Cinta Seorang Mualaf

Cinta Seorang Mualaf
Lapar


__ADS_3

💗💗💗


Lima hari sudah Adji berada di rumah sakit. Pagi ini sang istri Maya tengah membereskan pakaiannya dan menatanya ke dalam sebuah tas, karena hari ini dirinya sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.


Mereka berdua menunggu jemputan, awalnya Adji tak ingin merepotkan mertuanya dan ingin pulang naik taksi saja. Namun, Hardi yang saat itu mengetahui tidak memperbolehkan anak dan menantunya itu pulang naik taksi, dan ia sendiri yang akan mengantar mereka pulang.


"Kamu berarti seminggu ini nggak kerja dong, Yank?" tanya Adji seraya menyuap sarapannya sendiri.


Maya menoleh dan tersenyum ke arah sang suami. "Ya mana mungkin aku kerja sementara kamu di sini, Bang."


"Enak, ya, kalau perusahaan punyanya sendiri, kalau nggak masuk nggak ada yang marahin."


Maya merasa tersindir dengan ucapan suaminya tersebut. Ia pun berjalan mendekat ke arah sang suami.


"Kamu kok ngomongnya gitu, sih? Padahal aku di sini buat jagain suami aku sendiri loh. Atau emang sengaja kamu nggak mau kalau aku ada di sini terus?"


"Bukan, aku cuma nggak enak saja sama papa kamu, sama karyawan yang lainnya. Toh sakit aku ini juga bukan yang parah banget harus dijagain 24jam."


"Bilang aja kamu nggak suka aku jagain. Atau jangan-jangan teman kuliah kamu yang kemarin mau ke sini lagi ya? Trus karena ada aku, jadi kalian gagal ketemuan. Iya?" tanya Maya ketus.


Adji melirik istrinya yang sedang cemberut itu. Ia merasa sang istri akhir-akhir ini begitu sensitif, apalagi kalau masalah perempuan. Padahal di hatinya ia sama sekali tak pernah sedikit pun untuk memikirkan wanita lain selain Maya. Hati dan hidupnya sudah ia serahkan seutuhnya untuk wanita yang usia nya bertaut kurang lebih lima tahun itu.


Maya bukan hanya istri dalam hidup Adji, ia juga menganggap sang istri adalah partner hidupnya. Satu-satunya wanita yang mampu menghiasi hari-harinya. Yang mampu membuatnya semangat menjalani hidup, yang mengenalkannya akan betapa penting dan berartinya hidup kita untuk orang lain.


Selama dirinya menjadi pemulung, Adji bahkan tak pernah punya cita-cita. Bahkan ia tak pernah membayangkan bagaimana hidupnya di masa yang akan datang. Baginya, cukup ia bisa makan untuk hari ini saja sudah hal yang membahagiakan. Penghasilan yang ia dapat mana pernah ia pikirkan untuk usaha apalagi mencari pekerjaan yang layak. Hidup baginya dulu hanya sekedar mencari sesuap nasi, dan menyisihkan sebagian uangnya untuk bersedekah ke mesjid dan menabung untuk hari tuanya.


Semenjak menikah, tanggung jawabnya kini bertambah. Ada seorang istri yang harus ia nafkahi, dan kelak akan ada anak-anak juga yang harus ia nafkahi, sekolahkan hingga tinggi juga memberi mereka kehidupan yang layak. Maya telah merubah hidupnya menjadi dewasa di usianya yang masih dua puluh tahun itu.


"May, apa kamu nggak ingat sesuatu?" tanya Adji pada istrinya yang sibuk dengan ponsel di tangan.


Maya menoleh sekilas dengan alis bertaut. "Inget apa? Ada yang ketinggalan? Mana sini aku masukin ke dalam tas."


"Bukan, waktu aku masuk rumah sakit kemarin, tanggal berapa, ya?"


Maya mengingat-ingat sejenak, lalu melihat ke arah layar ponselnya. "Tanggal 7 November, kenapa?"


"Kamu nggak ingat itu hari apa?"


"Hari sabtu, inget banget aku."


Adji menghela napas pelan, istrinya sudah lupa dengan hari ulang tahunnya. Padahal ia berharap di ultahnya tahun ini akan berbeda, selain statusnya sudah berubah menjadi seorang suami, ia juga ingin istrinya memberikannya sebuah ucapan manis atau doa terbaik untuknya. Ternyata, Maya melupakan hari lahirnya.


"Besok mungkin aku masuk, Bang. Soalnya tadi Monik telepon, ada kabar kalau orang tuanya Reza masuk ICU, udah beberapa hari gitu. Kabarnya lagi, Reza sama Bella mau dinikahkan di rumah sakit gitu hari minggu besok. Kayanya orang tuanya Reza udah nggak lama lagi."


"Hush, nggak boleh ngomong gitu. Emang sakit apa?"

__ADS_1


"Dengar-dengar sih kena serangan jantung, katanya pabrik mereka yang di Bekasi kebakaran hebat. Banyak korban jiwa, keluarganya minta ganti rugi. Perusahannya bangkrut deh kayanya, kasihan, ya, Bang."


"Ya begitulah, May. Kalau usaha pakai uang haram, boleh nipu sana sini, curang dan sebagainya. Awalnya Allah kasih manis, mungkin ujian kecil buat mereka nggak pernah diindahkan, seperti meninggalnya Kak Sean, dipecatnya Reza, atau dianggap angin lalu. Sampai Allah murka, dan mengambil semuanya."


"Astaghfirullah, benar juga, ya."


"Nafkah yang dicari dengan uang haram, nggak akan membawa keberkahan dalam keluarga mereka. Lihat Reza, koleksi video porno, suka ke club, dan sekarang ngehamilin anak orang. Dan aku pernah dengar, kalau kakaknya masuk rumah rehabilitasi karena narkoba."


"Innalillahi, dan sekarang di masa tuanya ayahnya Reza nggak punya apa-apa, sakit pula kan?"


Maya terdiam, apa yang dikatakan suaminya benar. Ia malah tak pernah mengira kalau kejadiannya akan sejauh itu. Pantas saja dulu ayahnya menolak ikut berkerja sama dengan ayahnya Reza dengan iming-iming untung besar. Sampai akhirnya ayahnya Reza menganggap papanya adalah rival, dan ingin membalas dendam atas sakit hatinya itu.


Meskipun keluarganya bukan yang taat sekali akan ajaran agama, tapi untuk masalah kejujuran dalam berbisnis itu adalah modal utamanya. Itulah yang dilakukan Hardi, sang ayah.


Hardi selalu menerapkan akan arti kejujuran pada seluruh rekan kerja, partner bisnis, bawahan bahkan anak-anaknya. Satu kali saja kebohongan itu ada di dalam lingkup pekerjaan, maka akan hancur semuanya. Satu angka saja disembunyikan saat membuat laporan keuangan, maka perusahaan bisa rugi hingga puluhan atau bahkan ratusan juta. Seperti yang dilakukan Sean dan Reza. Mereka hancur dan hina karena ulah mereka sendiri.


💗💗💗


Adji dan Maya akhirnya tiba di rumah mereka.


"Nak Adji, Papa langsung jalan, ya. Masih ada kerjaan," ucap Hardi.


"Iya, Pa. Makasih, maaf saya ngerepotin." Adji menyalami tangan mertuanya.


"Iya, Pa. Makasih banyak."


"Ya sudah, Papa jalan dulu. Assalamualaikum."


"Waalikum salam."


Hardi berjalan menjauh menuju jalan, sementara Maya membuka pintu rumah, Adji membawa tas berisi pakaian lalu mereka masuk ke kamar.


Adji menghentikan langkahnya tepat di tengah pintu kamar. Dilihatnya kamar di mana biasa mereka menghabiskan malam berdua, kamar yang biasanya hanya terlihat seperti kamar tidur usang, dengan cat dinding warna putih yang sudah memudar. Kini, kamar tidur mereka tampak berbeda.


Kamar tidur mereka berubah warna, dindingnya tak lagi berwarna putih pucat, melainkan sudah berubah menjadi warna hijau tosca kesukaan Maya, seprai bunga-bunga berwarna pink terlihat mencolok di tengah ruangan, di sudut atap terdapat balon warna warni menggantung. Sebuah bucket bunga Mawar tergeletak di tengah ranjang beserta dengan kue ulang tahun yang di atasnya sudah terdapat lilin yang belum dinyalakan.


Adji tersenyum kecil, ia mencari sosok yang membuat kamarnya berwarna itu. Namun, tak ia temukan. Mungkin saja Maya sedang ke dapur. Ia pun melangkah mendekati tempat tidur, meletakkan tasnya di depan lemari. Meraih bunga di hadapannya.


"Selamat ulang tahun, Honey. Semoga panjang umur, sehat selalu, semakin ganteng, semakin dewasa, semakin sayang sama aku."


                                 Maya


                               Yang selalu mencintaimu


"Bang," panggil Maya dari balik punggungnya.

__ADS_1


Adji menoleh dengan bunga masih di tangannya. Kini lagi-lagi ia dikejutkan oleh penampilan sang istri. Maya mengenakan dress tipis berwarna merah di atas lutut, dengan atasan rendah, memperlihantkan bagian dadanya yang menyembul. Kulit putihnya tampak bersinar, bahkan wajah sang istri yang tadi polos, kini sudah terlihat cantik dengan make up tebalnya. Adji menelan saliva dalam-dalam.


Maya berjalan mendekat dengan senyum mengembang, di tangannya dua buah orange jus siap menemani hari mereka sore ini.


Adji menghirup Wangi parfum istrinya yang menusuk indera penciumannya. Maya memberikan orange jus tersebut untuk sang suami.


"May, kamu mau ngapain?" tanya Adji saat Maya mengusap bahunya lembut.


"Aku tahu dari kemarin kamu menginginkanku, kan? Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Maya setengah berbisik di telingan suaminya.


Adji meminum jus di tangannya, untuk mengurangi rasa gugupnya. Setelah seminggu lebih ia tak menyentuh sang istri, sekarang istrinya menggodanya di depan mata.


Adji meletakkan gelas minumannya di atas nakas, meraih gelas milik sang istri juga untuk meletakkan di atas nakas. Ia meraih pinggang Maya merangkulnya hingga mereka saling berhadapan.


"Ini ide siapa? Suami baru sembuh digoda kaya gini?" tanya Adji dengan napas sudah sedikit tersengal menahan gejolak di dalam dadanya.


Maya tersenyum genit, lalu mengusap dada suaminya lembut. "Kan kamu yang mulai kemarin di rumah sakit, sekarang udah sembuh, bisa goyang, kan?" tanyanya seraya mengerlingkan sebelah mata.


Adji mendekatkan wajahnya ke depan wajah sang istri, mendaratkan ciuman ke bibir merah itu. ******* dan menggigitnya pelan, mereka saling berpagutan lama, hingga akhirnya ciuman itu turun ke leher Maya. Adji memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana. Maya menggelinjang memeluk erat suaminya. Suara deru napas saling beradu, usapan lembut Adji di tubuh Maya membuat sang istri merasa melayang.


Tangan Adji mulai menurunkan tali pengait dress istrinya, ia tahu kalau istrinya itu tak memakai bra, perlahan diusapnya lembut bagian depan dada Maya.


"Assalamualaikum. Maya!  Maya!"


Adji dan Maya saling pandang, aktivitas mereka berhenti sejenak.


"Siapa?" tanya Adji yang tengah mengatur napasnya. Napsu yang sudah di ubun-ubun itu langsung down seketika saat mendengar suara salam dan ketukan pintu dari depan rumah mereka.


Maya menggeleng. "Suara teman-teman aku kayanya."


"Kamu ngundang mereka?"


Maya hanya meringis, dia lupa kalau tadi pagi bilang sama teman di grup wag nya. Akan merayakan ultah sang suami di rumah. Tapi, ia tak menyangka kalau temannya akan datang secepat itu. Dan mengacaukan kegiatan intimnya.


Adji membuang napas kasar, mengambil kue ultahnya, memoton dan memakannya kesal.


"Eh,  belum tiup lilin udah dimakan," celetuk Maya yang melihat suaminya makan kue dengan lahap.


"Lapar!  Mau makan kamu nggak bisa," ucap Adji kesal.


💗💗💗


Tbc.


Vote komen ya gaess.

__ADS_1


__ADS_2