini dua, Pak." Maya menyodorkan uang sepuluh ribuan pada penjualnya lalu menunggu kembalian.


Selesai transaksi, ia memberikan sebotol untuk sang suami. Adji meraih tangan istrinya melangkah menuju ke ujung jalan. Ia tak nyaman, sejak tadi banyak mahasiswa yang memperhatikan istrinya dari jauh.


Maya yang saat itu mengenakan kaus berkerah warna merah, dipadu dengan celana jeans. Memperlihatkan dengan jelaa lekuk tubuhnya yang ideal. Bagaimana tidak banyak laki-laki yang memperhatikannya. Belum lagi kulitnya yang putih, wajahnya yang bersih tanpa noda apalagi jerawat. Rambut panjang yang tergerai indah. Sampai-sampai membuat suaminya sendiri jatuh pingsan di malam pertama mereka.


"Kita, pulang. Makan di rumah saja," ucap Adji seraya mengajak istrinya naik ke tangga penyebrangan busway.


"Okey, tapi aku lagi malas masak. Kita beli padang aja, ya"


"Terserah kamu aja."


Adji tersenyum ke arah istrinya itu. Mereka akhirnya pulang dengan naik busway. Dan masih harus menyambung satu kali naik angkot lagi.


💕💕💕


Setibanya di rumah.


Tepat saat adzan dhuhur berkumandang. Adji dan Maya membersihkan diri. Mencuci muka mereka.


Adji langsung berwudhu, sementara Maya menyiapkan makan siang. Tadi sebelum sampai rumah, sempat mampir ke warung makan padang. Membeli sayur nangka, dan dua ayam bakar dengan sambal hijau, juga kerupuk.

__ADS_1


Sambil menunggu sang suami selesai sholat. Ia mencoba membaca beberapa pesan masuk dari para sahabatnya. Sejak menikah, ia sudah lama tak ikutan nimbrung di grup wa. Hanya membaca sekilas, tanpa sempat membalas. Perhatiannya sudah teralihkan pada sang suami.


Tak ada yang penting dibahas digrup. Hanya ada satu pertanyaan untuknya dari seorang teman dekat.


Diana.


[May, gimana kabar loe? Dah isi belum? Kita kan pengen dapet ponakan nih dari loe. Hehehe.]


Riris.


[Iya, May. Si berondong masa iya nggak tokcer sih? Masih seger kan tuh benih. Wkwkwkwk]


Maya.


[Ah, kalian ini. Bisanya ngeledekin gue doang. Doain ya biar disegerakan. Kita juga usaha kok]


Diana.


[Gue punya cara biar loe cepet hamil, May.]


Gendis.


[Nyimak…]


Tiba-tiba, Adji sudah duduk di depannya. Maya tersentak dan spontan mematikan ponsel. Meletakkannya di kursi.


"Asyik banget, chat sama siapa?" tanya sang suami.


"Biasa, teman sekolah dulu. Di grup."


"Oh, ada acara atau mau ketemuan?"


"Enggak, sih. Cuma lagi ngomongin masalah itu …." Maya tak melanjutkan. Ia sedikit malu, riskan juga takut.


Adji menatap sang istri dengan menautkan alis.


"Itu apa?"


"Eum, mereka nanyain aku udah hamil belum."


"Oh, masalah itu urusan Allah. Dia yang berhak menentukan kapan kita punya anak. Mau kita usaha ikhtiar dan berdoa seperti apa pun kalau Allah belum menghendaki, ya belum dikasih."


"Iya, Bang."


"Tapi, cucian numpuk itu. Lagi juga aku lagi dapet. Habis ini mau nyuci. Kamu mau ngapain?"


"Aku mau keliling ya."


"Keliling? Ke mana?"


"Ya biasa, cari rongsok."


"Astagfirullah, Abang Adjiku sayang, cintaku sayangku my baby bala-bala. Masih kurang gaji kamu jadi manager, harus mulung lagi?" Maya geram.


Adji justru terkekeh melihat raut wajah sang istri yang tampak kesal. Bagi dia itu lucu.


"Ini masih siang, Yank. Sayang kan lumayan setengah hari segerobak aja." Adji berusaha membujuk.


Maya cemberut. Ia mengambil piring dengan kesal. Bibirnya maju beberapa centi. Ia lalu menuangkan nasi ke atas piring dan meletakkan di hadapan sang suami.


"Boleh, ya."


"Enggak."


"Trus aku ngapain di rumah? Kamu lagi dapet. Aku glundang glundung aja gitu di kasur sendirian nungguin kamu nyuci."


"Ya ngapain, kek. Yang penting nggak mulung."


"Ya udah, aku bobok siang aja deh."


"Nah itu lebih Bagus. Nanti sore kita jjs deh."


"Apa tuh?"


"Jalan-jalan sore, Bang."


"Iya, Mayangku. Udah ah laper. Kamu ngoceh mulu." Adji mengambil piring berisi nasi di depannya, mengambil lauk dan sayurnya dan memakannya dengan lahap.


Maya hanya manyun, bukannya yang bikin dirinya ngoceh adalah suaminya sendiri. Ia pun juga menyantap dengan lahap makan siang mereka.


💕💕💕


Selesai makan, Maya mencuci piring dan lanjut mencuci pakaian. Sementara sang suami yang tak bisa tidur siang itu. Kini mendekat ke arah sang istri.

__ADS_1


"Aku ke luar dulu, ya."


"Cari rongsok?" tanya Maya menatap tajam.


"Enggak, mau ke tukang bunga."


"Kamu mau ngasih aku bunga?" Maya bangkit dari duduk dengan tangan masih penuh dengan busa sabun.


"Emang kamu mau bunga apa?"


"Eum, yang penting bukan bunga bangkai."


"Hahaha. Ya udah. Nanti aku beliin. Segerobak."


"Abang …."


Maya memercikan air ke tubuh sang suami yang berlari menjauh. Adji tertawa melihat wajah istrinya dari yang tersipu sampai kesal.


Maya kembali melanjutkan cuciannya.


💕💕💕


Adji membeli bibit tanaman untuk di teras rumahnya. Ada beberapa pot yang tidak terpakai di sana. Sayang jika dibiarkan begitu saja. Ia niga membeli tanah dan pupuknya.


Tiba di rumah, ia menata pot-pot tersebut. Mengganti tanahnya dengan tanah baru yang sudah beserta pupuknya. Lalu ia taburi beberapa bibit tanaman, sawi, cabai, jeruk, kangkung, juga bayam.


Tak lupa ia membeli dua pot khusus untuk bunga Melati dan Mawar merah. Setelah itu ia siram dengan air di atas pot-pot tersebut.


Selesai, ia pun duduk di bangku kayu. Dengan tangan masih kotor karena tanah. Menatap satu persatu hasil tanamannya. Kemungkinan satu bulan lagi akan tumbuh.


"Kamu udah pulang?" Maya sudah berada di belakangnya.


Adji menoleh. "Udah, liat tuh bunganya." Ia menunjuk ke arah dua pot berisi bunga.


"Oh bunga itu? Kamu mau bercocok tanam?  Pot ini isinya apa aja?"


"Sayuran, nanti kan kalau tumbuh lumayan ngahk perlu belanja sayur mayur hehehe."


Maya ikut terkekeh. Ada-ada saja ulah sang suami. "Benar juga sih, apalagi kalau pas cabe mahal. Lumayan tuh."


"Iya, tapi nanti pohon cabenya kalau udah numbuh masukin ke dalam."


"Kenapa, Bang?"


"Ntar dipetikin sama ibu-ibu yang lewat lagi."


Maya tertawa. "Hahaa. Benar juga kamu. Bunga buat aku mana?"


"Ada di kamar."


"Serius?"


"Liat aja."


Maya berlari ke dalam kamar hendak melihat bunga pemberian sang suami. Sementara Adji beranjak ke kamar mandi. Mencuci tangan dan buang air kecil.


"Abaaang …." Maya berlari keluar kamar dan mencari sosok suaminya.


Ia keluar tak menemukan sang suami, lalu ke ruang tamu. Akhirnya ia melihat sang suami tengah mengambil wudhu. Rambutnya basah  begitu juga tangan dan wajahnya.


Brugh!


Maya memeluk suaminya erat. Adji hampir jatuh ke belakang.


"Aduh, Mayang. Aku udah wudhu. Batal ini. Mau ke mesjid. Sholat ashar."


Maya tak melepaskan pelukannya, ia justru menciumi wajah sang suami lalu ke bibirnya.


Awalnya Adji menjauh. Namun, karena sang istri menciuminya dengan membabi buta. Akhirnya ia justru ikutan larut dalam pelukan itu.


"Makasih, ya, Bang. Ternyata kamu bisa romantis juga.  Aku seneeeng banget."


"Iya, trua maksud kamu meluk aku kaya gini apa? Manas-manasin?"


"Hehehe. Masa nggak boleh meluk."


"Kamu bangunin adik aku tau nggak. Mana kamu lagi pms."


"Ya maap."


Saat Maya hendak melepas pelukannya, Adji justru kembali menarik tubuh itu ke dalam pelukannya. Dan mencium bibir istrinya. Melumatnya hinga sesak.


💕👀💕

__ADS_1


Tbc


__ADS_2